Sakralnya Cangkuang, Segarnya Strawberry dan Uniknya Kampung Pulo

Kebun Strawberry, sebelah kiri
Kebun Strawberry, sebelah kiri

Hari kedua di Garut, saya masih nginep ditempat yang sama, di Puncak Darajat Jaya. Efek berenang ternyata berasa sampai malam, bahu pegel-pegel, lengan sama sakitnya sampek jari-jari. Untung ada Pak Bagas yang punya pijitan khas. Saya rebahan terus Pak Bagas mulai mengurut punggung saya dengan penuh tenaga, rasanya enak banget. Selesai pijat saya sembahyang, terus lanjut makan. Walaupun udah dipijit tapi tetep masih berasa sakit. Setelah makan langsung ngambil posisi pojokan dan tidur.

Hawanya masih dingin seperti malam kemarin. Tiba-tiba Fiko masuk “Mas, ayo ikut lomba karaoke, tuh Mbak Dera lagi nyanyi sekarang” teriak Fiko. “Males Fik, tangan masih sakit” jawab saya, padahal bukan itu alasan utamanya, hawong nyanyi kan nggak pakek tangan. Apa hubungannya tangan sakit dan males nyanyi? Ya sudah tidur lagi.

Bacaan Lainnya

Pagi-pagi sebelum alarm Handphone saya berbunyi, Pak Qodir sudah krusak-krusek bangun terus menuju ke kamar mandi, keluar kamar mandi langsung bangunin orang-orang yang lagi tergeletak “hayo, bangun, shubuh” kata Pak Qodir. Saya bangun, pas bangun langsung “Hiiiiii….. dingin beut”. Ke kamar mandi sambil males-malesan sebenarnya, tapi tidak ada pilihan. Setelah ikut sembahyang Shubuh Pak Qodri, saya melanjutkan perjuangan untuk tidur!

Baca Juga : Dinginnya Udara, Legitnya Dodol, dan Hangatnya Air Belerang Puncak Darajat Garut

Baru merem, suara Mbak Dera lagi-lagi memecah keheningan pagi ini. “Hayo bangun-bangun, kita jalan-jalan pagi, foto-foto” teriak mbak Dera. Semuanya berlarian nyari kamar mandi kosong. Tapi kamar mandinya kan cuma dua, yawes duduk-duduk aja nungguin giliran. Semua siap, bukan siap sih tapi terpaksa dianggap siap, daripada ndak dikasih sarapan sama Mbak Dera. Hahaha. Semuanya naik ke mobil besar itu lagi.

Mobil bergerak ke atas menuju ke arah pemandian air panas yang sehari sebelumnya kami kunjungi. Bedanya sekarang suasananya lebih hening, nggak kaya kemarin pas mau renang. Lha gimana hawong masih pada ngantuk. Mobil bergerak perlahan, soalnya kan nanjak. Terus kami berhenti di depan kebun Strawberry, mobil di parkir dan kami berhamburan keluar nyari spot foto yang keren. Pas keluar dari mobil, emang pemandangannya Subhanallah banget. Gunung-gunung yang diselimuti awan tipis-tipis dan disinari mentari pagi yang menghangatkan, Duh Gusti!

Pemandangan diatas puncak Darajat
Pemandangan diatas puncak Darajat

Di spot ini beberapa foto dihasilkan, ada yang bareng-bareng, ada yang sendiri, ada yang pura-pura sendiri dan ada pula yang udah nggak tahan sama kesendirian. Lhoh? Dengan penampilan seadanya mereka bergaya. Duh kenapa sih seadanya? Padahal kan gampang kalau mau beli baju-baju keren, Tuh di Zalora banyak kemeja yang keren-keren. Walaupun jalan-jalan di Gunung kan tetep butuh gaya yang keren.

Lanjut, setelah agak capek begaya-gaya, kita menuju ke kebun strawberry. itu pukul 07.00 WIB, suasana masih dingin, plang kebun masih tertulis “tutup”. Kita nunggu di depan pintu masuk kebun. Kemudian muncul beberapa orang yang berpenampilan petani menuju ke kebun tersebut, langsung saja si Doy menghampiri petani tersebut, soalnya emang dia yang dari awal ngebet banget pengen metik Strawberry. Doy tanya berapa tarifnya untuk metik Strawberry, terus kata petaninya “50.000,- Mas per kilonya”. Lho kok Mas ya? kan ini di Sunda. Hahaha.

Dengan keranjang imut berwarna hijau cerah, beberapa dari rombongan kami mulai memetik Strawberry. Tapi sepertinya banyak yang kecewa, soalnya ternyata Strawberrynya masih imut-imut belum ada yang merah membara. Hasilnya, hanya dua dari mereka yang berhasil mendapatkan 5 ons Strawberry. Ya ndak apa-apalah yang penting bisa ngerasain segarnya Strawberry dari alam. Selesai panen Strawberry, kita masuk mobil dan kembali ke Vila untuk bersiap pulang.

***

Selesai Packing, kita langsung berangkat ke tujuan terakhir yaitu Candi Cangkuang dan Kampung Pulo. Tapi ada masalah, ternyata Pak Al sebagai penunjuk jalan sekaligus pengemudi kami ndak bisa nemenin soalnya ada acara keluarga. Jadilah kita-kita yang buta sama Garut ini, mengandalkan GPS dari Handphone baru milik Pak Boss. “One Hundred Meters Turn left” Suara arahan dari GPS yang menurut beberapa dari kita bawel banget. Hahaha.

Saya sebenarnya pernah punya pengalaman jelek sama GPS, saya pernah dimasukin ke Tol, padahal saya naik motor. Kejadian itu mengakibatkan surat tilang ditangan. 😀 Sekarang kejadian lagi, akibat GPS Pak Boss, kita semua melewati jalur-jalur aneh, menurut saya ini bukan jalur untuk mobil, soalnya sempit banget. Beberapa kali pengemudinya bingung mengendalikan mobil bongsor ini.

“Udah matiin GPSnya” Kata Pak Boss. “Ishna, kamu turun tanya orang itu” lanjut Pak Boss semakin panik. Hahaha. Pak Ish keluar mobil dan mulai bertanya-tanya. Ternyata kita sedikit lagi sampai ke Cangkuang, Alhamdulillah. Setelah beberapa kali Pak Ish turun dan bertanya, kita sampai ke Pintu masuk tempat wisata Candi Cangkuang.

Pintu Masuk Candi Cangkuang
Pintu Masuk Candi Cangkuang

Mbak Dera lagi-lagi mengurus administrasi kunjungan kita. Di Papan sih tertulis Rp 4.000,- per orang kemudian untuk penyebrangannya itu sama Rp 4.000,- per orang sekali jalan. Saya baru tahu, ternyata untuk mencapai candi ini kita harus menyebrang danau menggunakan rakit. Wah seru juga. Tiket sudah ditangan, Ayo kita naik ke rakit.

Suasana di Rakit Candi Cangkuang
Suasana di Rakit Candi Cangkuang
Masih suasana dari rakit, abaikan orangnya :-D
Masih suasana dari rakit, abaikan orangnya 😀

Kurang lebih, sepuluh menit berada di atas rakit. Oiya disini banyak juga musisi jalanan eh danauan soalnya di danau yang siap menghibur penumpang rakit. Akhirnya kita mendarat dengan selamat di pulau yang ada Candi Cangkuangnya.

Selamat Datang di Cangkuang
Selamat Datang di Cangkuang

Kita langsung disambut dengan keramahan alam yang luar biasa. di pulau ini ditemui banyak penjual pernak-pernik khas candi Cangkuang, seperti miniatur rakit terus barang-barang kerajinan lainnya. Nah saya lihat tuh, Pak Boss lagi beli jagung bakar, saya juga pengen. “Buk jagung satu ya” kata saya kepada penjual jagung bakar. “Berapa bu?” tanya saya ketika jagung saya sudah siap. “Ini aja Rud, sekalian” kata Pak Boss. Alhamdulillah dibeliin jagung bakar sama Pak Boss. Hehehehe.

Jalan terus sambil makan jagung bakar, kemudian ada pintu gerbang dengan tulisan “Selamat Datang di Kampung Pulo” Penasaran juga saya tentang kampung ini.

Gerbang Kampung Pulo
Gerbang Kampung Pulo

“Ini kan yang pernah masuk Tivi, yang rumahnya jumlahnya enam doang nggak boleh nambah itu” Terang Doy sok tahu 😀 Dalam hati saya nanti saya tanyakan saja ke Juru Kuncinya. Untuk mencapai Candi Cangkuang harus melewati kampung unik bernama Kampung Pulo ini.

Rumah Adat di Kampung Pulo
Rumah Adat di Kampung Pulo

Setelah itu kita sampai di area Candi Cangkuang. “Pak, ada pemandunya?” Tanya Pak Boss kepada Satpam Candi. “Owh ada pak, di dalam Museum” jawab Pak Satpam. Wah keren ini kalau nanti diceritain sama Pak Pemandunya. Setelah kita sampai, kita langsung masuk ke Museumnya. “Pak bisa diceritain soal Candi ini Pak?” Tanya saya antusias.

Kemudian saya diceritain sama Pak Pemandunya. Saya tulis intinya saja ya. Gini Candi ini ditemukan oleh arkeolog berdasarkan petunjuk sebuah buku, duh saya lupa nama bukunya. Intinya isi buku tersebut adalah adanya petunjuk bahwa di Cangkuang ada arca shiwa yang rusak dan makam kuno. Kemudian benar saja, diketemukan sebuah arca shiwa yang tergeletak di samping makam kuno. Setelah digali akhirnya diketemukanlah pondasi Candi. Hanya 40% batuan yang ditemukan. Kemudian Candi ini, di rekonstruksi menggunakan 40% batu asli dan sisanya adalah buatan manusia modern.

Candi Cangkuang
Candi Cangkuang

Nama Candi Cangkuang diambil dari nama desa tempat candi berdiri yaitu desa Cangkuang. Selain itu, di sekeliling candi tersebut terdapat pohon Cangkuang. Nah kemudian, bagaimana nasib arca shiwa tadi? Arca Shiwa disimpan didalam Candi dan dipagari. Saya ndak sempet foto soalnya gelap.

Pohon Cangkuang
Pohon Cangkuang

Kemudian Pak Pemandu juga cerita soal Kampung Pulo. Kampung Pulo adalah kediaman dari keturunan Mbah Dalem Arif Muhammad seorang penyebar agama Islam di Pulau ini. Mbah Dalem Muhammad, memiliki 7 anak, 6 perempuan dan 1 laki-laki. Namun anak laki-lakinya meninggal. Nah 6 rumah tersebut merupakan lambang anak perempuan Mbah Dalem dan 1 Masjid merupakan lambang 1 orang anak laki-lakinya.

Selesai jalan-jalan dan foto-foto kita satu persatu keluar dari gerbang Candi Cangkuang. Dari situ kita langsung masuk mobil dan jalan menuju Jakarta. Selamat tinggal Garut. Semoga semakin berkah kotanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 Komentar

  1. Berarti yang tinggal di kampung pulo itu keturunannya Mbah Dalem aja ya dan ga boleh nambah lagi rumahnya? Atau rumahnya skrg hanya jd museum?