Lebih Untung Mana, Beli Mobil Atau Sewa Mobil

Sewa Mobil
Designed by Freepik

Memiliki mobil tentu sudah menjadi cita-cita banyak orang. Bagi sebagian orang, memiliki mobil merupakan suatu prestasi dari hasil kerja kerasnya. Semakin mahal dan canggih mobil yang dibeli maka hati akan semakin senang dan bangga. Orang sekitar yang memandang juga akan merasa segan. Tak heran jika banyak orang berlomba untuk membeli mobil. Padahal sebenarnya, dibalik keuntungan memiliki mobil ada juga beberapa kekurangan yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, lebih banyak orang yang beralih menggunakan jasa sewa mobil dibanding membeli mobil.

Memiliki mobil memiliki kelebihan, diantaranya memberikan rasa senang bagi pemiliknya. Selain itu, Anda juga akan terlihat lebih di mata orang lain. Memiliki mobil pribadi akan memudahkan Anda untuk bepergian setiap hari. Anda pun bisa dengan mudah jika ingin bepergian dengan keluarga. Kemudian, mobil tersebut bisa Anda modifikasi sesuai selera dan kebutuhan. Anda pun bebas mengunakan mobil tersebut kapan saja selama 24 jam. Namun, memiliki mobil juga punya beberapa kekurangan yang tak menyenangkan.

Kekrurangan yang tidak menyenangkan ketika memiliki mobil salah satunya harus mengeluarkan biaya lebih untuk perawatan rutin. Karena jika mobil tidak dirawat secara berkala, mesinnya bisa cepat rusak. Selain itu, Anda harus menyediakan lahan untuk dijadikan garasi mobil. Jika rumah Anda sudah memiliki garasi, tentunya hal ini tidak jadi masalah. Hal berikutnya adalah Anda perlu membayar pajak setiap tahun. Mobil pribadi juga tidak bisa diandalkan di berbagai kondisi, karena tidak ada pilihan lain. Anda pun akan direpotkan dengan segala urusan administrasi dan asuransi. Itulah beberapa kelebihan dan kekurangan dari membeli mobil. Jika Anda merasa tidak masalah dengan kekurangan tersebut, Anda bisa membeli mobil.

Berbeda halnya dengan mobil sewa, dengan mobil sewa Anda tidak perlu memikirkan pajak tahunan. Anda juga tidak perlu memikirkan biaya perawatan rutin, karena biaya perawatan sudah menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa tersebut. Dengan demikian, Anda bisa menghemat banyak biaya. Anda bisa memakai jasa tersebut kapan pun Anda butuh. Selain itu mobil sewa bisa diandalkan di berbagai kondisi, karena banyak jenis mobil yang bisa dijadikan pilihan. Misalnya saat ingin mudik, Anda bisa memilih mobil jenis MPV (Multi Purpose Vehicle). Mobil jenis tersebut bisa menganggkut banyak orang dan banyak barang. Sehingga Anda sekeluarga bisa mudik dengan nyaman.

Sewa mobil juga memiliki beberapa kekurangan, misalnya tidak bisa diandalkan setiap hari. Karena jika dipakai untuk keperluan sehari-hari selama bertahun-tahun, biayanya bisa melebihi harga sebuah mobil. Jadi, sebaiknya menggunakan mobil sewa hanya saat diperlukan saja. Misalnya hendak bepergian jauh bersama keluarga atau saat momen penting lainnya. Kekurangan lainnya adalah mobil sewa tidak bisa Anda modifikasi sesuka hati, karena mobil tersebut bukan milik Anda. Itulah beberapa keuntungan dan kekurangan mobil sewa. Selebihnya Anda sendiri yang menentukan, apakah membeli mobil atau sewa mobil yang lebih menguntungkan.

Jika Anda berpikir untuk menyewa mobil, Anda bisa mencari tempat sewa yang terpercaya. Anda disarankan untuk menyewa dari perusahaan seperti TRAC Astra. Sebaiknya jangan menyewa mobil dari perorangan. Karena biasanya maintenance mobil sewa dari perorangan kurang terjamin. Sehingga kemungkinan terdapat kekurangan pada mobil sewa akan semakin besar. Beda halnya dengan menyewa di perusahaan terpercaya. Karena sudah pasti perusahaan tersebut merawat mobil-mobilnya dengan baik. Sehingga penyewa tidak akan menemukan masalah yang dapat mengganggu perjalanannya kelak.

Hal-hal ini yang Harus Kamu Tahu Tentang Co-working Space

Co-Working Space
Designed by Freepik

Salah satu hal yang dituntut untuk segera dimiki ketika Anda akan mempunyai usaha adalah tempat atau kantor kerja. Penggunaan fasilitas ini wajib dimiliki mengingat akan menjadi salah satu faktor keberhasilan usaha. Pemilihan tempat atau kantor kerja yang salah membuat usaha akan berjalan stagnan hingga terancam gulung tikar.

Penggunaan private office pada zaman ini menjadi tuntutan para pelaku bisnis untuk mengembangkan keberlanjutan usahanya. Namun hal ini tentu juga memiliki berbagai masalah dalam segi implementasinya. Dewasa ini, lahan menjadi hal yang tak bisa dipungkiri sangat sulit untuk dimiliki. Apalagi pada daerah perkotaan dengan jumlah bangunan yang sangat p;adat dan tidak dapat dikembangkan kembali. Untuk itu, butuh inovasi menarik agar permasalahan lahan sebagai tempat atau kantor kerja ini dapat diatasi dan memberikan kelebihan dalam menjalankan usaha.

seiring dengan perkembangan zaman yang dinamis, ternyata inovasi untuk menutupi celah permasalahan lahan dalam pengembangan usaha ini memiliki jalan terang dengan munculnya ide “co-working space”. Inovasi ini muncul berkat upaya dari beberapa pengusaha baru yang ingin mendapatkan suatu lokasi kerja yang terintegrasi sekaligus hemat dalam pembiayaan dan pemakaian space ruang. Berikut ini kami berikan beberapa hal yang harus Anda tahu tentang sistem “co-working space” ini.

1. Pengertian dari Co-working Space

Jika berbicara tentang tempat atau kantor kerja, banyak sebagian orang yang beranggapan jika tempat tersebut seperti sebuah rumah yang dihuni oleh satu keluarga dengan berbagai ruang rumah sesuai dengan fungsi masing-masing. Dengan kata lain, kantor tersebut hanya dipergunkan oleh satu instansi atau perusahaan saja. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa “ide” co-working space berkembang dengan pesat akibat kurangnya lahan untuk dijadikan perkantoran. Co-working space sendiri berasal dari kata “coworking” yang berarti berkolaborasi atau bekerja sama.Jadi co-working space ini dapat diartikan sebagai sebuah tempat bekerja dengan sistem kerja bersama dalam satu gedung atau ruangan dengan berbagai perusahaan yang berbeda. Co-working space bisa juga dianalogikan sebagai sebuah kost-kostan yang dihuni oleh berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Namun menetap pada satu rumah yang sama. cukup mudah dimengerti bukan?

2. Sejarah Co-working Space di Indonesia

Dilansir dari beberapa sumber, awal mula terbentuknya inovasi yang begitu revolusioner dalam pengembangan usaha di Indonesia terjadi pada tahun 2010. Ketika seorang pemuda Bandung bernama Yohan Totting mendirikan Hackerspace. Ide ini muncul ketika banyaknya anak muda Bandung yang tertarik mengembangkan usaha start-up, namun tak memiliki lahan yang luas sebagai bangunan penunjang usaha. Untuk itu ia mendirikan Heckerspace yang diperuntukkan sebagai “kantor bersama” para wirausahawan muda kota Bandung kala itu. Seiring dengan berkembangnya inovasi, ide ini lalu menyebar ke berbagai kota (terutama kota besar) di Indonesia hingga saat ini.

3. Tidak Sekedar Tempat Kerja

Penggunaan co-working space dalam prakteknya tak hanya berfungsi sebagai sebuah “space” berkumpulnya berbagai perusahaan untuk menjalankan usaha masing-masing. jauh dari itu, penggunaan inovasi ini memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan usaha yang sedang dijalankan. Pada implementasinya, beberapa perusahaan penyedia jasa co-working space ini memberikan konsep “one space, one thought”. Dalam artian beberapa perusahaan yang memiliki latar belakang usaha yang berbeda dijadikan satu kesatuan untuk menciptakan sebuah usaha berkelanjutan dengan saling “membutuhkan” satu sama lain.

Demikianlah beberapa hal yang harus kamu tahu tentang co-working space. Jadi, tertarik untuk bergabung dalam co-working space tidak? http://go-work.com


Mengadu Mati Listrik pun Maunya Online

 

 

PLN Mobile

Pagi yang dingin menggigil, saya terbangun. Sejenak saya mengusap mata untuk menerangkan penglihatan. Setelah beberapa kali mengusap mata, kok rasanya tetap gelap. Lampu jalan yang biasanya tembus terangnya sampai kamar kok kali ini tidak seperti itu. Akhirnya saya pada kesimpulan bahwa sedang ada penyerangan. Lhoh! Bukan penyerangan tapi pemadaman. Sebagai generasi milenial sayapun mencari gadget untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi alih-alih menghubungi tetangga untuk mengonfirmasi mati listrik, seperti lazimnya orang tua kita dulu.

Perumahan saya tetap tenang, tidak ada gaduh-gaduh seperti jaman dulu ketika mati listrik di pagi hari pas hari kerja pula. Perumahan saya memang mayoritas penghuninya adalah generasi milenial yang melek gadget. Sepertinya tidak hanya perumahan saya, seluruh Indonesia rasanya mengalami hal yang sama. Ini bisa dilihat dari senyapnya KRL dari obrolan-obrolan ringan antar penumpang, yang ada adalah pemandangan betapa pendiamnya para penumpang ini, khusyuk menyimak kotak kecil bernama gadget.

Kembali ke masalah listrik. Saya cerita dulu ya. Di suatu obrolan di media sosial tentu salah satu yang paling mudah ditemukan adalah soal mati lampu. Sayapun biasanya dengan sigap memberitahu bahwa segera saja telepon Contact Center PLN supaya bisa cepat ditangani. Sayapun sebenarnya juga sering mengeluh melalui saluran ini. Tapi ada tanggapan menarik dari netizen seperti misalnya “Ada tidak nomor HP saja?” Kemudian saya jawab “Kan nomor tersebut bisa juga dihubungi dari HP dengan menambahkan kode area” tahu nggak dia jawab apa? “Mahal!”. Yawes saya diam.

Kebetulan lagi di suatu pagi setelah peristiwa saling komentar dengan netizen di media sosial tersebut, saya bertemu kawan saya. Dia kok ujug-ujug cerita bahwa dia habis install PLN Mobile. Saya pun nggak asing juga sebenarnya dengan aplikasi ini. Saya pernah install tapi saya uninstall lagi karena agak gimana gitu interfacesnya. Teman kerja saya yang tentu tidak dapat dikatakan sebagai orang yang gaptek (Hawong jabatan terakhir sebelum ke kantor saya saja sebagai Manajer IT di perusahaan Internasional) kok tiba-tiba dengan semangat bercerita. Saya jadi tertarik.

“Bukannya masih banyak bugnya ya aplikasi PLN Mobile itu?” Tanya saya mengawali obrolan. “Mungkin dulu iya, tapi sekarang sudah Oke kok” katanya. Diapun melanjutkan bahwa ternyata mengeluh melalui aplikasi itu lebih mudah, murah hawong cuma butuh kuota dikit doang dan terakhir katanya lebih memuaskan. Dia masih terus semangat cerita, saya dengarkan saja. Dan diam-diam sayapun tertarik untuk kembali menginstall aplikasi tersebut ke gadget saya. Pas saya install untuk kedua kalinya, emang terasa bedanya. Pertama apk-nya rendah, cuma 3an MB. Cukup kecil untuk aplikasi yang serba guna ini. Tampilannya pun sudah lebih bersih dan bebas dari pop-up yang mengganggu.

Saya install PLN Mobile sekadar untuk jaga-jaga jika saya nanti akan mengalami padam listrik. Saya lanjutkan dengan mendaftarnya. Cukup mudah kok. Biasanya orang akan bingung ketika ditanya ID PEL padahal hanya pengontrak misalnya atau numpang orang tua. Tenang saja, ID PEL yang dimasukkan tidak harus atas nama sendiri kok. Seperti saya yang rumahnya baru ini, meterannya masih atas nama developer. Tapi tetap bisa tuh daftar.

Setelah install lhakok terjadi pagi yang muram durja itu. Tiba-tiba mati listrik. Untungnya kok pagi-pagi jadi ndak gitu ngaruh. Masih tetap dingin walaupun AC mati. Terus saya grayang-grayang nyari HP saya. Kemudian dengan mata yang terbatas penglihatannya, saya mengetikkan pengaduan melalui PLN Mobile. Awalnya diminta memastikan bahwa yang akan diadukan adalah ID PEL tersebut.  Kemudian pelanggan juga diminta memilih jenis pengaduan. Karena setelah saya amati tetangga juga mengalami mati listrik, maka saya pilih “Gangguan tetangga turut padam”. Kemudian diminta mengisi lokasi, bisa milih pakai map atau alamat. Daripada pusing mending ketik manual alamatnya aja deh. Kemudian upload foto jika ada. Kalau ndak bisa moto karena gelap ya ndak usah, ndak wajib kok. Hehehe. Kemudian kirim deh. Setelah dikirim maka akan dapat nomor pengaduan.

Setelah itu saya sudah ndak peduliin Gadget lagi. Beberapa lama kemudian saya lihat lagi Gadget saya. Kaget juga lihat ada perubahan status pengaduan. Cepat juga pikir saya. Hanya sepuluh menit dari saya mengadu sudah ada perubahan, dari yang sebelumnya lapor menjadi penugasan. PLN Mobile emang mantab! Beberapa saat kemudian lanjut statusnya menjadi dalam perjalanan lalu pengerjaan dan nyala.

Itu pengalaman saya gunakan PLN Mobile. Tapi banyak juga hal lain yang bisa dilakukan oleh PLN Mobile. Ada pasang baru, perubahan daya, sambung sementara dan lain-lain. Udah kaya loket PLN deh. Ada juga informasi pemeliharaan jaringan listrik, sehingga kamu ndak kaget ketika listrik mati karena peneliharaan. Ada juga telepon VoIP ke 123, jadi kamu ndak perlu risau sama tarif GSM kamu. Soalnya cukup gunakan paket internet.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Media Sosial dan Makin Berkembangnya Baju Koko

Baju Koko Lengan Pendek
Sumber : www.thestar.com.my

Pagi itu jalanan di kawasan tanah abang basah karena beberapa hari ini memang sering diguyur hujan. Beberapa pedagang di kawasan itu sudah sibuk menata dagangannya. Maklum dekat dengan ramadhan seluruh orang berlomba-lomba untuk mencari busana yang terbaik dalam rangka tampil cic saat lebaran nanti. Mengapa tidak nanti saja belanjanya toh sekarang masih bulan April dan lebarannya menurut kalender yang beredar juga masih Juni nanti. Pertanyaan ini mungkin menggelantung di setiap benak orang yang baru pertama melihat fenomena tahunan di pasar tekstil terbesar di kawasan Asia Tenggara ini.

Tidak jauh dari pasar Tanah Abang, Anton begitu orang menyapanya. Di dalam ruang kantor, sedang sibuk menggeser-geserkan jari di layar smartphone. Nampaknya dia sedang mengamati fesyen yang yang sedang di media sosial. Media sosial memang akhir-akhir ini menjadi sebuah fenomena. Memasuki seluruh sendi kehidupan orang Indonesia, dari mulai politik, agama sampai selera fesyen pun tidak luput dari jamahan media sosial. Orang-orang seperti Anton, sudah banyak berterbaran di berbagai tempat.

Di berbagai publikasi memang menyatakan bahwa memang telah terjadi perubahan perilaku khususnya fesyen pria. Anggapan bahwa pria adalah makhluk yang abai dengan fesyen, sepertinya harus direvisi. Link Fluence merilis bahwa terjadi peningkatan penggunaan tagar #mensfashion di platfrom instagram naik 49% dari April 2016 sampai dengan April 2017. Tentu ini sangat berdampak kepada industri fesyen itu sendiri. Contohnya Burberry salah satu powerhouse Fesyen seperti dirilis oleh Huffington Post harus membayar putra David Beckam untuk dapat difoto dalam salah satu iklan mereka. Pertimbangannya bukan lagi soal kecerdasan atau kejeniusan si anak, namun lebih disebabkan karena si anak memiliki follower 6 juta.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Kurang lebih sama. Untuk memuaskan para pria yang sudah sadar fesyen ini, beberapa brand dari yang besar sampai pemain baru ramai-ramai menggunakan endorser dari media sosial. Ada setidaknya ada 20 Brand dalam undangan pernikahan Artis Viky Prasetyo dan Angel Elga. Tentu kita tahu Viky adalah artis yang memiliki jumlah Follower yang fantastis dan undangan dengan 20 brand tersebut juga diposting di media sosial pribadi milik sang artis. Tentu publik mahfum, bahwa 20 brand tersebut mengincar efek influence dari jumlah follower Viky Prasetyo yang fantastis itu.

Walaupun demikian, faktanya media sosial bukanlah satu-satunya faktor seseorang khususnya pria memilih fesyen. Faktor pengembangan produk juga menjadi salah satu faktor kunci selain media sosial. Kita tentu melihat perkembangan fesyen pria yang sangat pesat. Kita mulai saja dari produk fesyen Muslim. Saat ini sudah banyak sekali model baju muslim pria atau sering disebut baju Koko. Dari yang awalnya cuma baju lengan panjang dengan krah berdiri dan minim motif, saat ini kita bisa saksikan betapa bervariasinya produk fesyen pria Muslim tersebut. Katakanlah dari baju koko lengan pendek yang saat ini menjadi trend.

Bajo koko lengan pendek sebenarnya baru-baru ini saya meledak. Menurut saya, peristiwa tersebut tidak lepas dari peran Alm. Ustad Jefry Al Bukhari. Beliau Ustadz yang menabrak patron saat itu, alih-alih bahwa pendakwah haruslah yang berpakaian serba panjang dan longgar menjadi pendakwah yang berpenampilan trendi dengan baju koko yang lebih ringkas yaitu dengan baju koko lengan pendek. Setelah itu semakin banyak tokoh-tokoh selebritas yang tidak sungkan menggunakan baju koko yang semakin trendy tersebut. Di antara mereka banyak juga yang aktif bermedia sosial tentu dilengkapi dengan fesyen baju koko tadi.

Trend baju koko lengan pendek yang “dipopulerkan” Ustadz Jefry Al Bukhari tadi terus dikembangkan dan digunakan oleh Ustadz zaman sekarang. Walaupun para Ustadz tersebut tidak melakukan endorse profesional di media sosial, tetapi jumlah follower yang fantastis tentu menjadi faktor positif juga untuk mempengaruhi fesyen Muslim Pria di Indonesia. Saya lihat di beberapa akun media sosial sang Ustadz, selalu saja tampil hangat dengan berbalut busana Muslim tentu dengan berbagai variasinya.

Faktor media sosial, artis dan Ustadz yang aktif di media sosial serta para produsen yang selalu aktif mengembangkan lini produksinya akhirnya menjadi sebuah kombinasi yang pas untuk mempengaruhi selera fesyen pria di tanah air.

Geliat Blogger Tuban di Tengah Gempuran Media Sosial

lifestyle ngeblog
lifestyle ngeblog
Designed by Freepik

Siang yang redup di Kabupaten Tuban, cuaca yang sedikit anomali, karena Kabupaten Tuban biasanya didominasi oleh cuaca cerah dengan langit yang biru dan awan putih tipis. Di sudut kota sedang berkumpul puluhan orang berbaju merah marun khas Blogger Tuban. Mereka mengadakan kopdar ketiga setelah sebelumnya diawali dengan berbagai rencana di group WA mereka.

Blogger Tuban rupanya sedang bangkit setelah sekian lama mati suri tanpa aktivitas yang signifikan. Blogger Tuban sebenarnya telah lama berdiri dan silih berganti pengurus, hingga akhirnya mati suri pada paruh dekade 2010an. Ini terlihat dari semakin banyaknya spam yang membanjiri group Facebook Blogger Tuban. Hingga akhirnya beberapa blogger yang tersisa berusaha menghimpun diri dalam group WA Blogger Tuban. Dari group WA ini lalu terbentuk kepengurusan.

Sekumpulan pemuda yang terhimpun dalam Blogger Tuban sekarang menghadapi tantangan baru yaitu gempuran media sosial. Di Tuban memang sedang gandrung media sosial khususnya facebook. Seperti yang saya ungkap di tulisan sebelumnya bahwa facebook ternyata malah menyuburkan tradisi tutur dengan media baru. Jika budaya tutur hanya memberikan tulisan singkat tanpa pendalaman maka aktivitas ngeblog justru mengharuskan penulis memikirkan pendalaman sebuah fakta.

Contoh paling sederhana ada tempat wisata baru. Foto dan lokasi sudah berserak di media sosial. Bahkan beredar jauh sebelum seorang blogger selesai memfoto lokasi. Seorang blogger sekarang tidak bisa hanya mengandalkan informasi cepat karena itu sudah “diambil alih” oleh pegiat media sosial. Blogger harus mengambil peran memberi pendalaman informasi agar orang tidak salah faham dengan News Flash ala Media sosial yang sudah kadung beredar.

Pada tahun 1990an, aktivitas ngeblog memang hanyalah aktivitas mengumpulkan link dari internet lalu memberinya komentar atau opini. Istilah populernya adalah diary online. Kemudian berkembang menjadi sumber informasi alternatif selain media mainstream. Informasi yang beredar umumnya ya seperti status facebook saat ini.

Blogger Tuban  sudah beberapa kali melakukan campaign. Campaign pertama soal Tuban Anti Hoax, yang secara masif memberikan himbauan kepada warganet Tuban untuk menghindari hoax. Campaign kedua soal kuliner Tuban yang diharapkan dapat mengangkat potensi kuliner di Tuban. Terakhir yaitu campaign soal wisata sendang asmoro di Ngino Semanding.

Di Campaign terakhir memberi pengaruh positif untuk pengelolaan wisata berbasis masyarakat di Kabupaten Tuban. Seperti yang diungkap di paragraf awal tadi, jika netizen banyak menshare mengenai foto dan lokasi tempat wisata, Blogger Tuban lebih dari itu. Blogger Tuban menggali fakta lainnya seperti siapa penggagasnya, naik apa ke sana, sampa kiritik dan saran kepada pengelola juga disampaikan dengan terstruktur. Sehingga dapat melengkapi informasi yang sebelumnya sudah beredar.

Sayangnya Blogger Tuban melewatkan peristiwa yang dapat menjadi momentum peran blogger Tuban. Yaitu peristiwa Patung Pahlawan Tiongkok yang ada di Kelenteng Tuban. Blogger Tuban jutru diam tidak ada yang menerbitkan tulisan tentang peristiwa itu. Tetapi Blogger Tuban tidak sendirian, netizen di Tuban juga kompak mengambil sikap “cuek”. Secara mengejutkan ternyata nyueki itu justru ampuh menangkal hoax dan berita bernuansa negatif.

Kedepan Blogger Tuban harus mengambil peran untuk meningkatkan literasi internet. “Salah satu bentuk literasi pada zaman modern ini adalah kemampuan dan kemauan untuk mencari rujukan di internet sebelum bertanya atau berkomentar.” Ujar Ivan Lanin melalui akun twitter pribadinya.

Mari jadikan ngeblog sebagai lifestyle demi menyelamatkan literasi digital di tengah gempuran informasi instan dan singkat ala media sosial.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Internet dan Budaya Tutur di Desa

Budaya Tutur di era Media Sosial
Designed by Creativeart / Freepik

Suatu malam di Desa Kapu pada dekade akhir 90an, seorang Imam memimpin sholat teraweh terakhir atau malam ke-30. Para jamaah antusias mengikuti teraweh kali ini, karena tandanya lusa mereka sudah riyaya. Sebelum Sholat teraweh malam terakhir itu dilakukan, sudah beredar desas-desus bahwa lebaran kemungkinan bukan lusa tapi esok hari.

Tetapi Imam dengan keteguhan hati menunggu keputusan Negara tentang kapan Idul Fitri digelar, dan tetap dengan hikmat memimpin teraweh. Setelah teraweh dilaksanakan, para santri seperti biasa melakukan tadarus Alquran yang pada saat itu digelar sampai tengah malam.

Tepat pukul 00.00 speaker Mushola dimatikan. Para santri mulai menata sarung dan tidur di Mushola. Sang Imam pun menuju dalem untum beristirahat. Belum sempat menutup mata, para santri dan sang Imam dikejutkan suara “Besok riyaya, besok riyaya”. Sontak mereka semua segera bangun dan menyalakan speaker Mushola untuk kemudian melaksanakan Takbiran.

Itulah gambaran kehidupan di desa Kapu sebelum saluran internet dan sumber informasi lainnya masuk ke desa ini. Mungkin desa lain di Indonesia merasakan hal yang sama. Pada saat orang di desa Kapu melakukan persiapan sholat teraweh di Jakarta yang berjarak kira-kira 800 KM telah selesai melaksanakan sidang istbat dan telah mengumumkan hasilnya. Tetapi untuk menyebarkan pengumuman tersebut butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke pelosok-pelosok desa.

Bukan hanya soal informasi, soal trend pun. Jika suatu kota memiliki sebuah trend maka akan lama menyebar ke tempat yang lain. Tetapi pelambatan penyebaran trend ada untungnya juga sih. Ini menjadikan Indonesia khususnya desa sangat beragam tradisinya. Saya tidak bisa bayangkan jika dahulu sudah tersedia saluran informasi internet, pasti selera makanan orang Indonesia akan dikendalikan oleh artis, seperti kasus cake artis jaman sekarang.

Sebelum era internet, informasi disebarkan melalui mulut ke mulut atau di kenal sebagai Budaya Tutur. Sekarang sudah berubah, walaupun tidak ada data yang menyebutkan secara rinci prosentase tentang seberapa besar akses masyarakat desa terhadap internet. Namun dari survei yang dilakukan oleh APJII pada tahun 2016 lalu dapat menjadi acuan tentang perilaku orang desa berinternet.

Dalam survei APJII 2016, terdapat fakta bahwa jumlah pengguna internet sebesar 132 juta pengguna atau naik 51 % dari tahun 2014. Dilihat dari perilaku, pengguna internet di Indonesia mayoritas mengakses media sosial kemudian disusul oleh media-media berita mainstream. Tapi harus diperhatikan bahwa Facebook mengklaim mampu meningkatkan beberapa kali lipat trafik ke media mainstream, yang berarti akses media mainstream pun sebenarnya berasal dari media sosial.

Fakta media sosial yang begitu dominan, tidak mengherankan. Karena warga Indonesia memang makhluk yang sangat gemar bersosialisasi dan memiliki budaya tutur yang kuat. Kendati internet terdapat trilyunan set data dan informasi, warganet Indonesia lebih senang bertanya alih-alih mencari sendiri informasi yang berserak di Internet. Ini khas Indonesia.

Sastrawan Ahmad Tohari seperti dimuat Antara Jateng menyatakan bahwa Bangsa Indonesia mewarisi budaya tutur, sehingga minat baca belum begitu tinggi. Kemudian apakah dengan jumlah pengakses yang terus meningkat, juga berdampak kepada budaya tutur menurun? Buktinya tidak. Alih-alih hilang, budaya tutur menurut saya malah menemukan momentumnya untuk semakin berkembang.

Maksud saya begini, dalam budaya tutur ketika seseorang membutuhkan informasi, maka akan datang kepada sumber informasi dan bertanya. Bertanya dan bercerita adalah kunci dalam budaya tutur. Jadi ini terlihat dari warganet Indonesia khususnya di desa yang lebih senang bertanya ketimbang mencari informasi di mesin pencari misalnya. Bahkan untuk mengklik berita mainstream pun butuh diberi “pengantar” terlebih dahulu dari koleganya.

Walaupun warganet di desa lebih suka bertanya dibandingkan membaca sendiri, tetapi tidak mudah untuk menyebarkan hoaks di kalangan warganet desa. Ada beberapa percobaan penghasutan warganet desa dengan hoaks dan gagal total. Kasus terakhir adalah percobaan penyebaran hoaks patung Pahlawan China di Tuban. Gagal total, tidak ada satupun warganet di desa yang terhasut.

Budaya tutur di desa yang kadang membuat jengkel para pegiat internet karena sudah capek-capek bikin konten, toh mereka tetap saja bertanya di kolom komentar. Tetapi budaya tutur juga memiliki keunggulan. Salah satunya adalah ketidakpuasan warganet desa pada satu jawaban. Misalnya jika ada yang bertanya soal bagaimana mengurus KTP, maka mereka akan memposting berulang kali, dan bahkan ketika sudah dijawab pun mereka tetap menanyakannya kembali.

Ketidakpuasan terhadap satu jawaban itu menyebabkan orang desa sangat kebal terhadap hoaks di Internet. Butuh usaha keras untuk meyakinkan warganet desa terhadap suatu issue. Walaupun di Internet kebal Hoaks, buktinya toh tidak membebaskan mereka dari Hoaks di dunia nyata. Buktinya masih saja ada yang percaya kalau PLN itu jualan box pelindung meteran listrik. Atau percaya kalau Pertamina jualan Regulator Gas.

Kembali kepada ilustrasi di paragraf pertama tadi, walaupun sudah tidak ada yang teriak-teriak bahwa besok lebaran, tetapi tetap saja tidak mengubah kebiasaan orang desa untuk bertanya di Facebook “Lebaran kapan?” Tanpa mau mengetik di mesin pencari dengan keyword “Keputusan sidang isbat”. Dan tetap menghadapi kenyataan bahwa pertanyaan itu tidak cuma di posting sekali, tapi berkali-kali sampai ada Musholla atau Masjid yang menggelar takbiran.

Jadi menurut saya internet tidak mengubah apa-apa dalam hal minat baca atau budaya tutur di masyarakat desa. Internet malah menjadi media untuk “Cangkruk’an” -yang merupakan perwujudan paripurna dari budaya tutur- tanpa mau berusaha mencari dan menganalisis secara mandiri data yang berserak di Internet. Tugas para relawan dan pegiat internet untuk memberi bimbingan betapa pentingnya analisis data secara mandiri, supaya tidak begitu saja ikut arus.