8 Hal ini yang dilakukan Orang Kapu ketika Bulan Puasa

8 Hal yang dilakukan orang Kapu ketika bulan puasa
8 Hal yang dilakukan orang Kapu ketika bulan puasa

Puasa sebuah kata yang sakral di Nusantara Raya ini. Puasa berasal dari kata Upawasa yang merupakan bahasa jawa dan memiliki arti tidak makan serta tidak minum selama seharian. Upawasa mendapatkan sentuhan islamisasi Walisongo sehingga identik dengan shaum (ini yang bingung, kalau kamu nulis insya pakai “insha” terus Shaum pakai apa? pake “Syaum”? Kan kacau artinya bray hehehe) yang memiliki arti kurang lebih mirip tapi lebih luas karena tidak hanya menahan makan dan minum namun juga hawa nafsu.

Karena bulan yang sakral dan spesial, tradisi bulan ramadhan pun spesial. Kamu pasti punya hal-hal khas yang hanya ada ketika Ramadhan tiba, tak kecuali orang-orang di Desa Kapu. Desa Kapu yang merupakan desa kecil yang berjarak sekitar 10 KM dari pusat kota Tuban ini, memiliki berbagai tradisi khas ramadhan. Penasaran? ijinkan aku memberitahumu.

Bacaan Lainnya

Ziarah Kubur

Ziarah Kubur
Ziarah Kubur

Seperti orang desa lainnya, persaudaraan orang desa Kapu sangat erat terjalin. Kalau kamu biasa mendengar kata cinta sampai mati, maka di desa Kapu berlaku ungkapan bersaudara hidup ataupun mati. Bentuk nyata dari ungkapan tersebut tergambar dari budaya ziarah kubur. Ziarah kubur dilakukan sehari menjelang bulan puasa. Jika saat itu tiba, maka kuburan bak pasar. Ramai banget orang berziarah kubur, mengirimkan doa kepada para orang tua, saudara atau bahkan sahabatnya. Terbukti kan orang desa itu bersaudara hidup atau mati.

Megengan

Megengan
Megengan

Selesai ziarah kubur, malamnya setelah sembahyang Magrib warga desa berbondong-bondong ke Mushalla atau masjid terdekat. Mereka membawa baskom-baskom berisi makanan. Dan kamu tahu? mereka itu sedang melaksanakan megengan. Megengan adalah salah satu dari 7 Selametan yang di Gelar di Desa Kapu. Megengan digelar untuk menyambut bulan Ramadhan. Dahulu Megengan digelar giliran per rumah, dan sekarang diubah berkumpul di Mushalla atau Masjid. Megengan diawali dengan kumpul-kumpul kemudian berdoa bersama, mendoakan keselamatan dan keberkahan warga desa, desa itu sendiri dan seluruh umat manusia. Tuh baik kan? orang desa itu loman.

Teraweh

Teraweh
Teraweh

Selesai megengan, dilanjutkan dengan menunggu keputusan pemerintah tentang awal Ramadhan. Orang desa ini memedomani ungkapan bahwa Keputusan Pemerintah itu menyelesaikan perbedaan. Jadi 100% orang desa Kapu ikut keputusan Pemerintah dalam hal penentuan awal bulan Islam. Ketika sudah dipastikan ramadhan tiba, maka seluruh warga desa (untuk kali ini yang hidup saja) mendatangi Mushalla dan melaksanakan Sholat Teraweh. Sembahyang teraweh di desa ini dilaksanakan 20 rakaat dan 3 rakaat witir, serunya nggak ada yang mrotol ketika rakaat ke-8. Sebelum Teraweh ada pujian khas bulan ramadhan “Asyhadu alla ilaha illallah astagfirullah…..”. Yang orang desa pasti hafal lah.

Tadarusan

Tadarus
Tadarus

Nah ini momen yang selalu saya kangenin. Tadarusan setelah taraweh. Berbeda dengan Jakarta yang setelah teraweh mushalla dan masjidnya langsung sepi, di Desa Kapu Mushalla dan Masjid setelah teraweh ada tadarusan yang biasanya sampai dengan pukul 12.00 WIB. Jadi jangan pada heran, orang-orang desa Kapu pas ramadhan kantung matanya makin gede, lha begadang terus. Dulu pernah ada masa tadarusan ini berebut tempat karena tempatnya terbatas peminatnya banyak. Pindah mushalla penuh, pindah lagi penuh lagi. Terpaksa nunggu diluar.

Main Petasan

Ilustrasi Petasan Bambu Sumber jogja.tribunnews.com
Ilustrasi Petasan Bambu
Sumber jogja.tribunnews.com

Petasan di desa Kapu macemnya banyak, ada yang pakai tempat pentil ban, kemudian busi, bambu, tanah, kaleng dan lain-lain. Kalau yang pentil ban dan busi menggunakan korek jres atau korek api batang. Suara dari petasan pentil ban dan busi ini keras tapi masih ada yang lebih keras yaitu petasan dari bambu, tanah dan kaleng. Ketiga petasan ini memanfaatkan uap karbit yang dinyalakan sehingga menghasilkan ledakan yang memekakkan telinga. Ketika puasa, anak-anak di Kapu biasanya beradu petasan berbahan bakar karbit ini, suasananya kaya perang meriam. Bummm…. bummm…. Seru!

Tongklekan

Tongklek
Tongklek

Waaaa…. ini yang paling khas di desa Kapu. Tongklek! Tongklek itu musik patrol. Kalau kamu pernah tinggal di Jakarta akan dipusingkan sama musik patrol yang justru bikin emosi karena musiknya tidak beraturan, berbeda dengan di desa Kapu. Tongklek di desa kapu, iramanya sangat mendayu-ndayu. Digawangi oleh anak-anak kecil dengan peralatan kentongan yang telah diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan bunyi yang enak di dengar, ditambah gentong sebagai suara bass dan yang paling vital adalah gambang sebagai melodi, ketika mereka dimainkan maka akan mengundang orang untuk tersenyum bahkan pengen ikut menggoyangkan kaki. Keren deh! Kalau pengen tahu, buka youtube saja terus ketik “Tongklek Desa Kapu”.

Jalan-Jalan Pagi

Jalan-jalan pagi
Jalan-jalan pagi

Di tempat lain orang akan jalan-jalan ketika menjelang Magrib. Berbeda dengan di Kapu, justru orang Kapu jalan-jalan ketika selesai Shubuh. Kamu bakalan nemuin orang-orang dari muda sampai tua tumpah ruah ke jalan-jalan desa, ke sawah atau ke pantai menikmati pagi di bulan ramadhan. Suasana ini bakal kamu temui selama bulan ramadhan, sebulan penuh. Oiya biasanya jalan-jalan ini juga jadi ajang modus cowok-cowok desa cari jodoh. Hehehe.

Maleman

Maleman
Maleman

Kegiatan Ramadhan semakin meningkat ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Orang Kapu menyebutnya maleman. Maleman di Kapu dilakukan setiap hari ganjil, yaitu malem selikur (malam 21), malem telu (malam 23), malem selawe (malam 25), Malem pitu (malam 27) dan Malem songo (malam 29). Nah ada yang aneh yaitu penyebutan malem telu bukan telu likur, malem pitu bukan malem pitu likur dan malem songo bukan malem songo likur. Gimana ceritanya? entahlah. Pada malam-malam yang saya sebutkan tersebut, warga desa menyewa kendaraan dan rombongan ziarah para makam auliya. Kalau orang Kapu biasanya ziarah ke Sunan Bonang, Maulana Ibrahim atau Asmaraqandi dan Sunan Bejagung. Ini sebagai bentuk terimakasih orang desa telah memeluk Islam karena jasa para ulama terdahulu. Seru pokok’e!

Udah tau kan apa saja yang dilakukan orang desa kapu ketika puasa? yang jelas di desa Kapu nggak ada tawuran seperti yang terjadi di kota besar saat ramadhan.

Jika bermanfaat silakan anda bagikan tulisan ini dan kami juga memiliki koleksi tulisan yang menarik lainnya, silakan klik Daftar Isi untuk melihat daftar tulisan kami. Selamat membaca! 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 Komentar

  1. Saya agak risih soal petasan. Bikin jantungan dan baunya itu nggak enak. Hahaha. Semuanya nyaris dilakukan pula di kampungku, cuma jalan2 pagi nya disebut nyubuh kalau di sini. Soal musik itu di kampung palingan rampak gendang or bedug, untuknya beraturan jadi nggak bikin pusing haha