Trip Satu Hari ke Bali

Bedugul
Bedugul

Tanggal 11 Oktober 2016 kemarin saya mendapatkan surat tugas ke Bali. Ah kesempatan ini pikir saya, untuk sekalian bawa istri dan anak saya. Kebetulan mereka belum pernah ke Bali. Jadilah kami pesan tiket ke Bali dan mempersiapkan akomodasi di sana. Sekarang itu enak, apa-apa serba online dari tiket pesawat, hotel dan angkutan lokal. Dengan begitu sebelum sampai ke Bali kami sudah siap ndak repot-repot cari kendaraan atau hotel. Oiya saya ijin boss saya untuk cuti sehari tanggal 10 Oktober 2016. Ibu Boss mengijinkan, Alhamdulillah.

Saya berangkat hari Senin pagi jam 6.20 dari Bandara Soekarno Hatta. Enaknya kalau pagi-pagi gini pesawat jarang delay. Beberapa saat setelah keluar taksi online saya menuju tempat check in, beberapa saat nunggu di ruang tunggu dan sudah dipanggil untuk segera menaiki pesawat. Selain nggak delay, naik pesawat di pagi hari itu biasanya cuacanya cerah, awannya keren-keren dan matahari yang baru naik menghangatkan bumi. Tsaaahhh…

Bacaan Lainnya

Pesawat akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Ini salah satu Bandara favorit saya, karena dekat dengan laut. Jadi ketika mendarat berasa banget sedang mendarat di air. Kami keluar dari pesawat dan menghubungi kendaraan yang sudah pesan sebelumnya. “Pak, apakah sudah ada di Bandara? Saya sudah diterminal kedatangan” ucap saya di Henpon saya. “Iya, Pak saya sudah di parkiran” Jawab si Pak Driver yang belakangan saya ketahui namanya Pak Muhammad. Saya menuju titik jemput yang sudah disepakati. Saya sempetin juga beli makanan untuk sarapan. Rekomendasi saya sih beli di minimarket yang udah kamu kenal.

Kemudian saya ketemu Pak Muhammad. Pak Muhammad ini tanya “Kemana pak kita hari ini?”. Saya bingung, hawong saya kalau ke Bali ya tinggal ikut aja temen-temen yang lain mau kemana. Masalahnya sekarang, saya yang jadi pemimpin perjalanan. Saya terlibat diskusi sama Pak Muhammad ini. Disepakati trip satu hari ini hanya ke Bedugul, kemudian Pantai Pandawa, terakhir ke Uluwatu lihat tarian kecak yang keren itu. Sebenarnya ada opsi tambahan, nyari oleh-oleh ke Krisna. Tapi lihat nanti.

Mobil mulai bergerak. Saya, istri dan anak saya langsung membuka makanan yang saya beli tadi. Terus sarapan deh. Sarapan sambil diceritain tentang Bali sama Pak Muhammad. Beliau cerita bahwa beliau ini asli orang Rembang. “Terus gimana, Pak ceritanya Bapak bisa kerja di Bali?” Tanya saya penasaran. Beliau bilang bahwa beliau ini dulu santri salah satu pondok pesantren di Malang. Kemudian suatu saat ada seorang pengusaha di Bali yang sowan ke kiainya minta ditugaskan satu santri ke Bali untuk mengajar ngaji di Musholla yang dimiliki oleh pengusaha tersebut. Nah kemudian terpilihlah Pak Muhammad. Berangkat lah ke Bali.

Tanpa terasa mobil kami memasuki pelataran parkir danau Bratan. “Terus mana danau Bedugulnya?” tanya saya dalam hati. Setelah beberapa lama akhirnya saya tahu, bahwa danau Bedugul itu nama aslinya Danau Bratan. Setelah dapet parkir yang strategis, saya turun. Istri saya ngantri di loket. Tadi dipesenin Pak Muhammad, kalau wisatawan lokal ya bilang dari lokal, soalnya biasanya harganya berbeda. Saya dapet harga Rp 20.000,- sepertinya sama dengan wisatawan asing. Hehehe.

Danau Bratan Bedugul
Danau Bratan Bedugul

Masuk ke pelataran pertama, kamu tahu dong kalau di Bedugul ini khasnya apa. Itu tu pura yang ada di uang pecahan Rp 50.000,-. Nah pas di spot itu, yang antri foto banyak banget. Kita harus pinter-pinter nyelip-nyelip supaya pas dapet spot foto seperti di uang 50an ribu itu. Di sini hawanya dingin, hawong di pegunungan. Di sini ada perahu juga, kemarin saya pengen naik tapi kayanya waktunya ndak cukup akhirnya ya duduk-duduk aja sama main dengan anak menikmati segernya udara bedugul dan ditambah pemandangan pura khas Bali yang ngangenin itu.

Enaknya di Bedugul ini deket sama Masjid. Jadi buat kamu wisatawan Muslim dan Muslimat kamu bisa tenang di sini. Oiya kalau ke Bedugul jangan lupa bawa payung. Pas saya ke sana kemarin itu hujan deres banget. Setelah puas menikmati pemandangan danau Bedugul saya kembali ke parkiran dan menuju ke Masjid untuk Sembahyang Dzuhur sama Ashar. Selesai Sembahyang turun lagi ke Denpasar.

Saya udah berasa capek. Saya minta ke Pak Muhammad langsung saja ke Pantai Pandawa, ndak usah mampir-mampir. Ternyata laper juga, akhirnya ada warung ayam betutu di pinggir jalan. Ah mampir dulu. Saya ndak moto ayam betutu dan restorannya. Rasanya gimana? Ya enak banget hawong laper jaya je. Anak saya pun lahap banget makannya. Selesai makan kami melanjutkan perjalanan ke pantai Pandawa.

Sampailah saya ke Pantai Pandawa. Di sini masih dalam tahap pembangunan. Banyak crane di sini. Biaya masuknya Rp 10.000,- per orang. Lagi-lagi jangan lupa bilang kalau lokal kalau kamu emang orang lokal. Nah kerennya pantai pandawa kalau diliat dari atas bukit kapur yang di pinggi jalan itu. Mantab. Lautnya biru diwarnai ombak-ombak yang keren banget. Kamu bakal takjub kalau ke tempat ini.

Pantai Pandawa
Pantai Pandawa

Saya turun dari mobil menuju ke pantainya. Panas ya? Yaiyalah wong pantai. Sebenernya di Tuban banyak pantai, tapi di Bali beda! pantainya bersih, biruuuuuuuu banget. Saya sebentar aja di pantai ini orang panas banget. Kasian anak saya. Foto-foto kemudian kembali ke mobil.

Selesai dari Pantai Pandawa, langsung meluncur ke Pura Uluwatu untuk menyaksikan pertunjukan tari kecak dan fire dance. Nggak jauh dari Pandawa sih, cuma butuh beberapa saat untuk mencapai pura Uluwatu. Sampailah saya di parkiran Uluwatu. Di sini hati-hati ya, banyak monyet nakal. Jangan takut sih cuma harus menaati himbauan untuk tidak memakai barang-barang yang mencolok supaya ndak diganggu sama monyet-monyet itu.

Masuk bayar berapa ya waktu itu, ya lagi-lagi jangan lupa bilang kalau wisatawan lokal. Masuknya jangan lupa pakai selendang yang diberikan oleh petugas. Pas masuk langsung aja menuju tebing yang langsung menghadap laut. Ya Allah itu pemandangannya keren banget. Tebing yang luar biasa tinggi yang dibawahnya bergemuruh suara ombak yang saling berkejaran. Spot fotonya keren-keren di sini.

Tebing di Uluwatu
Tebing di Uluwatu

Setelah itu berjuang untuk antri di loket tiket masuk ke area tari kecak. Jadi di sini ada dua tiket. Pertama tiket untuk masuk ke area pura, yang kedua tiket untuk masuk ke tempat pertunjukan tari kecak dan fire dance. Harganya Rp 100.000,- di sini ndak ada bedanya lokal maupun non-lokal. Kamu harus segera masuk ke tempat pertunjukannya. Soalnya tempatnya terbatas. Pas saya sampai di sana udah penuh banget.

Nunggu beberapa lama, anak saya udah mulai bosen. Tapi untungnya dia udah asik sama cemilannya. Setelah bosen menunggu akhirnya MC-nya masuk dan memulai acara tari kecaknya. Saya seneng sama tari kecak, karena iramanya. Mereka tampil ditemani temaram malam di tebing yang bawahnya laut lepas. Irama yang luar biasa indah. Suara gemuruh ombak berkombinasi manis dengan musik-musik dari penari kecak.

Tari Kecak di Uluwatu
Tari Kecak di Uluwatu

Pertunjukannya kurang lebih selama 1 jam. Ya kurang lebih sampai jam 7 malam waktu lokal. Setelah selesai tetep waspada sama monyet-monyet ya jangan pakai asesoris-asesoris yang warnanya mencolok. Saya sengaja mengambil antrian terakhir supaya ndak berdesakan. Setelah sampai di gerbang pintu keluar, Pak Muhammad sudah menunggu. Saya langsung ajak aja ke hotel. Anak saya udah kecapekan sepertinya. Setelah sampai di hotel tidur besoknya saya ke acara dinas sampai sore. Setelah itu pulang lagi ke Jakarta. Berakhirlah liburan sehari saya di Bali.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 Komentar

  1. Setiap baca yang beginian rasanya bener2 ingin ngetrip terus, apalagi ke bali, belum pernah sama sekali.. hadeeuuhh.. smga aja bisa kesampean kesana mas.. hehe..
    Ngetrip nyok mas..