Dangdut Koplo di Tengah Generasi Digital

Ilustrasi, Nella Kharisma di salah satu videonya di Youtube.

Pagi menyapa Jakarta, udara dingin menyelimuti, karena semalaman diguyur hujan. Di sudut ruang kantor perusahaan nasional di bilangan Tanah Abang, sayup-sayup terdengar suara khas Nella Kharisma yang mendendangkan lagu “Cah Kerjo”. Kantor ini sejak beberapa waktu terakhir memang terasa lebih dangdut dan koplo lagi, sesuatu yang anomali terjadi di kantor yang serba formal dengan penghuninya kebanyakan kelas menengah ke atas.

Anomali sebenarnya tidak saja melanda kantor tadi, namun juga di linimasa internet. Di internet, orang sudah tidak sungkan maupun enggan lagi mengungkapkan kekagumannya terhadap musik dangdut koplo. Di Youtube lebih mengejutkan, jika sebelumnya dominasi artis-artis nasional merajai jumlah viewer di Youtube, akhir-akhir ini Nella Kharisma dan Via Vallen lah yang menguasai Youtube.

Bisa dilihat misalnya Nella Kharisma dengan lagunya Jaran Goyang, mampu meraih jumlah tayangan yang fantastis, hampir mendekati angka 100 juta kali ditonton, bandingkan misalnya dengan video milik Raisa, Isyana atau bintang lainnya yang sedang bersinar. Data itu sudah menunjukkan ada yang berubah dengan dangdut khususnya dangdut koplo, yang diawal kemunculannya dianggap sebagai dangdut “sesat” karena keluar dari patron umum dangdut di tanah air.

Sedangkan di sebuah desa yang jauh dari Jakarta, sebut saja desa Kapu, masyarakatnya telah mengenal dangdut koplo jauh sebelum Jakarta mengenalnya. Saat itu sekitar tahun 2000 muncul group dangdut koplo bernama Monata. Monata adalah Orkes Melayu atau disingkat OM, yang pertama kali memperkenalkan aliran koplo di Desa ini. Walaupun band-band besar dangdut koplo termasuk Monata belum pernah sekalipun manggung di desa ini, tapi percayalah bahwa mereka adalah diehard dangdut koplo.

Kegemaran mereka akan dangdut koplo bahkan tergambarkan saat mereka menggubah lagu-lagu sholawat dengan irama koplo. Selain itu banyak lagu-lagu yang dikoplokan dengan bantuan tongklek -Seni musik patrol asli Tuban. Di pentas-pentas seni pun mereka tidak absen menampilkan musik-musik bernuansa koplo. Mungkin kita dibuat kagum sekaligus cekikikan ketika di acara wisuda ada yang membawakan lagu koplo, di Kapu itu sudah biasa dilakukan.

Kapu, seperti desa lainnya, tidak sepenuhnya tunduk terhadap industri hiburan yang dikendalikan dari Jakarta. Selain karena keterbatasan akses, mereka juga sebenarnya tidak mengerti,.mengapa hiburan harus seperti itu. Lirik-lirik utopis yang jauh dari makna kehidupan desa dan hal itu makin menjauhkan masyarakat desa dari selera hiburan Jakarta. Desa menginginkan sebuah musik yang menggambarkan kehidupan mereka sendiri dan tentu saja berbeda dengan Jakarta.

Secara ajaib dunia ini dikaruniai para seniman dangdut yang dengan apik menggambarkan kehidupan masyarakat desa yang sederhana kalau tidak mau disebut menderita pada saat awal kemerdekaan, kemudian kehidupan cinta yang lebih dewasa yaitu pernikahan alih-alih menampilkan asyik masyuknya berpacaran seperti tergambar di lirik-lirik berbagai aliran musik dari Jakarta. Di awal kemunculannya, dangdut di Kapu sama seperti di daerah lain, beraliran klasik seperti tergambar dari irama lagu koesplus yang berjudul cubit-cubitan.


Kemudian dangdut selama bertahun-tahun dikuasi oleh aliran “Soneta” -merujuk nama Orkes Melayu pimpinan Haji Rhoma Irama. Aliran dangdut yang memberikan unsur rock dengan efek gitar elektrik andalannya. Aliran ini memang sempat menjadi mainstream dangdut, sampai setidaknya awal tahun 2000. Sebab kita masih sering melihat poster-poster yang mengumumkan pergelaran rock dangdut dan semakin semarak saat mendekati Pemilu 1999.

Pelan namun pasti pada awal tahun 2000, dangdut koplo menggeser pasar rock dangdut. Berawal dari penetrasi CD beserta VCD player ke daerah-daerah, dangdut koplo menyusup senyap mengubah selera dangdut masyarakat desa. Sementara di saat yang sama, Jakarta masih saja terbuai dengan dangdut Ibu Kota yang mendayu-ndayu dan mulai berlirik utopis jauh dari kehidupan orang desa.

Internet mengubah dangdut

Pada dekade kedua tahun 2000, internet mulai merangsek ke desa. Teknologi 3G dan diperbarui lagi dengan teknologi 4G membuat tarif internet jatuh bebas menyebabkan desa kebanjiran trafik internet. Di sisi lain Device pengakses internet pun terjadi revolusi dengan hadirnya Android yang murah dengan kemampuan powerfull. Kombinasi tersedianya infrastruktur internet dan device yang murah menyebabkan perubahan perilaku masyarakat desa termasuk perilaku menikmati dangdut koplo.

Penetrasi internet ke desa akhirnya membuat semakin beragamnya konten internet yang selama awal dekade 2000 hanya didominasi oleh konten Ibu Kota. Dampak paling baiknya untuk dangdut adalah mudahnya dangdut koplo yang notabene sebelumnya konten pinggiran, kini dapat dengan mudah ditemukan di internet. Persebaran dangdut di internet tidak langsung membuat dangdut koplo naik kelas.

Dangdut di internet masih didominasi oleh artis Ibu Kota dengan aliran yang terpengaruh disco atau EDM. Bisa dilihat dari misalnya perolehan view dari Cita Citata atau Ayu Ting-ting jauh mengalahkan jumlah view dangdut koplo. Di kantor nasional tadi yang saya sebutkan di awal masih pada malu-malu memutar dangdut koplo di ruang kerja mereka.

Dominasi dangdut Ibu kota sebenarnya bisa dimaklumi karena mahalnya produksi video grafis dan suara sebening produksi orang Jakarta. Group Band dangdut koplo saat itu belum mampu memproduksi seperti itu.

Di tahun 2016 apa yang menjadi pra syarat Dangdut koplo berjaya sudah terpenuhi seperti internet yang sudah melesak semakin dalam ke jantung orang desa dan teknologi video grafis yang semakin canggih dan murah akhirnya dangdut meledak untuk ketiga kalinya. Kalau dalam internet dikenal sebagai third wave, makaย dangdut koplo dengan balutan budaya pop, korean style, Hip Hop dan EDM adalah gelombang kejayaan ketiga setelah dangdut klasik dan rock dangdut.

Sekarang biduan dangdut koplo sudah terkenal layaknya selebritis nasional dengan penghasilan fantastis. Bukan cuma biduannya yang kebagian berkah, mulai dari crew, Band pengiringnya, bahkan leboh spesifik pemukul kendangnya juga mendapatkan penghasilan yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Faktor lain

Faktor lain selain teknologi, dangdut koplo saat ini berwajah anak muda sekali dengan menggabungkan genre musik regae, hip hop, EDM dan lain-lain disertai penampilan biduan dan Band dangdut yang berkiblat pada korean style. Sedikit bergoyang banyak tersenyum ramah dan memiliki musikalitas yang tinggi.

Ada juga yang menarik adalah soal pasukan goyang dangdut koplo yang sebenarnya mirip flashmob yang juga populer di Korea sana. Mereka menunjukkan bagaimana cara menikmati dangdut koplo dengan baik dan benar.

Terakhir dangdut koplo tetap dengan akarnya menyuarakan realitas-realitas hidup dengan rinci, dan enggan membuat lirik utopis seperti genre musik lainya.

Dengan teknologi yang murah, lirik yang realistis dan penampilan yang kece akhirnya mampu membius seluruh kalangan untuk sekedar joget jempol.

14 thoughts on “Dangdut Koplo di Tengah Generasi Digital

  1. Happening banget yah, dangdut koplo ini emang unik, selain bisa mengadaptasi semua jenis lagu dari berbagai genre, iramanya yang gembira dan khas juga asik, kemampuannya beradaptasi itu yang bikin dangdut koplo bisa masuk dimana saja ๐Ÿ™‚

  2. wow sampai segitu ya view YT nya Nella Kharisma, aku seringnya dengerin musik dangdut itu kalau tetangga lagi nyalain sound systemnya keras-keras. Se erte juga bisa dengar hahaha… Udah disetelin tetangga, di rumah jadi malas mau nyetel musik sendiri…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *