Kenapa Bulan Muharram Tidak Ada yang Menikah?

Kenapa Bulan Muharram Tidak Ada yang Menikah

Kenapa pada bulan Muharram tidak ada yang menikah? Ini adalah pertanyaan yang sering terlontar untuk mempertanyakan budaya orang Jawa yang tidak berani menggelar acara pernikahan pada bulan Muharram.

Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam penanggalan Islam atau yang terkenal dengan sebutan tahun Hijriah. Orang Jawa menyebut bulan Suro untuk bulan Muharram. Jadi jika kamu menemui orang Jawa yang bilang Suro, yang dimaksud adalah bulan Muharram.

Bacaan Lainnya

Memang orang jawa kebanyakan menganggap bulan ini sebagai bulan yang penuh cerita, penuh pantangan hingga penuh berkah dan hikmah.

Pada bulan Muharram banyak kegiatan yang dilaksanakan. Umumnya kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan spiritualitas, seperti mencuci pusaka, buburan hingga puasa.

Larangan yang Umum saat Bulan Muharram Bagi Orang Jawa

Saya menulis sub judulnya dengan kata umumnya, karena ya memang berlaku bagi kebanyakan orang Jawa tapi tidak semuanya. Sependek sepengetahuan saya, orang jawa tabu menyelenggarakan acara yang bertajuk “Pesta”, seperti Pernikahan, hajatan khitan, atau lainnya.

Maka, jika kamu sedang di tempat yang suku jawanya mayoritas, akan ada pemandangan yang sunyi ketika bulan Muharram tiba. Padahal di luar bulan Muharram banyak sekali pesta-pesta yang berlangsung.

Pesta di Jawa juga sangat mencolok karena menggunakan sound system besar dengan berbagai ornamennya. Seperti tenda pesta, janur-janur, lalu panggung-panggung serta berlangung beberapa hari. Nah pada bulan Suro kamu tidak akan menemui pemandangan tersebut.

Kenapa Bulan Muharram Tidak Ada yang Menikah? Ini Jawabannya!

Banyak versi yang menyatakan tentang kenapa bulan muharram tidak ada yang menikah di tempat-tempat yang mayoritas penghuninya orang Jawa. Salah satu yang akhir-akhir ini mengemuka adalah alasan yang keluar dari ceramah seorang ulama Jawa.

Ulama yang bernama KH Ahmad Muwafiq atau yang sapaan akrabnya adalah Gus Muwafiq menyatakan bahwa bulan Muharram adalah bulan berdukanya umat Islam. Beliau merujuk kepada sejarah terbunuhnya Sayyidina Husain di Karbala pada 10 Muharram 61 H. Terbunuhnya cucu Rosulullah inilah yang menimbulkan duka yang mendalam bagi umat Islam. Duka tersebut yang mengilhami masyarakat Jawa untuk tidak menggelar pesta pada bulan Muharram.

KH Marzuki Mustamar juga memperkuat pernyataan Gus Muwafiq. Beliau menyatakan bahwa umat Islam Jawa yang menerima Islam dari Walisongo yang sebagian keturunan Nabi Muhammad sangat menghormati keluarga Nabi Muhammad. Sehingga ketika keluarga Nabi Muhammad sedang berduka, umat Islam di Jawa tidak menggelar acara yang bersifat bersenang-senang.

Acara yang Ada di Masyarakat Jawa pada Bulan Muharram

Seperti yang saya singgung di awal, di bulan Muharram masyarakat Jawa banyak menggelar acara yang bernuansa spiritual keagamaan. Di desa Kapu, warga menyelenggarakan Buburan untuk memperingati malam 10 Syuro. Saya akan sedikit cerita tentang acara buburan di desa ini.

Buburan berlangsung pada malam tanggal 10 Syuro. Warga desa akan berbondong-bondong menuju Mushola atau Masjid. Mereka membawa sajian khas berupa bubur syuro. Bubur Syuro terdiri dari bubur beras yang gurih, dan ada toping berbagai bumbu yang biasa hadir pada tumpengen di desa ini.

Selanjutnya, mereka duduk melingkar dan mulai mendengarkan ceramah keagamaan. Materi ceramah biasanya terdiri dari cerita tentang banjir Nabi Nuh yang surut pada tanggal 10 Syuro, dan konon Nabi Nuh melabuhkan kapalnya. Lalu, Nabi Nuh memerintahkan untuk mengumpulkan seluruh bahan makanan yang ada.

Kemudian terkumpulah banyak bahan makanan yang bermacam-macam, akhirnya Nabi memerintahkan untuk memasaknya dengan mencampurkan kacang fuul semacam kedelai, dan adas berupa biji-bijian, beras, gandum dan terakhir jelai, sejenis tumbuhan yang bijinya keras yang biasa jadi bahan tasbih.

Selain menyelenggarakan buburan, banyak kelompok-kelompok masyarakat melaksanakan santunan anak yatim. Mushola, Masjid, Gedung-gedung dan lain-lain sering menjadi lokasi untuk menyantuni anak yatim selama bulan Muharram.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *