Dangdut Koplo dan Youtube

Salah Satu Video Nella Kharisma

Sore yang mendung, seperti biasa saya harus naik angkot dari Kantor menuju Stasiun Tanah Abang. Setelah tap emoney, saya masuk ke peron stasiun dan seperti biasa sambil menunggu kereta saya buka situs kebanggaan saya Tirto. Di awal saya buka terdapat sebuah judul artikel yang menarik jempol saya untuk mengkliknya.

Berita tersebut berjudul Kenapa “Nella Kharisma Ngetop di YouTube Tapi Tidak di Twitter?” Sebagai Nella lovers garis lurus, rasanya kok ada beban perasaan jika tidak membacanya. Saya berharap ada kajian data yang ciamik khas Tirto. Paragraf awal ya masih preview umum tentang hal yang akan dibahas.

Kemudian saya merasa agak aneh ketika pada sub judul (atau entah apa namanya, pokoknya yang tercetak tebal) bertuliskan “Memahami Segmen Para Pengguna”. Anehnya dimana? Yuk kita simak, saya rasa ada yang enggak match antara satu data dengan data lainnya untuk kesimpulan seperti itu.

Pada bagian data pengguna twitter, Tirto mengungkapkan bahwa sebagian besar tweeps (sebutan untuk pengguna twitter) membahas Agnes Mo, JKT48, DWP dan lain-lain. Dari data tersebut Tirto berkesimpulan bahwa twitter didominasi oleh kaum berpendidikan.

Asal usul kesimpulan tersebut adalah dari data diatas mengungkap bahwa twitter didominasi oleh genre musik Hip-Hop, Pop, EDM hingga Jazz. Tirto mengutip salah satu riset yang menyatakan bahwa penikmat musik-musik itu memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Nah dengan data tersebut Tirto berkesimpulan bahwa twitter digunakan oleh orang dengan pendidikan tinggi.

Selain itu Tirto juga mengambil kesimpulan jika pengguna twitter lebih berpendidikan, karena twitter sering digunakan untuk membahas politik. Coba aneh tho? La masak dengan data dan asumsi seperti itu langsung menyimpulkan kalau twitter itu penggunanya berpendidikan tinggi.

Padahal tidak ada satupun hasil riset yang dikutip tirto mengatakan hal yang demikian. Tirto hanya otak atik gatuk saja. Kamudian yang membuat aneh adalah data yang digunakan untuk menyimpulkan bahwa Youtube adalah platform orang kelas bawah.

Jika sebelumnya Tirto menggunakan data riset yang digatuk-gatukan untuk twitter maka pada Youtube, tirto menggunakan pengertian dari sebuah buku yang mengatakan bahwa dangdut adalah musik orang kelas bawah khususnya pada tahun 1970an. Bro, sekarang 2017, masak dibandingkan sama tahun 1970.

Di Youtube yang merajai viewer memang musik dangdut khususnya koplo. Dengan menghubungkan dua fakta : dangdut adalah musik orang kelas bawah dan dangdut merajai youtube maka disimpulkan bahwa youtube adalah platform dengan pengguna segmen bawah secara pendidikan maupun ekonomi.

Tirto menafikan fakta bahwa untuk memutar youtube dibutuhkan data yang tidak sedikit. Sebagai gambaran untuk memutar video HD -karena sekarang video dangdut sudah berformat HD- butuh sekitar 9 Mbps. Dengan besarnya data yang dibutuhkan untuk menonton dangdut, masyarakat bawah mending beli VCD yang harganya 10 ribu per keping dan bisa diputar kapan pun.

Kemudian berdasarkan data APJII yang dirilis tahun 2014 mengatakan bahwa pengakses internet terbanyak adalah karyawan/ pekerja formal. Sedangkan pekerja informal hanya sebesar 3%. Pada survey 2016 Survey APJII menyatakan karyawan mengambil peran 62% dan mahasiswa sebesar 7,8% ditambah IRT 16%. Dengan data itu kok rasanya semua konten Internet itu mayoritas diakses oleh orang berpendidikan.

Jika dilihat data di atas kok ya agak naif kalau Youtube disebut sebagai platform yang hanya digemari oleh orang kelas bawah hanya karena dangdut -yang pada tahun 1970 identik dengan masyarakat bawah- menguasai perolehan tayangan. Saya lebih setuju jika kesimpulannya adalah terjadi kemajuan Dangdut koplo yang sedang digandrungi semua kalangan dari kalangan bawah penikmat VCD sampai kalangan atas yang menikmati dangdut via streaming. Setuju?

16 thoughts on “Dangdut Koplo dan Youtube

  1. Beda dulu beda sekarang ya, Kang. Bahkan yang dulunya nggak suka musik ini, jadi suka. Ya, itu karena terbiasa dan sering mendengar ..

    Kadang sambil ngeblog sambil dangdutan..hehe

  2. Sebagai Nella lover, saya sependapat dengan kang Rudi. Hahaa
    Iya kalau jaman dulu, boleh lah musik dangdut dikatakan musik kaum bawah. Tetapi untuk saat ini, argument soal musik dangdut sebagai musik kalangan bawah, kayak udah nggak berlaku. Musik dangdut sekarang untuk semua kalangan.

  3. Padahal aku suka baca tirto, apalagi banyak infografis dan data-datanya. Tapi pas baca artikel ini jadi seolah data-data tirto nggak didapat dari bank data yang valid dan diolah dengan proses selayaknya data ya. Hmmm jadi mikir dua kali nih kalo mau baca tirto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *