Makan Siang Populer di Tuban itu Dijuluki Welut Sego Jagung

Welut Sego Jagung
Welut Sego Jagung

Siang terik yang membakar kulit siapapun yang berada di jalan. Saya menyusuri salah satu ruas jalan berkelok di Kecamatan Semanding. Kecamatan terbesar di Kabupaten Tuban yang disebut-sebut sebagai cikal bakal pemerintahan modern Tuban yang diyakini bersamaan dengan periode Majapahit. Tujuan saya adalah menikmati makan siang favorit orang Tuban : Welut sego jagung.

Suasana panas terik adalah khas Tuban. Jadi ketika sampai Tuban jangan langsung judge bahwa sedang pemanasan global. Tuban ya dari dulu panas. Hehehe. Cuaca yang panas nan terik ini ternyata juga berpengaruh terhadap kuliner di Tuban. Kok bisa? Ayo kita simak tulisan ini.

Baca juga : Serabeh, Sarapan Khas Kabupaten Tuban

Jika di tempat dingin kulinernya adalah yang hangat-hangat, pedes dan sedikit asam. Maka di tempat panas seperti Tuban ini, kamu akan menemui makanan yang menyalak pedesnya dan membakar panasnya. Salah satunya adalah welut sego jagung. Makan siang favorit warga Tuban, dan juga yang membuat saya rela berpanas-panas menyusuri jalanan Tuban.

Di Tuban kamu akan mudah menemukan warung yang menyediakan menu ini. Dari warung tradisional seperti cemplon di Merakurak, Bagong dan Jangkar di Semanding sampai warung modern yang berjajar rapi di jalan protokol Tuban. Warung-warung tersebut senantiasa ramai pengunjung ketika jam makan siang tiba. Atau waktu lebaran, saat semua manusia-manusia Tuban kembali ke rumah dan kangen terhadap masakan yang pedasnya menyalak bernama welut sego jagung ini.

Di Tuban mayoritas adalah petani. Ini berdasarkan data BPS terakhir. Tapi mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi Kabupaten Industri. Entahlah mungkin pertanian kurang menterang bagi Pemerintah. Ndak paham saya. Di Tuban memiliki geografi yang unik. Dari mulai dataran rendah mendekati 0 meter dari permukaan laut sampai bukit kapur yang menjulang tinggi sekaligus kering.

Dataran rendah menghasilkan sawah yang subur ditambah juga daerah aliran sungai bengawan solo yang juga menghasilkan sawah yang subur. Sawah ini menghasilkan hewan yang bernama belut atau kalau orang Tuban nyebutnya welut. Welut hidup di tempat yang berlumpur, seperti kondisi tanah sawah yang umumnya berlumpur. Jadi enggak heran Tuban menghasilkan banyak welut.

Baca juga : Nasi Pecel Godong Jati Khas Kabupaten Tuban

Kemudian bukit kapur yang kering itu menghasilkan jagung kualitas tinggi dalam jumlah banyak. Makanya enggak heran orang Tuban sudah akrab dengan sumber karbohidrat pengganti nasi ini. Bahkan sebelum orang Indonesia khususnya jawa secara masif mengonsumsi beras, orang Tuban sudah mengonsumsi nasi jagung atau sering disebut sego jagung.

Sego jagung khas Tuban berbeda dengan nasi jagung daerah lain yang masih dicampur dengan nasi putih atau nasi dari beras. Sego jagung Tuban murni dari jagung yang dihaluskan lalu dinamakan bledekan. Bledekan ini dikukus dan jadilah sego jagung yang khas. Sebenarnya sego jagung khas Tuban itu terbuat dari jagung putih, tapi belakangan ini sudah sulit menemukan jagung putih. Maka yang banyak beredar di pasaran adalah sego jagung kuning.

Nah perpaduan dataran tinggi, aliran sungai dan bukit kapur menghasilkan kuliner legendaris sekaligus favorit makan siang di Tuban bernama Welut Sego Jagung. Welut sego jagung ini memang pas menjadi makanan pokok saat siang hari. Sengatan matahari Tuban yang eksotis ditambah semilir angin itu akan menambah sensasi makan siangmu. Tahu kan rasanya jika kamu sedang berkeringat dan diterpa angin semilir. Duh dek! Aku kangen.

Jadi kapan ka Tuban dan merasakan sensasi kuliner Tuban ini? Kalau mau ke sana jangan lupa ajak saya, tapi traktir, yak! Hehehe. Terakhir Ayo ke Tuban!

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Nyobain Ayam Geprek Bensu

Ayam Geprek Bensu Keju
Ayam Geprek Bensu Keju

Habis service mobil, kok pas waktu makan siang. Istri saya buka map nyari tempat makan di sekitar lokasi saya. Ternyata ada Ayam Geprek Bensu. Wah keren juga ini, makan di restoran milik artis. Menarik juga sih menurut saya, disaat artis-artis pada bikin cake yang saya pribadi bukan penggemar roti-rotian gitu, Bensu justru buka warung ayam geprek. Menambah variasi kuliner milik artis.

Google Map diset ke tujuan Ayam Geprek Bensu Tambun. Jalanannya ramai, ini yang bikin bingung kalau bawa mobil, hehe. Tapi lancar kok. Setelah beberapa lama saya belok kiri ke arah Jalan Mekarsari. Terus masuk ke underpass kemudian ketika keluar dari underpass tengok ke kanan, Ayam Geprek Bensu ada di kanan jalan. Tinggal sein kanan dan diarahkan oleh abang parkirnya untuk parkirin mobil.

Keluar dari mobil dan kaget, antriannya banyak. Wah bakal lama nih kayanya nunggunya, padahal udah laper banget. Pas masuk ke tempat makannya, kami disambut dengan senyuman petugasnya. Saya ditanya mau yang menu apa. Saya minta penjelasan sedikit tentang ayam geprek biasa dan ayam geprek keju. Kemudian si Mbaknya njelasin dengan ramah.

Jadi saya memilih menu ayam geprek yang level nol, jadi ndak ada sambelnya. Untuk anak juga soalnya. Kemudian istri saya pesan ayam geprek keju level 1. Seperti dijelaskan sama Mbaknya, kalau di sini ada 15 level, paling rendah nol dan paling tinggi 15. Tapi sepertinya level satu saja sudah berasa kok sambelnya dan sudah cukup membuat saya keluar keringet. Setelah selesai saya bayar. Nggak banyak kok, dengan pesanan seperti tadi saya hanya mengeluarkan kurang dari Rp 50.000,- itu sudah termasuk pajak.

Saya menuju ke lantai 2, karena di lantai 1 sudah penuh dan banyak orang ngantri. Dalam perjalanan ke lantai 2, saya masih mikir bakal lama ini mengingat antrian tadi. Di atas ternyata nggak sepenuh di bawah, ada beberapa anak-anak sekolah dan satu keluarga yang sedang menikmati hidangan. Tidak lama saya duduk, pesanan saya datang. Saya kaget ternyata secepat ini. Top buat komitmen pelayanan Ayam Geprek Bensu.

Saya membuka menu yang saya pesan. Punya saya ayam geprek level nol, jadi ndak ada sambelnya. Hanya nasi dan ayam goreng geprek. Saya coba colek dikit. Rasa dagingnya gurih dan lunak. Udah mirip sama restoran cepat saji tekstur ayamnya. Kemudian saya colek dikit kulit dan tepungnya. Hmmm… Enak banget, kriuk dan gurih. Ada rasa pedesnya dikit-dikit sih.

Kemudian saya coba ayam geprek keju milik istri. Tampilannya bagus, ayam geprek diberi sambel yang khas kemudian ditaburi parutan keju. Saya coba colek keju dan ayamnya. Paduan ayam geprek goreng yang gurih dan keju yang juga bernuansa gurih menghasilkan rasa yang maknyus. Uenak jaya. Sama seperti milik saya tadi, kulitnya ada sensasi pedas tipis.

Selanjutnya saya coba kombinasikan antara daging ayamnya, kulit, keju dan sambelnya. Hasilnya mantab! Saya menyebut sambel ini sambel korek. Rasanya sudah cukup membuat saya mengeluarkan keringat, padahal baru level satu. Tetapi saya memang dasarnya nggak doyan makan pedas, jadi jangan dijadiin patokan. Selera pedas saya ndak standard. Hehehe.

Kemudian acara dilanjutkan dengan makan bersama. Tidak ada AC di sini, jadi siap-siap lap keringet. Bensu sepertinya memang menyasar kelas menengah dan remaja. Soalnya harganya sangat bersahabat dengan rasa yang enak. Harganya saya rasa enggak jauh sama warung ayam goreng di tenda pinggir jalan.

Setelah beberapa saat, kami semua menyelesaikan makan siang kami. Kami menuju ke parkiran dan kembali pulang. Sampai ketemu di tulisan kuliner saya selanjutnya.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

 

Kuliner Legendaris Tuban : Tahu Petis Lapangan Merakurak

Tahu Petis Lapangan Merakurak
Tahu Petis Lapangan Merakurak – Tuban

Magrib baru saja selesai, biasanya inilah waktunya orang Tuban keluar rumah untuk sekadar menikmati malam atau mencari kudapan bahkan makan malam. Tetapi malam ini sepi alih-alih ramai. Tidak mengherankan karena hujan baru saja usai membasahi bumi wali.

Saat Tuban terbuai dengan dinginnya malam, di sudut lapangan Merakurak terdengar suara srang-sreng orang goreng tahu. Dengan suara kompornya yang khas, saya menyebutnya kompor howos karena bersuara howos-howos saat menyala apinya. Dulu menggunakan minyak tanah yang dipompa sekarang gunakan tabung gas tekanan rendah atau LPG.

Saya yang malam ituf kepengen banget makan tahu petis, mulai menyusuri jalan desa Kapu yang sepi juga. Pelan namun pasti saya menuju ke sudut lapangan merakurak. Letak warung tahu petis ini tepat di sudut barat laut lapangan Merakurak. Bukanya habis Magrib kalau tutupnya saya ndak tau. Tapi sepertinya sampai menjelang tengah malam.

Tahu Petis Lapangan Merakurak
Foto : Owner Tahu Lapangan Merakurak

Saya menstandar motor tepat di depan meja jualannya tahu petis Lapangan Merakurak. Saya sudah lama enggak beli tahu petis ini. Jadi saya lupa harganya berapa. Saya tanya berapaan ke Mas penjualnya. Terus Masnya bilang “segini lima ribu, Mas” sambil nunjuk sekresek tahu yang sudah dibungkus.

Yawes saya minta Rp 5.000,- saja. Sudah banyak kok. Bisa kamu makan 2 orang lah. Murah kan? Dengan cekatan Masnya memasukkan tahu yang baru digoreng ke kresek. Tidak lupa petisnya dimasukkan juga. Saya dapat tiga bungkus petis. Tambahkan juga garam dan taburan cabe hijau yang segar itu. Cabe di Tuban itu berwarna hijau segar lebih mirip ke kuning sih. Rasanya pedas nendang.

Setelah itu saya terima sekresek tahu dan berangkat pulang. Untuk menikmati tahu petis ini kamu harus bungkus, soalnya enggak ada tempat duduknya. Di Tuban sih umumnya memang seperti itu. Karena tahu ini memang jenis kudapan bukan makanan utama. Cocok untuk teman ngopi atau ngeteh apalagi dingin-dingin gini. Mantab pokoknya.

Kemudian kenapa saya bilang tahu petis Lapangan Merakurak itu kuliner legendaris Tuban? Ya soalnya kuliner ini sudah lama banget sejak saya kecil dulu. Dulunya hanya menempati pos ronda kecil dan sekarang membangun tenda. Selain sudah lama, kuliner ini pun tidak berubah rasanya. Dari dulu kala ya seperti ini rasanya enak jaya.

Setelah beberapa waktu kemudian saya sampai di rumah. Saya bongkar tahunya saya tata di atas piring kemudian di foto. Hasilnya ya di atas itu. Kemudian setelah itu baru saya santap satu per satu tahunya.

Tahunya bertekstur renyah, enak dinikmati pada saat panas. Saya buka bungkusan petisnya kemudian saya cocolkan tahunya. Hmmm… Enak banget. Rasa petisnya enggak berubah sejak saya kecil dulu, masih tetap sedap. Enaknya sih tahunya itu khas.

Sesuai perkiraan saya tadi, tahu petis Lapangan Merakurak yang berharga Rp 5.000,- ini pas untuk berdua. Saya habiskan dalam waktu singkat tahu petis ini. Buat kamu yang seneng berburu kuliner legendaris di Tuban ayo ke Merakurak.

Selain tahu petis Lapangan Merakurak ini, ada kuliner lainnya yang patut kamu coba. Jangan lupa kamu review di akun medsos kamu jika kamu telah berkunjung ke tempat-tempat menarik di Tuban. Terakhir, Ayo ke Tuban! Ayo ke Merakurak!

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Nasi Pecel Godong Jati Khas Kabupaten Tuban

Sego Pecel Daun Jati
Nasi Pecel Godong Jati

Pagi yang cukup basah di Tuban. Tidak mengherankan karena di minggu-minggu ini merupakan puncak musim hujan di Tuban. “Esuk-esuk ngeteki manuk, disambi ngopi karo cangkruk…” Duh gak tahan goyang iki Jeh, dengerin lagu terbaru JHF yang bertajuk Ngene/ Ngono. Oke balik ke masalah pecel. Tuban – Jogja itu berjarak 7 jam perjalanan darat, tapi entah kenapa kok saya suka sama Jogja. Lho kapan ini bahas pecelnya?

Kalau kamu pergi ke Tuban, maka pada pagi hari kamu akan menemui deretan penjual nasi pecel di hampir seluruh wilayah kabupaten ini. Dari ujung palang sampai ujung Kenduruan atau dari ujung Rengel sampai ujung Jenu sangat mudah menemukan berbagai variasi nasi pecel. Jika di Palang dikombinasi dengan pelas yang pedas maka kamu akan temui di Merakurak pecel dicampur dengan lodeh yang sedap belum ditambah lagi dengan daun kemangi yang mewangi itu.

Baca juga : Legen, Minuman Khas Tuban yang Jadi Buruan Saat Buka Puasa

Secara umum nasi pecel di Tuban menggunakan sambel kacang yang pakai kencur. Di beberapa daerah ada yang nggak pakai kencur. Kemudian sayurnya kangkung, kol, dan kecambah semuanya matang alias direbut. Semuanya dipadukan dengan nasi panas yang dimasak dengan didang. Nasi dang berbeda rasanya dengan yang dimasak pakai magic com. Biasanya disajikan saat panas, sampai terlihat kebul-kebul asap nasinya.

Di tempat lain sedang banyak digemari nasi pecel pincuk yang menggunakan daun pisang yang dibentuk lancip dibawah. Daun pisang dengan bentuk sedemikian rupa itulah asal mula nama pincuk. Nasi pecel pincuk ini terkenal di Madiun dan di tempat lain Jawa Timur. Kemudian bagaimana dengan Tuban? Apakah ada trend nasi pecel pincuk merambah Tuban?

Baca juga : Serabeh, Sarapan Khas Kabupaten Tuban

Ternyata berbeda, banyak penjual nasi pecel di Tuban yang membungkus nasi pecelnya dengan kertas minyak. Pembungkus ini jadi pilihan karena mudah didapat, murah harganya dan yang pasti mudah dilipat jadi membuat simple pengemasan nasi pecel. Tetapi belakangan banyak yang mulai kangen dengan kemasan nasi pecel klasik : menggunakan daun jati atau orang Tuban menyebutnya Godong Jati.

Dahulu penjual nasi pecel memang menggunakan daun jati. Tuban terkenal dengan hutan jatinya, jadi tidak sulit menemukan daun yang jika dibaret berubah warna jadi kemerahan ini. Kata penikmat nasi pecel di Tuban, kalau menggunakan daun jati itu rasanya lebih sedep. Bau daun jati ternyata mempengaruhi rasa nasi pecel yang dibungkusnya. Kalau kamu mau makan nasi pecel godong jati ini silakan datang ke Tuban pagi hari, biasanya mereka pagi buta sudah berjualan di seluruh penjuru Kabupaten Tuban.

Nasi pecel ada di Indonesia sejak penjajahan Belanda. Dari berbagai sumber, orang-orang Suriname yang dibawa oleh Belanda dari Jawa pun sudah gemar makan pecel. Variasinya banyak, jika di Tuban sayur utamanya adalah kangkung maka di daerah lain mungkin kecambah sama kol atau bahkan bayam. Tetap sama enaknya. Perwakilan Indonesia di negara-negara lain juga gencar memperkenalkan pecel ke masyarakat internasional. Sebut saja KBRI Suriname pada acara Expo Guyana 2016 lalu.

Terakhir saya mau kasih tau, ayo mulai kembali menikmati kuliner lokal. Kuliner lokal seperti nasi pecel godong jati ini adalah kuliner yang sudah melegenda, sejak dahulu kala orang tua kita sudah mengonsumsinya. Kalau kamu mau mencobanya ayo datang ke Tuban dan mari berwisata kuliner. Banyak yang lainnya sih selain nasi pecel ini, kamu bisa lihat di kategori culinary di Blog ini.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Sate Kikil Enak di Bekasi

Sate Kikil, Kuliner enak di Bekasi
Sumber Foto : dokpri

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata Bekasi? Iya saya tahu, ndak usah dijawab. Saya mau ngomongin kuliner di Bekasi nih. Rasanya kok kurang elok tinggal di Bekasi tapi belum pernah menulis tentang Bekasi. Karena blog ini sekarang akan berniche Travelling dan Kuliner maka pertama saya akan bahas soal Sate Kikil.

Kikil, makanan yang bahan dasarnya adalah bagian daging sapi yang diambil dari kaki yang cukup populer di Nusantara tentu dengan berbagai variasinya. Di Tuban sana kikil di masak soto. Berkuah segar dan gurih. Berbeda dengan di Bekasi ini. Di kota ini Kikil di masak dengan cara disate. Saya beberapa kali lewat jalan Pisangan Raya yang ada di Tambun Utara Kabupaten Bekasi. Saya mencium bau gurih. Bau apa gerangan itu?

Ternyata itu adalah bau sate kikil yang dijual beberapa PKL di sepanjang jalan tersebut. Jujur saya sebelumnya belum pernah makan sate kikil, walaupun konon di Jakarta pun ada. Setelah beberapa waktu pun saya bilang sama istri saya di rumah. Istri saya penasaran dan saya pun.

Pada malam hari diiringi hujan gerimis saya menyusuri jalan Pisangan Raya dan mencari penjual sate kikil. Dapetlah penjual sate kikil di dekat Indomart Villa Anggrek. Penjualnya ada disebelah kiri kalau dari arah Gading Terace. Ada tulisan sate kikil Betawi. Penjualnya Ibu-Ibu dan Bapaknya juga sih.

Saya berhenti dan beli. Karena belum pernah beli, saya beli aja Rp 10.000,- tanpa lontong atau nasi. Ibu penjualnya dengan ramah melayani. Mengambilkan sate yang sudah dibakar kemudian diberi sambel kacang. Gerobaknya nggak ada bedanya sama gerobak sate pada umumnya sih. Mungkin bedanya hanya bahan satenya saja.

Setelah dibungkus dengan rapih, saya bawa pulang sate seporsi. Oiya saya sebenarnya nggak suka makanan berbahan kikil. Bau kulitnya gimana gitu. Tadinya saya ragu mau beli sate kikil ini, takut baunya. Tapi sepertinya baunya enak-enak saja kok. Jadi makin penasaran sama rasanya. Motor saya gas dengan kecepatan 30 kmpj, santai saja.

Sampai di rumah saya buka bungkusan sate tadi. Kemudian saya coba gigit. Hmmmm…. lembut, gurih, ada kriuknya dari bawang goreng yang ditabutkan di atas sambel kacang tadi. Kemudian bau yang saya khawatirkan ternyata nggak ada. Aromanya sedap khas makanan yang dibakar. Suapan pertama dan berlanjut terus sampai habis tak bersisa. Oiya karena saya nggak bilang pedas atau tidak, ternyata sama Ibu penjualnya diberi yang pedas. Mantab!

Sekali mencoba sate itu, saya jadi ketagihan. Kemudian saya besoknya mencoba mencari sate kikil lagi, tapi sengaja mencari penjual lainnya. Masih di sepanjang jalan Pisangan Raya Bekasi Utara. Saya menemukan Bapak-Bapak penjual sate kikil lagi. Ini letaknya di pinggir jalan dibawah pohon rindang. Nggak jauh sih dari sate kikil yang awal tadi. Bedanya kalau yang ini bukanya pagi sampai sore. Kalau yang tadi malem baru mulai buka.

Saya beli sama seperti sebelumnya Rp 10.000,- tapi dengan tambahan lontong. Saya penasaran jika dimakan dengan lontong sepertinya enak. Saat ketemu penjualmya saya sudah pesan untuk sedang saja jangan pedas. Setelah itu sama persis dengan penjual sebelumnya. Bapak penjual ini dengan cekatan memasukkan sate yang sudah matang ke bungkusan, mengiris lontong, tambah dengan bumbu kacang dan ditaburi bawang goreng.

Saya pun pulang dan dengan tidak sabar saya langsung memakannya. Rasanya… Hmmm… Sama. Sama enaknya! Jadi kalau kamu ke Bekasi jangan lupa cicipin kuliner ini yak. Bekasi jauh itu mitos, Bro!

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Yuk Ikut! Saya Mau Makan Mie Pangsit Enak di Tuban

Mie Pangsit Ayam Tuban
Mie Pangsit Ayam Tuban

Mie adalah salah satu makanan favorit saya. Ketika di Tuban pun saya mencari panganan Mie kesukaaan saya yaitu Mie Pangsit. Apalagi cuaca akhir-akhir ini yang cenderung dingin sepertinya enak sih makan Mie. Sebenarnya udara Tuban ya gini-gini aja nggak pernah ekstrim panas. Saya sih paling suka udara Tuban.

Nah sebagai orang Tuban yang kebetulan juga suka Mie, saya mau ajak kamu untuk menikmati Mie Pangsit Enak di Tuban. Pertama saya tunjukin rutenya dulu, ya. Saya dari arah patung. Tahu kan patung Letda Sucipto yang jadi landmark-nya Tuban setelah patung kuda di Alun-alun?

Nah saya lurus terus menembus jalan Sunan Kalijogo yang lebar itu. Ndak perlu ngebut-ngebut, menikmati Tuban itu perlu kecepatan rendah supaya kita tahu betapa syahdunya jalanan Tuban. Hei untuk perantau! Kamu pasti kangen kan? Hehehe. Setelah itu kamu bakal ketemu perempatan Lacari. Sebenarnya namanya Latsari entah kenapa kok bisa jadi Lacari.

Dari Lacari belok ke kanan karena sekarang ndak boleh lurus. Lurus terus ketemu perempatan pramuka terus belok kiri. Lurus terus sampai perempatan karang waru. Dari situ ambil arah Jalan Lukman Hakim. Pelan-pelan ya sambil nglirik ke kanan. Tetap konsentrasi berkendara, ntar nabrak malah nggak jadi makan Mie Pangsit.

Warung Mie Pangsit Ayam
Warung Mie Pangsit Ayam

Ketika masuk warungnya kesannya bersih dan tertata dengan rapih. Kecil sih cuma nyaman kok. Saya sih datang waktu malam. Waktu bukanya ndak tahu pastinya. Tapi seharusnya tiap malam buka sih. Parkir di depan warung, langsung masuk warung dan pesan Mie Pangsit.

Baca juga : Cari Tahu Tek Enak di Tuban? Yuk ke Mas Penjual ini!

Nunggu cukup lama. Sabar saja. Karena kata istri, ini semuanya fresh from the alat masak makanya lama. Sambil nunggu, bisa kali kamu keluar melihat suasana malam Kabupaten yang ngengenin itu. Apalagi kalau hujan rintik-rintik, duh dek! makin bikin rindu. Asal ndak banjir aja, soalnya kalau banjir, menyebalkan!

Setelah nunggu beberapa waktu, Mie Pangsit saya datang. Sek bentar foto dulu buat bahan nulis blog. Cekrek! Oke sekarang saya ceritain Mienya. Mie Pangsit disajikan dalam mangkok. Diatasnya diberi daun selada hijau yang menyegarkan mata itu. Kemudian diatasnya lagi ada ayam goreng yang diiris kecil-kecil. Mengingatkan saya sama Cwimie yang terkenal di Malang itu.

Nah diatas ayam goreng kecil-kecil ditaburi bawang goreng. Kemudian paling atas ada pangsit goreng dua buah. Gimana mantab kan? Oiya saat disajikan Mienya masih kebul-kebul asapnya. Jadi pas kan kalau dimakan saat hujan-hujan grimis tipis manis, Duh!

Oke mari kita nikmati. Sendokan pertama, waduh bung ini enak betul. Rasanya kaya ada bau-bau gurih gitu. Eh gurih itu bau apa rasa? Intinya rasanya mantab baunya pun mantab. Oke mari kita coba ayamnya. Beneran enak ayamnya. Sobek dikit seladanya. Ya sama sih kaya selada pada umumnya. hehehe. Kemudian terakhir coba kita gigit dikit pangsit goreng. Duh uenak jaya, Jeh!

Saya dengan lahap menghabiskan sajian Mie Pangsit Ayam ini. Saya pesan teh juga untuk menunjang kenikmatan. Kalau di Tuban, beli teh pasti manis. Berbeda sama di Jakarta kalau bilang teh saja bakal dikasih teh tawar. Setelah makan saya memberikan sejumlah uang kepada istri untuk membayar.

Setelah dibayar, ternyata murah dibandingkan dengan rasa yang mantab jaya itu. Kemudian saya keluar, start motor dan pulang lagi. Semoga warungnya tetap barokah dan awet. Biar kalau saya kangen makan Mie Pangsit Ayam teteap bisa menikmatinya.