Udukan, Tradisi di Desa Kapu untuk Peringati Maulid Nabi

Suasana Udukan
Suasana Udukan

Di Desa yang cantik nan menawan ini memang memiliki berbagai tradisi unik untuk menyambut hari besar agama Islam, salah satunya adalah Udukan. Udukan di Desa Kapu digelar untuk peringati Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awwal pada setiap tahunnya, atau kalau di Kapu lebih dikenal sebagai bulan Mulud. Maklum desa ini juga terdapat pengaruh kerajaan Islam Jawa yang berhasil mensinkronkan bulan penanggalan Jawa dengan penanggalan Islam.

Suasana Maulud Nabi dimulai saat awal bulan Rabiul Awwal. Di langgar-langgar dan Masjid kompak menyerukan pujian-pujian khas bulan Maulid setiap setelah Adzan. Kamu tahu seperti apa pujiannya? Gini

Allahumma Sholli ‘ala Muhammad…
Ya Rabbi Sholli ‘alaihi wassalim…
Gusti Kanjeng Nabi Muhammad lahir ing Mekkah…
Dino Senen Rolas Maulud Tahun Gajah…
Ingkang Ibu, Asmane Siti Aminah…
Ingkang Romo asmane Sayyid Abdullah…

Kok dalam bahasa Jawa? Ya iyalah, hawong Kapu kan itu Jawa. Oke saya artikan deh. Saya artikan yang bahasa Jawanya aja, ya. Kalau Sholawatnya, saya yakin Kamu pasti lebih tahu dibandingkan saya.

Gusti Kanjeng Nabi Muhammad lahir di Makkah
Hari Senin, Dua Belas Maulud/ Rabiul Awwal tahun Gajah
Dengan Ibu bernama Siti Aminah
Dengan Ayah bernama Sayyid Abdullah

Udah tau kan? Kalau Kamu mampir ke Desa Kapu saat bulan Rabiul Awwal, maka Kamu akan mendengarkan pujian-pujian ini dilantunkan sesaat setelah Adzan. Selain ada pujian yang khas. Pas pada malam 12 Rabiul Awwal akan diselenggarakan Udukan yang dipusatkan di langgar-langgar atau Masjid. Pada siang harinya pasar desa akan ramai sekali untuk prepekan.


Prepekan itu adalah prosesi untuk melengkapi kebutuhan dapur untuk menyambut hari besar agama, misalnya lebaran, Kurban, Awal Puasa dan lain-lain. Setelah itu para Ibu akan memasak Nasi Uduk dan berbagai bumbunya. Biasanya sih ada menu ayam goreng ngap-ngap (kaya Upin-Ipin). Hehehe. Setelah matang maka disiapkan di baskom yang biasa buat wadah berkat itu. Kemudian nanti habis Magrib siap dibawa ke Langgar.

Setelah Adzan Magrib semua berbondong ke Langgar sambil bawa Nasi Uduk beserta bumbu-bumbunya tadi. Kemudian semua ngumpul dan Kiai pun memulai acara Udukan ini. Acara dimulai dengan sambutan-sambutan kemudian lanjut pembacaan Barjanzi. Barjanzi adalah kitab Biografi Nabi Muhammad. Kitab ini dibaca dengan hikmad dan puncaknya adalah Mahalul Qiyam. Semua jamaah berdiri seolah Nabi Muhammad hadir ditengah-tengah mereka. Para Jamaah begitu khusyuk melantunkan Sholawat Nabi, lambang kerinduan mereka kepada Nabinya.

Selesai Mahalul Qiyam dilanjutkan dengan doa bersama. Setelah doa bersama langsung makan-makan. Semua jamaah membuka ambengnya masing-masing. Oiya nasi uduk yang sudah dikemas dengan baskom tadi disebut ambeng. Semuanya saling menawarkan ambengnya masing-masing. Mereka senang ketika ambengnya laris manis dimakan oleh jamaah lainnya. Kalau nggak habis pun mereka saling bertukar dan dibagi rata.

Kalau saya sih jangan ditanya. Seluruh ambeng saya cicipin satu-persatu. Saya paling seneng bumbu bihunnya atau kacang panjang. Duh jadi kangen sama suasana akrab Udukan ini. Semua sama, sama-sama ingin mengejar cinta Rosulnya. Kaya Miskin, Tua Muda saling berbagi makanan dan kebahagiaan. Sambil makan, kadang juga disambi ngobrol-ngobrol untuk saling mengetahui kabar masing-masing. Tuh keren, kan?

Kalau kamu mau tahu betapa rukunnya warga desa ini untuk merayakan Maulid Nabi, yuk datang ke desa Kapu. Jangan lihat TV atau internet melulu. Apa enggak bosen ngelihat orang-orang debat mulu tanpa habisnya demi kepentingannya sendiri. Sekali-kali berkunjung ke desa belajar damainya hidup di desa. Selamat Maulud Nabi SAW, tirulah Akhlak Nabi karena Allah mengutus Muhammad untuk menyempurnakan Akhlak seluruh Manusia di muka bumi ini.

8 thoughts on “Udukan, Tradisi di Desa Kapu untuk Peringati Maulid Nabi

  1. Desaku gak ada berantem2an, Kang. Yang namanya desa emang adem kayaknya ya. Kemarin di sini pas Muludan gak ada uduk, tapi ada acara khusus di tiap dusun yang undang dai buat ngasih tausyiyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *