Tongklek, Seni Musik Patrol Khas Tuban

Tongklek Musik Patrol Tuban

Tongklek adalah seni musik patrol asli Tuban yang digunakan untuk membangunkan orang sahur. Walaupun demikian, seni tongklek tetap nyaman dinikmati di luar bulan puasa.

Di Tuban musik patrol ini sudah sangat terkenal. Di seluruh pelosok Tuban, jika bulan ramadan tiba, maka akan banyak yang berlomba-lomba membuat kelompok musik patrol yang bernama tongklek ini.

Bacaan Lainnya

Sebelum pandemi, festival tongklek ada di setiap kecamatan. Berganti-gantian dan selalu berhasil menyedot banyak perhatian masyarakat. Mungkin Pemda Tuban bisa membuat festival lagi untuk melestarikan musik patrol khas Tuban ini.

Tentang Musik Patrol

Musik patrol adalah musik yang menciptakan irama dan instrumen yang dinamik untuk mengiringi lagu-lagu tradisional dari Jawa, Madura, atau Banyuwangi. Alat musiknya terbuat dari bambu atau kayu yang memiliki sebutan kentongan.

Meski mirip, namun musik patrol di Tuban tetap memiliki ciri khas. Di Tuban musik patrol tongklek menggunakan gamelan atau orang Tuban menyebutnya gambangan.

Gamelan ini untuk memberikan nada atau melodi sehingga musik yang dihasilkan jadi semakin harmonis dan nikmat.

Selain itu juga terdapat gong, bass yang terbuat dari tong yang besar.

Tentang Tongklek di Tuban

Setelah mengetahui tentang musik patrol. Sekarang yuk bahas tentang tongklek. Saya beruntung karena saya lahir dan besar di kota Tuban. Di sini ketika puasa, maka makan sahur saya akan bisa menikmati alunan musik patrol yang mendayu hingga menambah nikmat dan hikmat makan sahur.

Satu kelompok musik patrol ini biasanya akan mulai berkeliling pada sekitar pukul 02.00 WIB. Mengingat di Tuban imsaknya sekitarnya pukul 04.00 WIB, maka jam segitu memang sudah waktunya untuk bangun sahur. Khususnya untuk para Ibu yang akan mempersiapkan masakan sahur.

Mereka berkeliling sambil membunyikan alat-alat tradisional yang terdiri dari kentongan dengan berbagai ukuran dan bentuk. Ukuran dan bentuk yang bermacam-macam ini akan menghasilkan suara yang berbeda dan jika bercampur dengan baik, akan menghasilkan harmoni suara yang bikin kangen.

Selanjutnya ada juga berbagai jenis kenong atau atau sejenis gong kecil yang juga menambah harmoni. Ada juga bass drum yang yang terbuat dari tong bekas. Tong ini akan mengeluarkan suara dengan nada rendah. Pamungkasnya adalah gamelan. Gamelan akan berfungsi untuk mengeluarkan melodi-melodi indah sehingga menambah harmoni musik.

Satu kelompok tongklek biasanya terdiri dari sepuluh hingga lima belas orang. Biasanya sih berusia muda atau usia sekolah. Zaman dulu para pemuda desa lebih banyak menghabiskan waktu tidurnya di Mushola atau Masjid. Jadi setelah selesai tadarus hingga tengah malam, mereka beristirahat sebentar lalu lanjut untuk membunyikan tongklek keliling kampung.

Karena berakar dari pemuda-pemuda yang ngaji dan tidur di Mushola atau Masjid maka tongklek ini jauh dari tawuran seperti di kota-kota besar yang sering terdengar acara sahurnya dihiasi oleh peristiwa tawuran antar kelompok pemuda.

Festival Tongklek

Untuk memberi ruang ekspresi yang luas kepada kelompok-kelompok tongklek ini, maka beberapa pihak menggelar festival tongklek. Yang terhitung rutin dan yang menjadi pelopor untuk menyelenggarakan festival adalah organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan di Tuban ini.

Selain itu, pemerintah juga beberapa kali menyelenggarakan festival musik patrol ini.

Biasanya festival berlangsung mulai setelah Sholat Teraweh hingga dini hari. Walaupun sampai dini hari, ternyata menyedot perhatian orang banyak untuk menyaksikannya.

Dalam festival ini, para peserta berkeliling kampung seperti mereka berkeliling saat membangunkan orang sahur. Sepanjang perjalanan mereka berlomba memainkan musik seindah mungkin. Banyak warga yang rela menunggu di tepi jalan, menunggu kelompok tongklek favoritnya lewat dan memberikan semangat.

Selain itu, para peserta juga berlomba menghias peralatan musiknya hingga berlomba memakai kostum yang unik. Sehingga festival ini tak ubahnya menjadi karnaval kemerdekaan yang rutin digelar setiap tahun itu.

Menurut beberapa sumber, festival tongklek di Tuban pertama kali digelar pada tahun 1998 oleh Pengurus IPNU-IPPNU cabang Tuban dengan peserta terbatas, yakni para pengurus anak cabang IPNU-IPPNU di Kabupaten Tuban. Selain jumlah peserta, penampilan pesertanya pun masih seadanya, tidak seperti saat ini yang sudah sangat beragam dan kreatif. Pun penontonnya pun masih sangat sedikit.

Lalu seiring waktu, festival ini semakin diminati, jumlah pesertanya semakin hari semakin banyak. Variasi musiknya pun semakin banyak hingga penontonnya pun makin banyak hingga rela begadang sampai menjelang sahur untuk menikmati alunan musik tongklek ini.

Penyelenggara festival pun sekarang semakin beragam dan rutin. Sehingga menumbuhkan banyak sekali kelompok-kelompok yang membuat sahur kamu semakin berkesan.

Akhirnya festival tongklek di Tuban ini sudah menjadi festival musik patrol terbesar dan termegah setidak di Jawa Timur. Yuk ke Tuban Ramadan tahun ini, supaya kamu bisa menikmati syahdunya alunan musik patrol khas Tuban ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.