Kwan Sing Bio, Kelenteng Terbesar Seantero Asia Tenggara di Jantung Kabupaten Tuban

Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban

Bumi wali, brand yang diusung Kabupaten Tuban. Menandakan banyaknya wali yang bersemayam di Kabupaten ini. Selain Bumi Wali, Tuban memiliki brand lainnya yaitu The Spirit Of Harmony atau sebut saja TTSOH. TTSOH sebenarnya bukan barang baru. Sudah sejak lama Tuban memang hidup berlandaskan semangat harmoni dalam perbedaan. Contoh paling nyatanya adalah berdirinya kelenteng yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara : Kelenteng Kwan Sing Bio.

Saya pas cuti kemarin berkesempatan mengunjungi kelenteng ini. Kelenteng Kwan Sing Bio terletak di Jalan R.E. Martadinata, Tuban. Tepat di pinggir laut jawa. Kalau kamu sering lewat Pantura pasti tahu kelenteng ini. Tandanya mudah. Kelenteng ini punya ikon unik : Patung Kepiting Raksasa di pintu masuknya.

Saya berkunjung di sana pas hari minggu. Dulu-dulu sih ramai kalau pagi gini. Tapi mungkin ini karena imbas adanya CFD di Jalan Sunan Kalijogo. Sehingga mengurangi minat jalan-jalan ke kawasan sekitar kelenteng.

Saya parkir motor. Parkirnya gratis. Kalau mobil bisa parkir di lapangan parkir sebelah barat. Tanya saja sama petugas di sana.

Saya masuk ke pelataran utama kelenteng melalui lorong. Di lorong ini ada relief peta Indonesia, peta Tiongkok dan relief tembok besar Tiongkok. Tidak mengherankan, kelenteng memang tempat ibadah agama Khonghucu yang berasal daratan Tiongkok. 

Masuk terus ke belakang. Saya melihat bangunan megah. Mungkin sekitar 4 lantai. Bangunan berarsitektur Tiongkok. Hijau, merah, keemasan dan kuning adalah warna-warna yang mendominasi bangunan kelenteng Kwan Sing Bio. Di depan bangunan megah ini ada semacam boulevard yang luas.

Di tengah boulevard ini ada kolam yang besar. Di tengah kolam ada bangunan semacam kelenteng kecil gitu. Tertutup bangunannya. Saya tidak tahu berisi apa. Di sini sayangnya nggak ada guide. Kalau ada guide mungkin lebih jos. Jadi orang-orang awam macam saya ini jadi tahu seluk beluk kelenteng kebanggaan Tuban ini.

Masih di kolam boulevard. Selain bangunan kecil mirip kelenteng, kolam ini dilengkapi sama jembatan. Jembatan ini ya ala-ala Tiongkok gitu. Jembatan ini sering jadi spot untuk selfie. Selain jembatan ada juga patung-patung naga yang mengejar bola api. Pokoknya kalau kamu foto di sini suasananya udah kaya di Tiongkok.

Patung Y.M. Kongco Kwan Sing Tee Koen

Kamu tentu ingat beberapa waktu lalu ada patung yang didirikan di Kawasan Kelenteng Kwan Sing Bio. Sebuah patung yang berdiri di kawasan beribadah dan untuk keperluan ibadah. Kamu sudah masuk saja ke kawasan ini bakal sulit menemukannya. Karena patung ini berada di belakang bangunan setinggi 4 lantai.

Saya harus keluar dari boulevard utama menuju arah barat. Di sana ada semacam gerbang besar. Setelah itu noleh ke kiri baru kelihatan patung yang sempat jadi kontroversi di media sosial. Kalau di media sosial lokal Tuban sih adem ayem. Kan sudah lama memiliki semangat harmoni. Ini Bumi Wali, Bung. Jangan coba-coba provokasi soal SARA di sini. Ndak laku!

Patung ini diberi nama Y.M. Kongco Kwan Sing Tee Koen, sesuai dengan prasasti yang menempel pada pondasi patung ini. Di Prasasti itu terbubuh tandatangan Zulklifli Hasan, Ketua MPR RI.

Di sekeliling patung ada taman-taman dan relief yang menggambarkan kehidupan Y.M. Kongco Sing Tee Koen. Ada juga patung-patung panda yang lucu. Ada patung gajah dan lain-lain.

Setelah puas melihat-lihat patung ini, saya putuskan untuk kembali ke rumah. Ada yang menarik, di pelataran parkir ada Musholla. Iya benar ada Musholla di area peribadatan Kelenteng ini. Jadi buat kamu yang muslim, jangan khawatir jika ingin melaksanakan Sholat.

Saya sebenarnya ingin memasuki tempat beribadahnya, yang ada lilin-lilin besar itu. Cuma kok ya segan. Saya juga urungkan niat untuk meminta ijin masuk.

Terakhir #AyoDolanTuban

Farmhouse Lembang, Tempat Pas Bagi yang Kurang Piknik

Farmhouse Lembang

Libur kemerdekaan kemarin saya sejenak ingin merdeka dari kehidupan di Jabodetabek. Saya tancap gas ke Lembang. Macet-macetan di sepanjang Tol Bekasi, Cikarang sampai Karawang pun tidak masalah.

Cuma satu yang saya pikirkan : Segera masuk ke Tol Cipularang. Salah satu tol favorit saya setelah Jagorawi. Pemandangannya indah. Pegunungan kiri kanan. Lembah mengiringi kanan dan kiri.

Sayapun akhirnya melindaskan ban mobil saya ke Tol Cipularang untuk pertama kalinya. Jalanan lancar jaya. Selip kanan dan kiri. Mobil saya yang ber-cc 1200 ini tidak mampu mengimbangi mobil-mobil ber-cc raksasa.

Kesan saya berkendara di Tol Cipularang : Menegangkan! Jalanan naik-turun dan berliku. Memacu adrenalin.

Saya lihat mobil-mobil banyak yang “berjatuhan” di tol ini. Masalah paling umum : Overheat. Padahal mobilnya lebih bagus ketimbang punya saya. Saya jadi was-was. Tapi Alhamdulillah sampai di Lembang mobil saya baik-baik saja.

Saya sampai di hotel Alam Permai pukul 16.30 WIB. Hotel ini cukup dekat dengan tujuan saya : Farmhouse. Saya Checkin lalu menyegarkan badan dengan mandi. Airnya dingin. Hajar saja sudah lama enggak mandi air sedingin ini. Jangan lupa cek google map untuk tahu seberapa macet jalanan ke atas menuju Farmhouse. Hasilya : Hijau.

Rumah Hobbit Farmhouse Lembang

Start mesin mobil. mundur lalu belok kanan. Keluar pintu hotel. Menuju ke Farmhouse. Harus ekstra hati-hati. Jalanan didepan hotel ini elevasinya lumayan. Jadi harus sabar. Jangan asal srobot. Kasih tanda yang jelas jika ingin menyebrang.

Tidak berapa lama saya berada di Jalan Raya Lembang, sudah ada tanda-tanda Farmhouse. Langsung masuk ke parkiran. Sepi parkirannya, karena sudah sore. Saya tanya, ke pengelolanya ternyata mereka tutup jam 20.00 WIB. Saya menuju ke loket. Nggak antri karena sudah sore.

Tiket dapat ditukarkan dengan susu Farmhouse : di loket penukaran tiket. Ada tiga varian rasa susunya : Cokelat, Strawberry dan original. Saya pilih original.

Pemandangan sorenya bagus. Bangunan-bangunan khas film The Hobbit disinari matahari yang menguning. Mataharinya juga membulat. Ditambah dengan instalasi lampu-lampu yang dibuat temaram. Suasana hangat di tengah dinginnya Lembang.

Saya kok merasa beruntung mengunjungi tempat keren ini di saat sore hari jelang matahari terbenam. Pertama saya ke area kincir. Dibuat khas Belanda. Dikelilingi taman bunga. Spot ini menarik untuk dipakai foto. Banyak juga pengunjung yang memakai kostum eropa ala Hobbit gitu di farmhouse. Sepertinya disewakan. Saya tidak mencoba mencari tahu lebih dalam.

Saya menuju area kebun binatang interaktif. Ada domba, marmut dan kelinci. Sepertinya ini tempat untuk memberi makan hewan-hewan itu. Karena sudah hampir malam maka tempat itu tutup. Tidak melayani lagi pemberian makan secara langsung. Tidak mengapa.

Dermaga di Farmhouse

Bergeser sedikit dari kebun binatang interaktif. Ada sebuah dermaga yang menempel di tebing. Pemandangan tebing curam ini sangat bagus. Saya selalu senang menikmati pemandangan yang membebaskan penglihatan.

Disini terlihat langit yang sudah mulai meredup. Hewan malam keluar dari sarangnya. Pohon-pohon mulai bergoyang perlahan ditiup angin malam yang menenangkan. Udara semakin dingin. Duh uenak udaranya. Sementara pengunjung sudah pada meninggalkan tempat ini. Ya maklum sudah malam.

Sebenarnya banyak spot di sini. Cuma karena saya ke sana pas sore hari, jadinya nggak sempat mengeksplorasi seluruhnya. Tapi saya tetap merasa buruntung. Saya bisa menikmati udara sore yang segar dan suasana sunset yang menyenangkan sekaligus membahagiakan.

Jadi untuk kamu yang kurang piknik, Yuk piknik ke Farmhouse Lembang.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Yuk! Jalan-jalan di Tuban dengan Becak

Becak di Tuban
Becak di Tuban

Pagi yang dingin dengan angin yang kencang melanda Bumi Wali Tuban. Saya baru saja selesai sarapan dengan keluarga tercinta. Saya pagi ini punya janji dengan putri saya untuk mengajaknya naik becak keliling Tuban. Maklum dia belum pernah naik becak, lagian seram juga kalau naik becak di kota tempat kami tinggal sekarang, ruwet dan macet.

Saya pun menentukan rute, pengennya sih dekat rumah di Tuban sini, cuma kok ramai anak-anak sekolah dan orang-orang berangkat kerja. Yaudah kita ke Alun-alun saja. Di sana kondisinya lebih kondusif jika pagi hari seperti ini. Lagian di sana memang banyak becak yang mangkal. Saya akhirnya ke arah Alun-alun lalu parkir di depan Kantor Pos.

Saya langsung menuju ke tukang becak yang mangkal di sana. Saya pun naik sama putri saya. Langsung deh putri saya mendendangkan lagu kesayangannya yang berjudul Becak. Dengan cerewet menunjuk kanan dan kiri becak bertanya itu apa ini apa dan kenapa kok begitu wah seru kan bayanginnya.

Pagi itu sedang ada kegiatan di depan kantor pemkab Tuban jadi saya mengambil rute ke arah Swalayan Bravo. Di sini juga banyak sekali becak yang mangkal menunggu penumpang. Becak memang alat transportasi yang sudah lama di kenal di Tuban. Becak di sini berbeda dengan yang ada di Jogja. Becaknya lebih kecil dan lebih ringkas.

Jadi jangan heran becak-becak di Tuban mampu ngebut. Sejak beberapa tahun lalu becak menjadi angkutan resmi wisata Tuban, tepatnya sejak parkir wisata di daerah Kebonsari di buka. Umumnya becak-becak wisata yang beroperasi di parkir wisata ini melayani rute parkir wisata ke makam Sunan Bonang.

Padahal dari parkir wisata ini kamu bisa mengakses beberapa tempat wisata. Di sebelah selatan ada goa Akbar, di sebelah utara ada makam Sunan Bonang, Museum Kambang Putih, Alun-Alun Tuban dan pantai Boom. Semua tempat wisata tadi bisa kamu akses dengan menaiki becak.

Becak-becak di Tuban juga memiliki keunikan. Apa itu? Apalagi kalau bukan musik. Becak di Tuban khususnya becak wisata yang ada di parkir wisata tadi banyak yang melengkapi becaknya dengan perangkat audio yang akan memanjakan telinga penumpangnya. Lagunya sih rata-rata ya koplo. Tuban ini Jawa Timur Bro, jadi ya jangan heran kalau konser Nella Kharisma justru lebih rame penonton dibandingkan misalnya Padi Reborn walaupun sama-sama gratis.

Walaupun di tempat lain sebut saja Jakarta, becak di larang, di Tuban becak tetap eksis dan saya rasa makin banyak populasinya. Kamu kalau ke Tuban akan dengan mudah menemuinya. Di kota lain, becak dianggap biang kemacetan karena jalannya yang lambat. Alasan lain beberapa kota melarang becak adalah adanya anggapan penghisapan manusia oleh manusia yang lain.

Namun kini cara pandang becak sudah mulai berubah, tidak berbasis manusia menghisap manusia lainnya tapi tentang lingkungan yang semakin padat oleh gas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Soal lingkungan ini, kemarin saya melihat ada sebuah komentar yang mengomentari Presiden RI yang sedang meninjau trotoar di Jakarta, kurang lebih begini “Kok setiap ada foto berlatar Jakarta selalu mendung ya”. Lalu ada yang menyahut “Duh itu bukan mendung itu polusi”.

Kalau di Tuban kamu masih bisa menikmati sejuknya udara walaupun kamu sejatinya sedang berada di Pesisir yang biasanya berudara panas. Kamu juga masih bisa menikmati birunya cinta, eh birunya langit maksudnya. Benar-benar biru kaya di lukisan itu lho. Tata kota Tuban juga rapih, nggak ruwet, macet sih dikit kalau pas jam berangkat sekolah sama pulang sekolah. Saya belum dapat sih data tertulis tentang kualitas udara di Tuban, namun fakta langit biru itu sudah cukup kok.

Oiya lanjutkan cerita naik becaknya. Saya melewati jalan sebelah Bravo Swalayan. Di sini banyak becak yang mangkal menunggu penumpang. Barisnya rapi satu per satu tidak ada saling menyalip. Kemudian sampai di Perempatan kali tempe yang sekarang dikenal sebagai perempatan Bravo, saya belok ke kanan. Ingatkan Bapak becaknya untuk hati-hati ya, di sini lalu lintasnya semakin ramai.

Menyusuri jalan Basuki Rahmat, Pusat Bisnis paling sibuk di Tuban. Pohon-pohonan masih setia melingkupi jalan ini. Saya bisa menikmati jalanan yang adem. Padahal ini pesisir lhoh. Setelah sampai di perempatan pegadaian, ambil ke kanan masuk ke Jalan Pemuda. Sebuah jalan yang memang mayoritas pengunjungnya adalah anak muda. Lurus terus sampai perempatan sumur serumbung yang legendaris itu. Lalu belok ke kanan ke Kantor Pos lagi. Lalu selesai.

Untuk Pak becaknya, terimakasih sudah menjaga udara di Tuban, lalu sudah memberi kesan pada putri saya.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Sendang Asmoro Ngino, Bukan Sekedar Tempat Wisata

Bersama Kepala Desa Ngino di Sendang Asmoro

Pada kunjungan ke Tuban saat libur lebaran kemarin saya kok ingat sama Sendang Asmoro yang beberapa waktu lalu viral di Media Sosial. Walaupun viralnya masih di kalangan masyarakat Tuban, tapi sudah bikin saya penasaran siapa sih penggagasnya. Bukan apa-apa soalnya Sendang Asmoro adalah pionir tempat wisata di desa sebelum yang lain bermunculan, baik yang sama sekali baru maupun yang hasil restorasi menjadi lebih baik dari sisi pengelolaannya.

Suatu hari saya mengutarakan niat saya untuk ketemu sama Pak Wawan Hariadi, Kepala Desa Ngino. Gayung bersambut, kawan saya yang kebetulan kenal dengan beliau mau memfasilitasi untuk bertemu. Akhirnya disepakati kami bertemu di tempat wisata Sendang Asmoro besutannya. Eh kawan-kawan Blogger juga ingin ikut, ya sudah sekalian Kopdar sama Blogger Tuban yang mantab jaya itu. Sekalian halal bi halal.

Saya berangkat pagi dari Kapu jam 9.00 WIB kurang lebihnya. Saya jalan melalui Jembatan Jambon, lurus ke timur sampai al falah, lalu ambil kanan ke arah pabrik batu kapur yang sekarang jadi nama perempatan, pabriknya udah tutup. Ambil kanan ke arah watu gajah, lurus terus ke selatan sampai bertemu gerbang desa Penambangan. Perjalanan usai? Belum masih jauuuhhh. Saya lurus terus sampai saya ragu kemana arah Sendang Asmoro. Beberapa kali ketemu pertigaan atau perempatan yang mengharuskan saya menghentikan mobil dan bertanya ke orang-orang.

Akhirnya saya ketemu gerbang desa Ngino. Ya Allah kok ndak ada petunjuknya blas batin saya agak menggerutu sih. Kemudian saya kembali memacu mobil dengan kecepatan rendah karena tetap saja saya belum bisa menemukan petunjuk yang pasti dan kearifan lokal berupa tanya-tanya jalan pun tetap menjadi andalan supaya ndak kesasar. Setelah beberapa lama saya sampai di pintu gerbangnya. Tepat di pintu masuknya ini baru saya temui papan petunjuk arah.

Saya belok kiri, lalu ada sejumlah orang yang mengarahkan mobil saya untuk parkir. Saya mbatin wah ini kena berapa parkirnya. Kemudian saya parkir dengan mulus, dan saya pun bertanya “Berapa, Pak, Parkirnya?” Tahu nggak jawaban mereka apa? “Gratis, Mas!” Wah ndak salah denger nih. Ternyata emang beneran gratis. Wah ndak rugi saya, biasanya tempat-tempat wisata akan menarik tempat parkir, di sini malah gratis.

Saya keluar mobil lalu menuju ke loket. Tiket masuknya Rp 10.000,- per orang, kalau anak kecil di bawah satu tahun sepertinya gratis. Kemudian saya masuk. Duh seger banget, Mas. Suasana asri, pohon-pohon besar menaungi Sendang Asmoro. Di kiri jalan masuk ada kolam renang yang sudah bebas dinikmati oleh pengunjung bertiket. Masuk lebih dalam, di kanan-kiri ada penjual makanan, kudapan dan makanan ikan. Iya benar ada yang jual makanan ikan. Penasaran? Ayo kita lanjut.

Masuk ke area Sendang Asmoro saya disuguhi pemandangan orang-orang yang sedang duduk-duduk di kursi yang nyaman. Mereka bercengkrama dengan sesamanya. Duh Mas Inggi, amal jariyahmu menyenangkan orang-orang ini semoga menjadi pemberat timbangan amal baik panjenengan di akhirat kelak. Di sudut kiri ada orang-orang berkaos merah marun. Ini pasti para Blogger Tuban. Sementara itu berjarak 5 meter ke arah jam 2, ada dua orang yang sedang asyik ngobrol sambil memandangi Sendang. Ya orang berdua itu Mas Widi dan Pak Wawan Hariadi.

Saya langsung gabung saja. Terus langsung protes sih. “Pak, saya kesasar, nggak ada petunjuk jalan” kata saya. Pak Wawan dengan rendah hati menjawab “Iya, Mas, sudah banyak yang mengeluhkan, khususnya wisatawan dari luar Semanding, kita upayakan nanti Mas”. Wah jadi sungkan saya. Hehehe. Ternyata beliau sudah menyadari dan sudah jadi rencana beliau untuk memperbaikinya. Saya lanjut tanya, “Pak kok parkirnya gratis, padahal bisa bantu pendapatan lhoh, di tempat lain Rp 5.000,- per mobil dan tak rasa wajar.” Bukannya jawab Pak Inggi malah tanya “Menurut panjenengan gimana? Tiketnya murah atau tidak?” Jawaban saya ya murah wong parkire gratis je.

Oiya saya cerita ya, di sebelah kiri tempat saya ngobrol sama Pak Inggi ini, ada spot foto yang ikonik di Sendang Asmoro, kaya dermaga terus ada dekorasinya gitu. Kemudian kalau mau jalan lagi ada wahana sepeda air dan flying fox harganya sama, yaitu Rp 10.000,- untuk sekali main. Kamu bisa menikmati Sendang Asmoro sambil naik sepeda air, dan melihat teriakan histeris dari orang-orang yang sedang menikmati flying fox. Kamu bisa bayangin kan gimana serunya. Kalau kamu perhatikan di sebelah kanan jembatan kecil yang menghubungkan dengan taman pohon jati dan ada gazebo-gazebonya. Dari atas jembatan ini kamu bisa ngasih makan ikan. Makanan ikannya bisa dibeli di warung yang dekat pintu masuk tadi.

Pak Inggi cerita juga, bahwa sendang ini nyawanya ada di pohon-pohon besar yang menaunginya. Ternyata beliau sadar bahwa kelestarian lingkungan memang hal yang harus diperhatikan demi masa depan desanya. Sendang ini juga telah menjadi kawan petani di desa Ngino, karena dari sinilah sawah-sawah di desa Ngino mendapatkan air. Selain sebagai pengairan, Sendang ini juga dulu menjadi sumber air bersih bagi warga sekitar. Jadi ya memang warga desa Ngino ini sangat mencintai sendangnya sebagai pertanda cinta kepada lingkungan. Pak Inggi ini hanya berusaha menjaganya dengan memberi nilai tambah dari Sendang Asmoro, caranya ya dibuatlah taman wisata ini.

Pak Inggi ini saat saya memberi masukan beliaunya dengan terbuka menerima. Saya usulkan waktu itu, supaya dibuatkan festival komunitas. Karena komunitas-komunitas ini influencenya lumayan untuk menggali pasar lebih dalam lagi. Kemudian saya juga cerita soal pengembangan wisata berbasis masyarakat seperti di Gunung Kidul. Semoga apapun nanti yang diperbuat oleh Pak Inggi dapat memberikan dampak yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus kelestarian alam.

Tempat ini juga menyerap tenaga kerja lokal. Ada pedagangnya yang hanya ditarik retrebusi. Saya lupa besaran retrebusi dan jumlah pedagang yang ada di sini. Duh padahal Pak Inggi udah ngasih saya angka detailnya, cuma lupa sayanya. Kemudian tenaga loket, parkir lalu pemeliharaan dan operasionalnya. Juga ada pengelola wahananya seperti flying fox dan sepeda air. Jadi memang benar bahwa Sendang Asmoro Ngino bukan sekedar tempat wisata. Ini adalah pembuktian bahwa orang desa itu mampu memberi nilai tambah terhadap desanya jika diberi kesempatan. Sendang Ngino selain tempat wisata, juga merupakan wahana konservasi, ikon kebanggaan sekaligus peningkatan kesejahteraan warga desa.

Waktu pun semakin siang. Saya sudah ngalor-ngidul ngobrol dengan Pak Inggi soal Sendang Asmoro. Sayapun beranjak dari Sendang Asmoro dengan keyakinan bahwa desa akan tetap mandiri sepertu selama ini dan akan meningkat kesejahteraannya.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Ramadan Ekstra : Mudik Pertama Gunakan Mobil Pribadi

Mudik

Dari awal Februari tahun ini, kami sekeluarga sudah memikirkan tentang hajatan mudik pas lebaran nanti. Puncaknya adalah ketika tiket Kereta Api sudah dapat dipesan melalui berbagai channel. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan mobil pribadi. Keputusan untuk menggunakan mobil pribadi ini dilatari bahwa sekarang jalan tol sudah sampai Semarang, sehingga rasanya sudah tidak ada kejadian seperti Brexit. Tapi saya sadar bahwa akan membutuhkan persiapan yang matang, karena segala hal harus kami hadapi sendiri.

Konsep persiapannya kan harus mengacu pada kenyamanan pada saat mudik, apalagi saya membawa anak yang umurnya baru menginjak tiga tahun saat mudik nanti. Jadi saya harus menjamin kenyamanan anak saya saat berkendara supaya tidak jenuh dalam perjalanan dan Bapaknya bisa menyetir dengan tenang. Agak deg-degan juga saya kalau harus menyetir segitu panjangnya, hamping 800 KM, benar-benar Ramadan Ekstra  Lalu barang apa saja sih yang harus saya persiapkan?

Pertama saya mau cari kasur mobil yang akan saya taruh di jok belakang. Sehingga bangku belakang full digunakan oleh anak saya untuk tidur. Kemudian saya juga butuh bantal mobil untuk membuat lebih nyaman kepala saya saat menyender di jok mobil, dan terakhir tentu saja bantal dan guling yang akan mendukung kasur mobil tadi. Duh rasanya saya ndak sabar. Terus karena saya kerja dari Senin sampai dengan Jumat dan susah sekali mencari waktu untuk ke mall, dan saya juga bingung sebenarnya mall mana yang menjual barang-barang tadi, jadinya saya browsing-browsing di internet. Eh ternyata di tokopedia ada lhoh. Alhamdulillah. Pilihan harga dan barangnya banyak, jadinya nggak harus susah-susah nawar.

Saya seperti umumnya orang Indonesia, sukanya barang murah. Terus gimana sih supaya dapatkan harga murah saat berbelanja di toko online seperti tokopedia ini. Simak yak!

Bandingkan harga setiap toko onlinedi Tokopedia

Memiliki banyak toko online berkualitas, Tokopedia memungkinkan kita untuk membandingkan harga berbagai produk kebutuhan dengan lebih mudah. Cukup cari produk yang dibutuhkan, ribuan produk dengan berbagai harga siap untuk dibeli. Untuk menghemat pengeluaran belanja online saat Ramadan, cukup pilih produk dengan harga tepat dan spesifikasi yang pas.

Pilih produk berkualitas dari kreator lokal

Untuk membuat Ramadan Ekstra, bukan berarti harus selalu gunakan barang branded dengan harga selangit. Tokopedia, e-commerce dengan produk terlengkap memiliki koleksi  berbagai produk hasil kreasi kreator lokal maupun brand terkenal dunia. Hemat pengeluaran belanja kita di bulan Ramadan dengan memilih produk kreasi dari kreator lokal yang hadir dengan kualitas bersaing namun dengan harga yang lebih miring

Cari toko online terdekat

Saat berbelanja online, komponen biaya yang tak boleh terlupakan adalah biaya ongkos kirim (ongkir). Pilihlah toko online yang lokasinya paling dekat dengan lokasi kita untuk mengurangi ongkir berlebihan. Di Tokopedia, kita dapat mengetahui lokasi toko online secara detail sehingga kita dapat memilih toko online dengan lokasi terbai

Pilih cara pembayaran yang tepat

Salah satu kemudahan berbelanja online di Tokopedia adalah dalam hal cara pembayaran. Berbagai metode pembayaran dapat kita gunakan mulai dari Saldo Tokopedia, transfer bank, kartu kredit, cicilan, hingga pembayaran melalui minimarket. Memilih metode pembayaran yang sesuai dengan kondisi keuangan tentu dapat menghemat pengeluaran saat berbelanja online.

Pilih metode pengiriman paling efisien

Dalam melakukan pengiriman barang yang kita beli, Tokopedia memberikan beberapa alternatif pengiriman, mulai dari pengiriman secara konvensional hingga kurir instan melalui jasa transportasi online. Dalam memilih metode pengiriman ini, kita dapat membandingkan biaya ongkos kirim terbaik diantara metode pengiriman yang ada untuk menghemat belanja online kita.

Manfaatkan promo dan diskon

Promo atau diskon memberikan pengaruh yang signifikan untuk menghemat pengeluaran kita dalam berbelanja online. Di bulan Ramadan kali ini, Tokopedia memberikan kesempatan baru bagi pembeli dalam menikmati bulan Ramadan. Dengan rangkaian promo sepanjang bulan Ramadan yang bisa kita gunakan untuk buat Ramadan kali ini makin Ekstra.

Makin Ekstra lagi, masih ada rahasia kejutan pada 25 Mei dari Tokopedia yang akan membuat Ramadan Ekstra menjadi lebih Ekstra! Layaknya festival belanja online “Black Friday”, kejutan seperti apa yang bakal buat pengalaman belanja online di bulan Ramadan Ekstra ini jadi lebih special? Saya sih berharap sebenarnya ingin diskon dan pengiriman seluruh Indonesia gratis, supaya saya bisa kirim bingkisan-bingkisan dengan hemat ke saudara-saudara jauh yang tidak sempat berjumpa saat Lebaran tiba nanti. Tapi apa sajalah yang penting diskonnya gede, lhoh!

Taman Wisata Matahari, Tempat Liburan Murah di Kawasan Puncak Bogor

Taman Wisata Mandiri
Taman Wisata Matahari

Di jaman millenial seperti sekarang, travelling ibarat bayar SPP sekolah atau bahkan ibarat googling soal keagamaan : rutin. Walaupun rutin toh kita biasanya akan mencari tempat liburan yang murah, tempatnya bagus dan yang paling penting bisa nangkring di Instragram. Sekarang instagram konon mengubah algoritmanya sehingga para netizen dituntut untuk menghasilkan foto yang cihuy supaya awet bertengger di laman beranda followernya.

Di pulau jawa bagian barat, Puncak dan Bandung masih menjadi primadona tempat liburan orang Jakarta. Ini tergambar dari macetnya pintu tol yang mengarah puncak dan pintu tol ke arah Bandung yang selalu menghiasi layar berita yang Jakarta sentris ini. Padahal di bagian Indonesia ada aktivitas yang lebih seru dalam mengisi liburan, tapi toh Televisi kita menganggap bahwa kemacetan di Bandung dan Puncak itulah liburan sejati, paripurna dan sempurna untuk diberitakan.

Sayapun sebagai bagian dari generasi ini akhirnya mengamini bahwa liburan di Puncak dan Bandung itu memang seru. Walaupun alasan saya sebenarnya karena jarak rumah saya lebih dekat ke kedua kota tersebut alih-alih mencari keseruan lebih di bagian Indonesia lainnya. Intinya sih ndak punya duit saya kalau harus melancong jauh-jauh. Setelah diskusi sama istri, saya memutuskan untuk berlibur ke Taman Wisata Matahari puncak, Bogor.

Lagi-lagi sebagai generasi millenial yang menggantungkan hidupnya sama google. Saya mulai googling segala hal tentang Taman Wisata Matahari. Saya dapat informasi mengenai harga tiket masuknya, tiket mobilnya dan wahana apa saja yang ada di sana. Riset awal saya menunjukkan bahwa untuk menuju sana saya harus masuk tol Jagorawi via lingkar luar Jakarta, kemudian harga tiketnya Rp 45.000,- per orang. Kemudian ada banyak wahana yang umumnya membayar sendiri alias tidak terusan. Tiket terusan hanya untuk beberapa wahana.

Pagi yang indah dan cerah, saya mulai membuka tutup mobil saya. Maklum ini mobil hanya dipakai saat weekend, di hari lain ya hanya menghuni garasi dengan selimut kebanggaannya ini. Bersih-bersih kabin, kemudian loading barang, stater mesin dan siap untuk berangkat. Masih pagi udara dan lalu lintas Bekasi masih bisa diajak kerjasama, siang dikit pasti udah ngajak kelahi panasnya. Tidak butuh waktu lama saya sudah masuk ke Tol Lingkar Luar dan lanjut ke Jagorawi. Tol Jagorawi ini tol favorit saya setelah tol Cipularang kalau lagi ndak macet. Ha piye, kedua tol itu adalah obyek yang sering saya gambar waktu TK dulu. Dua gunung dengan jalanan yang lebar dan panjang, serta kanan kiri yang hijau kadang ada persawahan, syahdu betul.

Sampai di pintu tol Ciawi saya lega karena sedang ada buka tutup ke arah atas, jadi aman deh. Kesempatan nggeber mobil yang kebetulan belum pernah nanjak. Lewat pintu tol langsung disambut sama jalan raya puncak yang naik turun, walaupun sebenarnya masih enteng sih untuk yang sudah pengalaman. Karena track yang seperti itu pakai D4 kok rasanya berat, saya turunin ke D3 agak mendingan bisa nyelap-nyelip kendaraan yang di depannya. Gini ternyata rasanya nyetir mobil matic di jalan yang naik turun. Nanti pulang ke Tuban kayanya mesti nyoba track Pujon – Malang.

Tidak butuh waktu lama saya sampai di pintu masuk Taman Wisata Matahari. Masih sama seperti dulu, diawali dengan jalan yang turun menurut saya agak tajam sih tapi lebar jadi santai saja. Sudah ramai bus-bus pariwisata. Saat itu saya sampai jam 10an pagi. Kalau tidak jelas tanya saja sama petugas yang standby. Saya beberapa kali bertanya dimana pintu untuk ke tempat parkirnya. Akhirnya sampai di gerbang yang sepertinya khusus mobil pribadi. Saya ditanya berapa orang, saya jawab 3 orang karena anak di atas dua tahun sudah harus bayar.

Setelah bayar saya harus ekstra hati-hati dalam menyetir mobil. Karena sudah masuk di area wisata, banyak pedestrian yang mayoritas anak-anak. Masukan untuk pengelola sebaiknya jalurnya dipisah antara pedestrian dan kendaraan. Suasana bogor yang adem sudah berasa, suara-suara serangga hutan kemudian gemricik air. Duh Dek! Tapi Bogor lagi panas-panasnya sebenernya. Saat keluar mobil, matahari langsung menyengat kuat, walaupun masih dalam toleransi sih. Beberapa lama saya cari parkir akhirnya sampai di tempat parkir dekat wahana kereta mini.

Keluar dari tempat parkir, kemudian saya bingung mau kemana dan ngapain karena tempatnya luas dan wahananya banyak. Akhirnya saya putuskan untuk coba menggunakan mobil-mobil berkarakter yang mengelilingi Taman Wisata Matahari. Dengan membayar 15.000 per orang, saya naik mobil karakter. Terminal mobil ada di dekat taman Palm, tanya petugas terdekat saja. Saya pun berkeliling Taman Wisata Matahari. Selama perjalanan saya bertanya-tanya soal wahana-wahana yang mungkin saya kunjungi.

Dari informasi driver mobil tadi, saya mendapatkan informasi bahwa tiket yang saya miliki ternyata adalah tiket terusan yang bisa untuk menikmati beberapa wahana secara gratis. Saya diskusi dengan istri dan memutuskan untuk mengunjungi kereta mini, perahu karet dan trampolin. Kenapa saya pilih itu, anak saya adalah penggemar kereta api, perahu dan lompat-lompat. Setelah itu saya mulai dengan perahu karet karena dekat dengan terminal mobil tadi.

Di wahana ini diberikan satu perahu karet, bisa diisi maksimal 4 orang lah ya. Kemudian dibekali dua dayung, tanpa pemandu. Jadi seru-seruan diatas perahu karet. Anak saya yang dasarnya suka main air, huuu… seneng banget. Naik perahu karet sambil menikmati suasana Taman Wisata Matahari. Saran saya sih harus dengan yang enggak panikan supaya bisa mendayung dengan terarah. Sebenarnya bisa juga meminta pemandu dengan memberikan uang “seikhlasnya” kepada pemandunya.

Beberapa lama saya muterin danau yang menjadi arena bermain perahu karet, sayapun berusaha menyudahinya. Beberapa kali bertabrakan dengan pengunjung lain menuju tepi ternyata malah menjadi sensasi tersendiri. Kami senang mereka yang kami tabrak perahu karetnya pun ikut tertawa lepas, seperti semua beban hidupnya rontok. Sepertinya mereka jarang tertawa selepas yang saya lihat saat itu.

Setelah itu saya berjalan kaki menuju wahana kereta mini. Ini wahana masih gratis dengan tiket terusan. Antrinya lumayan banyak. Saya awalnya mau supaya anak saya yang berusia 2,5 tahun naik sendiri. Tapi setelah saya lihat sepertinya tidak aman kalau sendirian. Harus didampingi sama orang tua. Akhirnya saya pun ikut antri wahana ini. Walaupun antrinya banyak tapi tidak terlalu lama menunggu, untuk dapat naik ke kereta. Ini karena kereta mininya cuma satu putaran dan putarannya pendek.

Akhirnya tiba giliran saya. Saya naik bertiga sama anak dan istri. Kereta mini pun berjalan. Sama seperti pengunjung sebelumnya, belum puas rasanya menaiki kereta ini eh sudah sampai saja. Tidak apa-apa yang penting sudah merasakan sensasinya. Lepas itu saya ke parkiran mobil. Karena jarak ke wahana selanjutnya lumayan jauh, saya putuskan untuk bawa mobil dan cari tempat parkir di sekitar wahana trampolin.

Sayapun akhirnya masuk ke Trampolin. Di tempat ini saya harus mendapatkan stempel seperti di dufan. Sebenarnya trampolin ada di wahana dunia fantasi. Masuk langsung ke Trampolin dan anak saya pun takut. Padahal waktu lihat anak-anak lain lompat-lompat dia kaya exited dan pengen ikut. Eh pas masuk ke trampolinnya malah mogok nggak mau. Katanya takut, soalnya dia masih kecil dan anak-anak lainnya yang lompat-lompat umumnya sudah besar. Tapi lama-lama dia tergoa untuk lompat-lompat, akhirnya malah nggak mau selesai.

Baik jam di HP sudah menunjukkan jam 13.00 WIB, waktunya makan siang. Dekat dari Trampolin ada tempat makan yang enak sih namanya Sundra Express, bisa dapet potongan 10% ketika menunjukkan tiket terusan yang dibeli di pintu masuk tadi. Makanannya khas sunda sesuai namanya. Saya sebagai orang jawa sih cocok-cocok saja rasanya. Lagian udah laper banget. Nah Sunda Express ini jadi tempat pemberhentian terakhir saya di Taman Wisata Matahari Bogor. Setelah itu saya start mobil dan pulang ke Bekasi dengan mampir dulu ke Cimory beli yogurt kesukaan anak saya.