7 Jenis Selametan yang Digelar di Desa Kapu

Ilustrasi Selametan

Selametan adalah tata cara bersedekah kemudian berdoa bersama dan terakhir menjalin silaturahmi supaya tetap mendapatkan keselamatan dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Jika kamu adalah orang Jawa seperti saya, maka saya pastikan kamu sudah sangat familiar dengan tradisi ini.

Sejarah tradisi selametan mulai pada masa walisongo khususnya Sunan Bonang, Wali Allah yang makamnya berada di sebelah barat alun-alun Tuban. Untuk selengkapnya kamu bisa baca sejarah dengan tentang Sunan Bonang dan kiprah dakwahnya di Pulau Jawa.

Bacaan Lainnya

Secara umum warga pulau jawa menggelar selametan di rumah warga, musholla, masjid atau lapangan. Nah pada tulisan kali ini saya akan membahas tradisi ini di desa Kapu. Desa yang terletak di Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban ini memiliki beberapa jenis selametan. Apa saja itu? Simak terus tulisan ini.

Jemuah Wage

Saya sudah keliling beberapa daerah di pulau Jawa ini. Saya menyimpulkan cuma di daerah sekitar saya yang aneh. Di daerah lain yang spesial adalah Jumat Kliwon atau Jumat Pahing. Nah kalau di Kapu yang spesial adalah malam Jumat Wage.

Saya tidak tahu sebab pastinya. Saya lanjut saha bahas Tradisi Selametan Jemuah Wage ini. Jemuah Wage berawal dengan ziarah ke makam orang tua atau saudara. Pada saat yang sama para Ibu mempersiapkan hidangan di dapur. Setelah hidangan siap, para Bapak atau remaja putra membawanya ke Musholla. Acara berawal dari Sholat Maghrib berjamaah lanjut dengan berdoa bersama.

Dan terakhir adalah santap makan bersama. Nah jangan lupa wajibe. Wajib adalah iuran sukarela yang akan masuk ke kas lingkungan. Dari iuran inilah jalan lingkungan diperbaiki, lampu jalan juga diperbaiki.

Selametan Megengan

Megengan sudah saya singgung di awal tulisan. Megengan merupakan selametan untuk menyambut bulan Ramadhan atau dalam bahasa jawa Megeng. Acara Megengan dilaksanakan juga di Musholla. Rangkaian acaranya sama dengan Jemuah Wage.

Awalnya warga akan melaksanakan ziarah kubur para orang tua atau pendahulu. Lalu malamnya bapak-bapak akan ke Musholla membawa hidangan dan berdoa bersama dan berakhir dengan makan bersama.

Selametan Riyoyo

Berbeda dengan dua selametan sebelumnya. Riyoyo digelar di rumah warga secara bergiliran.

Jadi setelah magrib ada satu warga yang mengundang warga lainnya untuk selametan di rumahnya. Selametan ya biasa susunan acaranya yaitu berkumpul kemudian berdoa bersama, tapi dalam acara riyoyo tidak ada makan bersama yang ada hanya membawa berkat.

Setelah selesai selametan di satu rumah kemudian lanjut ke rumah yang lain sampai seluruhnya rata. Jadi berkat yang saya dapat ya sesuai jumlah rumah yang ada dilingkungan itu, banyak ya?! Itulah serunya hidup di desa Kapu ini.

Weton

Orang Kapu enggak mengenal Ulang tahun. Orang Kapu ulang bulan yaitu wetonan. Weton itu adalah hari lahir kombinasi hari modern dan hari Jawa. Misalnya Kamis Legi, Jumat Kliwon dan lain-lain.

Tradisi weton ini tergantung dengan yang punya acara. Kamu bisa menyelenggarakan di Musholla atau di rumah. Tapi orang Kapu melakukan acara tersebut di Musholla.

Menu khas dari Selametan ini adalah bucu putih dengan berbagai bumbu yang menemani. Secara umum sih sama lauk pauknya dengan berkat di selametan lainnya.

tradisi ini berlangsung dengan berdoa bersama memohon agar yang sedang diperingati wetonnya mendapatkan keselamatan dan keberkahan dalam hidupnya.

Selametan Sapi

Selametan ini bukan berarti memiliki menu daging sapi. Namun justru sapi ini yang didoakan keselamatannya.

Tidak mengherankan, karena warga desa Kapu mayoritas adalah petani yang sangat mengandalkan sapi sebagai tenaga untuk membantu mengolah tanah hingga mengangkut hasil pertanian.

Makanya sebagai bentuk syukur atas anugerah Allah berupa sapi ini, maka warga desa Kapu menggelar tradisi ini yang isinya adalah mendoakan sapi supaya sehat dan kuat membantu petani.

Dul Kadiran

Selametan Dul Kadiran ini sebenarnya berasal dari nama Wali Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani, tapi lidah orang Kapu yang masih kaku berucap arab akhirnya jadi Dul Kadiran.

Tradisi Dul Kadiran adalah Selametan untuk mohon sesuatu kepada Allah dengan pembacaan Manaqib Syeikh Abdul Qadir Jaelani. Menunya yang spesial yaitu kare ayam ingkung dan nasi uduk.

Tradisi ini biasanya digelar untuk memohon sesuatu yang dianggap penting. Maka warga desa bertawassul kepada Syekh Abdul Qadir Jaelani dengan membacakan manakib beliau.

Riyoyo Besar

Riyoyo besar adalah Hari Raya Idul Adha. Sama dengan Hari Raya Idul fitri, Riyoyo besar juga ada selametannya yang biasanya diadakan di malam hari raya Idul adha.

Rangakaian acaranya pun sama dengan selametan riyoyo seperti yang sudah saya tulis di atas.

Nah di atas adalah selametan-selametan yang diadakan orang Kapu untuk mengharap keselamatan dari Allah SWT. Dalam praktik selametan diatas tidak ada satupun yang meminta kepada selain Allah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.