Pernikahan Adat Jawa Orang Tuban

Ilustrasi Pernikahan Adat Jawa
Ilustrasi Pernikahan Adat Jawa

Kasmi bukan nama sebenarnya, adalah seorang gadis salah satu desa di Tuban. Dia sedang sumringah karena hari ini orang tuanya akan “melamar” laki-laki impiannya untuknya sesuai dengan tradisi pernikahan adat Jawa ala Tuban. Sedangkan orang tuanya sedang sibuk menata jodang berisi aneka macam seserahan yang akan melengkapi acara lamaran nanti. Dibantu beberapa tetangganya, satu persatu jodang dimuat ke atas Kol Tepak (Sebutan lain untuk mobil pick up).

Itulah gambaran awal rangkaian pernikahan tradisional orang di Kabupaten Tuban. Di Tuban sebenarnya tidak ada istilah melamar. Istilah ini baru di kenal pada masyarakat modern Tuban. Dalam tradisi Tuban sebutannya adalah gemblong. Nama gemblong ini sebenarnya berasal dari menu utama seserahan tadi yaitu Gemblong.

Gemblong adalah makanan dari dari ketan. Sama seperti daerah mataraman lainnya yang menggunakan makanan berbahan ketan sebagai simbol lamaran. Filosofinya adalah pengantin sebagai suami isteri agar bisa tetap melihat ketan yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Gemblong di Tuban berbeda dengan gemblongnya orang Sunda yang berwarna cokelat karena dibalut dengan gula. Gemblong di Tuban mirip dengan jadah yang ada di daerah Jawa Tengah.

Orang tua di Tuban berkeyakinan salah satu tugas orang tua yang memiliki anak perempuan adalah mencarikan jodoh atau menikahkan. Maka yang akan terlihat proaktif mencari pendamping anaknya adalah orang tua calon mempelai pengantin wanita. Hal ini berbeda dengan tradisi orang di kota lain, yang justru calon pengantin prianya yang kelihatan proaktif mencari jodoh untuk dirinya sendiri apapun metodenya.

Baca juga : Dangdut Koplo di Tengah Generasi Digital

Dengan keyakinan seperti itu maka terwujudlah rangkaian tradisi pernikahan adat jawa khas Tuban yang secara umum terdiri dari naren yang dilakukan oleh orang tua wanita kepada calon mempelai pria. Kemudian gemblong yang lagi-lagi dilakukan oleh orang tua wanita, medot gunem, repotan, akad nikah hingga selapanan yang semuanya dilakukan oleh orang tua pengantin wanita.

Tahap pertama untuk menuju ke pernikahan ada tradisi naren. Naren itu berarti nari atau berarti bertanya. Ketika anak wanita cukup umur dan bersedia menikah maka orang tua calon pengantin wanita mencarikan calon pengantin pria yang cocok. Ketika menemukan -tentu sesuai kriteria orang tua- maka orang tua tersebut akan menanyai calon yang sudah masuk “radar” tadi. Mau tidak calon tersebut menikah dengan putri tercinta. Jika mau maka berlanjut ke tahap berikutnya.

Pada tahap pertama ini sekarang telah mengalami modifikasi. Jika dahulu yang mencari calon pengantin pria adalah orang tua, maka sekarang yang mencari ya anak wanitanya itu sendiri. Sebenarnya wajar karena akses pendidikan dan informasi wanita  di Tuban sudah layak, tidak ada perbedaan dengan pria. Hal ini tentu berbeda jika dibandingkan dengan jaman dulu. Tetapi orang tua perempuan tetap bertugas menanyai calon pengantin pria, namun dengan pertanyaan yang lebih dalam, misalnya sudah yakin mau menikah dan lain-lain.

Jika semua berjalan lancar, maka ada tahapan selanjutnya yang lebih serius yaitu gemblong. Pada fase ini biasanya kedua keluarga sudah mengetahui tentang rencana acara ini. Mereka sudah saling menyelidiki dan memegang profil masing-masing keluarga calon besan. Orang tua di Tuban sama seperti orang tua lainnya, mereka ingin memastikan jodoh anaknya adalah yang terbaik dengan kadar tertentu sesuai kriteria keluarga masing-masing. Jadi ya wajar sesama keluarga saling mencari tahu seperti apa calon keluarganya.

Baca juga : Lebaran Singkat di Desa Kapu

Pada tradisi gemblong, orang tua calon pengantin wanita akan meminta sesepuh keluarga untuk mengantarkan mereka ke calon besan. Sajian dari beras ketan seperti gemblong dan wajik atau orang Tuban bilang ketan salak sudah disiapkan terlebih dahulu ditambah berbagai bawaan. Ada yang bawa beras, ayam, roti dan lain-lain yang ditaruh di Jodang dan diangkut menggunakan mobil tepak.

Calon mempelai biasanya tidak ikut dalam acara ini. Ini adalah acaranya orang tua. Calon pengantin wanita tinggal di rumah, yang berangkat adalah orang tua dan sesepuh keluarga. Ketika sampai di rumah calon mempelai pria mereka disambut layaknya tamu agung. Disambut dengan penuh penghormatan. Mereka biasanya langsung mengutarakan maksudnya untuk mengambil anak laki-laki keluarga tersebut sebagai menantu.

Sementara di bagian lainnya para pendarat disibukkan dengan pembongkaran seserahan yang dibawa oleh keluarga calon mempelai wanita. Setelah diturunkan lalu dibagi, diiris, dibungkus lalu dibagikan kepada tetangga terdekat sampai keluarga jauh. Ini sekaligus menandakan bahwa calon mempelai pria sudah ada yang meminang menjadi menantu. Di acara gemblong ini tidak ada tukar cincin layaknya lamaran di kota lainnya. Jadi ya gemblong tadi simbolnya.

Pertemuan keluarga inti tadi biasanya langsung membicarakan tanggal pelaksanaan. Meski demikian tidak menutup kemungkinan akan dilakukan pertemuan-pertemuan lanjutan secara informal hingga mencapai kesepakatan soal hari dan teknis lainnya terkait pelaksanaan pernikahan. Pertemuan lanjutan penting digelar karena beberapa masyarakat di Tuban masih secara ketat menerapkan perhitungan hari dengan pertimbangan primbon.

Baca juga : Udukan, Tradisi di Desa Kapu untuk Peringati Maulid Nabi

Acara selanjutnya adalah medot gunem. Acara ini sebenarnya acara yang informal saja karena tidak ada lagi acara formal yang melibatkan banyak pihak. Ini adalah pertemuan terakhir untuk mengambil keputusan tentang hal-hal teknis acara pernikahan nanti. Setelah medot gunem akan dilakukan repotan.

Repotan itu adalah acara pendaftaran calon mempelai wanita, pria dan wali. Dilakukan di KUA terdekat rumah mempelai wanita. Di Tuban seperti lazimnya di tempat lain, akad nikah dilakukan di kediaman mempelai wanita. Repotan ini juga sebenarnya acara informal. Biasanya ya hanya selametan kecil saja, supaya diberikan kelancaran selama proses mengurus administrasi pernikahan.

Setelah repotan maka hari yang tunggupun tiba. Saya ndak tau tradisi detailnya seperti pemasangan bleketepe, dodolan dawet dan lain-lain. Soalnya sudah jarang masyarakat Tuban yang melaksanakannya. Acara akad nikah diawali dengan penjemputan calon mempelai laki-laki oleh keluarga calon mempelai perempuan. Biasanya diwakili oleh sesepuh keluarga. Calon mempelai laki-laki tidak akan berangkat ke tempat akad jika penjemputnya belum datang.

Setelah itu maka seluruh rangkaian pernikahan akan dilakukan sesuai keputusan musyawarah yang disepakati pada saat medot gunem sebelumnya. Dari mulai Mas Kawin, rute yang harus ditemput oleh calon pengantin pria, waktu akad nikah, penyambutan pengantin pria yang biasanya diberi minum dari genuk milik keluarga calon pengantin wanita dengan wadah jebor yang terbuat dari tempurung kelapa dan lain-lain sampai dengan tata cara resepsi.

Nah yang menarik adalah, orang tua calon pengantin pria pada saat akad nikah biasanya tidak ikut dalam rombongan. Mereka tidak menyertai putranya seperti di kota. Orang tua calon pengantin pria akan datang ketika akad sudah selesai. Orang tua calon pengantin pria akan memasrahkan kepada mertuanya, dan akan memberitahukan kelemahan putranya. Misalnya tidak bisa membantu dengan rajin, pemalas dan lain-lain. Jadi untuk calon pengantin pria siap-siap, ya.

Setelah akad selesai dan resepsi juga telah selesai digelar, maka pengiring pengantin pria akan bertahan di tempat acara sampai pagi. Mereka melaksanakan tradisi melekan. Entah apa maknanya, tetapi di banyak di Tuban masih melaksanakan acara ini. Dalam acara melekan ini tidak ada ketentuan khusus, mereka biasanya hanya akan duduk-duduk, mengobrol dan tentu saja ditemani kopi.

Rangkaian terakhir di dalam pernikahan adat jawa ala Tuban ini adalah sepasar. Di Tuban sepasar berarti 5 hari sejak tanggal pernikahan digelar. Ini sesuai dengan tradisi penanggalan jawa yang memiliki 5 hari dalam sepekan. Pada acara sepasar, keluarga pengantin wanita akan berkeliling membawa makanan dan jajanan yang banyak. Makanan tersebut akan dibagikan kepada keluarga pengantin pria.

Nah demikian rangkaian pernikahan adat jawa di Tuban. Semua yang saya tulis biasanya berbeda antara satu kecamatan dengan kecamatan lain atau bahkan antar desa juga kadang berbeda. Tidak mengherankan karena masyarakat Tuban sudah banyak keluar dan terpengaruh budaya luar Tuban sehingga melahirkan tradisi-tradisi baru, yang malah menambah kekayaan tradisi orang Tuban. Mari saling menghargai dan menghormati.

Internet dan Budaya Tutur di Desa

Budaya Tutur di era Media Sosial
Designed by Creativeart / Freepik

Suatu malam di Desa Kapu pada dekade akhir 90an, seorang Imam memimpin sholat teraweh terakhir atau malam ke-30. Para jamaah antusias mengikuti teraweh kali ini, karena tandanya lusa mereka sudah riyaya. Sebelum Sholat teraweh malam terakhir itu dilakukan, sudah beredar desas-desus bahwa lebaran kemungkinan bukan lusa tapi esok hari.

Tetapi Imam dengan keteguhan hati menunggu keputusan Negara tentang kapan Idul Fitri digelar, dan tetap dengan hikmat memimpin teraweh. Setelah teraweh dilaksanakan, para santri seperti biasa melakukan tadarus Alquran yang pada saat itu digelar sampai tengah malam.

Tepat pukul 00.00 speaker Mushola dimatikan. Para santri mulai menata sarung dan tidur di Mushola. Sang Imam pun menuju dalem untum beristirahat. Belum sempat menutup mata, para santri dan sang Imam dikejutkan suara “Besok riyaya, besok riyaya”. Sontak mereka semua segera bangun dan menyalakan speaker Mushola untuk kemudian melaksanakan Takbiran.

Itulah gambaran kehidupan di desa Kapu sebelum saluran internet dan sumber informasi lainnya masuk ke desa ini. Mungkin desa lain di Indonesia merasakan hal yang sama. Pada saat orang di desa Kapu melakukan persiapan sholat teraweh di Jakarta yang berjarak kira-kira 800 KM telah selesai melaksanakan sidang istbat dan telah mengumumkan hasilnya. Tetapi untuk menyebarkan pengumuman tersebut butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke pelosok-pelosok desa.

Bukan hanya soal informasi, soal trend pun. Jika suatu kota memiliki sebuah trend maka akan lama menyebar ke tempat yang lain. Tetapi pelambatan penyebaran trend ada untungnya juga sih. Ini menjadikan Indonesia khususnya desa sangat beragam tradisinya. Saya tidak bisa bayangkan jika dahulu sudah tersedia saluran informasi internet, pasti selera makanan orang Indonesia akan dikendalikan oleh artis, seperti kasus cake artis jaman sekarang.

Sebelum era internet, informasi disebarkan melalui mulut ke mulut atau di kenal sebagai Budaya Tutur. Sekarang sudah berubah, walaupun tidak ada data yang menyebutkan secara rinci prosentase tentang seberapa besar akses masyarakat desa terhadap internet. Namun dari survei yang dilakukan oleh APJII pada tahun 2016 lalu dapat menjadi acuan tentang perilaku orang desa berinternet.

Dalam survei APJII 2016, terdapat fakta bahwa jumlah pengguna internet sebesar 132 juta pengguna atau naik 51 % dari tahun 2014. Dilihat dari perilaku, pengguna internet di Indonesia mayoritas mengakses media sosial kemudian disusul oleh media-media berita mainstream. Tapi harus diperhatikan bahwa Facebook mengklaim mampu meningkatkan beberapa kali lipat trafik ke media mainstream, yang berarti akses media mainstream pun sebenarnya berasal dari media sosial.

Fakta media sosial yang begitu dominan, tidak mengherankan. Karena warga Indonesia memang makhluk yang sangat gemar bersosialisasi dan memiliki budaya tutur yang kuat. Kendati internet terdapat trilyunan set data dan informasi, warganet Indonesia lebih senang bertanya alih-alih mencari sendiri informasi yang berserak di Internet. Ini khas Indonesia.

Sastrawan Ahmad Tohari seperti dimuat Antara Jateng menyatakan bahwa Bangsa Indonesia mewarisi budaya tutur, sehingga minat baca belum begitu tinggi. Kemudian apakah dengan jumlah pengakses yang terus meningkat, juga berdampak kepada budaya tutur menurun? Buktinya tidak. Alih-alih hilang, budaya tutur menurut saya malah menemukan momentumnya untuk semakin berkembang.

Maksud saya begini, dalam budaya tutur ketika seseorang membutuhkan informasi, maka akan datang kepada sumber informasi dan bertanya. Bertanya dan bercerita adalah kunci dalam budaya tutur. Jadi ini terlihat dari warganet Indonesia khususnya di desa yang lebih senang bertanya ketimbang mencari informasi di mesin pencari misalnya. Bahkan untuk mengklik berita mainstream pun butuh diberi “pengantar” terlebih dahulu dari koleganya.

Walaupun warganet di desa lebih suka bertanya dibandingkan membaca sendiri, tetapi tidak mudah untuk menyebarkan hoaks di kalangan warganet desa. Ada beberapa percobaan penghasutan warganet desa dengan hoaks dan gagal total. Kasus terakhir adalah percobaan penyebaran hoaks patung Pahlawan China di Tuban. Gagal total, tidak ada satupun warganet di desa yang terhasut.

Budaya tutur di desa yang kadang membuat jengkel para pegiat internet karena sudah capek-capek bikin konten, toh mereka tetap saja bertanya di kolom komentar. Tetapi budaya tutur juga memiliki keunggulan. Salah satunya adalah ketidakpuasan warganet desa pada satu jawaban. Misalnya jika ada yang bertanya soal bagaimana mengurus KTP, maka mereka akan memposting berulang kali, dan bahkan ketika sudah dijawab pun mereka tetap menanyakannya kembali.

Ketidakpuasan terhadap satu jawaban itu menyebabkan orang desa sangat kebal terhadap hoaks di Internet. Butuh usaha keras untuk meyakinkan warganet desa terhadap suatu issue. Walaupun di Internet kebal Hoaks, buktinya toh tidak membebaskan mereka dari Hoaks di dunia nyata. Buktinya masih saja ada yang percaya kalau PLN itu jualan box pelindung meteran listrik. Atau percaya kalau Pertamina jualan Regulator Gas.

Kembali kepada ilustrasi di paragraf pertama tadi, walaupun sudah tidak ada yang teriak-teriak bahwa besok lebaran, tetapi tetap saja tidak mengubah kebiasaan orang desa untuk bertanya di Facebook “Lebaran kapan?” Tanpa mau mengetik di mesin pencari dengan keyword “Keputusan sidang isbat”. Dan tetap menghadapi kenyataan bahwa pertanyaan itu tidak cuma di posting sekali, tapi berkali-kali sampai ada Musholla atau Masjid yang menggelar takbiran.

Jadi menurut saya internet tidak mengubah apa-apa dalam hal minat baca atau budaya tutur di masyarakat desa. Internet malah menjadi media untuk “Cangkruk’an” -yang merupakan perwujudan paripurna dari budaya tutur- tanpa mau berusaha mencari dan menganalisis secara mandiri data yang berserak di Internet. Tugas para relawan dan pegiat internet untuk memberi bimbingan betapa pentingnya analisis data secara mandiri, supaya tidak begitu saja ikut arus.

Dangdut Koplo dan Youtube

Salah Satu Video Nella Kharisma

Sore yang mendung, seperti biasa saya harus naik angkot dari Kantor menuju Stasiun Tanah Abang. Setelah tap emoney, saya masuk ke peron stasiun dan seperti biasa sambil menunggu kereta saya buka situs kebanggaan saya Tirto. Di awal saya buka terdapat sebuah judul artikel yang menarik jempol saya untuk mengkliknya.

Berita tersebut berjudul Kenapa “Nella Kharisma Ngetop di YouTube Tapi Tidak di Twitter?” Sebagai Nella lovers garis lurus, rasanya kok ada beban perasaan jika tidak membacanya. Saya berharap ada kajian data yang ciamik khas Tirto. Paragraf awal ya masih preview umum tentang hal yang akan dibahas.

Kemudian saya merasa agak aneh ketika pada sub judul (atau entah apa namanya, pokoknya yang tercetak tebal) bertuliskan “Memahami Segmen Para Pengguna”. Anehnya dimana? Yuk kita simak, saya rasa ada yang enggak match antara satu data dengan data lainnya untuk kesimpulan seperti itu.

Pada bagian data pengguna twitter, Tirto mengungkapkan bahwa sebagian besar tweeps (sebutan untuk pengguna twitter) membahas Agnes Mo, JKT48, DWP dan lain-lain. Dari data tersebut Tirto berkesimpulan bahwa twitter didominasi oleh kaum berpendidikan.

Asal usul kesimpulan tersebut adalah dari data diatas mengungkap bahwa twitter didominasi oleh genre musik Hip-Hop, Pop, EDM hingga Jazz. Tirto mengutip salah satu riset yang menyatakan bahwa penikmat musik-musik itu memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Nah dengan data tersebut Tirto berkesimpulan bahwa twitter digunakan oleh orang dengan pendidikan tinggi.

Selain itu Tirto juga mengambil kesimpulan jika pengguna twitter lebih berpendidikan, karena twitter sering digunakan untuk membahas politik. Coba aneh tho? La masak dengan data dan asumsi seperti itu langsung menyimpulkan kalau twitter itu penggunanya berpendidikan tinggi.

Padahal tidak ada satupun hasil riset yang dikutip tirto mengatakan hal yang demikian. Tirto hanya otak atik gatuk saja. Kamudian yang membuat aneh adalah data yang digunakan untuk menyimpulkan bahwa Youtube adalah platform orang kelas bawah.

Jika sebelumnya Tirto menggunakan data riset yang digatuk-gatukan untuk twitter maka pada Youtube, tirto menggunakan pengertian dari sebuah buku yang mengatakan bahwa dangdut adalah musik orang kelas bawah khususnya pada tahun 1970an. Bro, sekarang 2017, masak dibandingkan sama tahun 1970.

Di Youtube yang merajai viewer memang musik dangdut khususnya koplo. Dengan menghubungkan dua fakta : dangdut adalah musik orang kelas bawah dan dangdut merajai youtube maka disimpulkan bahwa youtube adalah platform dengan pengguna segmen bawah secara pendidikan maupun ekonomi.

Tirto menafikan fakta bahwa untuk memutar youtube dibutuhkan data yang tidak sedikit. Sebagai gambaran untuk memutar video HD -karena sekarang video dangdut sudah berformat HD- butuh sekitar 9 Mbps. Dengan besarnya data yang dibutuhkan untuk menonton dangdut, masyarakat bawah mending beli VCD yang harganya 10 ribu per keping dan bisa diputar kapan pun.

Kemudian berdasarkan data APJII yang dirilis tahun 2014 mengatakan bahwa pengakses internet terbanyak adalah karyawan/ pekerja formal. Sedangkan pekerja informal hanya sebesar 3%. Pada survey 2016 Survey APJII menyatakan karyawan mengambil peran 62% dan mahasiswa sebesar 7,8% ditambah IRT 16%. Dengan data itu kok rasanya semua konten Internet itu mayoritas diakses oleh orang berpendidikan.

Jika dilihat data di atas kok ya agak naif kalau Youtube disebut sebagai platform yang hanya digemari oleh orang kelas bawah hanya karena dangdut -yang pada tahun 1970 identik dengan masyarakat bawah- menguasai perolehan tayangan. Saya lebih setuju jika kesimpulannya adalah terjadi kemajuan Dangdut koplo yang sedang digandrungi semua kalangan dari kalangan bawah penikmat VCD sampai kalangan atas yang menikmati dangdut via streaming. Setuju?

Dangdut Koplo di Tengah Generasi Digital

Ilustrasi, Nella Kharisma di salah satu videonya di Youtube.

Pagi menyapa Jakarta, udara dingin menyelimuti, karena semalaman diguyur hujan. Di sudut ruang kantor perusahaan nasional di bilangan Tanah Abang, sayup-sayup terdengar suara khas Nella Kharisma yang mendendangkan lagu “Cah Kerjo”. Kantor ini sejak beberapa waktu terakhir memang terasa lebih dangdut dan koplo lagi, sesuatu yang anomali terjadi di kantor yang serba formal dengan penghuninya kebanyakan kelas menengah ke atas.

Anomali sebenarnya tidak saja melanda kantor tadi, namun juga di linimasa internet. Di internet, orang sudah tidak sungkan maupun enggan lagi mengungkapkan kekagumannya terhadap musik dangdut koplo. Di Youtube lebih mengejutkan, jika sebelumnya dominasi artis-artis nasional merajai jumlah viewer di Youtube, akhir-akhir ini Nella Kharisma dan Via Vallen lah yang menguasai Youtube.

Bisa dilihat misalnya Nella Kharisma dengan lagunya Jaran Goyang, mampu meraih jumlah tayangan yang fantastis, hampir mendekati angka 100 juta kali ditonton, bandingkan misalnya dengan video milik Raisa, Isyana atau bintang lainnya yang sedang bersinar. Data itu sudah menunjukkan ada yang berubah dengan dangdut khususnya dangdut koplo, yang diawal kemunculannya dianggap sebagai dangdut “sesat” karena keluar dari patron umum dangdut di tanah air.

Sedangkan di sebuah desa yang jauh dari Jakarta, sebut saja desa Kapu, masyarakatnya telah mengenal dangdut koplo jauh sebelum Jakarta mengenalnya. Saat itu sekitar tahun 2000 muncul group dangdut koplo bernama Monata. Monata adalah Orkes Melayu atau disingkat OM, yang pertama kali memperkenalkan aliran koplo di Desa ini. Walaupun band-band besar dangdut koplo termasuk Monata belum pernah sekalipun manggung di desa ini, tapi percayalah bahwa mereka adalah diehard dangdut koplo.

Kegemaran mereka akan dangdut koplo bahkan tergambarkan saat mereka menggubah lagu-lagu sholawat dengan irama koplo. Selain itu banyak lagu-lagu yang dikoplokan dengan bantuan tongklek -Seni musik patrol asli Tuban. Di pentas-pentas seni pun mereka tidak absen menampilkan musik-musik bernuansa koplo. Mungkin kita dibuat kagum sekaligus cekikikan ketika di acara wisuda ada yang membawakan lagu koplo, di Kapu itu sudah biasa dilakukan.

Kapu, seperti desa lainnya, tidak sepenuhnya tunduk terhadap industri hiburan yang dikendalikan dari Jakarta. Selain karena keterbatasan akses, mereka juga sebenarnya tidak mengerti,.mengapa hiburan harus seperti itu. Lirik-lirik utopis yang jauh dari makna kehidupan desa dan hal itu makin menjauhkan masyarakat desa dari selera hiburan Jakarta. Desa menginginkan sebuah musik yang menggambarkan kehidupan mereka sendiri dan tentu saja berbeda dengan Jakarta.

Secara ajaib dunia ini dikaruniai para seniman dangdut yang dengan apik menggambarkan kehidupan masyarakat desa yang sederhana kalau tidak mau disebut menderita pada saat awal kemerdekaan, kemudian kehidupan cinta yang lebih dewasa yaitu pernikahan alih-alih menampilkan asyik masyuknya berpacaran seperti tergambar di lirik-lirik berbagai aliran musik dari Jakarta. Di awal kemunculannya, dangdut di Kapu sama seperti di daerah lain, beraliran klasik seperti tergambar dari irama lagu koesplus yang berjudul cubit-cubitan.

Kemudian dangdut selama bertahun-tahun dikuasi oleh aliran “Soneta” -merujuk nama Orkes Melayu pimpinan Haji Rhoma Irama. Aliran dangdut yang memberikan unsur rock dengan efek gitar elektrik andalannya. Aliran ini memang sempat menjadi mainstream dangdut, sampai setidaknya awal tahun 2000. Sebab kita masih sering melihat poster-poster yang mengumumkan pergelaran rock dangdut dan semakin semarak saat mendekati Pemilu 1999.

Pelan namun pasti pada awal tahun 2000, dangdut koplo menggeser pasar rock dangdut. Berawal dari penetrasi CD beserta VCD player ke daerah-daerah, dangdut koplo menyusup senyap mengubah selera dangdut masyarakat desa. Sementara di saat yang sama, Jakarta masih saja terbuai dengan dangdut Ibu Kota yang mendayu-ndayu dan mulai berlirik utopis jauh dari kehidupan orang desa.

Internet mengubah dangdut

Pada dekade kedua tahun 2000, internet mulai merangsek ke desa. Teknologi 3G dan diperbarui lagi dengan teknologi 4G membuat tarif internet jatuh bebas menyebabkan desa kebanjiran trafik internet. Di sisi lain Device pengakses internet pun terjadi revolusi dengan hadirnya Android yang murah dengan kemampuan powerfull. Kombinasi tersedianya infrastruktur internet dan device yang murah menyebabkan perubahan perilaku masyarakat desa termasuk perilaku menikmati dangdut koplo.

Penetrasi internet ke desa akhirnya membuat semakin beragamnya konten internet yang selama awal dekade 2000 hanya didominasi oleh konten Ibu Kota. Dampak paling baiknya untuk dangdut adalah mudahnya dangdut koplo yang notabene sebelumnya konten pinggiran, kini dapat dengan mudah ditemukan di internet. Persebaran dangdut di internet tidak langsung membuat dangdut koplo naik kelas.

Dangdut di internet masih didominasi oleh artis Ibu Kota dengan aliran yang terpengaruh disco atau EDM. Bisa dilihat dari misalnya perolehan view dari Cita Citata atau Ayu Ting-ting jauh mengalahkan jumlah view dangdut koplo. Di kantor nasional tadi yang saya sebutkan di awal masih pada malu-malu memutar dangdut koplo di ruang kerja mereka.

Dominasi dangdut Ibu kota sebenarnya bisa dimaklumi karena mahalnya produksi video grafis dan suara sebening produksi orang Jakarta. Group Band dangdut koplo saat itu belum mampu memproduksi seperti itu.

Di tahun 2016 apa yang menjadi pra syarat Dangdut koplo berjaya sudah terpenuhi seperti internet yang sudah melesak semakin dalam ke jantung orang desa dan teknologi video grafis yang semakin canggih dan murah akhirnya dangdut meledak untuk ketiga kalinya. Kalau dalam internet dikenal sebagai third wave, maka dangdut koplo dengan balutan budaya pop, korean style, Hip Hop dan EDM adalah gelombang kejayaan ketiga setelah dangdut klasik dan rock dangdut.

Sekarang biduan dangdut koplo sudah terkenal layaknya selebritis nasional dengan penghasilan fantastis. Bukan cuma biduannya yang kebagian berkah, mulai dari crew, Band pengiringnya, bahkan leboh spesifik pemukul kendangnya juga mendapatkan penghasilan yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Faktor lain

Faktor lain selain teknologi, dangdut koplo saat ini berwajah anak muda sekali dengan menggabungkan genre musik regae, hip hop, EDM dan lain-lain disertai penampilan biduan dan Band dangdut yang berkiblat pada korean style. Sedikit bergoyang banyak tersenyum ramah dan memiliki musikalitas yang tinggi.

Ada juga yang menarik adalah soal pasukan goyang dangdut koplo yang sebenarnya mirip flashmob yang juga populer di Korea sana. Mereka menunjukkan bagaimana cara menikmati dangdut koplo dengan baik dan benar.

Terakhir dangdut koplo tetap dengan akarnya menyuarakan realitas-realitas hidup dengan rinci, dan enggan membuat lirik utopis seperti genre musik lainya.

Dengan teknologi yang murah, lirik yang realistis dan penampilan yang kece akhirnya mampu membius seluruh kalangan untuk sekedar joget jempol.

Lebaran Singkat di Desa Kapu

Kumpul-kumpul setelah lelah saling berkunjung

Ah Lebaran sebentar lagi. Tulisan ini dibuat pada suasana jalanan di pantura sudah mengalami kepadatan, walaupun enggak padat-padat banget, namun ini sudah menandakan bahwa lebaran sudah dekat, tentunya selain iklan mardjan yang semakin menjadi-jadi. Lebaran datang, kota jadi sepi, desa menjadi semarak. Semarak orang rantauan yang pulang untuk melepas kangen dan ada juga yang niatnya pamer ninja. Duh.

Ndak ketinggalan juga di Kapu. Di Kapu yang berjarak 10 KM dari pusat kabupaten Tuban ini juga mendadak semarak. Semaraknya sih sejak awal ramadhan, Mushola dan Masjid berlomba cepet-cepetan Tarawih dan tadarusan, kemudian menurun pada 10 akhir ramadhan, semaraknya pindah ke Jalan Pemuda atau Bravo, itu swalayan paling joss sak Kabupaten Tuban. Ruame, apalagi udah ada eskalatornya. Lumayan udah mirip mol-mol di kota besar.

Untungnya ada kegiatan maleman, yang biasanya juga diisi sama ziarah wali di Tuban. Sempat-sempatin ke Mushola di tengah kesibukan mencari baju andalan menunjang penampilan saat lebaran. Ke Mushola karena pengen ikut maleman, walaupun juga ada saja yang berniat jalan-jalan, lihat-lihat Jalan Pemuda dan Bravo. Lho! Ha Piye hawong Sunan Mbonang itu letaknya di tengah pusat kota. Sebelah timur Alun-alun, Sebelah selatan Bravo dan sebelah baratnya Jalan Pemuda.

Lepas dari 10 hari terakhir, maka persiapan akhir sebelum lebaran adalah nyekar ke sanak saudara yang sudah meninggalkan kami semua. Tapi anehnya momen ziarah ini ndak hanya menyambung silaturahim dengan yang sudah tiada, namun juga menyambung silaturahim dengan yang hidup. Ha gimana, tempat pemakaman desa jadi ramai. Banyak yang sudah lama tak bersua, berjumpa di sini, saling menanyakan kabar, menanyakan utang yang sudah lama belum kunjung dibayar dan diakhiri dengan saling mendoakan. Duh indahnya.

Pulang dari kuburan jangan lupa cuci kaki sebelum masuk rumah, konon banyak setan yang menempel dan akan hilang ketika membasuh kaki. Di Kapu tidak ada penjual kembang dadakan seperti di kota-kota besar. Tidak mengherankan hawong banyak yang punya pohon kembang ijo yang baunya kuburan banget itu. Kalaupun ndak punya pohonnya ya tinggal mintak ke tetangga.

Sorenya warga desa terlihat sibuk, bawa hantaran ke tetangga sana dan sini, tak lupa juga untuk sanak saudara lain desa tapi masih terhitung dekat. Pada malam harinya giliran bapak-bapak yang tampak lalu lalang sambil menenteng kresek hitam, kadang putih kadang juga merah. Kresek apa itu gerangan, apalagi kalau bukan kresek berkat. Ini adalah ritual selametan riyoyo yang diikuti oleh hampir seluruh warga desa.

Acaranya saling mengunjungi ke rumah-rumah orang, dilanjutkan berdoa bersama di rumah orang yang dikunjungi kemudian setelah selesai dibagi berkat per orang satu. Syahdu betul suasananya. Jika Mas Aji bilang mudik adalah perayaan kerinduan, ini adalah salah satu perayaannya di desa Kapu. Siapapun perantau asal Kapu akan merindukan telur berkat yang disimpan dan dimakan besoknya ketika selesai sholat Ied.

Setelah sibuk anjangsana berbonus berkat yang beneran penuh berkah. Ha Piye berkat itu didoain seluruh orang selingkungan. Giliran anak muda mudi sibuk hilir mudik. Ada yang (suwit-suwit) bawa ceweknya, ntah udah jadian atau baru mbribik, ada yang sama genknya ada juga yang pamer ninja. Duh. Anak-anak ini sibuk Takbiran keliling. Takbir keliling baru-baru ini saja semarak, gara-gara anak-anak IPNU-IPPNU itu bikin acara festival tongklek. Lha masak peralatan tempur yang ditabuh sebulan penuh saat sahur ndak dimanfaatkan ketika malam Idul Fitri ini. Duh saya mbrebes mili nulis ini, rindu betul saya sama suasana ini.

Paginya ndak kalah syahdu. Menjelang Shubuh, pemuda-pemuda yang takbiran semalam suntuk semakin menjadi, seolah tak rela ditinggalkan oleh malam yang betul-betul ngangenin setiap manusia yang bernafas di Kapu. Ufuk timur telah menguning, para pemuda dengan wajah kelelahan tapi senyum merekah di wajah, sambil menyandang sarung yang semalaman melindungi tubuh dari nyamuk dan dinginnya ubin Mushola, meninggalkan Mushola dan persiapan ke Masjid.

Jalan-jalan Desa yang akhir-akhir ini penuh dengan kendaraan sepeda, mobil, sepeda motor dan lain-lain, pada pagi itu akan berubah total. Hening, hanya ada suara-suara gremembyeng warga yang mulai berangkat ke Masjid. Karena saking heningnya, suara tetangga yang disebrang sana pun kedengaran. Dengan rukuh yang sudah menutup rapi aurot para wanita dan sarung serta tidak lupa baju taqwa membalut dengan gagah tubuh para pria, mereka menuju ke Masjid.

Tempat favorit sih paling belakang. Duh betul-betul ini. Jamaah pun ada yang mulai nggelar koran, sajadah, terpal, perlak dan apapun yang suci untuk alas. Imam Sholat Ied biasanya bersuara mistis, dengan suara mistisnya beliau memulainya dengan takbir 7 kali. Sholat Ied yang sangat-sangat singkat walaupun bertakbir ikhrom 7 kali atau kalau ditotal ada 12 kali, tapi terasa sangat singkat. Kangen betul sama Sholat Ied.

Imam dengan suara mistisnya mengakhiri Sholat Ied dengan salam. Jamaahpun mulai ancang-ancang pulang mulai tengok kanan dan kiri salaman. Njawil depannya untuk salaman juga dan putar arah kebelakang untuk menyalami jamaah lainnya. Sebagian besar duduk khusuk mendengarkan khotbah dan sebagian lainnya mulai melipat sajadah siap-siap pulang, duh Mas hambok sabar. Pamer ninjanya masih ada waktu seharian ini.

Jamaah dengan semangat meninggalkan Masjid, dan Show Time! Ini acara puncak lebaran di Kapu. Semua orang saling mengunjungi ke tetangga-tetangga. Tapi alih-alih saling mengunjungi malah pada ketemunya di jalan. Lha piye semua keluar rumah pengen dulu-duluan berkunjung. Duh rindu betul saya sama suasana ini. Semua tersenyum semua berlomba bersalaman, dulu-duluan minta maaf. Coba setiap hari kaya gini, adem dunia.

Dengan cara seperti itu, jadilah lebaran di Kapu ini berlangsung singkat bahkan sangat singkat. Dari bubar Sholat Ied sampai jam 09.00 sudah rata sedesa dikelilingin. Semangat betul. Dan saat itu terjadi jajanan atau kue-kue lebaran jarang sekali disentuh. Percuma persiapan kue lebaran nggak ada yang makan. Ha gimana datang langsung “Lek nyuwun sepuro nggeh” habis itu plencing ilang. Senengnya saya, di desa ini ndak ada tradisi bagi-bagi uang. Indah betul, ndak ada budaya yang menurut saya dekat dengan hedonisme ini.

Selamat lebaran semuanya, saya pamit mudik, ya. Sampai ketemu di Kapu!

 

NDX AKA Adalah Kita

NDX AKA
Sumber : brilio.net

Belakangan saya kok terobsesi sama lagu Kimcil Kepolen besutan Dana dan PJR yang tergabung dalam NDX AKA. Lagu ini seolah mengusik perasaan saya sebagai laki-laki desa. Hehehe. Gimana nggak ngusik, hawong isinya iya banget je, lagu ini realitas dinamika kehidupan cowok-cowok desa yang jomblo. Biasanya mereka menyalahkan “Ninja” jika cintanya kandas. Miriplah sama lirik Kimcil Kepolen “Nek ra ninja ra dicinta”.

Mas-Mas NDX AKA ini memang Pabu betul, mereka meramu lirik yang mudah dan sederhana. Tidak sekedar menyentuh namun menghujam perasaan para cowok desa. Seolah para cowok itu bilang “Nah lagu iki pancen pas gawe uripku”. Tapi gimana lagi memang ciri khas dari NDX AKA yang menceritakan soal kehidupan anak muda desa dalam menggapai mimpi-mimpinya termasuk mimpi mendapatkan jodoh.

Itu baru satu lagu. Lagu selanjutnya yang jadi favorit saya adalah lagu bertajuk “Sayang”. Lagu yang dituduh menjiplak lagu dari Jepang, tapi apa peduli saya, yang penting dapat dinikmati. Lagi-lagi lagu ini sangat desa banget. Lha gimana, Sebagian dari pemuda desa ditinggal sama kekasihnya dengan berbagai alasan.

Paling Hajigur adalah lirik “Meh Sambat Kaleh Sinten”. Kalau orang kota ketika ada masalah percintaan, banyak banget pelampiasannya, Bro. Lha kalau di Desa, bingung lah, apalagi rata-rata pacarnya ya tetangganya sendiri, ha mosok mau curhat? Yo bakal konangan mantan pacarnya. Hayo isin tho Mas. Terus kenapa kok ditinggal kekasihnya? Ya mungkin karena ra ninja.

Terakhir yang bikin NDX AKA itu kok “Gue Banget” itu soal pilihan aliran musiknya yang mengambil Hip Hop Dangdut. Dangdut yang sudah mendarah daging di desa, sehingga jangan heran kalau konser band rock sekalipun artis nasional pasti akan kalah jumlah penonton sama konser New Pallapa. Ditambah sama Hip Hop yang sama njedug-njedugnya dengan dangdut.

Perpaduan Dangdut Hip Hop maka menghasilkan musik yang membumi sekaligus berkelas. Lirik yang sederhana mudah dicerna dan menggunakan bahasa sehari-hari anak muda desa, maka tidak salah kita dengan tangan terkepal maju ke depan mendaulat bahwa NDX AKA adalah Kita!