Dinginnya Udara, Legitnya Dodol, dan Hangatnya Air Belerang Puncak Darajat Garut

Pemandangan diatas puncak Darajat
Pemandangan diatas puncak Darajat

Aaaahhh rasanya sudah lama nggak menikmati dinginnya hawa pengunungan. Eh suatu hari ada WA dari Mbak Dera “Mas, mau ikut ke Garut?” langsung saya jawab “Mau”. Soalnya dari namanya saja Garut itu udah cool. Saya pernah sebenarnya ke Garut beberapa tahun lalu. Waktu itu saya naik mobil bak L300 ke Talaga Bodas, tapi nggak nyampek soalnya mobilnya mogok. Walaupun pernah kesana, tapi belum puas, jadi hayuk aja kalau diajak jalan-jalan ke Garut.

Beberapa hari setelah tawaran Mbak Dera, ada rapat internal divisi saya. Ya biasa rapat evaluasi bulanan. Eh tiba-tiba “Dera, coba jelaskan rencana jalan-jalan ke Garut nanti?” kata Pak Bos diiringi sorakan dari para karyawan yang kaya’nya udah pada kurang piknik. Mbak Dera maju dan mempresentasikan rencana detail jalan-jalan ke Garut. Menurut daftar yang dipresentasiin Mbak Dera, kita akan menginap di Puncak Darajat, kemudian berenang di Darajat Pass, kemudian belanja-belanji Jaket Kulit di Sukaregang, lanjut ke pusat dodol Picnic, kemudian ke Chocodot dan besoknya sebelum pulang ke Jakarta mampir ke Candi Cangkuang.

Bacaan Lainnya

Hari-hari yang ditunggu pun tiba “Ayo berangkat, ditunggu dipool kendaraan” tiba-tiba muncul suara Pak Bos dari radio komunikasi saya. Hari itu Jumat (15/1/2016) Naik Mobil gede sekelas Elf, kami bersembilanbelas berangkat dari kantor diiringi lagu-lagu dangdut yang berjudul masa lalu. Hahaha.

Setelah menempuh waktu yang cukup lama karena kemacetan Jakarta yang seperti biasanya sangat menyiksa, kami sampai ke Villa yang sebelumnya sudah dipesan sama Mbak Dera. Mbak Dera emang mantab jaya, milih tempatnya keren. Mau tahu Villanya, simak gambar dibawah.

Darajat Jaya
Pemandangan dari atas Villa saya

Keren kan? Kami disewakan dua Villa, masing-masing satu kamar dan lainnya ruang tamu. Villa dilengkapi dengan kolam air panas. “Ayo renang” Ajak kawan saya Fiko. “Gendeng koen, Jam berapa ini” Jawab saya sambil menunjukkan jam di Handphone yang menunjukkan waktu 01:00 WIB dini hari. Tapi si Fiko nekat berenang. Ya sudahlah saya tidur saja.

Beberapa waktu saya tidak bisa tidur. Gimana mau tidur, hawong hawanya dingin banget nget nget. Siapin selimut tebel kalau mau travelling kesini. Saya udah pakai, kaos lapis jaket plus sarung masing kedinginan. Agak mendingan saat ditambah selimut. Berhasil menyesuaikan suhu tubuh, sayapun tidur dengan pulas. Pagi jam 5, saya bangun, kemudian sembahyang Shubuh. Setelah Shubuh, lanjutin tidur lagi, soalnya emang hawanya enak banget buat tidur dan bikin males mandi.

“Ayo bangun bangun” Suara Mbak Dera yang serak-serak keras membelah kesunyian Villa. Males banget bangun. Tapi ya harus bangun, kalau nggak nanti ketinggalan sarapan. “Ayo bangun, sarapan, nggak usah mandi, mandi di kolam air panas di Darajat Pass aja” kata Mbak Dera. Wah keren nih. Baru kali ini saya semangat renang. Padahal biasanya nggak pernah mau renang, walaupun dipaksa Nyai Ratu alias Istri 😀

Beres sarapan, kami bergantian masuk ke Mobil besar yang sebelumnya membawa kami dari Jakarta ke tempat keren ini. Kami menyusuri jalan nanjak dan terus menerus menanjak. Nah akhirnya sampai di kolam air panas Darajat Pass. Tiket masuk untuk dewasa Rp 25.000,- Ada beberapa kolam. Tingkat pertama untuk anak-anak, kemudian turun lagi ada kolam air panas untuk dewasa dan yang paling bawah kolam air dingin.

Penasaran kaya apa suasananya? Tempat ini dikelilingi oleh pegunungan yang saya ndak tahu nama-namanya, sempat denger juga, salah satu gunung yang tinggi itu gunung Cikuray. Selain pegunungan juga ada pemandangan asap putih yang berasal dari PLTP Darajat yang dioperasikan oleh Chevron, Pertamina dan Indonesia Power.

Pemandian Air Panas Darajat Pass
Pemandian Air Panas Darajat Pass

Kami masuk satu persatu kedalam kolam. Saya biasanya agak minder kalau ke kolam renang, soalnya saya ndak pinter berenang. Ya bisa sih berenang tapi paling cuma 5 meter aja jaraknya, selebihnya ya tenggelem. Tapi kali ini saya kok merasa PD-PD aja, yaudah hajar aja renang gaya apa saja ke kanan ke kiri. hahaha. Oiya sebelum masuk ke kolam air panas, saran saya, coba dulu dikit airnya dengan nyelupin kaki dulu gitu maksudnya, setelah itu baru nyebur. Supaya tidak kaget.

Rasanya nggak puas-puas berenang di kolam air panas ini. Lha gimana, hawong kalau keluar dari kolam kedinginan lagi je, jadi harus berendem aja di kolam supaya anget. “Ayo-ayo, sudah, kita lanjut jalan-jalannya, kalau renang terus gak ke tempat lain” Ucap Pak Boss mengganggu kenikmatan berendam. Tapi bener juga sih, kan menurut presentasi Mbak Dera tempo hari, masih banyak tempat yang harus dikunjungi.

***

Oke lupakan soal Air Panas. Saatnya kita jalan-jalan ke Pusat Kota Garut buat nyari oleh-oleh. Kata Pak Al, pengemudi kami yang asli Garut di Pusat kota ada Es Goyobot, Jaket kulit, Chocodot dan Picnic (Itu yang merk Dodol Garut). Karena kami ingin menikmati hawa keren Garut, maka kami secara kompak minta ke pengemudi untuk matikan AC dan buka jendela. Ternyata rasanya nyes nyes nyes adeeeemmm bener. Mobil berjalan perlahan menembus jalan sempit nan berliku khas pegunungan.

Baru setengah perjalanan, kami semobil tidur semua. Lha gimana nggak ngantuk, hawong malam sebelumnya kurang tidur dan paginya mandi air hangat, jadi mendukung banget buat ngantuk. Ndak terasa mobilnya sampai di Masjid Agung Garut. “Ayo turun, sholat dulu, habis ini makan siang” teriak Pak Boss sambil membuka pintu mobil. Satu persatu turun dan menuju ke Masjid untuk Sholat.

Selesai Sholat, kami menuju rumah makan karacak. Rumah makan karacak adalah rumah makan khas Sunda. Masakannya ya otomatis khas Sunda dong. Sampai di depan rumah makan, kemudian bergiliran kita masuk ke rumah makan bergaya Sunda ini, yaiyalah hawong khas Sunda. Saya mengambil piring, ngambil nasi dan memilih Sop Daging. Sop dagingnya sepertinya menggoda, ada topping kacangnya.

Rumah Makan Karacak Khas Sunda
Rumah Makan Karacak Khas Sunda

Disini sistemnya prasmanan, jadi pelanggan mengambil sendiri makanan yang diinginkan kecuali Sop Daging diambilin sama si tetehnya. Setelah mengambil makanan, saya diminta menuju meja kasir buat bayar. Selain Sop saya mengambil Peyek Udang untuk menambah nikmat makan.

Karacak, Restoran Khas Sunda
Karacak, Restoran Khas Sunda

Hmmm… kenyang, Alhamdulillah. “Ayo, Pak kita lanjut” Kata saya ke Pak Al. “Siap, Mas, kita lanjut belanja jaket kulit” Jawab Pak Al. Mobil melaju perlahan menyusuri pusat kota Garut ini. Suasananya panas, yang awalnya saya pengen menikmati hawa dingin Garut, harus menutup jendela mobil dan berteriak “Pak Al, AC-nya dong nyalain” Hahaha.

Sampailah di Sukaregang, Pusat kerajinan kulit di Garut. Sepanjang jalan ini hampir seluruh toko menjual kerajinan kulit, dari mulai tas, sepatu, jaket sampai dompet dan sabuk atau ikat pinggang. Tapi sayang, saya ndak suka barang-barang itu, selain ndak suka, alasan terbesarnya ya lagi bokek.  Jadinya saya hanya berdiam diri di mobil saja, daripada saya kalap belanja.

Temen-temen mulai berhamburan menuju ke toko-toko kulit itu. Mereka terlihat antusias memilih-milih Jaket atau sepatu. Ekspresi mereka aneh-aneh ada yang senang nggak percaya dan umumnya sih terkejut. Saking terkejutnya mereka nggak jadi beli jaket tapi beli bibit jeruk yang mirip buah pepaya 😀 Di tempat ini merupakan tempat pengrajin kulit berkualitas, jadi jangan terkejut kalau harga yang ditawarkan rata-rata dalam satuan juta. Nah sudah dulu ya terkejutnya. Kita lanjut lagi ke toko oleh-oleh khas Garut, apalagi kalau bukan Dodol.

Mobil perlahan bergerak dari Sukaregang menuju ke toko Picnic. Nah ini saya baru suka. Antusias turun dari mobil dan masuk ke toko. Di toko banyak berjejer dodol berbagai rasa, dari rasa durian, strawberry, orange dan lain-lain. Saya ambil keranjang belanja dan menuju ke etalase dodol. Saya ambil dodol rasa jambu, durian, strawberry dan lain-lain. Ngelihat dompet kayanya ndak bakal dapet ijin Nyai Ratu nih kalau lanjut. Akhirnya cuma 5 kotak dodol berbagai rasa yang saya beli.

Nah selesai belanja Dodol, kita lanjut ke Chocodot sekaligus minum es Goyobot. Nggak jauh dari tempat beli dodol tadi, kita menuju ke counter Chocodot. Pas masuk ke counter Chocodot kesan pertama, Wow! Keren banget ini toko cokelat!. Cokelat-cokelat ditata dengan ganteng diatas rak-rak yang bernuansa cokelat. Cokelat disini ada beberapa varian tapi yang paling dicari yaitu cokelat isi dodol. Harganya pun murah, rata-rata Rp 20.000,- untuk satu pack cokelat. Saya beli 8 pack, ya ndak kalap-kalap banget lah. Selain cokelat, juga ada merchandise khas Chocodot, seperti kaos, boneka, batik, dan lain-lain. Selesai belanja kita lanjut makan Goyobot. Nggak tahu soal Goyobot, ah gampang tinggal googling!

Setelah berenang, makan dan minum khas Garut, belanja Dodol dan Cokelat, kita kembali lagi ke Villa untuk beristirahat. Besoknya kita akan jalan-jalan ke atas Darajat Pass foto-foto, metik strawberry dan terakhir kita akan ke Candi Cangkuang. Sampai ketemu besok ya….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 Komentar

  1. keren juga nih tempatnya, bisa dijadikan sebagai referensi untuk liburan nanti. thanks kang atas infonya

  2. wah asyik nih jalan-jalannya..mantap reviewnya..nama villanya apa ya mas n rate nya berapa? sapa tau bisa liburan kesana