Bahasa Khas Tuban di Internet

Bahasa Khas Tuban
Bahasa Khas Tuban

Sore yang cerah, saya seperti biasa berada di Peron Stasiun Tanah Abang. Ya inilah rutinitas kelas menengah di Ibu Kota. Keadaan peron sudah sepi, agaknya sebelumnya sudah ada rangkaian kereta yang mengangkut penumpang. Tidak terlalu lama, kereta yang saya tunggu-tunggu pun datang menghampiri dengan suara yang halus, maklum kereta ini minum setrum ndak minum solar. Saya naik mengikuti arahan petugas yaitu dahulukan penumpang turun terlebih dahulu. Walaupun setiap saat diingatkan, masih saja ada orang-orang egois yang menyerobot antrian akhirnya jadi ribut.

Baru beberapa lama saya di atas kereta, Whatsapp pun berbunyi. Teman lama yang bermukim di Singapura tiba-tiba mengabari akan segera melepas masa lajang. “Cah, aku ora iso teko ngeterno undangan langsung, liwat WA iki wa yo”. Duh seketika saya kangen kawan-kawan saya saat SMA, salah satu yang paling saya kangenin adalah bahasa Tubannya yang khas baik logat maupun kosakatanya.

Tuban adalah satu dari sekian banyak daerah mataraman yang ada di Jawa Timur. Mataraman adalah Kabupaten/ Kota di Jawa Timur yang dulunya adalah bekas wilayah kerajaan Mataram Islam. Wilayah ini umumnya berada di daerah tengah sampai barat Jawa Timur. Tuban termasuk diantaranya. Daerah Mataraman memiliki kesamaan budaya dengan daerah bekas wilayah Mataram Islam lainnya misalnya Yogyakarta dan Solo.

Bahasa adalah salah satu kesamaan antar daerah Mataraman. Meski di Jawa Timur, Tuban memiliki bahasa Jawa yang sedikit lebih “halus” dibandingkan daerah Arek misalnya. Bahasa-bahasa yang kadang dianggap ndeso misalnya juga adalah warisan dari Mataraman dan sebagian penuturnya juga ada yang bermukim di Solo dan atau Yogyakarta. Mosok Yogyakarta dan Solo yang bertutur sama dengan sebagian masyarakat Tuban tadi dicap ndeso, Jeh?!

Lalu bagaimana perkembangan bahasa khas Tuban pada era internet seperti sekarang ini? Memang di internet rata-rata orang Indonesia menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantarnya. Jarang pengguna internet yang menggunakan bahasa Ibu, kecuali beberapa kasus untuk keperluan komunikasi di circle mereka sendiri, bisa group desa misalnya atau group keluarga. Walaupun kadang juga ditemui di dalam circle tersebut tetap terselip bahasa Indonesia.

Berarti buram dong? Secara intensitas penggunaan bahasa Ibu di internet memang belum menggembirakan. Tetapi tidak bisa sepenuhnya salah pengguna internetnya. Salah satu sifat internet adalah terbuka, artinya seluruh manusia yang memiliki akses internet dapat membukanya. Dengan sifat dasar terbuka tersebut mendorong pengguna internet untuk menggunakan bahasa Indonesia yang lebih universal. Gimana nggak universal? ketika pengguna internet menggunakannya paling tidak ada 250 juta orang atau sedikitnya 143 juta orang (Data pengguna internet 2017) yang akan mengerti. Potensi keterbacaannya tinggi. Dengan jaminan keterbacaan yang lebih tinggi maka eksistensi yang merupakan tujuan utama orang berinternet, tetap terjaga.

Walaupun demikian, internet tidak menjadi satu-satunya faktor penurunan penutur Bahasa Ibu. Tuntutan profesi yang semakin beragam dan lintas daerah juga kadang menuntut orang Tuban untuk meninggalkan bahasa Ibunya. Bahkan di dalam lingkungan formal di Kabupaten Tuban pun saya rasa sulit menggunakan bahasa Khas Tuban secara konsisten. Rapat-rapat formal seringkali menggunakan Bahasa Indonesia, Bahasa pengantar pendidikan meskipun telah ada otonomi daerah juga tetap tidak dapat secara sistematis mempertahankan intensitas penggunaan Bahasa Khas Tuban di internet.

Walaupun secara intensitas penggunaan berkurang tapi ada kabar baiknya. Saya melihat di era internet yang serba terbuka, tidak ada lagi kasta Bahasa di Tuban. Begini maksud saya, dulu ketika saya mengucapkan dialek “Leh” sebagai dialek khas Kabupaten Tuban dan Kabupaten lain di pesisir utara pulau jawa, E langsung dicap ndeso. Jadi saya yang berasal dari tempat yang sehari-hari menggunakan dialek tersebut berusaha tidak menggunakannya ketika berkomunikasi. Olok-olokan ndeso dan sebagainya itu, Saya lihat sudah tidak ada ketika berbicara di internet. Iki Keren, Cah! Lanjutkan semuanya dialek itu setara dan penuturnya punya kesempatan yang sama untuk sukses.

Dari semua tulisan di atas saya akan menutupnya dengan kenyataan bahwa bahasa daerah kita sudah semakin mengkhawatirkan. Saya baca Nattional Geographic edisi 06.2018, disebutkan bahwa Indonesia memiliki 719 bahasa daerah. Kaya banget ya negara kita. Dari 719 itu ada 12 bahasa yang sudah punah, 260 bahasa masih cukup kuat, 267 bahasa terancam dan 74 bahasa dalam keadaan sekarat. Salah satu bahasa yang mulai memudar salah satunya adalah Bahasa Jawa, padahal Bahasa Jawa masuk dalam 100 bahasa dunia yang paling banyak penuturnya.

Terakhir mari berbahasa Khas Tuban! Bahasa adalah identitas, kamu bisa mengaku sebagai orang Tuban karena bahasamu yang khas. Enggak usah minder, enggak usah malu kita semua memiliki kesempatan yang sama. Kawan saya yang lama bermukim di Singapura pun ketika kumpul-kumpul dengan kami yang ada di Tuban juga menggunakan bahasa khas Tuban! Gak yo ngono, leh?!

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Reuni Bani-banian Di Tuban

Bani Blogger Tuban
Bani Blogger Tuban

Sudah berapa undangan reuni Bani-banian yang kamu datangi pada lebaran tahun ini? Saya sih masih hanya dua. Tapi saya yakin ada yang lebih dari itu. Sekarang ngerasa ndak sih, reuni Bani-banian ini semakin merajalela? Cara risetnya gampang kok tinggal sediakan kuota dan waktu sedikit untuk stalking akun instagram kawanmu, kolegamu atau bahkan mantan pacarmu.

Di jaman media sosial ini, peristiwa sosial sangat mudah diidentifikasi. Bagaimana tidak, mereka dengan sukarela dan sukahati membagikan peristiwa yang dialaminya tentunya tidak ketinggalan tentang kegiatan sosial mereka. Bukan-bukan kegiatan sosial yang sumbang-sumbangan itu, tapi kegiatan bersosialisasi. Contohnyaa adalah kegiatan anjangsana/sini saat lebaran gini.

Nah sekarang di Tuban sedang ada trend anjangsana yang saya sebut sebagai reuni Bani-banian. Dulu sekali sebelum negara api menyerang, silaturahim saat lebaran gini berlangsung sangat alami. Lebaran dilakukan dengan saling unjung-mengunjungi antar anggota keluarga. Contohnya saya, bisa ke Pak Lek, Pak De, Mas misanan, Mbah De, Mbah Lek dan lain-lain. Kegiatan itu dilakukan tanpa terlebih dahulu janjian. Ya datang gitu saja. Jadi sering juga pas sudah sampai rumahnya ternyata tidak ada.

Dulu memang tidak memungkinkan janjian, karena peralatan komunikasi yang masih sangat terbatas, hanya mengandalkan lisan tanpa penghantar elektronik sehingga komunikasi jarak jauh nyaris tidak bisa dilakukan dengan cepat. Lalu timbul pemikiran, kumpulnya di tempat orang tua atau saudara tertua atau yang dianggap paling tua. Dengan kesepakatan seperti itu, risiko tidak ketemu saat bertamu jadi berkurang.

Seiring berjalannya waktu, kok ngumpul di tempat yang sama setiap tahun rasanya agak membosankan dan mulai ada kendalanya. Kendala pertama adalah tidak tahu keadaan rumah kerabat lainnya. Bahkan kalau orangnya kaya saya yang ndak suka kluyuran malah ndak tahu rumah saudara sendiri dimana. Kendala kedua, kasihan orang tua yang ketempatan kok ya repot sekali kalau menjamu kami-kami cucu, ponakan dan anak ini.

Akhirnya muncul ide untuk reuni Bani-banian yang tempatnya berganti-ganti tempatnya. Aturan adalah tempatnya bergantian sesuai undian, ada juga yang disesuaikan dengan posisi dalam keluarga atau di dalam bahasa Tuban disebut pernah. Kemudian bagaimana tentang biaya untuk jamuannya? Jawabannya adalah melalui urunan dari semua anggota keluarga, jadi lebih adil kan?

Kegiatan dalam reuni bani-banian ini umumnya ya seperti kalau kumpul di rumah orang tua sebelumnya. Bersalam-salaman, kebetulan di Tuban tidak ada tradisi sungkeman jadi ya acara ini umumnya absen di reuni bani-banian. Setelah bersalaman dilanjutkan acara sambutan-sambutan. Biasanya dilanjutkan juga membaca urutan silsilah. Silsilah mulai dari nama Bani-baniannya sampai keturunan terakhir. Biasanya puncak bani-banian berada di level Buyut dalam urutan silsilah Jawa. Ada juga yang sampai canggah bahkan sampai level Wareng seperti salah satu Bani-banian yang saya ikuti.

Acara resmi tadi biasanya dipungkasi pembacaan tahlil untuk leluhur Bani-banian yang sudah meninggal. Tahlil dipimpin oleh seseorang anggota keluarga dan atau oleh orang lain yang sengaja diundang untuk memimpin pembacaan tahlil. Ini sesuai dengan tujuan awalnya yaitu untuk bersilaturahim. Tahlil ini untuk bersyukur dan berterimakasih kepada para punjer yang telah menjadi wasilah keturunan yang baik.

Nah acara yang ditunggu-tunggu tiba, ramah-tamah, bersalaman, berfoto ria lalu diupload di instastory jangan lupa bikin caption yang ciamik soro. Kaya foto di atas itu Bani Blogger Tuban. Ya walaupun beda punjer tapi tetap merasa sebagai satu Bani-banian. Yawes ndak usah protes wong gitu aja kok protes.

Tapi Bani-banian juga bukan tanpa cela. Orang seperti saya berpotensi mengikuti empat bani. Ya hitung saja, punjer dari Bapak, Ibu, Bapak Mertua dan Ibu Mertua. Nah kalau sehari-sehari, berarti butuh waktu empat hari. Padahal jatah cuti cuma sampai H+4, lha trus berarti kan ada yang bentrok. Yawes gampang kalau bentrok tinggal pilih saja, gantian. Dan jangan lupa mohon maaf ndak bisa ikut salah satu, namanya juga bulan saling mohon maaf. Akhirukalam Selamat Idul Fitri, Mohon maaf lahir batin!

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk me3mbaca tulisan menarik lainnya.

Pujian Jelang Sembahyang di Tuban ini Selalu Bikin Kangen

pujian menjelang sembahyang sholat
Ilustrasi Masjid di senja hari
Sumber : Designed by nikitabuida / Freepik

Langit mulai berwarna jingga, para Ibu petani mulai menggendong sak yang berisi rumput-rumput untuk ternaknya. Bapak-bapak menuntun sapinya dan dipundaknya tersampir kerakal yang sebelumnya digunakan untuk menggemburkan tanah. Ditambah anak-anak yang mulai meninggalkan area permainan dengan ceria walaupun menyimpan ketakutan dimarahi Ibu karena pakaian lusuh bekas bermain dengan tanah.

Mereka melintas dengan teratur di jalan-jalan desa yang sekarang berpaving. Dahulu jangankan paving, tidak becek pun sudah bersyukur sekali. Sementara di langgar sudut desa yang berarsitektur panggung, terbuat dari kayu jati dan beratap tunda khas langgar di Jawa, serta dilengkapi speaker yang terpasang di ujung tiyang bambu, terdengar lengkingan adzan yang ternyata dilantunkan oleh seorang anak berusia belasan tahun.

Duh Gusti kulo nyuwun ngapuro, sekatahe duso kulo, lan dosane tiyang sepuh kulo, ugi umat Islam sedoyo. Allahummaghfirli dzunubi waliwalidaya… Warhamhumma kama robbaiyani Shagira…

Duh suasana yang selalu bikin saya kangen untuk pulang. Setelah adzan, muazdin melantunkan puji-pujian sambil menunggu jamaah lengkap. Puji-pujian biasanya berupa sholawat Nabi, bisa sholawat nariah, badar dan lain-lain. Tetapi banyak juga yang berbahasa jawa dan berisi petuah-petuah untuk hidup yang lebih baik.

Pujian ini konon adalah adalah tradisi peninggalan walisongo dulu. Masuk akal memang. Karena walisongo terkenal dengan dakwahnya yang luwes. Sebut saja misalnya Sunan Giri dengan berbagai tembang sarat nilai kemudian Sunan Bonang juga tidak ketinggalan, di tambah Sunan Kudus yang sangat menghormati umatnya yang sudah mapan dengan tradisi keagamaannya sendiri dan yang paling legendaris adalah jejak dakwah Sunan Kalijogo yang sarat pendekatan budaya.

Pujian-pujian yang dilantunkan di Langgar atau Mushola di Tuban ini mengikuti peristiwa atau hari. Maksudnya kontekstual sesuai keadaan masyrakatnya. Jika puasa tiba maka pujiannya adalah doa yang diajarkan Islam saat masuk bulan Ramadhan. Kemudian ketika Maulid Nabi, maka kamu akan dengarkan sebulan penuh pujian yang berisikan pribadi Nabi Muhammad, dari sifatnya sampai dengan silsilah keluarga.

Gusti Kanjeng Nabi lahire ono ing Mekkah. Dino Senen rolas maulud tajun gajah. Ingkang Ibu asmane Siti Aminah, ingkang Romo Asmane Sayyid Abdullah. Allahumma Shali ‘ala Muhammad, Ya Rabbi Shali alaihi was salim.

Jika memasuki malam Jumat maka biasanya mereka akan melantunkan pujian karya Abu Nawas yang berisi tentang pengakuan kelemahan hambaNya di dunia ini. Digambarkan dengan pengakuan ketidakmampuan ketika hamba menghadapi ancaman neraka sampai pengakuan ketidakpantasan hambaNya memasuki Surga yang agung. Berbeda lagi ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban maka akan berganti nuansa menyambut Ramadhan. Ini ngangenin betul, Dek! Percayalah!

Jadi langgar memang memiliki peran sentral di masyarakat Tuban. Langgar mengingatkan untuk berbaik-baik dalam menjalani kehidupan. Lima waktu diingatkan melalui pujian yang dilantunkan sebelum Sholat dimulai. Langgar juga menjadi tempat bersuka cita. Karena masyarakat desa sering kali menggelar doa syukur di Langgar ketika terdapat keberuntungan dalam kehidupan. Syukuran di gelar dengan membawa bucu disertai bumbu-bumbu sederhana.

Penasaran dengan suasana ini, ayo datang ke Tuban dan tunggu sampai senja menyapa, maka kamu akan rasakan ketenangan sekaligus kebersahajaan budaya yang bernafaskan agama illahi.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Zaman Dahulu, Ini yang Dilakukan Orang Desa Kapu Ketika Gerhana Bulan

Ilustrasi Gerhana Bulan
Ilustrasi Gerhana Bulan

Akhir bulan Januari 2018 diwarnai dengan fenomena alam Gerhana Bulan. Gerhana bulan kali ini spesial karena merupakan gabungan tiga fenomena sekaligus yang memiliki nama resmi Super Blue Blood Moon. Gimana penjelasannya? Nanti saja. Sekarang yuk kita bahas tentang budaya orang desa Kapu ketika gerhana bulan menghampiri desa yang terletak di Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini. Walaupun budaya ini sudah jarang dilakukan tetapi tidak ada salahnya kita ketahui untuk menambah pengetahuan.

Pada zaman dahulu berbeda dengan sekarang, khususnya soal penyebaran informasi. Jadi waktu gerhana tidak dapat diperkirakan. Biasanya masyarakat desa Kapu mengetahui secara tiba-tiba atau on the spot. Ada tanda-tanda alam sebenarnya untuk mengetahui gerhana bulan. Di Kapu banyak keluarga yang memiliki binatang ternak, biasanya berupa sapi, ayam kampung dan kambing. Binatang ternak ini akan memiliki kebiasaan yang berbeda pada malam gerhana bulan. Seperti ayam yang tiba-tiba berkokok.

Nah ketika masyarakat mengetahui gerhana bulan sedang berlangsung, mereka dengan sigap mengambil sapu lidi gerang. Sapu lidi gerang itu adalah jenis sapu lidi yang sudah lama digunakan dan meninggalkan lidi-lidi yang pendek. Sapu lidi gerang ini digunakan untuk memukul-mukul benda apa saja sambil berdoa kepada Allah supaya dijauhkan dari marabahaya. Sapi, ayam, kambing bahkan pohon mangga menjadi sasaran pukulan sapu lidi gerang ini.

Enggak cuma benda-benda itu saja sih, saya pun kena sasaran sapu lidi gerang ini. Kalau mukul kentongan sih nggak ada. Ada yang mukul lesung tapi sedikit karena jaman saya kecil sudah jarang yang memiliki lesung. Masyarakat desa Kapu seperti orang Jawa lainnya, percaya bahwa Gerhana bulan ini membawa semacam balak. Maka tidak heran mereka memukul-mukulkan sapu lidi gerang sambil memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Budaya ini sebenarnya bisa dilacak sejak era Hinda Belanda dulu. Akun twitter @potretlawas misalnya menurunkan tangkapan layar sebuah surat kabar yang terbit pada tahun 1939 di Hindia Belanda. Di surat kabar tersebut tertulis bahwa gerhana bulan disambut dengan antusias oleh masyarakat Hindia-Belanda saat itu. Tetua kampung bertitah bahwa akan ada banjir darah dan gagal panen di masa mendatang. Untuk mengusir bahaya tersebut maka ditabuhlah bebunyian seperti kaleng dan kendang. Menariknya pada saat itu gerhana bulan disebut Grahanan, sama seperti orang desa Kapu menyebutnya.

Padahal secara ilmu pengetahuan modern, gerhana bulan adalah peristiwa antariksa biasa yang memang menjadi siklus tata surya. Gerhana bulan secara umum dapat dijelaskan bahwa Bulan, Bumi dan Matahari berada dalam satu garis lurus sehingga bulan tidak mendapatkan sinar matahari. Pertanyaan saya sih, apa kabar datarians? Apakah dengan konsep bumi datar bisa menjelaskan tentang fenomena gerhana bulan.

Kemudian apa sih yang membuat istimewa dari pada tanggal 31 Januari 2018 kemarin? Menurut berbagai sumber yang di internet, gerhana bulan kemarin adalah gerhana bulan dengan gabungan tiga fenomena langka. Pertama Supermoon, yaitu fenomena bulan yang terlihat lebih besar karena sedang berada di jarak terdekat dengan bumi. Kedua blue moon, yaitu fenomenda purnama dua kali dalam sebulan, yaitu pada tanggal 1 Januari 2018 dan 31 Januari 2018. Terakhir Blood Moon, yaitu gerhana yang menampakkan bulan berwarna kemerahan.

Nah dengan mengetahui tentang bagaimana gerhana bulan dan bagaimana leluhur kita dahulu menyikapi fenomena alam ini, mari kita sejenak merenung bahwa ilmu pengetahuan semakin berkembang dan jangan sampai malah membuat kita sombong. Sebaliknya kita harus semakin bersyukur dan berpasrah diri kepada Allah. Bagaimanapun seluruh alam semesta ini adalah ciptaan Allah dan menyimpan potensi yang membahayakan jika tidak disikapi dengan baik.

Oiya terakhir untuk informasi saja, sepertinya di Kapu Sapu lidi gerang sudah pensiun tidak lagi memukuli binatang ternah, pohon atau kita semua. Tetapi harapan-harapan tentang perlindungan Allah kepada kita tetap harus ada di dada. Tsaaah… Lha kalau kamu kangen pengen dipukul-pukul sama Sapu Lidi ya beli sendiri di pasar terus dipotong supaya gerang kemudian pukul-pukulin deh.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Pernikahan Adat Jawa Orang Tuban

Ilustrasi Pernikahan Adat Jawa
Ilustrasi Pernikahan Adat Jawa

Kasmi bukan nama sebenarnya, adalah seorang gadis salah satu desa di Tuban. Dia sedang sumringah karena hari ini orang tuanya akan “melamar” laki-laki impiannya untuknya sesuai dengan tradisi pernikahan adat Jawa ala Tuban. Sedangkan orang tuanya sedang sibuk menata jodang berisi aneka macam seserahan yang akan melengkapi acara lamaran nanti. Dibantu beberapa tetangganya, satu persatu jodang dimuat ke atas Kol Tepak (Sebutan lain untuk mobil pick up).

Itulah gambaran awal rangkaian pernikahan tradisional orang di Kabupaten Tuban. Di Tuban sebenarnya tidak ada istilah melamar. Istilah ini baru di kenal pada masyarakat modern Tuban. Dalam tradisi Tuban sebutannya adalah gemblong. Nama gemblong ini sebenarnya berasal dari menu utama seserahan tadi yaitu Gemblong.

Gemblong adalah makanan dari dari ketan. Sama seperti daerah mataraman lainnya yang menggunakan makanan berbahan ketan sebagai simbol lamaran. Filosofinya adalah pengantin sebagai suami isteri agar bisa tetap melihat ketan yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Gemblong di Tuban berbeda dengan gemblongnya orang Sunda yang berwarna cokelat karena dibalut dengan gula. Gemblong di Tuban mirip dengan jadah yang ada di daerah Jawa Tengah.

Orang tua di Tuban berkeyakinan salah satu tugas orang tua yang memiliki anak perempuan adalah mencarikan jodoh atau menikahkan. Maka yang akan terlihat proaktif mencari pendamping anaknya adalah orang tua calon mempelai pengantin wanita. Hal ini berbeda dengan tradisi orang di kota lain, yang justru calon pengantin prianya yang kelihatan proaktif mencari jodoh untuk dirinya sendiri apapun metodenya.

Baca juga : Dangdut Koplo di Tengah Generasi Digital

Dengan keyakinan seperti itu maka terwujudlah rangkaian tradisi pernikahan adat jawa khas Tuban yang secara umum terdiri dari naren yang dilakukan oleh orang tua wanita kepada calon mempelai pria. Kemudian gemblong yang lagi-lagi dilakukan oleh orang tua wanita, medot gunem, repotan, akad nikah hingga selapanan yang semuanya dilakukan oleh orang tua pengantin wanita.

Tahap pertama untuk menuju ke pernikahan ada tradisi naren. Naren itu berarti nari atau berarti bertanya. Ketika anak wanita cukup umur dan bersedia menikah maka orang tua calon pengantin wanita mencarikan calon pengantin pria yang cocok. Ketika menemukan -tentu sesuai kriteria orang tua- maka orang tua tersebut akan menanyai calon yang sudah masuk “radar” tadi. Mau tidak calon tersebut menikah dengan putri tercinta. Jika mau maka berlanjut ke tahap berikutnya.

Pada tahap pertama ini sekarang telah mengalami modifikasi. Jika dahulu yang mencari calon pengantin pria adalah orang tua, maka sekarang yang mencari ya anak wanitanya itu sendiri. Sebenarnya wajar karena akses pendidikan dan informasi wanita  di Tuban sudah layak, tidak ada perbedaan dengan pria. Hal ini tentu berbeda jika dibandingkan dengan jaman dulu. Tetapi orang tua perempuan tetap bertugas menanyai calon pengantin pria, namun dengan pertanyaan yang lebih dalam, misalnya sudah yakin mau menikah dan lain-lain.

Jika semua berjalan lancar, maka ada tahapan selanjutnya yang lebih serius yaitu gemblong. Pada fase ini biasanya kedua keluarga sudah mengetahui tentang rencana acara ini. Mereka sudah saling menyelidiki dan memegang profil masing-masing keluarga calon besan. Orang tua di Tuban sama seperti orang tua lainnya, mereka ingin memastikan jodoh anaknya adalah yang terbaik dengan kadar tertentu sesuai kriteria keluarga masing-masing. Jadi ya wajar sesama keluarga saling mencari tahu seperti apa calon keluarganya.

Baca juga : Lebaran Singkat di Desa Kapu

Pada tradisi gemblong, orang tua calon pengantin wanita akan meminta sesepuh keluarga untuk mengantarkan mereka ke calon besan. Sajian dari beras ketan seperti gemblong dan wajik atau orang Tuban bilang ketan salak sudah disiapkan terlebih dahulu ditambah berbagai bawaan. Ada yang bawa beras, ayam, roti dan lain-lain yang ditaruh di Jodang dan diangkut menggunakan mobil tepak.

Calon mempelai biasanya tidak ikut dalam acara ini. Ini adalah acaranya orang tua. Calon pengantin wanita tinggal di rumah, yang berangkat adalah orang tua dan sesepuh keluarga. Ketika sampai di rumah calon mempelai pria mereka disambut layaknya tamu agung. Disambut dengan penuh penghormatan. Mereka biasanya langsung mengutarakan maksudnya untuk mengambil anak laki-laki keluarga tersebut sebagai menantu.

Sementara di bagian lainnya para pendarat disibukkan dengan pembongkaran seserahan yang dibawa oleh keluarga calon mempelai wanita. Setelah diturunkan lalu dibagi, diiris, dibungkus lalu dibagikan kepada tetangga terdekat sampai keluarga jauh. Ini sekaligus menandakan bahwa calon mempelai pria sudah ada yang meminang menjadi menantu. Di acara gemblong ini tidak ada tukar cincin layaknya lamaran di kota lainnya. Jadi ya gemblong tadi simbolnya.

Pertemuan keluarga inti tadi biasanya langsung membicarakan tanggal pelaksanaan. Meski demikian tidak menutup kemungkinan akan dilakukan pertemuan-pertemuan lanjutan secara informal hingga mencapai kesepakatan soal hari dan teknis lainnya terkait pelaksanaan pernikahan. Pertemuan lanjutan penting digelar karena beberapa masyarakat di Tuban masih secara ketat menerapkan perhitungan hari dengan pertimbangan primbon.

Baca juga : Udukan, Tradisi di Desa Kapu untuk Peringati Maulid Nabi

Acara selanjutnya adalah medot gunem. Acara ini sebenarnya acara yang informal saja karena tidak ada lagi acara formal yang melibatkan banyak pihak. Ini adalah pertemuan terakhir untuk mengambil keputusan tentang hal-hal teknis acara pernikahan nanti. Setelah medot gunem akan dilakukan repotan.

Repotan itu adalah acara pendaftaran calon mempelai wanita, pria dan wali. Dilakukan di KUA terdekat rumah mempelai wanita. Di Tuban seperti lazimnya di tempat lain, akad nikah dilakukan di kediaman mempelai wanita. Repotan ini juga sebenarnya acara informal. Biasanya ya hanya selametan kecil saja, supaya diberikan kelancaran selama proses mengurus administrasi pernikahan.

Setelah repotan maka hari yang tunggupun tiba. Saya ndak tau tradisi detailnya seperti pemasangan bleketepe, dodolan dawet dan lain-lain. Soalnya sudah jarang masyarakat Tuban yang melaksanakannya. Acara akad nikah diawali dengan penjemputan calon mempelai laki-laki oleh keluarga calon mempelai perempuan. Biasanya diwakili oleh sesepuh keluarga. Calon mempelai laki-laki tidak akan berangkat ke tempat akad jika penjemputnya belum datang.

Setelah itu maka seluruh rangkaian pernikahan akan dilakukan sesuai keputusan musyawarah yang disepakati pada saat medot gunem sebelumnya. Dari mulai Mas Kawin, rute yang harus ditemput oleh calon pengantin pria, waktu akad nikah, penyambutan pengantin pria yang biasanya diberi minum dari genuk milik keluarga calon pengantin wanita dengan wadah jebor yang terbuat dari tempurung kelapa dan lain-lain sampai dengan tata cara resepsi.

Nah yang menarik adalah, orang tua calon pengantin pria pada saat akad nikah biasanya tidak ikut dalam rombongan. Mereka tidak menyertai putranya seperti di kota. Orang tua calon pengantin pria akan datang ketika akad sudah selesai. Orang tua calon pengantin pria akan memasrahkan kepada mertuanya, dan akan memberitahukan kelemahan putranya. Misalnya tidak bisa membantu dengan rajin, pemalas dan lain-lain. Jadi untuk calon pengantin pria siap-siap, ya.

Setelah akad selesai dan resepsi juga telah selesai digelar, maka pengiring pengantin pria akan bertahan di tempat acara sampai pagi. Mereka melaksanakan tradisi melekan. Entah apa maknanya, tetapi di banyak di Tuban masih melaksanakan acara ini. Dalam acara melekan ini tidak ada ketentuan khusus, mereka biasanya hanya akan duduk-duduk, mengobrol dan tentu saja ditemani kopi.

Rangkaian terakhir di dalam pernikahan adat jawa ala Tuban ini adalah sepasar. Di Tuban sepasar berarti 5 hari sejak tanggal pernikahan digelar. Ini sesuai dengan tradisi penanggalan jawa yang memiliki 5 hari dalam sepekan. Pada acara sepasar, keluarga pengantin wanita akan berkeliling membawa makanan dan jajanan yang banyak. Makanan tersebut akan dibagikan kepada keluarga pengantin pria.

Nah demikian rangkaian pernikahan adat jawa di Tuban. Semua yang saya tulis biasanya berbeda antara satu kecamatan dengan kecamatan lain atau bahkan antar desa juga kadang berbeda. Tidak mengherankan karena masyarakat Tuban sudah banyak keluar dan terpengaruh budaya luar Tuban sehingga melahirkan tradisi-tradisi baru, yang malah menambah kekayaan tradisi orang Tuban. Mari saling menghargai dan menghormati.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Internet dan Budaya Tutur di Desa

Budaya Tutur di era Media Sosial
Designed by Creativeart / Freepik

Suatu malam di Desa Kapu pada dekade akhir 90an, seorang Imam memimpin sholat teraweh terakhir atau malam ke-30. Para jamaah antusias mengikuti teraweh kali ini, karena tandanya lusa mereka sudah riyaya. Sebelum Sholat teraweh malam terakhir itu dilakukan, sudah beredar desas-desus bahwa lebaran kemungkinan bukan lusa tapi esok hari.

Tetapi Imam dengan keteguhan hati menunggu keputusan Negara tentang kapan Idul Fitri digelar, dan tetap dengan hikmat memimpin teraweh. Setelah teraweh dilaksanakan, para santri seperti biasa melakukan tadarus Alquran yang pada saat itu digelar sampai tengah malam.

Tepat pukul 00.00 speaker Mushola dimatikan. Para santri mulai menata sarung dan tidur di Mushola. Sang Imam pun menuju dalem untum beristirahat. Belum sempat menutup mata, para santri dan sang Imam dikejutkan suara “Besok riyaya, besok riyaya”. Sontak mereka semua segera bangun dan menyalakan speaker Mushola untuk kemudian melaksanakan Takbiran.

Itulah gambaran kehidupan di desa Kapu sebelum saluran internet dan sumber informasi lainnya masuk ke desa ini. Mungkin desa lain di Indonesia merasakan hal yang sama. Pada saat orang di desa Kapu melakukan persiapan sholat teraweh di Jakarta yang berjarak kira-kira 800 KM telah selesai melaksanakan sidang istbat dan telah mengumumkan hasilnya. Tetapi untuk menyebarkan pengumuman tersebut butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke pelosok-pelosok desa.

Bukan hanya soal informasi, soal trend pun. Jika suatu kota memiliki sebuah trend maka akan lama menyebar ke tempat yang lain. Tetapi pelambatan penyebaran trend ada untungnya juga sih. Ini menjadikan Indonesia khususnya desa sangat beragam tradisinya. Saya tidak bisa bayangkan jika dahulu sudah tersedia saluran informasi internet, pasti selera makanan orang Indonesia akan dikendalikan oleh artis, seperti kasus cake artis jaman sekarang.

Sebelum era internet, informasi disebarkan melalui mulut ke mulut atau di kenal sebagai Budaya Tutur. Sekarang sudah berubah, walaupun tidak ada data yang menyebutkan secara rinci prosentase tentang seberapa besar akses masyarakat desa terhadap internet. Namun dari survei yang dilakukan oleh APJII pada tahun 2016 lalu dapat menjadi acuan tentang perilaku orang desa berinternet.

Dalam survei APJII 2016, terdapat fakta bahwa jumlah pengguna internet sebesar 132 juta pengguna atau naik 51 % dari tahun 2014. Dilihat dari perilaku, pengguna internet di Indonesia mayoritas mengakses media sosial kemudian disusul oleh media-media berita mainstream. Tapi harus diperhatikan bahwa Facebook mengklaim mampu meningkatkan beberapa kali lipat trafik ke media mainstream, yang berarti akses media mainstream pun sebenarnya berasal dari media sosial.

Fakta media sosial yang begitu dominan, tidak mengherankan. Karena warga Indonesia memang makhluk yang sangat gemar bersosialisasi dan memiliki budaya tutur yang kuat. Kendati internet terdapat trilyunan set data dan informasi, warganet Indonesia lebih senang bertanya alih-alih mencari sendiri informasi yang berserak di Internet. Ini khas Indonesia.

Sastrawan Ahmad Tohari seperti dimuat Antara Jateng menyatakan bahwa Bangsa Indonesia mewarisi budaya tutur, sehingga minat baca belum begitu tinggi. Kemudian apakah dengan jumlah pengakses yang terus meningkat, juga berdampak kepada budaya tutur menurun? Buktinya tidak. Alih-alih hilang, budaya tutur menurut saya malah menemukan momentumnya untuk semakin berkembang.

Maksud saya begini, dalam budaya tutur ketika seseorang membutuhkan informasi, maka akan datang kepada sumber informasi dan bertanya. Bertanya dan bercerita adalah kunci dalam budaya tutur. Jadi ini terlihat dari warganet Indonesia khususnya di desa yang lebih senang bertanya ketimbang mencari informasi di mesin pencari misalnya. Bahkan untuk mengklik berita mainstream pun butuh diberi “pengantar” terlebih dahulu dari koleganya.

Walaupun warganet di desa lebih suka bertanya dibandingkan membaca sendiri, tetapi tidak mudah untuk menyebarkan hoaks di kalangan warganet desa. Ada beberapa percobaan penghasutan warganet desa dengan hoaks dan gagal total. Kasus terakhir adalah percobaan penyebaran hoaks patung Pahlawan China di Tuban. Gagal total, tidak ada satupun warganet di desa yang terhasut.

Budaya tutur di desa yang kadang membuat jengkel para pegiat internet karena sudah capek-capek bikin konten, toh mereka tetap saja bertanya di kolom komentar. Tetapi budaya tutur juga memiliki keunggulan. Salah satunya adalah ketidakpuasan warganet desa pada satu jawaban. Misalnya jika ada yang bertanya soal bagaimana mengurus KTP, maka mereka akan memposting berulang kali, dan bahkan ketika sudah dijawab pun mereka tetap menanyakannya kembali.

Ketidakpuasan terhadap satu jawaban itu menyebabkan orang desa sangat kebal terhadap hoaks di Internet. Butuh usaha keras untuk meyakinkan warganet desa terhadap suatu issue. Walaupun di Internet kebal Hoaks, buktinya toh tidak membebaskan mereka dari Hoaks di dunia nyata. Buktinya masih saja ada yang percaya kalau PLN itu jualan box pelindung meteran listrik. Atau percaya kalau Pertamina jualan Regulator Gas.

Kembali kepada ilustrasi di paragraf pertama tadi, walaupun sudah tidak ada yang teriak-teriak bahwa besok lebaran, tetapi tetap saja tidak mengubah kebiasaan orang desa untuk bertanya di Facebook “Lebaran kapan?” Tanpa mau mengetik di mesin pencari dengan keyword “Keputusan sidang isbat”. Dan tetap menghadapi kenyataan bahwa pertanyaan itu tidak cuma di posting sekali, tapi berkali-kali sampai ada Musholla atau Masjid yang menggelar takbiran.

Jadi menurut saya internet tidak mengubah apa-apa dalam hal minat baca atau budaya tutur di masyarakat desa. Internet malah menjadi media untuk “Cangkruk’an” -yang merupakan perwujudan paripurna dari budaya tutur- tanpa mau berusaha mencari dan menganalisis secara mandiri data yang berserak di Internet. Tugas para relawan dan pegiat internet untuk memberi bimbingan betapa pentingnya analisis data secara mandiri, supaya tidak begitu saja ikut arus.