Lava Tour Merapi, Wisata Masa Lalu yang Penuh Pengalaman

Lava Tour Merapi

Lava tour merapi menjadi keinginan saya selanjutnya ketika berkunjung ke Yogyakarta. Masih dalam rangkaian employee gathering yang pada hari pertama saya mengunjungi Gunung Kidul untuk tubbing di goa pindul.

Setelah sarapan di hotel sekitar Malioboro, saya melanjutkan petualangan di Yogyakarta dengan menuju ke basecamp Jeep yang berada di kaki gunung merapi. Saya tidak tahu dimana tepatnya. Tetapi, yang saya tahu, hari ini saya mau melakukan Lava Tour Merapi dengan mengendari mobil offroad berjenis jeep.

Bacaan Lainnya

Selanjutnya, saya mulai menaiki jeep. Saya naik jeep ini kurang lebih berlima, bersama dengan kawan-kawan yang bisa disebut sebagai Partner in Crime lah waktu di kantor.

Mulai Lava Tour

Setelah kami semua siap di mobil jeep kami masing-masing, jeep mulai berjalan beriringan. Mobil saya berada paling depan. Jalanan offroad mulai saya rasakan. Mobil mulai bergoyang-goyang. Gunung Merapi yang gagah megah terlihat menantang langit. Makin membuat saya bersemangat untuk mengikuti Lava Tour ini sampai selesai nanti.

Jalanan Offroad makin terasa, debu merapi pun mulai mengiringi perjalanan saya. Makin ke atas makin terlihat bekas-letusan maha dahsyat pada masa lalu. Tepatnya pada tahun 2010 yang lalu. Lahan-lahan yang terlihat tandus, lalu terdapat beberapa pohon yang tertutup debu. Dada makin sesak, membayangkan betapa mengerikannya bencana letusan gunung merapi ini.

Walaupun berdebu, namun badan malah merasakan dingin. Tidak mengherankan, karena saya sudah mulai memasuki lereng gunung, yang lazimnya memang berhawa dingin.

Museum Sisa Hartaku di Merapi

Setelah menikmati pemandangan selama perjalanan lava tour merapi ini, mobil saya dan kawan-kawan akhirnya berhenti di sebuah rumah. Rumah yang terlihat rusak parah dan memiliki banyak koleksi barang-barang yang tidak utuh lagi. Tempat ini bernama Museum Sisa Hartaku.

Museum ini adalah bekas dari kediaman keluarga korban erupsi merapi pada tahun 2010 lalu. Di sekitar rumah banyak debu, jadi saya sarankan tetap pakai masker, ya. Debu ini juga menggambarkan betapa tidak berdayanya manusia dihadapan Allah SWT, sekali merapi memuntahkan lahar panas langsung habis satu desa.

Rumah ini adalah salah satu yang tersisa, konon rumah ini milik salah seorang karyawan di salah satu hotel Jogja. Dia berinisiatif membuat mini museum untuk mengenang peristiwa yang ngeri itu atau orang Jawa bilang Nggegirisi artinya sebuah peristiwa yang sangat mengerikan.

Saya masuk ke dalam melalui dapur, arsitektur dapurnya seperti di rumah saya di desa dulu. Ada satu dipan untuk menyimpan perabotan seperti dandang, panci, wajan dan lain-lain. Kemudian di sudut lain ada satu set meja makan yang terdapat perabotan makan seperti piring, gelas, teko dan lain-lain.

Kemudian yang paling khas di sudut ada jedingan atau tempat penampungan air bersih. Dan yang mengerikannya semua peralatan yang ada disitu masih utuh tapi sudah berubah bentuk karena leleh terkena panasnya wedus gembel yang menghantam perkampungan ini.

Banyak peralatan rumah lainnya yang juga terkena imbas, seperti beberapa unit motor yang tinggal rangkanya. Hanya rangka saja yang masih kuat menahan terjangan awan panas. Masuk ke ruang tamu ada jam yang berhenti tepat pada peristiwa turunnya wedus gembel dan menghancurkan apa saja yang ada di desa ini. Duh Gusti saya enggak sanggup membayangkan betapa paniknya saat awan panas dengan suhu tinggi dan kecepatan enggak kalah tinggi menerjang desa ini.

Tour ke Bunker Kaliadem

Setelah selesai dari Museum Sisa Hartaku saya lanjut ke atas lagi. Semenjak dari Museum, teman-teman yang saya sebut sebagai partner in crime saya tadi, mendadak hening. Mungkin sama dengan saya, dada masih merasa sesak membayangkan dahsyatnya letusan merapi.

Selanjutnya kami menuju ke Kaliadem. Semakin jauh, pemandangan debu semakin menguat. Kanan-kiri depan belakang berdebu semuanya. Setelah sampai di Bunker kaliadem, saya langsung masuk. Bunker ini berada di bawah tanah. Saat letusan gunung merapi tahun 2006, bunker ini terkubur empat meter di bawah tanah.

Bunker ini memiliki cerita yang menyayat-nyayat hati. Saya masuk melalui pintu depan yang sangat tebal, terbuat dari baja dan sangat berat. Ketika saya masuk, saya mendapatkan cerita bahwa di tempat ini terdapat dua orang korban meninggal. Dua orang korban tersebut adalah relawan yang bertugas untuk mengevakuasi warga merapi saat letusan tahun 2006 terjadi.

Di dalam bungker terdapat bongkahan batu yang sangat besar. Batu ini meruapakan lava pijar yang sudah membeku. Lava pijar merembes melalui celah-celah pintu dan dinding bungker lalu mengalir masuk ke dalam goa. Saya membayangkan betapa panasnya saat itu bungker. Padahal tanpa ada lahar panas pun bungker ini sudah cukup membuat keringat saya mengucur deras ketika memasukinya.

Di sebelah kanan pintu masuk terdapat toilet dan disebelah kanan pintu masuk terdapat tempat logistik seperti makanan dan peralatan untuk bertahan hidup lainnya.

Kedua relawan yang sebut meninggal tadi ditemukan berada di pintu masuk dan toilet. Pada saat tim evakuasi relawan tersebut masuk ke dalam bungker, keadaan air di toilet dalam keadaan mendidih.

Begitulah perjalanan lava tour merapi saya. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan, terutama pengalaman tentang bagaimana bencana dahsyat letusan merapi berlangsung.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 Komentar

  1. Wah seru juga ya bisa berwisata Lava Tour Merapi, berpetualang sambil dapat ilmu sejarah juga ya Kang. Walau masuk ke museumnya pasti bikin hati nyes menyayat hati, bahkan ngeri ya, memabayangkan para korban dulu giamana

  2. Pengen tau foto museum dan bunkernya. Btw, bunker ini dibuat hanya untuk Merapi atau di gunung berapi aktif lainnya juga ya?
    Sekarang dg erupsi Semeru, akankah rumah-rumah penduduk juga dijadikan museum?

  3. Seru banget ya kak. Pelajaran sejarah dapet. Pertualangan juga dapet. Aku suka liat orang tu jalan ke gunung gitu tapi aku sendiri takut. Pobia liat gunung yang tiba2 erupsi gitu kak

  4. Aaaak, ini salah satu keinginan kalau ke Jogja sih. Cuma pas trakir ke Jogja tahun 2020 kmaren yang paas banget sebulan sebelum pandemi, nggak sempet waktunya ke Lava Tour. Semoga di 2022 ada kesempatan deh, aamiin.

  5. Lava tour ini menarikkkk banget. Kita gak cuma bisa belajar sejarah, tapi adventuringnya seru banget.

    Kayaknya lantaran kejadian Semeru baru-baru ini, lava tour Merapi ikut ditutup sementara bukan sih mas?

  6. Setiap berkunjung ke museum yang tercipta dari sebuah musibah pasti ada rasa yang menyayat hati. Entah itu museum sisa hartaku dari letusan gunung atau museum tsunami dari kejadian tsunami Aceh. Aah gak kebayang saat kejadian gimana paniknya umat manusia itu. Pasti di bayangan mereka, saat itu sedang terjadi kiamat saking ngerinya.

  7. Ngeri-ngeri sedap ya wisata ke Merapi. Tapi seru banget nih bisa naik jeep. Wah peristiwa erupsi tempo hari ternyata dijadikan museum ya. Pasti bikin merinding berkunjung ke rumah-rumah korban erupsi….

  8. Yaa Allah, itu bagian musium sisa, ngeri banget bayanginnya Kak. Gimana dengan para anak dan ibu ibu di sana waktu itu. Duh. Semoga setelah ini tidak ada lagi musibah yang mengerikan itu.

  9. Saya membayangkan suatu rasa yang menyayat hati saat mengunjungi Museum Sisa Hartaku dan bungker, tidak terbayang berapa lukanya warga sekitar saat erupsi Merapi waktu itu. Di samping itu, menurut saya, tur seperti itu layak untuk jadi sarana muhasabah