Belanja dengan “Ringgit” di Desa Kapu

Toko Rudis
Toko Rudis

Di Desa Kapu, banyak yang menggunakan satuan ringgit ketika berbelanja. Lho kok bisa? Bukannya ringgit itu mata uang Malaysia? Iya memang Ringgit adalah mata uang Malaysia. Tapi tenang aja, di Kapu, satuan Ringgit nggak ada hubungannya dengan mata uang Malaysia itu. Mata uang di desa Kapu 100% rupiah. Entah sejak kapan orang Kapu suka menggunakan sebutan ringgit untuk nominal uang rupiah.

Kalau kamu berbelanja di toko-toko di desa Kapu, kamu pasti akan menemui orang yang bilang “Sakmene iki pirang ringgit?” Artinya “Segini ini berapa ringgit?”, kemudian akan dijawab oleh penjualnya misalnya “Iki sakmene limang ringgit, Yu” Artinya “Ini segini lima ringgit, Mbak”. Nah bingung kan? 1 ringgit di desa Kapu artinya Rp 250,-. Iya dua ratus lima puluh rupiah. Jadi kalau lima ringgit itu artinya Rp 1.250,-. Mantab kan?

Bacaan Lainnya

Di Kapu memang banyak sih yang merantau ke Malaysia, tapi jauh sebelum orang-orang Kapu ke Malaysia, mereka sudah menyebut 250 rupiah sebagai 1 ringgit. Saya sudah beberapa kali bertanya kepada orang-orang tua di desa ini, tapi tidak ada yang tahu pasti sejak kapan mereka menggunakan istilah ringgit dalam transaksinya.

Setelah saya menelusuri beberapa blog, akhirnya saya tahu. Ringgit itu salah satu mata uang yang digunakan saat masa penjajahan Belanda. Pada saat awal kemerdekaan istilah ringgit masih digunakan untuk menyebut dua setengah rupiah. Mungkin karena devaluasi akhirnya di desa Kapu satuan ringgit meningkat dari dua setengah rupiah menjadi dua ratus lima puluh rupiah.

Kalau dibandingkan dengan sekarang mungkin seharusnya menjadi dua ribu lima ratus rupiah kali ya per ringgitnya. Ah desa ini memang unik, dari bahasanya, budayanya dan masyarakatnya yang ramah dengan berbagai kearifan lokalnya. Kalau kamu sedang di Tuban cobalah mampir ke desa ini. Udah terkenal kok, kalau kamu mau tau bisa googling, atau kalau kamu mau beli apa gitu di sini juga murah-murah, nggak perlu beringgit-ringgit 😀 Ya sudah selamat malam dan selamat istirahat, besok kerja lagi cari ringgit, eh Rupiah.

Jika bermanfaat silakan anda bagikan tulisan ini dan kami juga memiliki koleksi tulisan yang menarik lainnya, silakan klik Daftar Isi untuk melihat daftar tulisan kami. Selamat membaca! 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 Komentar

  1. Dulu di tanah kelahiran saya (Montong), orang2 tua jaman saya masih kecil juga menyebut ‘Ringgit’ ketika berbelanja, kang. Dan nilai ringgitnya juga sama seperti yang ada di desa Kapu.
    Tetapi sekarang entah masih ada sebutan ringgit entah tidak, saya ndak tahu. Soalnya saya sudah lama transmigrasi ke Jatirogo. ???

    Eh, ngomong2, templatenya keren. ????

  2. malah di kampungku di Banjarnegara jawa tengah, istilah ringgit untuk menyebut sejumlah nominal rupah tertentu sudah dipakai oleh ortu2 pada zaman dulu, pas aku kecil sering mendengarnya hahaha, skrg sudah jarang sih