Lebaran Singkat di Desa Kapu

Kumpul-kumpul setelah lelah saling berkunjung

Ah Lebaran sebentar lagi. Tulisan ini dibuat pada suasana jalanan di pantura sudah mengalami kepadatan, walaupun enggak padat-padat banget, namun ini sudah menandakan bahwa lebaran sudah dekat, tentunya selain iklan mardjan yang semakin menjadi-jadi. Lebaran datang, kota jadi sepi, desa menjadi semarak. Semarak orang rantauan yang pulang untuk melepas kangen dan ada juga yang niatnya pamer ninja. Duh.

Ndak ketinggalan juga di Kapu. Di Kapu yang berjarak 10 KM dari pusat kabupaten Tuban ini juga mendadak semarak. Semaraknya sih sejak awal ramadhan, Mushola dan Masjid berlomba cepet-cepetan Tarawih dan tadarusan, kemudian menurun pada 10 akhir ramadhan, semaraknya pindah ke Jalan Pemuda atau Bravo, itu swalayan paling joss sak Kabupaten Tuban. Ruame, apalagi udah ada eskalatornya. Lumayan udah mirip mol-mol di kota besar.

Untungnya ada kegiatan maleman, yang biasanya juga diisi sama ziarah wali di Tuban. Sempat-sempatin ke Mushola di tengah kesibukan mencari baju andalan menunjang penampilan saat lebaran. Ke Mushola karena pengen ikut maleman, walaupun juga ada saja yang berniat jalan-jalan, lihat-lihat Jalan Pemuda dan Bravo. Lho! Ha Piye hawong Sunan Mbonang itu letaknya di tengah pusat kota. Sebelah timur Alun-alun, Sebelah selatan Bravo dan sebelah baratnya Jalan Pemuda.

Lepas dari 10 hari terakhir, maka persiapan akhir sebelum lebaran adalah nyekar ke sanak saudara yang sudah meninggalkan kami semua. Tapi anehnya momen ziarah ini ndak hanya menyambung silaturahim dengan yang sudah tiada, namun juga menyambung silaturahim dengan yang hidup. Ha gimana, tempat pemakaman desa jadi ramai. Banyak yang sudah lama tak bersua, berjumpa di sini, saling menanyakan kabar, menanyakan utang yang sudah lama belum kunjung dibayar dan diakhiri dengan saling mendoakan. Duh indahnya.

Pulang dari kuburan jangan lupa cuci kaki sebelum masuk rumah, konon banyak setan yang menempel dan akan hilang ketika membasuh kaki. Di Kapu tidak ada penjual kembang dadakan seperti di kota-kota besar. Tidak mengherankan hawong banyak yang punya pohon kembang ijo yang baunya kuburan banget itu. Kalaupun ndak punya pohonnya ya tinggal mintak ke tetangga.

Sorenya warga desa terlihat sibuk, bawa hantaran ke tetangga sana dan sini, tak lupa juga untuk sanak saudara lain desa tapi masih terhitung dekat. Pada malam harinya giliran bapak-bapak yang tampak lalu lalang sambil menenteng kresek hitam, kadang putih kadang juga merah. Kresek apa itu gerangan, apalagi kalau bukan kresek berkat. Ini adalah ritual selametan riyoyo yang diikuti oleh hampir seluruh warga desa.

Acaranya saling mengunjungi ke rumah-rumah orang, dilanjutkan berdoa bersama di rumah orang yang dikunjungi kemudian setelah selesai dibagi berkat per orang satu. Syahdu betul suasananya. Jika Mas Aji bilang mudik adalah perayaan kerinduan, ini adalah salah satu perayaannya di desa Kapu. Siapapun perantau asal Kapu akan merindukan telur berkat yang disimpan dan dimakan besoknya ketika selesai sholat Ied.

Setelah sibuk anjangsana berbonus berkat yang beneran penuh berkah. Ha Piye berkat itu didoain seluruh orang selingkungan. Giliran anak muda mudi sibuk hilir mudik. Ada yang (suwit-suwit) bawa ceweknya, ntah udah jadian atau baru mbribik, ada yang sama genknya ada juga yang pamer ninja. Duh. Anak-anak ini sibuk Takbiran keliling. Takbir keliling baru-baru ini saja semarak, gara-gara anak-anak IPNU-IPPNU itu bikin acara festival tongklek. Lha masak peralatan tempur yang ditabuh sebulan penuh saat sahur ndak dimanfaatkan ketika malam Idul Fitri ini. Duh saya mbrebes mili nulis ini, rindu betul saya sama suasana ini.

Paginya ndak kalah syahdu. Menjelang Shubuh, pemuda-pemuda yang takbiran semalam suntuk semakin menjadi, seolah tak rela ditinggalkan oleh malam yang betul-betul ngangenin setiap manusia yang bernafas di Kapu. Ufuk timur telah menguning, para pemuda dengan wajah kelelahan tapi senyum merekah di wajah, sambil menyandang sarung yang semalaman melindungi tubuh dari nyamuk dan dinginnya ubin Mushola, meninggalkan Mushola dan persiapan ke Masjid.

Jalan-jalan Desa yang akhir-akhir ini penuh dengan kendaraan sepeda, mobil, sepeda motor dan lain-lain, pada pagi itu akan berubah total. Hening, hanya ada suara-suara gremembyeng warga yang mulai berangkat ke Masjid. Karena saking heningnya, suara tetangga yang disebrang sana pun kedengaran. Dengan rukuh yang sudah menutup rapi aurot para wanita dan sarung serta tidak lupa baju taqwa membalut dengan gagah tubuh para pria, mereka menuju ke Masjid.

Tempat favorit sih paling belakang. Duh betul-betul ini. Jamaah pun ada yang mulai nggelar koran, sajadah, terpal, perlak dan apapun yang suci untuk alas. Imam Sholat Ied biasanya bersuara mistis, dengan suara mistisnya beliau memulainya dengan takbir 7 kali. Sholat Ied yang sangat-sangat singkat walaupun bertakbir ikhrom 7 kali atau kalau ditotal ada 12 kali, tapi terasa sangat singkat. Kangen betul sama Sholat Ied.

Imam dengan suara mistisnya mengakhiri Sholat Ied dengan salam. Jamaahpun mulai ancang-ancang pulang mulai tengok kanan dan kiri salaman. Njawil depannya untuk salaman juga dan putar arah kebelakang untuk menyalami jamaah lainnya. Sebagian besar duduk khusuk mendengarkan khotbah dan sebagian lainnya mulai melipat sajadah siap-siap pulang, duh Mas hambok sabar. Pamer ninjanya masih ada waktu seharian ini.

Jamaah dengan semangat meninggalkan Masjid, dan Show Time! Ini acara puncak lebaran di Kapu. Semua orang saling mengunjungi ke tetangga-tetangga. Tapi alih-alih saling mengunjungi malah pada ketemunya di jalan. Lha piye semua keluar rumah pengen dulu-duluan berkunjung. Duh rindu betul saya sama suasana ini. Semua tersenyum semua berlomba bersalaman, dulu-duluan minta maaf. Coba setiap hari kaya gini, adem dunia.

Dengan cara seperti itu, jadilah lebaran di Kapu ini berlangsung singkat bahkan sangat singkat. Dari bubar Sholat Ied sampai jam 09.00 sudah rata sedesa dikelilingin. Semangat betul. Dan saat itu terjadi jajanan atau kue-kue lebaran jarang sekali disentuh. Percuma persiapan kue lebaran nggak ada yang makan. Ha gimana datang langsung “Lek nyuwun sepuro nggeh” habis itu plencing ilang. Senengnya saya, di desa ini ndak ada tradisi bagi-bagi uang. Indah betul, ndak ada budaya yang menurut saya dekat dengan hedonisme ini.

Selamat lebaran semuanya, saya pamit mudik, ya. Sampai ketemu di Kapu!

 

Udukan, Tradisi di Desa Kapu untuk Peringati Maulid Nabi

Suasana Udukan
Suasana Udukan

Di Desa yang cantik nan menawan ini memang memiliki berbagai tradisi unik untuk menyambut hari besar agama Islam, salah satunya adalah Udukan. Udukan di Desa Kapu digelar untuk peringati Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awwal pada setiap tahunnya, atau kalau di Kapu lebih dikenal sebagai bulan Mulud. Maklum desa ini juga terdapat pengaruh kerajaan Islam Jawa yang berhasil mensinkronkan bulan penanggalan Jawa dengan penanggalan Islam.

Suasana Maulud Nabi dimulai saat awal bulan Rabiul Awwal. Di langgar-langgar dan Masjid kompak menyerukan pujian-pujian khas bulan Maulid setiap setelah Adzan. Kamu tahu seperti apa pujiannya? Gini

Allahumma Sholli ‘ala Muhammad…
Ya Rabbi Sholli ‘alaihi wassalim…
Gusti Kanjeng Nabi Muhammad lahir ing Mekkah…
Dino Senen Rolas Maulud Tahun Gajah…
Ingkang Ibu, Asmane Siti Aminah…
Ingkang Romo asmane Sayyid Abdullah…

Kok dalam bahasa Jawa? Ya iyalah, hawong Kapu kan itu Jawa. Oke saya artikan deh. Saya artikan yang bahasa Jawanya aja, ya. Kalau Sholawatnya, saya yakin Kamu pasti lebih tahu dibandingkan saya.

Gusti Kanjeng Nabi Muhammad lahir di Makkah
Hari Senin, Dua Belas Maulud/ Rabiul Awwal tahun Gajah
Dengan Ibu bernama Siti Aminah
Dengan Ayah bernama Sayyid Abdullah

Udah tau kan? Kalau Kamu mampir ke Desa Kapu saat bulan Rabiul Awwal, maka Kamu akan mendengarkan pujian-pujian ini dilantunkan sesaat setelah Adzan. Selain ada pujian yang khas. Pas pada malam 12 Rabiul Awwal akan diselenggarakan Udukan yang dipusatkan di langgar-langgar atau Masjid. Pada siang harinya pasar desa akan ramai sekali untuk prepekan.

Prepekan itu adalah prosesi untuk melengkapi kebutuhan dapur untuk menyambut hari besar agama, misalnya lebaran, Kurban, Awal Puasa dan lain-lain. Setelah itu para Ibu akan memasak Nasi Uduk dan berbagai bumbunya. Biasanya sih ada menu ayam goreng ngap-ngap (kaya Upin-Ipin). Hehehe. Setelah matang maka disiapkan di baskom yang biasa buat wadah berkat itu. Kemudian nanti habis Magrib siap dibawa ke Langgar.

Setelah Adzan Magrib semua berbondong ke Langgar sambil bawa Nasi Uduk beserta bumbu-bumbunya tadi. Kemudian semua ngumpul dan Kiai pun memulai acara Udukan ini. Acara dimulai dengan sambutan-sambutan kemudian lanjut pembacaan Barjanzi. Barjanzi adalah kitab Biografi Nabi Muhammad. Kitab ini dibaca dengan hikmad dan puncaknya adalah Mahalul Qiyam. Semua jamaah berdiri seolah Nabi Muhammad hadir ditengah-tengah mereka. Para Jamaah begitu khusyuk melantunkan Sholawat Nabi, lambang kerinduan mereka kepada Nabinya.

Selesai Mahalul Qiyam dilanjutkan dengan doa bersama. Setelah doa bersama langsung makan-makan. Semua jamaah membuka ambengnya masing-masing. Oiya nasi uduk yang sudah dikemas dengan baskom tadi disebut ambeng. Semuanya saling menawarkan ambengnya masing-masing. Mereka senang ketika ambengnya laris manis dimakan oleh jamaah lainnya. Kalau nggak habis pun mereka saling bertukar dan dibagi rata.

Kalau saya sih jangan ditanya. Seluruh ambeng saya cicipin satu-persatu. Saya paling seneng bumbu bihunnya atau kacang panjang. Duh jadi kangen sama suasana akrab Udukan ini. Semua sama, sama-sama ingin mengejar cinta Rosulnya. Kaya Miskin, Tua Muda saling berbagi makanan dan kebahagiaan. Sambil makan, kadang juga disambi ngobrol-ngobrol untuk saling mengetahui kabar masing-masing. Tuh keren, kan?

Kalau kamu mau tahu betapa rukunnya warga desa ini untuk merayakan Maulid Nabi, yuk datang ke desa Kapu. Jangan lihat TV atau internet melulu. Apa enggak bosen ngelihat orang-orang debat mulu tanpa habisnya demi kepentingannya sendiri. Sekali-kali berkunjung ke desa belajar damainya hidup di desa. Selamat Maulud Nabi SAW, tirulah Akhlak Nabi karena Allah mengutus Muhammad untuk menyempurnakan Akhlak seluruh Manusia di muka bumi ini.

Belanja dengan Ringgit di Desa Kapu

Toko Rudis
Toko Rudis

Di Desa Kapu, banyak yang menggunakan satuan ringgit ketika berbelanja. Lho kok bisa? Bukannya ringgit itu mata uang Malaysia? Iya memang Ringgit adalah mata uang Malaysia. Tapi tenang aja, di Kapu, satuan Ringgit nggak ada hubungannya dengan mata uang Malaysia itu. Mata uang di desa Kapu 100% rupiah. Entah sejak kapan orang Kapu suka menggunakan sebutan ringgit untuk nominal uang rupiah.

Kalau kamu berbelanja di toko-toko di desa Kapu, kamu pasti akan menemui orang yang bilang “Sakmene iki pirang ringgit?” Artinya “Segini ini berapa ringgit?”, kemudian akan dijawab oleh penjualnya misalnya “Iki sakmene limang ringgit, Yu” Artinya “Ini segini lima ringgit, Mbak”. Nah bingung kan? 1 ringgit di desa Kapu artinya Rp 250,-. Iya dua ratus lima puluh rupiah. Jadi kalau lima ringgit itu artinya Rp 1.250,-. Mantab kan?

Di Kapu memang banyak sih yang merantau ke Malaysia, tapi jauh sebelum orang-orang Kapu ke Malaysia, mereka sudah menyebut 250 rupiah sebagai 1 ringgit. Saya sudah beberapa kali bertanya kepada orang-orang tua di desa ini, tapi tidak ada yang tahu pasti sejak kapan mereka menggunakan istilah ringgit dalam transaksinya.

Setelah saya menelusuri beberapa blog, akhirnya saya tahu. Ringgit itu salah satu mata uang yang digunakan saat masa penjajahan Belanda. Pada saat awal kemerdekaan istilah ringgit masih digunakan untuk menyebut dua setengah rupiah. Mungkin karena devaluasi akhirnya di desa Kapu satuan ringgit meningkat dari dua setengah rupiah menjadi dua ratus lima puluh rupiah.

Kalau dibandingkan dengan sekarang mungkin seharusnya menjadi dua ribu lima ratus rupiah kali ya per ringgitnya. Ah desa ini memang unik, dari bahasanya, budayanya dan masyarakatnya yang ramah dengan berbagai kearifan lokalnya. Kalau kamu sedang di Tuban cobalah mampir ke desa ini. Udah terkenal kok, kalau kamu mau tau bisa googling, atau kalau kamu mau beli apa gitu di sini juga murah-murah, nggak perlu beringgit-ringgit 😀 Ya sudah selamat malam dan selamat istirahat, besok kerja lagi cari ringgit, eh Rupiah.

Jika bermanfaat silakan anda bagikan tulisan ini dan kami juga memiliki koleksi tulisan yang menarik lainnya, silakan klik Daftar Isi untuk melihat daftar tulisan kami. Selamat membaca! 🙂

8 Hal ini yang dilakukan Orang Kapu ketika Bulan Puasa

8 Hal yang dilakukan orang Kapu ketika bulan puasa
8 Hal yang dilakukan orang Kapu ketika bulan puasa

Puasa sebuah kata yang sakral di Nusantara Raya ini. Puasa berasal dari kata Upawasa yang merupakan bahasa jawa dan memiliki arti tidak makan serta tidak minum selama seharian. Upawasa mendapatkan sentuhan islamisasi Walisongo sehingga identik dengan shaum (ini yang bingung, kalau kamu nulis insya pakai “insha” terus Shaum pakai apa? pake “Syaum”? Kan kacau artinya bray hehehe) yang memiliki arti kurang lebih mirip tapi lebih luas karena tidak hanya menahan makan dan minum namun juga hawa nafsu.

Karena bulan yang sakral dan spesial, tradisi bulan ramadhan pun spesial. Kamu pasti punya hal-hal khas yang hanya ada ketika Ramadhan tiba, tak kecuali orang-orang di Desa Kapu. Desa Kapu yang merupakan desa kecil yang berjarak sekitar 10 KM dari pusat kota Tuban ini, memiliki berbagai tradisi khas ramadhan. Penasaran? ijinkan aku memberitahumu.

Ziarah Kubur

Ziarah Kubur
Ziarah Kubur

Seperti orang desa lainnya, persaudaraan orang desa Kapu sangat erat terjalin. Kalau kamu biasa mendengar kata cinta sampai mati, maka di desa Kapu berlaku ungkapan bersaudara hidup ataupun mati. Bentuk nyata dari ungkapan tersebut tergambar dari budaya ziarah kubur. Ziarah kubur dilakukan sehari menjelang bulan puasa. Jika saat itu tiba, maka kuburan bak pasar. Ramai banget orang berziarah kubur, mengirimkan doa kepada para orang tua, saudara atau bahkan sahabatnya. Terbukti kan orang desa itu bersaudara hidup atau mati.

Megengan

Megengan
Megengan

Selesai ziarah kubur, malamnya setelah sembahyang Magrib warga desa berbondong-bondong ke Mushalla atau masjid terdekat. Mereka membawa baskom-baskom berisi makanan. Dan kamu tahu? mereka itu sedang melaksanakan megengan. Megengan adalah salah satu dari 7 Selametan yang di Gelar di Desa Kapu. Megengan digelar untuk menyambut bulan Ramadhan. Dahulu Megengan digelar giliran per rumah, dan sekarang diubah berkumpul di Mushalla atau Masjid. Megengan diawali dengan kumpul-kumpul kemudian berdoa bersama, mendoakan keselamatan dan keberkahan warga desa, desa itu sendiri dan seluruh umat manusia. Tuh baik kan? orang desa itu loman.

Teraweh

Teraweh
Teraweh

Selesai megengan, dilanjutkan dengan menunggu keputusan pemerintah tentang awal Ramadhan. Orang desa ini memedomani ungkapan bahwa Keputusan Pemerintah itu menyelesaikan perbedaan. Jadi 100% orang desa Kapu ikut keputusan Pemerintah dalam hal penentuan awal bulan Islam. Ketika sudah dipastikan ramadhan tiba, maka seluruh warga desa (untuk kali ini yang hidup saja) mendatangi Mushalla dan melaksanakan Sholat Teraweh. Sembahyang teraweh di desa ini dilaksanakan 20 rakaat dan 3 rakaat witir, serunya nggak ada yang mrotol ketika rakaat ke-8. Sebelum Teraweh ada pujian khas bulan ramadhan “Asyhadu alla ilaha illallah astagfirullah…..”. Yang orang desa pasti hafal lah.

Tadarusan

Tadarus
Tadarus

Nah ini momen yang selalu saya kangenin. Tadarusan setelah taraweh. Berbeda dengan Jakarta yang setelah teraweh mushalla dan masjidnya langsung sepi, di Desa Kapu Mushalla dan Masjid setelah teraweh ada tadarusan yang biasanya sampai dengan pukul 12.00 WIB. Jadi jangan pada heran, orang-orang desa Kapu pas ramadhan kantung matanya makin gede, lha begadang terus. Dulu pernah ada masa tadarusan ini berebut tempat karena tempatnya terbatas peminatnya banyak. Pindah mushalla penuh, pindah lagi penuh lagi. Terpaksa nunggu diluar.

Main Petasan

Ilustrasi Petasan Bambu Sumber jogja.tribunnews.com
Ilustrasi Petasan Bambu
Sumber jogja.tribunnews.com

Petasan di desa Kapu macemnya banyak, ada yang pakai tempat pentil ban, kemudian busi, bambu, tanah, kaleng dan lain-lain. Kalau yang pentil ban dan busi menggunakan korek jres atau korek api batang. Suara dari petasan pentil ban dan busi ini keras tapi masih ada yang lebih keras yaitu petasan dari bambu, tanah dan kaleng. Ketiga petasan ini memanfaatkan uap karbit yang dinyalakan sehingga menghasilkan ledakan yang memekakkan telinga. Ketika puasa, anak-anak di Kapu biasanya beradu petasan berbahan bakar karbit ini, suasananya kaya perang meriam. Bummm…. bummm…. Seru!

Tongklekan

Tongklek
Tongklek

Waaaa…. ini yang paling khas di desa Kapu. Tongklek! Tongklek itu musik patrol. Kalau kamu pernah tinggal di Jakarta akan dipusingkan sama musik patrol yang justru bikin emosi karena musiknya tidak beraturan, berbeda dengan di desa Kapu. Tongklek di desa kapu, iramanya sangat mendayu-ndayu. Digawangi oleh anak-anak kecil dengan peralatan kentongan yang telah diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan bunyi yang enak di dengar, ditambah gentong sebagai suara bass dan yang paling vital adalah gambang sebagai melodi, ketika mereka dimainkan maka akan mengundang orang untuk tersenyum bahkan pengen ikut menggoyangkan kaki. Keren deh! Kalau pengen tahu, buka youtube saja terus ketik “Tongklek Desa Kapu”.

Jalan-Jalan Pagi

Jalan-jalan pagi
Jalan-jalan pagi

Di tempat lain orang akan jalan-jalan ketika menjelang Magrib. Berbeda dengan di Kapu, justru orang Kapu jalan-jalan ketika selesai Shubuh. Kamu bakalan nemuin orang-orang dari muda sampai tua tumpah ruah ke jalan-jalan desa, ke sawah atau ke pantai menikmati pagi di bulan ramadhan. Suasana ini bakal kamu temui selama bulan ramadhan, sebulan penuh. Oiya biasanya jalan-jalan ini juga jadi ajang modus cowok-cowok desa cari jodoh. Hehehe.

Maleman

Maleman
Maleman

Kegiatan Ramadhan semakin meningkat ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Orang Kapu menyebutnya maleman. Maleman di Kapu dilakukan setiap hari ganjil, yaitu malem selikur (malam 21), malem telu (malam 23), malem selawe (malam 25), Malem pitu (malam 27) dan Malem songo (malam 29). Nah ada yang aneh yaitu penyebutan malem telu bukan telu likur, malem pitu bukan malem pitu likur dan malem songo bukan malem songo likur. Gimana ceritanya? entahlah. Pada malam-malam yang saya sebutkan tersebut, warga desa menyewa kendaraan dan rombongan ziarah para makam auliya. Kalau orang Kapu biasanya ziarah ke Sunan Bonang, Maulana Ibrahim atau Asmaraqandi dan Sunan Bejagung. Ini sebagai bentuk terimakasih orang desa telah memeluk Islam karena jasa para ulama terdahulu. Seru pokok’e!

Udah tau kan apa saja yang dilakukan orang desa kapu ketika puasa? yang jelas di desa Kapu nggak ada tawuran seperti yang terjadi di kota besar saat ramadhan.

Jika bermanfaat silakan anda bagikan tulisan ini dan kami juga memiliki koleksi tulisan yang menarik lainnya, silakan klik Daftar Isi untuk melihat daftar tulisan kami. Selamat membaca! 🙂

Saya Hanya Punya Ulang Bulan

Udukan
Suasana saat bancaan weton

Papa Blogger dimanapun berada! Saya tadi siang mendapatkan email dari sebuah agency yang meminta data pribadi saya. Nah pada percakapan itu saya dipanggil Papa Blogger gara-gara saya udah punya anak. Kalau Jomblo apa dong? JoBlogger? hehehe. Malam yang panas membara di Jakarta ditambah dengan macetnya jalanan Jakarta menjelang saat pulang kerja, saya akan bahas soal ulang tahun.

Saya mengamati ya, beberapa papa-mama di Indonesia ini kok rasanya jadi wajib ya merayakan ulang tahun anaknya. Khususnya sih ulang tahun pertamanya, padahal rata-rata fail, maksudnya nggak ada yang bisa bikin fokus si kecil untuk segera meniup lilinnya. Budaya ini sudah menjamur dari kota sampai desa. Desa saya yang susah banget dapet sinyal 3G saja tidak ketinggalan dengan budaya papa di kota besar ini.

Berbeda dengan generasi masa kini. Saya lahir waktu itu bahkan listrik saja belum ada, alias kami hanya dengar cerita saja kalau diluar sana sedang berkembang teknologi bernama listrik dengan perusahaan PLN yang bertagline Listrik untuk Kehidupan yang lebih baik. Yap tagline panjang khas institusi birokrasi. Di generasi saya, seorang anak mengetahui tanggal pasti lahirnya itu adalah anak yang paling beruntung. Apalagi tahu, tempat, bidannya siapa atau jam lahirnya.

Di desa saya, semua orang tua nggak peduli dengan tanggal lahir anaknya. Lha terus gimana caranya nulis KTP? Nulis KTP biasanya didasarkan pada ijazah yang dikeluarkan sekolah. Lha terus gurunya dapat darimana datanya? Ya dari orang tuanya lah. Lha itu orang tuanya tahu. Nggak! sabar dulu. Orang tuanya cuma bilang gini “Anakku lahir itu pas ada banjir besar” atau “Anakku lahir pas pak kades A meninggal” dan lain-lain. Coba apa ndak pusing tuh nyari datanya? Hahaha. Akhirnya ya banyak yang dikira-kira saja sama Bapak/ Ibu Gurunya.

Oke kembali lagi ke ulang tahun. Hawong tanggal lahir saja tidak tahu bagaimana merayakannya? Oke saya jelasin. Sebenarnya orang desa saya nggak cuek-cuek banget soal kapan anaknya lahir, cuma memang perhitungannya berbeda. Ulang tahun biasanya diperingati satu tahun sekali dengan penanggalan masehi. Nah di desa saya, ndak ada ulang tahun. Adanya ulang bulan. Lho kok bisa? Jadi penanda waktu lahir orang desa kami adalah weton. Weton itu kombinasi antara hari jawa dan hari masehi seperti yang kita kenal saat ini. Hari jawa itu dalam sepekan ada lima hari yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon.

Misalnya weton saya adalah Kamis Legi, Kamis Legi akan muncul disetiap Bulan Masehi. Nah maka ketika Kamis Legi saya akan diperingati wetonnya. Peringatan weton ndak pakai tiup lilin kaya ulang tahun tapi pakai bucu panas disertai bumbu-bumbu keren khas desa Kapu. Bucu tersebut dibawa ke Langgar deket rumah atau mengundang para tetangga ke rumah, kemudian para jamaah kumpul dan membacakan doa untuk saya. Doanya ya hampir sama dengan make a wish saat ulang tahun, ya apalagi kalau ndak memohon keselamatan dunia akhirat, rejeki yang barokah dan tidak lupa umur yang panjang.

Walaupun diperingati setiap bulan tapi ya ndak harus setiap bulan kok ya seadanya rejeki aja kaya ulang tahun. Ulang tahun kan juga sama ndak diperingati tiap tahun. Oiya bucu itu bentuknya mirip tumpeng tapi ndak pakai warna kuning. Warnanya ya putih aja kaya nasi gitu. Gimana keren kan? Tapi tenang, saya masih tau persis kok tanggal lahir saya berbagai versi. Karena bapak saya menuliskan waktu lahir saya dengan sistem kalender Masehi, Jawa dan Hijriah, jadi saya salah satu anak desa yang beruntung. 😀

Nah itulah yang melatarbelakangi saya kenapa ulang tahun ndak begitu penting buat saya. Hawong ndak pernah merayakan dan tidak pernah mengenal perayaan tersebut.

Ini Dia Jenis Gotong Royong di Desa Kapu

Suasana Bersih Makam Desa
Suasana Bersih Makam Desa

Gotong Royong, adalah ungkapan yang sangat kita kenal. Seluruh lapisan masyarakat di Indonesia pasti mengenal dan mengenalkan frasa ini di lingkungannya. Saya sebagai orang desa radikal tentu tahu dan tahu betul frasa ini. Gotong Royong dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bekerja bersama-sama (tolong- menolong, bantu-membantu). Di berbagai tempat tentu beda-beda penyebutan kata gotong royong ini, tidak terkecuali di Desa Kapu. Di Desa yang terletak di 10 Kilometer dari pusat Kabupaten Tuban, tapi tiap tahun tanggulnya jebol dan kebanjiran ini juga terdapat beberapa jenis gotong royong.

Memang benar, bahwa bahasa jawa adalah bahasa yang paling lengkap. Untuk menyebut “Rice” saja ada banyak kata mulai dari pari, gabah, beras, sego, upo, karak dan lain-lain tergantung kondisi. Nah “Rice” memiliki nasib yang sama dengan Gotong Royong. Gotong Royong di Kapu setidaknya dibagi menjadi tiga sesuai keperluannya. Saya akan membahasnya satu-satu persatu ya.

Sayan

Sayan
Sayan

Sayan ini adalah gotong royong yang sekarang hampir punah, masih ada sih tapi ndak sebanyak dulu. Sayan ini adalah gotong royong untuk membangun bangunan. Bangunannya bisa apa saja, asal milik pribadi. Misalnya saya belum punya rumah, saya tinggal menyiapakn material bangunannya dan besoknya saya tinggal berkeliling desa memberitahukan bahwa saya akan bangun rumah dan mohon untuk dibantu.

Saya pernah menuliskan tentang enaknya hidup di desa ya salah satunya karena adanya sayan ini. Kamu mau bangun rumah? tinggal bilang ke tetangga-tetangga kamu, besok seharian dikerjakan juga jadi tuh rumah, paling tinggal nambah-nambah untuk assesoris. Jangan menganggap di desa itu miskin atau tertinggal ya. Emang kamu pernah tahu di desa ada yang tinggal digerobak? ndak toh? 😀

Baca juga : 7 Alasan Hidup di Desa itu Istimewa

Seiring dengan perkembangan zaman, sayan semakin ditinggalkan. Bukan karena para warga tidak mau lagi membantu, tapi yang nyuruh pada sungkan. Sungkan karena profesi yang dijalani warga desa sekarang relatif lebih bervariasi, ada yang jadi guru, staff kantor, pengusaha, petani dan lain-lain. Terus kenapa kalau profesinya bervariasi? Ya susah nemuin waktunya. Kalau dulu kan semua petani, jadi gampang. Selesai masa tanam banyak yang nganggur jadi gampang minta tolongnya.

Walaupun sudah berkurang, tapi sisa-sisa hasil sayan masih banyak berdiri. Hampir semua bangunan yang sekarang berdiri di desa Kapu 80% hasil sayan.

Mendarat

Mendarat
Mendarat

Ini gotong royong yang paling eksis sampai sekarang. Tidak mengenal musim, paling menurun saat bulan Muharram saja tapi tidak sepenuhnya tidak ada. Mendarat adalah gotong royong untuk orang-orang yang punya gawe, misalnya pernikahan, selametan, sunatan dan lain-lain.

Orang yang punya gawe biasanya mengundang tetangganya untuk mendarat. Ngapain aja sih mendarat itu? yang Ibu-Ibu ya sebagian besar masak. Tuh ndak bakal laku kamu buka catering di Desa, hawong masih banyak tetangga yang bantuin masak :-D. Jangan heran juga kalau dapurnya orang desa itu luas-luas dan peralatan masaknya lengkap dari yang kecil sampai yang besar ya buat jaga-jaga kalau punya gawe kaya gini dan menampung pendarat (sebutan orang yang mendarat, Pen).

Kemudian yang laki-laki ngapain? Yang laki-laki kebagian tugas untuk menata tempat acaranya misalnya pasang tenda, nata kursi, nggelar karpet dan lain-lain. Selain itu juga kalau yang punya gawe menyembelih hewan ternak seperti sapi atau kambing itu juga menjadi tugas pendarat laki-laki untuk menyelesaikannya. Jangan lupa juga untuk menata dapur. Hah menata dapur? Iya, kalau orang punya gawe itu biasanya peralatan masaknya yang dikeluarin yang gede-gede, Ibu-Ibu ndak bakal kuat mengangkatnya.

Kerja Bakti

Suasana Bersih Makam Desa
Suasana Bersih Makam Desa

Terakhir adalah kerja bakti. Kalau dua gotong royong sebelumnya untuk kepentingan perorangan, maka kerja bakti adalah gotong royong untuk membangun atau memperbaiki fasilitas umum. Penggeraknya adalah pemerintah desa atau tokoh masyarakat. Oiya di desa struktur RT/RW tidak begitu berfungsi lho, karena kalah pamor sama tokoh masyarakat dan uniknya tidak ada yang minat jadi Ketua RT/RW, maka jangan heran di desa RT atau RW-nya dijabat seumur hidup.

Kerja Bakti yang formal biasanya digerakkan oleh pemerintah desa, seperti misalnya membersihkan kuburan, membersihkan tempat acara desa, membersihkan jalan-jalan dan lain-lain. Selain digerakkan oleh Pemerintah desa, juga digerakkan oleh Tokoh masyarakat, misalnya membangun Musholla dilingkungan warga, membangun penerangan lingkungan. Di Desa Kapu kita bayar PJU dari tahun 1990, tapi sampai 2016 Alhamdulillah Pemerintah ndak pernah kasih PJU di desa-desa, jadinya orang desa bayarin penerangan jalannya orang kota saja 😀

Tapi orang desa ndak banyak protes, mereka urunan kemudian kerja bakti memasang lampu penerangan jalan, daaaannnn menyambungkan kabelnya ke rumah-rumah yang dipinggir jalan. Jadi ndak ada cerita di desa nyantol tiyang PLN.

Itu dia jenis gotong royong di Desa Kapu. Oiya jangan sekali-kali berpikir orang desa itu butuh dikasihani, orang desa juga bayar pajak, jadi yang diharapkan adalah hak-hak warga negara sesuai UU yang berlaku di Negara Republik Indonesia dan stop untuk mencitrakan desa sebagai daerah yang tidak sejahtera dan atau tertinggal.