Becek Mentok Enak di Tuban, Ayo ke Warung Becek Sor Sawo

Becek Sor Sawo Tuban

Musim kemarau di Tuban biasanya terik banget. Tetapi anginnya juga kencang. Jadi enak saja sih hawanya, panas-panas ditiup angin sepoi-sepoi. Saat seperti ini rasanya ingin makan yang segar dan pedas. Becek adalah salah satunya. Becek makanan berkuah santan yang bercitra rasa pedas serta berisi daging. Kadang daging kambing, sapi atau yang mau saya cicipi ini daging mentok.

Mentok adalah sejenis unggas mirip bebek dengan badan yang lebih besar. Hewan yang suka hidup di perairan dangkal alias berlumpur ini jamak ditemukan di Kabupaten Tuban. Saking banyaknya, mentok menjadi makanan yang dihidangkan oleh seluruh lapisan masyarakat Tuban. Singkatnya mentok ini hewan yang merakyat, disantap oleh siapapun. Saya sudah lama tidak menyantapnya. Padahal dulu waktu SMA, bisa sebulan sekali bikin acara kumpul sekelas dan menunya : Becek mentok!

Kekangenan saya kepada becek mentok saya utarakan ke Istri. Lalu istripun ternyata setuju. Lupakan sejenak soal kolesterol. Tapi ya jangan kalap juga, kata istri berpesan kepada saya. Maklum mentok ini termasuk hewan yang berlemak. Kulitnya itu lho : Menggugah selera! Tebal dan bertekstur membal persis karet. Walaupun tidak sekeras karet. Bikin siapapun yang menggigitnya pengen terus makan.

Selain kulitnya tentu dagingnya juga bertekstur kenyal. Seratnya pendek-pendek. Kalau dimasak dengan benar bisa berasa seperti makan hati atau ampla ayam. Jadi emang rasanya enak banget. Apalagi untuk penyuka makanan yang berlemak dan bertekstur mantab. Baunya juga khas. Kadang ada bau amisnya. Tetapi jika tahu cara masaknya ya tidak amis-amis amat. Tetapi bau khasnya tetap ada. Mau tau? Coba saja.

Setelah mengurus rumah di Tuban, saya dan istri menuju ke desa Karang. Desa yang berada di Kecamatan Semanding. Tapi ada satu wilayah desa Karang yang kadang dianggap masuk wilayah kecamatan kota : Karang Indah. Saya menuju ke Warung Sor Sawo. Warung ini berada di Jalan Majaphit Gang Buyung. Patokannya jembatan. Di sebelah kiri jalan. Sebuah warung yang asri. Tapi tidak terletak di sor sawo seperti namanya. Ada pohon sawo tapi masih belum cukup tinggi.

Konon ini adalah warung keduanya. Sebelum berada di tempat sekarang, warung becek sor sawo memang benar-benar berada di bawah pohon sawo yang besar. Bisa dikatakan ini adalah warung becek sor sawo 2.0. Warung ini terletak dipinggir kali. Warungnya sederhana. Bangunannya dari kayu. Gentengnya ya tanah, yang merah itu lho.

Di samping kiri ada gazebo-gazebo. Bisa diisi 5 sampai 6 orang. Ya sekeluargalah. Kalau mau suasana warung di Tuban ya bisa masuk ke warungnya. Ada meja di tengah dipenuhi dengan aneka kudapan. Bisa menjadi pelengkap makan becek mentok. Menu andalannya dan yang utama ada dua. Pertama sate mentok, dan yang kedua tentu saja : Becek Mentok. Ada nasi dan nasi jagung juga. Tidak ketinggalan : Legen. Saya pesan becek mentok.

Tidak beberapa lama pesanan saya datang. Sekresek becek mentok diserahkan kepada istri saya. Kresek itu hanya pelapis luarnya. Beceknya ditaruh di dalam plastik bening. Aman kok, sesuai dengan arahan-arahan netizen tentang bungkus makanan. Saya bungkus saja. Saya belum punya waktu untuk makan di tempat. Lain kali mungkin saya akan mencobanya. Sekantong plastik ini harganya Rp 20.000,- tidak termasuk nasi. Saya keluar dari warung. Saya starter motor Mio lawas andalan saat di Tuban. Saya pun pulang.

Sampai di rumah, saya tidak sabar. Ingin segera membuka dan menyantap habis becek ini. Setelah disiapkan istri, saya amati dulu. Ketika nasi diberi kuah becek mentok ini, langsung berkilauan. Dagingnya juga. Ada cabe yang belum halus diulek. Menambah segar pemandangan. Kemudian saya cicipi. Rasanya nggak terlalu pedas. Kuahnya gurih, khas becek. Kita coba dagingnya. Enak sesuai ekspektasi. Dagingnya tidak bau amis. Tapi ada aroma khasnya. Entah apa, tapi enak. Kemudian yang jadi favorit : kulit. Tidak terasa sepiring nasi habis. Ingin tambah, tapi ingat berat badan kok ya miris.

Kalau kamu berniat membeli becek mentok sor sawo ini, kamu harus datang di bawah jam 11. Supaya tidak kehabisan. Di atas jam 11 ada sebenarnya. Tapi harus sabar, karena sang empunya sedang masak tahap 2. Saya juga tidak tahu kenapa dua tahap begitu. Mungkin berkaitan dengan citra rasa yang harus dijaga. Sudahlah pokoknya becek mentok sor sawo ini : Enak!

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Makan Malam Nasi Uduk di Bekasi, Yuk ke Warung ini

Nasi Uduk Bekasi
Nasi Uduk Bekasi

Makan malam apa enaknya? Saya kok tiba-tiba pengen makan nasi uduk. Kebetulan kemarin-kemarin pas lewat di komplek Darmawangsa Residence Bekasi ada warung nasi uduk yang sepertinya kok enak. Pembelinya banyak kadang warungnya kaya dikerubungi pembeli gitu. Ah malah bikin penasaran saja. Enggak pake lama  saya pun meminggirkan mobil untuk mencicipi nasi uduk.

Mesti sabar ya, soalnya ramai yang beli. Penjualnya sudah sepuh, sepertinya suami istri, duh Dek, romantis tenan. Suaminya sedang menggoreng gorengan. Ya iya mosok menggoreng rebusan. Saya melongok, Duh itu tempe goreng sama ote-ote hangat yang menggoda. Ote-ote itu apa mas? Kalau orang Bekasi bilang bakwan atau bala-bala. Di sini gorengannya selalu fresh. Gorengannya selalu cepat habis, jadi orang-orang yang antri ini sebagian ya nungguin gorengannya mateng.

Di bawah tenda sederhana dan meja yang juga tidak kalah sederhana berjajar lauk-pauk yang siap menemani nasi uduk dan pastinya menambah nikmat nasi uduk. Ada kering tempe, orang Bekasi bilangnya tempe orek, kemudian ada bihun, mie kuning, terong bumbu bali, telur bumbu bali juga, terus ada juga telur goreng. Gimana sudah ngiler belum ngebayanginnya? Sabar, antri dulu, Mas.

Tangan lincah Ibu yang sudah cukup sepuh ini dengan telaten membungkus nasi uduk, lalu meletakkan lauk-pauk sesuai selera pembeli. Jangan diburu-buruin, nikmati saja prosesnya. Oiya satu lagi yang sepertinya enak, soalnya dari penampakannya enak sekali, yaitu sambal terasinya. Baunya udah bikin ingin segera makan saja.

Setelah sabar antri dan menahan lapar, sayapun mendapat giliran. Saya membeli nasi uduk. Ya iya wong emang warung nasi uduk. Saya minta lauknya mie, bihun lalu kering tempe, dan tentu saja gorengannya. Gorengannya saya minta tiga. Gini kok mau diet gorengan. Gagal Mas Bro. Harganya berapa? Murah, Bro. Beneran murah, tapi saya lupa berapa.

Kalau kamu mau ke warung ini silakan menuju ke Perumahan Darmawangsa di Kecamatan Tambun, Utara Kabupaten Bekasi. Ya patokannya Giant Wisma Asri, terus Jembatan Besi belok kiri. Kalau ketemu jalan jelek berlubang kanan-kiri dan tengahnya. Eh gimana? Ya emang jelek semua baik di kanan, kiri maupun di tengah, hehe. Tapi cuma dikit kok. Lurus terus menelusuri jalan Pisangan raya, terus sampai ketemu sama Gerbangnya Darmawangsa Residence, nah udah tu masuk terus, warungnya ada di deket Indomart Darmawangsa. Gampang kan?

Kemudian sampai rumah, saya langsung makan itu nasi uduknya. Benar saja, rasanya sesuai sama ekspektasi saya saat pertama kali melihatnya. Nasi uduknya enak, tapi enakan nasi uduk di Tuban sih, nanti saya ceritain. Kemudian bumbunya berasa, yang maknyus sambelnya. Khas rumahan. Kamu baru nyolek aja pasti langsung ingat rumah. Gimana mantab jaya kan?

Warung nasi uduk ini buka dari mulai sore ya sekitar-sekitar jam 5 sore gitu. Pokoknya ngepasin orang yang pulang kerja terus kelaperan kaya saya. Tutupnya kayanya sampai habis deh, tapi jujur saya ndak pernah ngonangi tutupnya. Hawong saya ini kalau sudah sampai rumah suka malas keluyuran lagi. Oiya saya ndak sempat foto nasi uduknya, saya sudah lapar pas beli nasi uduk itu. Jadi dibuka langsung dilahap sampai habis, sisa bungkusnya doang.

Jadi kalau kamu mau makan nasi uduk yang enak di Bekasi, kamu bisa mengunjungi warung nasi uduk ini. Enak dan murah, Setuju bukan?

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Legen, Minuman Khas Tuban yang Jadi Buruan Saat Buka Puasa

Legen Tuban Pak Kasmito Ali Rohman Sugiharjo

Sore yang cerah, cahaya matahari membentuk kolom-kolom kecil menembus ke kamar tidur melalui lubang angin di atas jendela. Cahaya matahari tersebut mengganggu saya yang sedang terlelap. Konon tidur pada bulan puasa itu berpahala, tapi saya enggak memikirkan itu. Saya hanya berpikir gimana caranya menghilangkan letih di badan. Setelah bangun saya mendengarkan srang-sreng di dapur. Ternyata kombinasi cahaya dan asap dapurlah yang membuat kolom-kolom cahaya yang menembus kamar tadi.

Ini memang aktivitas yang lazim di desa saya selama bulan puasa. Sama seperti di tempat lain di desa ini juga memiliki aktivitas khas sekaligus sajian khas puasa. Memasak saat menjelang buka puasa, patrol dengan musik tongklek sampai membuat kolak dan berburu minuman legen. Saya akan membahas yang terakhir yaitu legen. Minuman khas Kabupaten Tuban yang menjadi buruan saat Puasa tiba.

Legen adalah minuman yang berasal dari sadapan bunga pohon lontar, orang Tuban menyebutnya pohon bogor. Pohon bogor ini banyak sekali tumbuh di Tuban. Pohon ini berukuran besar-besar. Berwarna kecoklatan pada batang pohonnya dan berdaun hijau seperti kelapa. Di dunia internasional pohon ini disebut Asian Palmyra Palm. Ditemukan juga tumbuh di negara lain seperti Bangladesh, Kamboja, Laos dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri persebarannya juga hampir merata. Di Nusa Tenggara Timur, daun pohon Bogor ini digunakan sebagai bahan dasar alat musik tradisional. Di Tuban, pohon bogor ini selain diambil legennya, juga diambil buahnya. Buah pohon Bogor ini disebut buah Ental. Buahnya bulat berkulit sabut seperti kelapa di luarnya, ada daging kenyal seperti nata dan ada air yang manis tapi sedikit. Oiya warna buahnya kecokelatan gelap dan berkulit halus. Buah ental ini pun jadi kuliner khas Tuban.

Satu lagi pemanfaatan pohon bogor di Tuban, yaitu daunnya yang bernama lontar dipakai untuk ketupat dan topi, mungkin dimanfaatkan juga untuk hal lain tapi saya yang nggak tahu. Ketupat lontar di Tuban hadir setidaknya dua kali setahun, yaitu saat peringatan Nisfu Syakban atau tanggal 15 Syakban pada penanggalan hijriah dan satu pekan setelah lebaran atau di Tuban disebut riyoyo. Terakhir, pemanfaatan pohon bogor adalah untuk inspirasi desain batik khas Tuban. Kalau kalian perhatikan batik khas Tuban tidak akan ketinggalan memasukkan unsur dari pohon bogor.

Kembali ke Legen, dulu penyadapan legen dari bunga pohon Bogor dilakukan sore hari dengan menggantung wadah-wadah berupa tabung-tabung yang terbuat dari bambu, kalau sekarang sudah beberapa yang menggunakan wadah dari plastik. Ketika pagi hari pemilik pohon akan mengambil hasil sadapannya lalu dinikmati dengan menuangkannya ke gelas yang lagi-lagi terbuat dari bambu atau disebut centak. Centak sangat khas Tuban. Saking khasnya, sampai dibuat oleh-oleh Tuban yang disebut ongkek. Ongkek adalah satu set miniatur centak, tabung bambu yang panjang serta pikulan, yang dulu digunakan oleh orang Tuban untuk menjajakan Legen ini.

Pada bulan puasa orang-orang Tuban akan memburu legen sebagai menu buka puasa. Penjual-penjual legen pun banyak bertebaran seantero Tuban untuk menjajakan minuman khas ini. Dapat dipastikan juga semuanya laris manis habis diborong para pemburu nikmat dari Legen. Tidak heran, pasokan memang terbatas. Walaupun pohon bogor banyak tumbuh namun, air sari bunganya terbatas. Sehingga pantas saja semuanya berlomba mendapatkannya. Meskipun terbatas tapi toh harganya tetap terjangkau oleh berbagai kalangan di Tuban.

Terus bagaimana sih rasanya legen ini? Begini rasanya manis dengan aroma yang khas. Jika masih baru turun dari pohon ada sensasi seperti soda tapi dengan intensitas yang rendah. Walaupun manis, tapi tidak seperti manisnya tebu yang bikin haus. Teksturnya juga sedikit kental tapi tidak sekental Sirup yang selalu nongol iklannya saat Ramadhan tiba. Kemudian legen ini tidak tahan lama. Menurut salah satu penjual legen di Facebook Kasmito Ali Rohman asal Sugiharjo, dalam waktu 4 jam legen akan berubah rasanya, kalau direbus bisa tahan sampai 10 jam. Jadi kalau beli legen pastikan yang belum basi ya dan langsung dihabiskan jangan disimpan-simpan nanti malah nggak keminum. Beberapa saat lalu memang ada minuman legen yang disajikan dalam kaleng yang diklaim lebih awet. Tapi entah kok tidak ada kabar lagi.

Konon selain nikmat dikonsumsi saat buka puasa, legen juga nikmat sekali ketika dinikmati pagi hari. Ya ini efek dari tadi yang saya bilang, di kedua waktu itu para penyadap legen mengambil hasil sadapannya. Penjualan legen biasanya dengan membuka lapak dipinggir jalan, kalau kamu sedang berjalan-jalan dan melalui Tuban akan dengan mudah kok menemukannya. Memasuki bulan ramadhan biasanya banyak juga yang berkeliling, jualan online via Facebook dan tentu saja yang paling pas ya datangi saja penyadapnya hitung-hitung sebagai sarana rekreasi melihat-lihat kebun pohon bogor. Duh Dek! Aku kangen Tuban.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk me3mbaca tulisan menarik lainnya.

Serabeh, Sarapan Khas Kabupaten Tuban

Serabeh Mah Em, Pakah Logawe, Tuban

Pagi-pagi di Tuban, para bakul sudah selesai menaikkan belanjaannya di atas rombong yang nongkrong di jok belakang sepeda motor. Aktivitas ini sudah menjadi rutinitas para bakul rombong yang bahkan sudah mulai memasuki pasar pada pukul 03.00 WIB dini hari demi mendapatkan barang dari tangan pertama sehingga mendapat margin yang lumayan ketika dijual kembali ke pelanggan.

Selain aktivitas para bakul tadi, ada juga aktivitas lainnya yaitu para Ibu yang berjuang memenuhi kebutuhan sarapan di rumah. Mereka ada yang memasak ada juga yang karena sesuatu hal harus mencari penjual sarapan. Di Tuban ini ada banyak jenis sarapan, yang paling umum sih nasi pecel, nasi uduk, nasi punar dan serabih atau orang Tuban menyebutnya Serabeh. Saya sebagai orang Tuban tentu sangat akrab dengan menu sarapan itu, tapi saya sekarang sedang kangen dengan Serabeh jadi saya tulis soal pengalaman saya sarapan serabeh ini.

Baca juga : Makan Siang Populer di Tuban itu Dijuluki Welut Sego Jagung

Penjual serabeh banyak dijumpai di seluruh sudut Kabupaten Tuban. Makanan yang terbuat dari adonan tepung beras dan sari kelapa ini menjadi sarapan favorit orang Tuban selain yang saya sebutkan di atas. Penjual Serabeh melengkapi warungnya dengan tungku dari tanah biasanya banyak lubang. Berbeda dengan tungku yang ada di rumah -jika ada- yang hanya memiliki dua lubang. Selain tungku yang dari tanah wadah masak atau wajannya pun juga terbuat dari tanah. Belum ada sih di Tuban penjual serabeh menggunakan kompor gas dan wajan almunium. Semuanya serba tanah. Satu lagi yang khas adalah pembersih wajannya yang terbuat dari merang yang diikat.

Setelah semuanya siap dan sambil menunggu biasanya penjual serabeh pun memulai memasak serabeh dengan menuangkan adonan ke wajan-wajan tanah. Ukurannya kecil-kecil kurang lebih berdiameter 10 cm per serabehnya. Setelah dituang penjualnya akan menutupnya dengan penutup yang lagi-lagi terbuat dari tanah. Serabeh itu seperti Terang Bulan, ndak perlu dibalik. Jadi ditunggu sampai matang. Setelah matang penjual serabehnya akan mengambilnya dan meletakkan di meja sebelahnya penjual. Meja ini dilapisi daun pisang. Ditumpuk dua-dua atau sepasang ada juga yang enggak ditumpuk.

Baca juga : Nasi Pecel Godong Jati Khas Kabupaten Tuban

Pembeli pun mulai berdatangan. Kayu bakarnya ditarik dulu, penjualnya melayani pembeli yang sudah banyak datang. Umumnya sih membawa wadah, lang atau baskom. Jika tidak membawa biasanya akan diberikan cintung dari daun pisang. Yang ngangenin sih yang pakai cintung itu. Rasanya gimana gitu. Kemudian setelah itu diberikan santan yang gurih. Jika pakai cintung, santannya langsung diguyurkan di atas serabehnya. Harganya murah meriah sih, saya lupa tapi murah banget pastinya.

Berbeda dengan serabih di kota lainnya contohnya di Bandung yang terasa manis, di Tuban Sarabeh rasanya gurih. Ini sih tidak terlepas dari letak geografis Tuban di pinggir pantai yang umumnya memang menyukai masakan bercitra rasa gurih. Serabeh seperti yang ada di Tuban ini sebenarnya saya temui juga di Jakarta ini, meski harus membuat request khusus. Seperti yang saya bilang sebelumnya di tempat lain Serabeh ini rasanya manis. Saya pesan yang gurih dan santannya pun gurih. Meski enggak bisa persis rasanya seperti di Tuban tapi lumayan untuk ngobati rasa kangen saya.

Desa yang paginya dingin namun selalu dihangatkan dengan suasana dan makanannya. Penjual serabeh dengan api tungkunya, Penjual pecel dengan nasinya panas tak ketinggalan penjual nasi uduk dan punar yang tidak kalah ngebul nasinya, menjadikan pagi yang sangat hangat di Tuban. Yang masih di Tuban mari kita rawat Tuban tercinta ini beserta kehangatannya, yang sedang merantau seperti saya mari kenalkan Tuban kepada anak-anak kita. Kita ceritakan bahwa ada Kabupaten di pinggir laut utara yang sangat bersahaja.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Sate Klopo Ondomohen, Kuliner Legendaris Surabaya

Sate Klopo Ondomohen
Sate Klopo Ondomohen

Pada suatu sore, Surabaya diguyur hujan tipis-tipis. Surabaya yang kini sangat asri itu tambah ngangenin suasana hujannya. Sore itu saya dan istri sedang ada keperluan di Surabaya. Saya berada di sekitar balai kota Surabaya. Terus teringat bahwa ada makanan khas Surabaya yang akhir-akhir ini hits di Media Sosial. Namanya Sate Klopo Ondomohen.

Sebelumnya setiap ke Surabaya saya makannya nasi bebek yang sambelnya aduhai menggoyang lidah itu. Sampai kemudian tahu ada Sate Klopo Ondomohen ini di Media Sosial. Tidak banyak pertimbangan, saya pesan taksi online, transportasi andalan saya ketika berkunjung ke kota-kota besar Indonesia. Tidak berapa lama taksi online pesanan saya pun datang.

Menyusuri jalanan Surabaya yang sore itu dingin karena hujan, hmmm… Duh Dek! Tata kota di Surabaya keren banget, karya tangan dingin Ibu Risma, Walikota Surabaya paling mantab jaya. Trotoar dan jalan yang bersih, pepohonan yang rindang dan rapinya taman-taman kota yang menghiasi setiap sudut kota surabaya. Sangat detail, seperti sebuah karya seni yang memikat.

Saya masuk ke Jalan Walikota Mustajab tempat warung Sate Klopo Ondomohen berada. Pas sampai ternyata ada beberapa warung sate klopo di jalan tersebut. Awalnya saya mau tanya mana yang asli. Tapi urung saya lakukan, toh semuanya asli enggak ada yang dari plastik. Hehehe. Pertanyaan saya ubah. “Pundi Pak sing terkenal teng internet niku?” (Mana Pak yang terkenal di internet itu?). Bapaknya menjawab yang itu Mas yang Warung Ondomohen Bu Asih.

Saya melihat telunjuk sopir taksi tadi. Telunjuknya menunjuk ke warung yang sederhana dibawah pohon yang rindang serta pembakar satenya yang terletak di depan sedang sibuk sekali membakar sate. Ada ciri mencolok sih yaitu ada banner besar di ataspnya yang tertulis Sate Klopo Ondomohen Bu Asih. Bannernya warnanya mencolok dengan latar berwarna kuning. Mobil menepi lalu saya membayar biayanya.

Saya masuk lalu memesan menu sate klopo. Saya awalnya tidak tahu bahwa sate ini bahan bakunya adalah daging sapi, ada juga ayam sih. Tapi kambing tidak ada. Ya sudah saya pesan tiga porsi sate klopo. Dua daging sapi dan satu porsi ayam. Kemudian bumbunya saya meminta kacang. Konon kacangnya ini dari Tuban sana. Wah bangga juga, kacang dari Tuban bisa jadi bagian penting dalam makanan terkenal ini.

Sate Klopo Ondomohen Surabaya
Sate Klopo Ondomohen Surabaya

Pelayannya langsung sigap membakar sate yang saya pesan. Tempat membakarnya panjang dan dilengkapi kipas angin. Di suasana yang hujan rintik-rintik kemudian di dekat bara api pembakaran sate itu sungguh gimana gitu. Warungnya enggak ramai sih, maksudnya enggak sampai membludak gitu. Kursi-kursi terisi namun tidak sampai antri. Mungkin karena saya kesana waktu makan sudah lewat jadi tidak terlalu antri.

Beberapa saat kemudian saya dipanggil sama pelayannya. Pesanan saya sudah jadi. Hmmmm…. Enggak sabar menikmati. Karena saya ditunggu keluarga besar, saya enggak bisa langsung menikmati. Saya bungkus pesanan saya tadi, kemudian saya pesan Taksi Online lagi. Tidak beberapa lama Taksi Onlinenya sudah datang di depan Sate Klopo Ondomohen ini.

Surabaya sore itu macet, untungnya saya dapet Sopir Taksi Online yang terhitung masih tetangga. Beliau orang Bojonegoro. Merasa dekat kemudian saya tanya-tanya dengan Mas Sopir ini. Pembahasan masih seputar Sate Klopo Ondomohen. Saya penasaran sih sebenernya, hawong letaknya di Jalan Walikota Mustajab kok dinamain Sate Ondomohen. Mas Sopirnya jawab nama Ondomohen itu adalah nama jalan di jaman penjajahan dulu. Saya manggut-manggut.

Saya sampai di tempat keluarga besar saya dan anak saya ternyata lagi tidur. Yawes yuk kita makan. Pas buka bungkusnya sudah berasa bau gurih kelapanya. Kemudian pas dicicip tanpa bumbu, hmmm… Gurih. Kaya sate dikasih srundeng. Ya enggak sih? Hehehe. Kemudian coba dikasih sama bumbu. Duh uenak jaya. Gurih-gurih gimana gitu, dagingnya pun empuk. Karena pakai daging sapi, maka bau apek kaya sate kambing pun enggak ada. Enak sih menurutku. Ini bisa kamu coba banget pas lagi di Surabaya.

Makan Siang Populer di Tuban itu Dijuluki Welut Sego Jagung

Welut Sego Jagung
Welut Sego Jagung

Siang terik yang membakar kulit siapapun yang berada di jalan. Saya menyusuri salah satu ruas jalan berkelok di Kecamatan Semanding. Kecamatan terbesar di Kabupaten Tuban yang disebut-sebut sebagai cikal bakal pemerintahan modern Tuban yang diyakini bersamaan dengan periode Majapahit. Tujuan saya adalah menikmati makan siang favorit orang Tuban : Welut sego jagung.

Suasana panas terik adalah khas Tuban. Jadi ketika sampai Tuban jangan langsung judge bahwa sedang pemanasan global. Tuban ya dari dulu panas. Hehehe. Cuaca yang panas nan terik ini ternyata juga berpengaruh terhadap kuliner di Tuban. Kok bisa? Ayo kita simak tulisan ini.

Baca juga : Serabeh, Sarapan Khas Kabupaten Tuban

Jika di tempat dingin kulinernya adalah yang hangat-hangat, pedes dan sedikit asam. Maka di tempat panas seperti Tuban ini, kamu akan menemui makanan yang menyalak pedesnya dan membakar panasnya. Salah satunya adalah welut sego jagung. Makan siang favorit warga Tuban, dan juga yang membuat saya rela berpanas-panas menyusuri jalanan Tuban.

Di Tuban kamu akan mudah menemukan warung yang menyediakan menu ini. Dari warung tradisional seperti cemplon di Merakurak, Bagong dan Jangkar di Semanding sampai warung modern yang berjajar rapi di jalan protokol Tuban. Warung-warung tersebut senantiasa ramai pengunjung ketika jam makan siang tiba. Atau waktu lebaran, saat semua manusia-manusia Tuban kembali ke rumah dan kangen terhadap masakan yang pedasnya menyalak bernama welut sego jagung ini.

Di Tuban mayoritas adalah petani. Ini berdasarkan data BPS terakhir. Tapi mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi Kabupaten Industri. Entahlah mungkin pertanian kurang menterang bagi Pemerintah. Ndak paham saya. Di Tuban memiliki geografi yang unik. Dari mulai dataran rendah mendekati 0 meter dari permukaan laut sampai bukit kapur yang menjulang tinggi sekaligus kering.

Dataran rendah menghasilkan sawah yang subur ditambah juga daerah aliran sungai bengawan solo yang juga menghasilkan sawah yang subur. Sawah ini menghasilkan hewan yang bernama belut atau kalau orang Tuban nyebutnya welut. Welut hidup di tempat yang berlumpur, seperti kondisi tanah sawah yang umumnya berlumpur. Jadi enggak heran Tuban menghasilkan banyak welut.

Baca juga : Nasi Pecel Godong Jati Khas Kabupaten Tuban

Kemudian bukit kapur yang kering itu menghasilkan jagung kualitas tinggi dalam jumlah banyak. Makanya enggak heran orang Tuban sudah akrab dengan sumber karbohidrat pengganti nasi ini. Bahkan sebelum orang Indonesia khususnya jawa secara masif mengonsumsi beras, orang Tuban sudah mengonsumsi nasi jagung atau sering disebut sego jagung.

Sego jagung khas Tuban berbeda dengan nasi jagung daerah lain yang masih dicampur dengan nasi putih atau nasi dari beras. Sego jagung Tuban murni dari jagung yang dihaluskan lalu dinamakan bledekan. Bledekan ini dikukus dan jadilah sego jagung yang khas. Sebenarnya sego jagung khas Tuban itu terbuat dari jagung putih, tapi belakangan ini sudah sulit menemukan jagung putih. Maka yang banyak beredar di pasaran adalah sego jagung kuning.

Nah perpaduan dataran tinggi, aliran sungai dan bukit kapur menghasilkan kuliner legendaris sekaligus favorit makan siang di Tuban bernama Welut Sego Jagung. Welut sego jagung ini memang pas menjadi makanan pokok saat siang hari. Sengatan matahari Tuban yang eksotis ditambah semilir angin itu akan menambah sensasi makan siangmu. Tahu kan rasanya jika kamu sedang berkeringat dan diterpa angin semilir. Duh dek! Aku kangen.

Jadi kapan ka Tuban dan merasakan sensasi kuliner Tuban ini? Kalau mau ke sana jangan lupa ajak saya, tapi traktir, yak! Hehehe. Terakhir Ayo ke Tuban!

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.