Senja di Desa

Ilustrasi Senja Sumber : Dok. Pribadi
Ilustrasi Senja
Sumber : Dok. Pribadi

Pasukan Pantang Pulang sebelum magrib, pernah dengar kalimat itu? Kalimat itu sering terdapat di banyak tulisan akhir-akhir ini. Kalimat yang menunjukkan betapa serunya masa kecil anak-anak tahun 90an. Untuk urusan Pasukan Pantang Pulang sebelum magrib, serahkan pada anak-anak di desa. Di desa tahun segitu belum ada apa-apa, masih alami, belum ada pabrik yang asapnya menyesakkan, belum ada pegawai pabrik pendatang (nggak semua) yang songong dan lain-lain. Jadi Pasukan Pantang Pulang Sebelum Magrib tumbuh subur di desa.

Alhamdulillah saya merasakan itu semua. Saya salah satu anggota pasukan tersebut. Saya main seharian dan baru pulang ketika suara bilal di Masjid mengumandangkan syair Sholawat Tarhim. Tapi sebenarnya yang membuat saya pulang jam segitu bukan karena memang keasikan main tapi karena saya suka melihat senja.

Bacaan Lainnya

Saya lahir dan besar di desa Kapu. Desa yang sebenarnya dekat dengan pusat kabupaten tapi beberapa kali dapat predikat desa tertinggal atau katakanlah miskin. Tapi predikat itu tidak pernah sampai ketelinga kami, kami tetap bahagia, dan bahkan saya berani jamin waktu tahun segitu tidak ada warga desa saya yang jadi pengemis.

Trong tong tong… gitu nggak sih suara sepeda motor Yamaha Alfa? ya Bapak saya termasuk salah satu dari sedikit warga desa yang mempunyai sepeda motor. Sepeda motor ini mengantarkan saya kemana-mana, dari mulai TK sampai lulus MI. Nah dengan motor ini pula saya melihat senja di beberapa tempat diantaranya sebagai berikut

Senja di Sepanjang Jalan Kerek – Tambakboyo

Pak Lik saya, menikah dapat orang Tambakboyo, itu lho yang dilewati jalur pantura yang super rame. Bapak saya seperti hal-nya saya agak grogi memang kalau berkendara diantara truk-truk besar gitu. Suatu hari, saya berkunjung kerumah Pak Lik saya bersama bapak saya.

Saya berangkat sore, karena bapak saya tidak berkenan pantura, jadinya kami menempuh rute alternatif Merakurak – Kerek – Tambakboyo. Pada saat ditengah perjalanan tibalah waktu magrib. Bapak saya langsung menuju ke Musholla dekat jalan untuk menunaikan Ibadah Magrib. Pas turun dari motor, saya langsung kagum dengan langit sore itu. Merah semburat jingga berada di ufuk barat. Musholla itu berada di pinggir sawah, ditemani pohon kering yang banyak burung-burung yang berterbangan. Saya lupa sih itu burung apa kalong.

Tapi keren beneran keren… Saya sampai sekarang selalu merinding kalau inget itu. Setelah selesai magrib, hari sudah malam dan kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan saya merem semerem-meremnya karena takut, jalannya gelap banget nggak ada lampu penerangan sama sekali.

Senja di Persawahan Mulung

Ilustrasi Senja Mulung Sumber : Dok. Pribadi
Ilustrasi Senja Mulung
Sumber : Dok. Pribadi

Saya Alhamdulillah ternyata keterima di SMP Negeri Favorit di Kabupaten Tuban, tepatnya di SMPN 3 Tuban walaupun pas masuk baru sadar kalau SMPN 3 itu favorit 😀 . Nah di SMP 3 waktu itu ada kegiatan pramuka setiap hari Jumat. Untuk berangkatnya saya naik kol dari perempatan Mandirejo dan turun di Patung.

Kol jurusan Tuban – Merakurak itu beroperasi sampai jam 4 sore saja, padahal kegiatan pramuka saya sampai jam 5 sore. Jadi terpaksa Bapak saya lagi-lagi berkorban untuk anaknya, menjemput. Kali ini motor sudah ganti pakai Supra Standard. Biasanya sebelum saya selesai, Bapak sudah standby di depan sekolah. Jam 5 di Tuban, sudah seperti jam setengah 6 di Jakarta, agak gelap gimana gitu.

Keluar gerbang sekolah tingak tinguk dan naiklah saya ke motor bapak saya. Selama perjalanan biasanya saya ngoceh cerita soal pramuka yang barusan saya ikuti. Tapi ketika sampai di perempatan Mulung saya terdiam. Bapak saya mulai berbelok ke kiri ke arah selatan dan saya melihat kearah barat, matahari bulat merah agak jingga mulai turun diiringi dengan angin semilir persawahan dan hawa yang mulai dingin.

Ah itu momen paling keren ketika masih SMP.

Senja di Belakang Rumah

Ilustrasi Senja di Belakang Rumah Saya Sumber : Dok. Pribadi
Ilustrasi Senja di Belakang Rumah Saya
Sumber : Dok. Pribadi

Rumah saya itu di desa banget, Kalau saya offline berarti saya sedang berada di desa saya. Karena di desa saya ndak ada sinyal 4G. Rumah saya berada dipaling selatan di pemukiman warga. Jadi sebelah selatan rumah saya sudah nggak ada rumah lagi, yang ada hanya hamparan kebun dan ladang milik warga yang biasanya saya pake buat maen layangan.

Nah dibelakang rumah saya juga ada langgar kecil yang biasanya dipakai sholat warga sekitar. Menjelang magrib anak-anak sudah ngumpul di Musholla dan saya lagi-lagi mencari senja dengan berdiri di pematang kebun belakang rumah saya dan menyaksikan matahari yang meredup dan diakhiri suara adzan yang mistis dari temen-temen langgar saya. Ini salah satu yang bikin saya selalu saya cari ketika saya pulang kampung.

Kalau mau menikmati senja desa, monggo datang ke Kabupaten Tuban 😀 atau langsung ke desa saya, desa Kapu. Sekarang sudah bukan desa tertinggal lagi kok… Orangnya baik-baik dan ramah-ramah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 Komentar