Menjelajah Goa Pindul, Candi Ratu Boko dan Lava Tour ke Merapi

Goa Pindul
Goa Pindul

Males banget tho lihat judulnya? Hawong pakai pesawat, pakai Bus dan lain-lain kok dibilang menjelajah. Nggak apa-apa hawong orang Jakarta kan menjelajahnya begini. Jangan bandingkan dengan Ibu-Ibu Kendeng yang memperjuangkan nasibnya sampai ke Jakarta dengan modal seadanya.

Bulan lalu, lagi-lagi saya diberikan Surat Tugas untuk melakukan Employee Gathering dan kali ini ke Jogja. Sebenarnya saya sudah lama kangen sama suasana Jogja. Apalagi saya penggemar berat Mas Marzuki Mohamad a.k.a Kill The DJ, khususnya lagu yang berjudul Song of Sabdatama. Duh itu Sabda merasuk dan menenangkan jiwa tsaahhh.

Alih-alih meresapi makna Sabdatama pas di Bus selama di Jogja bukan Song of Sabdatama yang diputar malah kami semua menikmati alunan nan merdu suara Mbak Nella Kharisma. Hajigur betul memang. Tapi ndak apa tetap masih dalam koridor karena lagu-lagu Mbak Nella ini banyak yang ditulis oleh Seniman Jogja : NDX Aka.

Baik saya dan kawan-kawan seperjuangan di kantor mendarat dengan senang di Adi Sumarmo. Udah ndak usah protes kenapa kok di Adi Sumarmo. Setelah itu di parkiran sudah ada Bus berwarna cokelat dengan gembira menunggu saya. Setelah nunggu Ibu-ibu milenial -Penyelamat ekonomi Bapak-bapak tukang foto- berfoto ria, kami semua satu persatu menginjakkan kaki di Bus itu.

Mas-Masnya yang belakangan saya tahu namanya Mas Fajar mulai pegang Mic, kirain mau ngerap atau bahkan mau nyanyi Kimcil Kepolen, ternyata beliau pengen memperkenalkan diri. Dia mendaku sebagai Mas Fajar, pemuda harapan bangsa asli Gunung Kidul.

Gua Pindul

Gua Pindul
Gua Pindul

Gua Pindul nan menawan itu sudah berada di depan mata. Sepanjang jalan pohon-pohon jati, vegetasi khas pegunung kapur membentang. Mirip dengan suasana pegunungan kapur di tempat asal saya : Tuban. Setelah parkir, memandang ke arah pukul setengah 6 kok ada pentol bakar. Ya udah njajan pentol dulu, 10ribu dapet 4 tusuk pentol bakar.

Lanjut Sholat Dhuhur, ternyata sudah waktunya. Lepas Dhuhur sekaligus Ashar, saya mengganti pakaian saya, siap basah-basahan, lanjut gunakan Jaket Pelampung. Di Gua Pindul walaupun mendaku sebagai perenang handal tetap harus gunakan Jaket Pelampung. Udah patuhin aja, ingat hargai kearifan lokal jangan sok-sokan.

Kemudian saya diajak jalan kaki menyusuri bangunan Dam. Tahu Dam? Itu bahasa belandanya bendungan, di Tuban sana ratusan dam dibangun untuk pengairan sawah, mungkin di Gunung Kidul pun sama tujuannya. Saya jalan kaki sambil bawa Ban yang besar itu. Konon Ban itu mampu membawa beban 400 Kg, jadi jangan takut tenggelam.

Saya dan kawan-kawan diajak menceburkan Ban, kemudian saya disuruh melompat ke dalam ban. Kebetulan saya yang paling depan. Jadi tekniknya Ban saya ditarik petugas wisatanya, saya menarik kawan saya, kawan saya narik kawan selanjutnya, jadi kaya kereta-keretaan gitu. Dulinan gitu tok, mbayar! Hehehe. Tenang nggak cuma gitu kok, dan kamu ndak bakal rugi bayar.

Masuk di bibir Gua pemandu wisatanya mulai menjelaskan tentang Gua. Pertama tentu teori tentang stalaktit dan stalakmit yang tumbuh di dalam Gua. Padahal dari kecil saya sudah blusukan di Gua, maklum tinggal di Kota Seribu Gua, hakok saya dikasih teori tentang perGuaan. Duh Mas salah sasaran. Tsaaahh. Semakin masuk semakin gelap, senter dinyalakan suasana dingin mulai menyergap.

Mas Pemandunya tidak kunjung memperkenalkan diri, sampai dimulut gua terakhir pun saya ndak tahu namanya. Saya sebut Pemandu aja ya selanjutnya. Pemandunya menjelaskan tentang penghuni Gua diantaranya Kelelawar yang tinggal di dalam Gua lengkap dengan jadwal bobok dan konsumsi sang kelelawar. Dilanjut dengan makhluk bawah air seperti ikan lele dan lain-lain, dipungkasi dengan penjelasan mengenai kedalaman air di Gua yang mencapai belasan meter dari permukaan.

Tidak terasa sudah semakin mendekati pintu keluar, oiya ada batu-batu yang konon memiliki khasiat menurut pemandunya, yang saya ingat cuma batu perkasa aja. Hahaha. Ada spot terakhir sebelum keluar yang bagus banget buat foto, ada lubang di atap Gua yang keren banget kaya cahaya apa gitu. Saya lupa namanya. Banyak yang foto-foto disitu sambil loncat-loncat ke air, jangan lupa tetap gunakan Jaket pelampung, ya.

Setelah kurang lebih 15 sampai 30 menit berada di dalam Gua, saya keluar. Di luar Gua masih bisa renang-renang. Airnya mantab jaya segernya, khas mata air dari batu cadas. Anugerah gini kok mau dipaksa dihilangkan dengan penambangan batu-batu cadas tak beraturan itu. Udah ayok naik, bannya ditinggal saja, sudah ada yang angkatin kok. Bilas lalu ganti baju.

Habis ganti baju, ada pengumuman makan siang. Duh ini yang tak tunggu-tunggu. Makanan yang disediakan prasmanan. Jangan dikira kaya di mantenan, ya. Prasmanannya ini masakannya khas daerah setempat. Menunya Nasi, sambel trancam dan lain-lain. Uenak Bos!

Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko

Lhoh udah di Candi Ratu Boko aja. Saya sudah bisik-bisik ke kawan-kawan “Candi Boko itu yang keren cuma gerbangnya saja, tapi untuk orang yang belum tahu. Kalau mau lebih tahu di belakang gerbang itu banyak situs-situs yang keren, jadi jangan cuma selfie yuk serap auranya bayangkan kita berada di zaman itu. Tsaaahhh”. Mereka angguk-angguk, alih-alih mengerti sepertinya mereka mbatin “kesambet opo tho, Mas?”.

Turun dari parkiran jalan menuju ke Candi Boko, jangan lupa noleh ke kiri ya. Akan tampak Candi Prambanan yang agung itu. Konon Candi Prambanan itu menggambarkan wanita yang agung yang tidak mudah ditaklukkan. Boleh foto tapi hambok ojo sering-sering, sekali-kali kita serap udara segarnya dan bau-bau sari tanah yang khas itu. Beberapa lama sampailah di gerbang yang ngehit buat milenial bikin foto pra-wedding.

Seperti saya duga sebelumnya, kawan-kawan kalap foto-foto dan sepertinya ndak ada puasnya. Saya seperti biasa mencari suasana yang pas untuk menyerap aura tempat yang dikunjungi. saya menuju ke arah belakang candi ada keputren dan bekas bangunan keraton yang tinggal pondasi. Saya menuju ke belakang lagi dan ada kubangan seperti tempat penampungan air. Nah ini teknologi bagus yang belum saya temukan di tempat asal saya walaupun alamnya mirip.

Kubangan ini dibuat diatas batu cadas yang keras itu untuk menampung air hujan, dan digunakan untuk keperluan sehari-hari. Saya jadi mikir kok di tempat saya ndak kepikiran, ya? Selesai dari situ saya menuju ke arah utara menuju Goa yang relatif sempit, ndak tahu apa fungsi dan namanya. Selesai dari Goa saya turun dan bergabung ke gerbang Candi Ratu Boko yang dalam beberapa tulisan disebutkan sebagai peninggalan Ratu Bilqis.

Sampai di gerbang, ternyata aktivitas foto-foto belum juga menemui titik akhirnya. Mereka malah semakin menjadi, karena matahari terbenam yang menjadi primadona pemandangan di tempat ini sedang cantik-cantiknya. Pengunjung yang awalnya menyebar menjadi satu berkumpul di depan pintu gerbang. Udah mirip orang-orang yang antri diskonan sepatu yang ngehit beberapa waktu lalu, walaupun ini lebih positif karena ndak pakai njebol pintu.

Dingin malam sudah mulai menyergap di seluruh tubuh. Ah Ayo pulang saja kembali ke Bus. Kata Mas Fajar, mau diajak makan di Bukit Bintang. Entah tempat apa itu, yang jelas namanya sih milenial banget. Paling ya ndak jauh-jauh dari tempat makan yang bagus pemandangannya, demi mengenyangkan syahwat instagram yang sudah kering beberapa waktu terakhir ini.

Lava Tour

Lava Tour
Lava Tour

Lho, sudah hari kedua saja. Terus kemarin makan malam di Bukit Bintangnya ndak diceritain? Udahlah ya kurang seru itu. Sebenarnya ada yang seru, pas saya di sana ternyata sedang ada perayaan Topo Bisu, katanya keren. Tapi sayang badan saya sudah berasa berat, ngantuk Mas Bro! Pagi ini saya mau dibawa ke Merapi, naik Jeep napak tilas erupsi gunung merapi yang dahsyat pada tahun 2010 lalu.

Beberapa lama di dalam Bis, saya sampai di BaseCamp Jeep yang membawa saya dan kawan-kawan ke atas Merapi. Saya masuk jeep, sengaja memilih bersama kawan-kawan yang rada-rada, hehehe. Kalau deket Bos bisa mati gaya ndak bisa bebas berekspresi. Jeep mulai berjalan dan memasuki jalur off road, mirip jalanan di desa saya beberapa dekade lalu. Saya iseng tanya “Pak kok ndak protes sama Pemda supaya jalannya diaspal biar alus” Hahaha.

Lihat alam Merapi berasa meresapi Sabdatama yang saya bilang di awal tulisan ini. Merapi nglingake marang ing gusti, segoro ngilingake kudu ngidak bumi. Begitu kira-kira lirik Song Of Sabdatama yang dilantunkan Mas Marzuki Mohamad dan kawan-kawan. Debu-debu merapi mulai bertebaran kadang-kadang menghalangi pandangan, tapi driver jeepnya sepertinya udah hafal jadi ndak usah takut. Debunya beda kok ndak bikin emosi kaya debu di kota besar.

Drivernya sesekali iseng ngebut mendadak, soalnya tak godain “Ngene tok, Pak? Tak kiro lak serem offroad iku” Hehehe. Semakin ke atas udara dingin khas pegunungan mulai menyelimuti badan, yang awalnya kuat teriak-teriak sepertinya harus dikurangi teriaknya. Beberapa saat kemudian Jeep parkir di rumah tua yang seperti hancur karena erupsi 2010 lalu. Saya dipersilakan masuk ke mini museum ini.

Rangka Sepeda
Sumber : IG @kangrudi

Di sekitar rumah banyak debu, jadi saya sarankan tetap pakai masker ya. Debu ini juga menggambarkan betapa tidak berdayanya manusia dihadapan Allah SWT, sekali dikasih lahar panas muntah langsung habis satu desa. Rumah ini adalah salah satu yang tersisa, konon rumah ini milik salah seorang karyawan di salah satu hotel Jogja. Dia berinisiatif membuat mini museum untuk mengenang peristiwa yang ngeri itu atau orang Jawa bilang “Nggegirisi” artinya sebuah peristiwa yang sangat mengerikan.

Saya masuk ke dalam melalui dapur, arsitektur dapurnya seperti di rumah saya di desa dulu. Ada satu dipan yang digunakan untuk menyimpan perabotan seperti dandang, panci dan lain-lain. Kemudian di sudut lain ada satu set meja makan yang diatasnya ada perabotan makan. Kemudian yang paling khas di sudut ada jedingan atau tempat penampungan air bersih. Dan yang mengerikannya semua peralatan itu ada disitu masih utuh tapi sudah berubah bentuk karena leleh terkena panasnya wedus gembel yang menghantam perkampungan ini.

Banyak peralatan rumah lainnya yang juga terkena imbas, seperti beberapa unit motor yang tinggal rangkanya. Hanya rangka saja yang masih kuat menahan terjangan awan panas. Masuk ke ruang tamu ada jam yang berhenti tepat pada peristiwa turunnya dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya di desa ini. Duh Gusti saya ndak sanggup membayangkan betapa paniknya saat awan panas dengan suhu tinggi dan kecepatan ndak kalah tinggi menerjang desa ini.

Sambil masih merasa ngeri membayangkan bencana, saya diajak kembali ke mobil Jeep. Mobil kembali digeber maksimal karena jalan semakin menanjak dan dipenuhi batu dan pasir. Sampailah saya di Batu Alien. Ada batu besar yang terlontar dari puncak merapi. Batu tersebut seperti ada gambar wajahnya, tapi saya ndak berhasil melihatnya. Sepertinya daya imajinasi saya berada dititik terendah, hehe.

Di sudut lain disuguhi kali, entah apa nama kalinya saya lupa. Kali ini adalah lintasan material muntahan erupsi tahun 2010. Kali itu dipenuhi pasir yang konon berkualitas tinggi sekaligus bernilai ekonomi. Tidak heran banyak truk-truk besar yang berlalu lalang menambang pasir.

Saya dipanggil lagi sama driver Jeepnya. Badan saya berasa agak lemas sebenarnya, tapi rasa penasaran saya bencana erupsi 2010 semakin menggebu-nggebu. Apalagi Drivernya bilang tujuan kita terakhir adalah Bunker yang menelan korban saat erupsi tahun 2006. Jalanan menuju Bunker ya sama dengan sebelumnya, menanjak. Dinginnya sudah semakin menggigit. Beberpa saat kemudian saya sampai di depan pintu bunker.

Saya masuk diantar sama driver Jeep. Pintu bunker ini terbuat dari besi yang sangat tebal, struktur bangunannya pun sangat kokoh. Masuk ke dalam aroma seram langsung menyergap. Saya tidak mampu lagi menyembunyikan ketakutan, bulu kuduk saya bergidik. Bukan takut hantu, tapi saya membayangkan betapa mengerikannya meregang nyawa di dalam bunker yang diselimuti lahar pijar yang suhunya luar biasa panas.

Sayapun kembali sadar bahwa kita tidak ada artinya apa-apa di hadapan yang maha kuasa. Di dalam Bunker terdapat batu besar, yang konon berasal dari aliran lahar panas yang membeku. Kemudian ada kamar mandi dan ruang logistik. Menurut cerita korban meninggal berada di kamar mandi dan di dalam kamar logistik. Duh Gusti. Saya tidak sanggup berlama-lama di dalam bunker, sayapun keluar dan bersiap turun.

Selama turun dari merapi, saya teringat lirik lagu Song Of Sabdatama yang menyatakan bahwa Merapi ngilingake kudu ngidak bumi. Artinya kita boleh sombong, sebesar-besarnya manusia toh tunduk dan bertekuk lutut saat merapi mengamuk atas kehendak Allah.

Liburan saya berakhir dan saya naik pesawat sambil mendengarkan Jogja Istimewa yang sudah dicover drumnya sama Mas Ari Endank Soekamti. Jogja tetap Istimewa.

Mau Tempat Keren di Daerahmu Jadi Tujuan Wisata? Yuk Belajar dari Gunung Kidul

Gua Pindul
Gua Pindul

Pariwisata adalah sektor paling menyedot perhatian dalam kurun lima tahun terakhir. Ini tidak lepas dari meningkatnya tren travelling diantara generasi milenial. Saya kemarin berkesempatan ke Gua Pindul di Gunung Kidul. Saya di sana sangat beruntung, karena selain menikmati alamnya yang luar biasa juga dipertemukan dengan Mas Fajar, salah satu jasa travel di sana.

Saya dijemput Mas Fajar di Bandara Internasional Adi Sumarmo, Ha iki piye mau ke Jogja kok malah landing di Solo. Nyari tiket murah, Mas. Di Bus Mas Fajar cerita tentang wisata di Jogja dan Gunung Kidul khususnya. Tidak heran, soalnya menurut pengakuan pemuda beristri satu dan beranak dua ini adalah asli Gunung Kidul.

Mas Fajar cerita tentang perkembangan pariwisata Gunung Kidul yang sedang naik pesat. Bisa dilihat dari angka kunjungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu juga berkembangnya jumlah destinasi wisata yang berada di sana. Kemudian Saya penasaran kenapa Gunung Kidul bisa berkembang sedemikian cepat dengan kondisi alam yang nggak jauh-jauh amat bedanya dengan tempat asal saya di Tuban sana.

Sepertinya Mas Fajar sudah tahu rasa penasaran saya, soalnya sebelum saya tanya dia udah cerita. Pertama soal kebosanan traveller ke tempat wisata buatan, misalnya kolam renang, dunia fantasi, mall dan lain-lain. Ini turut membantu Gunung Kidul yang memiliki alam yang unik mendapatkan perhatian sebagai alternatif liburan.

Kedua adanya kesadaran Pemerintah. Kesadaran di sini maksudnya adalah semua sektor pariwisata tidak serta merta dikelola seluruhnya oleh Pemerintah. Pemerintah tidak menjadi pengelola langsung tempat wisata, Pemerintah hanya memungut retrebusi. Kemudian pengelolanya diserahkan 100% kepada warga desa, sehingga warga desa semangat memoles desanya menjadi daerah wisata.

Di Gunung Kidul ada yang namanya Pokdarwis. Apa itu Pokdarwis? Menurut Mas Fajar ya semacam wadah warga desa yang menjadi pengelola wisata di desanya. Mereka-mereka ini yang secara aktif mempromosikan dan mengelola tempat wisata di Gunung Kidul, dan secara tidak langsung inilah ekonomi gotong royong dari rakyat untuk rakyat. Anugerah alam disyukuri dengan cara dikelola sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat setempat.

Faktor ketiga adalah adanya dana desa. Mas Fajar mengungkapkan Dana Desa sangat membantu membiayai infrastruktur desa, sehingga dapat membantu memberikan akses yang baik ke tempat wisata yang dituju. Gimana dana desa di tempatmu buat apa? Mari kritis.

Terakhir adalah Media Sosial yang dimanfaatkan dengan baik oleh pengelola wisata untuk mempromosikan tempat wisata di desa. Kalau kamu lihat promosi Gua Pindul sangat masif dari satu akun ke akun yang lain lalu viral dan Booommm!

Alam yang baik, pengelolaan dana yang transparan, ketidakrakusan pemerintah yang memonopoli pengelolaan dan masifnya promosi menjadi ramuan yang jitu untuk meningkatkan pariwisata Gunung Kidul. Kalau kamu mau desamu memiliki tempat wisata yang keren mari belajar dari Mas Fajar pemuda Gunung Kidul ini.

Hasil akhirnya pariwisata Gunung Kidul melesat dan mampu mensejahterakan masyarakatnya. Alam lestari, masyarakat sejahtera dan pemerintah mendapatkan PAD yang tidak sedikit. Sekedar bocoran pariwisata juga mampu menekan angka urbanisasi dari Kabupaten Gunung Kidul dan yang jelas pemudanya udah ndak malu punya motor berplat Gunung Kidul.

Saya pribadi berharap setelah postingan ini, tidak ada lagi postingan di facebook yang bilang “Ini tempat keren, harusnya pihak yang berwenang mengelola”. Mari kita kelola lingkungan kita dan jangan hanya mengandalkan pemerintah.

Ke Solo via Terminal 3 Soekarno-Hatta

Suasana Terminal 3 Sooekarno-Hatta
Suasana Terminal 3 Sooekarno-Hatta

Sehari jelang hari kemerdekaan saya dapat surat perintah perjalanan dinas yang ditandatangani manajer saya. Pagi-pagi saya siap-siap karena saya pakai penerbangan garuda pukul 5.35 pagi jadinya saya harus lebih pagi ketimbang ke Banyuwangi dulu.

Sama seperti saat ke Banyuwangi dulu, saya ke Bandara Soekarno-Hatta via Terminal Kayuringin dengan menumpang bis kebanggaan penumpang pesawat, Damri. Pengennya naik yang jam 3 pagi ternyata pas sampai, ternyata udah penuh. Saya tanya selanjutnya jam berapa, katanya jam 3.30 baru ada lagi. Yawes terpaksa nunggu.

Setelah nunggu beberapa saat saya naik ke Bis Damri berikutnya. Saran saya ketika ada Bis langsung naik aja walaupun jadwal berangkatnya masih lama soalnya suka penuh. Setelah 30 menit di dalam Bis, akhirnya bis berangkat dengan seksama dan penuh semangat.

Satu jam diperjalanan, saya ketiduran. Tau-tau Mas kernetnya Bis Damri teriak-teriak “Terminal 3, Terminal 3 Garuda”. Saya bangun sambil ngucek-ngucek mata langsung bangun dari kursi dan turun ke Zona Drop Off Terminal 3 Soekarno-Hatta.

Pas turun bingung! Hiya lhooo… Masuknya lewat mana? Kok nggak petugas yang suka periksa-periksa tiket itu. Lihat kanan-kiri semua berjalan dalam diam, sepertinya saking luasnya terminal ini, sehingga pembicaraan orang-orang yang lalu lalang tidak terdengar.

Saya putuskan masuk melalui sebuah pintu. “Ah kalau salah pasti ada yang negor, PD aja hawong bayar ini” batin saya. Pas sudah masuk di Terminalnya dibuat bingung lagi. Tempat cetak boarding pass dimana? Saya sudah check in via web dan memilih opsi cetak di loket Bandara.

Clingak-clinguk ternyata ada mesin seperti mesin CTM, itu Cetak Tiket Mandiri milik Kereta Api Indonesia. “Ah paling ini ni tempat buat cetak boarding passnya” batin saya. Kok saya jadi sering mbatin, ya? Lha gimana bingung baru pertama masuk terminal 3 yang wow itu.

Dengan disertai perasaan ragu saya menuju ke mesin itu. Saya sentuh dan langsung diminta memasukkan kode booking. Aha ternyata emang persis seperti Kereta Api. Ini siapa yang mencontoh siapa nih? Tapi ndak apa sangat membantu. Setelah selesai cetak boarding pass, kita siapkan Kartu Identitas seperti KTP/ SIM atau Paspor, yang terakhir saya belum punya, Fyi aja.

Boarding Pass sudah ditangan, sekarang saatnya menuju ke ruang tunggu. Perhatikan plangnya ya. Soalnya di terminal 3 ini luas, petugasnya jarang, tapi informasinya lengkap kok. Kalau mau ke penerbangan domestik ya ikuti plang domestik jangan yang ke internesyenel. Dalam perjalanan ke ruang tunggu, sepertinya waktu Shubuh untuk Cengkareng dan sekitarnya sudah tiba. Yuk cari Mushola dan shubuhan dulu, jangan lupa Qunut. Kalau lupa yo ndak apa hawong sunnah.

Beberapa saat nunggu di ruang tunggu. Sudah ada panggilan boarding ke pesawat dengan waktu yang sama persis dengan waktu yang tertera di boarding pass. Beda memang sama maskapai merah plat hitam. Terakhir ya terbang ke Solo. Sampai di pesawat pakai safety belt dan tidur. Beneran tidur. Saya baru kali ini tidur selama penerbangan bangun-bangun pas landing di Adi Sumarmo Solo.

Yuk ke Pantai Pulau Merah Banyuwangi

Pantai Pulau Merah Banyuwangi
Pantai Pulau Merah Banyuwangi

Menempuh penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta yang sebelumnya didahului dengan drama dari Bekasi ke Bandara Soeta akhirnya saya menjejakkan kaki di tanah Banyuwangi. Daerah yang dikomandoi Pak Abdullah Azwar Anas ini memang memang keren. Bandaranya saja sudah enak dinikmati. Hawanya juga masih segar, saya saat itu landing jam 09.00 WIB, udaranya paginya Masya Allah enaknya.

Lepas dari Bandara saya diantar Pak Supir ke tempat sarapan. Sarapan saya unik, nanti saya tulis deh di Blog ini juga soal kuliner Banyuwangi yang sempat saya cicipi. Setelah itu saya menghadiri resepsi pernikahan sahabat saya sampai jam 13.00 WIB.

Bingung mau ngapain, saya tanya ke rekan saya yang sepertinya lebih paham sama pariwisata Banyuwangi. Dia ngajaknya ke Pantai Pulau Merah. Hayuk berangkat, kebetulan udah lama nggak ke pantai. Terakhir ya waktu ke Pulau Pari awal tahun lalu. Perjalanan ke Pantai Pulau Merah kurang lebih 1,5 jam dari Pusat Kota Banyuwangi.

Dengan masih menggunakan batik perjalanan panjang ke Pantai Pulau Merah pun dimulai. Sepanjang jalan rumah-rumah warga berjajar rapih, jalanan juga bersih. Kota ini emang niat banget mau jadi tempat utama kunjungan wisata. Kemudian Pak Sopir tiba-tiba menghentikan mobilnya dan bilang bahwa beliau laper mau makan. Saya iyain aja, tapi pas turun ternyata warungnya keren di tengah hutan jati gitu, nama warungnya warung karetan, karena memang ini daerah namanya karetan.

Warung Karetan Banyuwangi
Warung Karetan Banyuwangi

Selesai makan kami lanjutkan perjalanan. Pemandangan sedikit berubah. Banyak rumah yang pekarangannya ditanami buah naga. Ada yang dirambatkan ke beton-beton yang sengaja dibuat untuk menahan beban pohon buah naga. Ada juga yang dirambatkan ke pohon-pohon randu dan pohon jaranan yang diajar sedemikian rupa hingga rapih. Dengan pemandangan seperti itu, saya jadi tertarik untuk membeli buah naga sebagai oleh-oleh.

Lanjut katanya sebentar lagi sudah sampai, dan ternyata benar sebentar sudah sampai. Ah keren pasti ini. Masuk bayar 8ribu per orang, mobilnya sama sepertinya 8 ribu per mobil. Masuk dan benar ternyata keren banget.

Ombak besar khas samudera hindia dan tebing-tebing yang menghiasi sekitar pantai. Mungkin akibat kerasnya benturan ombak dan tepi pantai sehingga menghasilkan tebing-tebing seperti itu. Tapi pantai tempat wisatanya landai kok, mungkin karena ombaknya terpecah sama pulau-pulau kecil di sebrang pantai.

Terus saya tolah-toleh mana pulaunya yang warna merah itu. Ternyata ada disebrang pas. Tanahnya emang agak kemerah-merahan. Jika sedang surut pengunjung bisa menyebrang dengan berjalan kaki. Tapi pas saya sampai sana sedang pasang. Airnya tinggi dan ombaknya pun besar, jadi mendingan diurungkan niat untuk menyebrang.

Tidak hanya pulaunya yang bertanah kemerah-merahan di pantai pun pasirnya kemerahan juga. Pantainya bersih, pasirnya lembut. Pas lihat ombaknya berwarna agak keruh saya kira pantainya akan dipenuhi lumpur. Tapi ternyata itu adalah pasir.

Banyak anak kecil yang membuat istana-istana pasir, kemudian ada tempat untuk berjemur juga. Oiya di sini banyak juga wisatawan asingnya lhoh, jadi ndak kalah sama Bali.

Anak asyik main di pantai pulau merah
Anak asyik main di pantai pulau merah

Wisatawan asing di sana rata-rata menggunakan pantai pulau merah untuk aktivitas surfing atau berselancar. Ombaknya cukup sih sebenarnya untuk surfing. Wisatawan lokalnya ngapain? Ya ngapain lagi kalau nggak selfie-selfie ria. Hawong ke pantai juga pakaiannya gitu, lengkap gitu kaya mau ke mall. Hehehe. Tapi ndak apa yang penting cintailah pantai dan jagalah kebersihannya.

Saya juga sama, saya cuma foto-foto untuk bahan nulis blog ini. Jalan-jalan di sepanjang pantai pulau merah ini enak. Anginnya enak, pemandangannya enak. Jadi nggak berasa udah jauh aja dari tempat semula.

Saya duduk di samping perahu-perahu nelayan yang terparkir mengingatkan saya sama kampong halaman. Aaahhhh rasanya ndak pengen beranjak dari tempat ini. Tapi waktu sudah semakin sore, saya harus kembali ke hotel dan beristirahat karena besok pagi-pagi saya gunakan flight pertama dari Blimbing Sari. Selesai sudah liburan saya ke Banyuwangi.

Dari Bekasi ke Bandara Soekarno-Hatta

Suasana Bus Damri Bekasi – Soekarno-Hatta

Pagi-pagi buta hari Minggu kemarin saya sudah bangun tepatnya jam 03.00 WIB. Di rumah kecil di sudut Bekasi saya sudah memulai aktivitas dengan mandi pagi. Ini bukan mandi besar, hehehe. Saya mau siap-siap ke Bandara. Setelah sekian lama meninggalkan rutinitas ke Bandara, pagi ini saya agak kagok.

Saya ke Bandara mau menghadiri pernikahan sahabat kentel saya yang justru beda pandangan, seluruhnya berbeda sih. Dari pilihan politik sampai istri. Kalau yang terakhir ya emang harus beda masak sama? 😀 Pernikahan sahabat saya digelar di Banyuwangi, daerah tapal kuda yang jauhnya Masya Allah itu.

Kembali lagi ke masalah kagok tadi. Sebabnya karena saya sekarang tinggal di Bekasi. Kota yang tempo hari dibully habis di medsos itu kini menjadi tempat saya beristirahat setelah lelah mencari nafkah, tsaah..!

Sebenarnya kagoknya bukan karena tinggal di Bekasi, kagoknya karena saya belum pernah menempuh perjalanan ke Bandara Soekarno Hatta dari Bekasi, kalau dari Petamburan sering. Duh jadi kangen sama Petamburan. Kangennya sama Petamburannya lho ya bukan sama ormasnya.

Awalnya saya mau mengandalkan taksi online, tapi saya takut nggak dapet dan mahal pasti. Mengingat tempat tinggal saya di sudut Bekasi. Kalau wilayah Bekasi yang lain sih saya yakin banyak taksi online jam berapapun. Jadilah saya tanya kesana kemari, kira-kira angkutan apa yang bisa membawa saya ke Bandara Soeta.

Jawabannya banyak yang menyarankan untuk ke Terminal Bus Damri yang ada di Kayuringin sebelahnya Mall Cyber Park itu. Ah benar juga, lalu saya browsing tentang tarifnya. Pas sekali hanya 45ribu sesuai dugaan saya. Yawes semakin mantab.

Pagi-pagi yang masih buta kecuali lampu dinyalakan ya udah ilang deh butanya. Sudah siap di depan rumah untuk nunggu Tukang Ojek Online. Kalau Ojek Online banyak di sekitaran rumah saya, mau jam berapapun juga ada.

Kebiasaan saya setelah saya pesan ojek, saya melanjutkan aktivitas persiapan. Misalnya nyisir rambut, tsaah, atau yang lainnya. Pas persiapan selesai saya lihat henpon ternyata ada pesan dari tukang ojek. Begini kira-kira “Pak serius pesannya?” Lha ya saya jawab seriuslah dengan tanduk yang sudah mulai numbuh di kepala. Setelah saya jawab begitu untungnya Tukang ojeknya langsung berangkat.

Nunggu lagi deh, pas dateng dia minta maaf nanya-nanya seperti itu. Ternyata dia pernah dapet order fiktif. Duh untuk orang-orang yang suka order fiktif coba deh mikir, gimana nasibnya bapak-bapak ini. Saya jadi terharu, dan tanduk saya yang sempat numbuh sekarang dah ilang.

Perjalanan ke Kayuringin dimulai, beberapa saat sampai di terminal Kayuringin dan di sana sudah menunggu Bus-bus Damri yang akan mengantarkan ke Bandara. Ada Bandara Halim Perdanakusuma ada juga yang ke Soekarno-Hatta. Tinggal tanya saja petugas di sana.

Setelah tengok kanan kiri, akhirnya saya naik bisnya. Beberapa saat kemudian berangkat. Saya berangkat sekitar jam 4. Bus berjalan lancar tanpa hambatan. Tidak sampai 1 jam saya sudah di Terminal 2F. Cepet kan? Padahal saya pikir bakal lama.

Setelah itu ya menikmati penerbangan ke Banyuwangi kota yang sedang ngehits itu. Nantikan tulisan saya soal tempat yang saya kunjungi ketika di Banyuwangi ya. Pantengin terus daftar isi blog ini, ya.

Liburan ke Kepulauan Seribu, Yuk ke Pulau Pari

Tempat Me Time Saya di Pantai Perawan
Tempat Me Time Saya di Pantai Perawan

Beberapa waktu terakhir saya memang pengen nyantai di pantai, kebetulan ada ajakan untuk ke Pantai Perawan di Pulau Pari. Tepatnya bukan ajakan sih, tapi keharusan. Hawong ini acara gathering kantor. Gathering kantor saya kali ini agak berbeda dengan acara gathering pada umumnya yang menggunakan jasa EO kemudian diisi dengan berbagai kegiatan outbond yang terencana dan penuh makna, tsaaaah. Gathering kantor saya kali ini pake konsep travelling.

Jadi ya udah panitia cuma nyediain transportasi, konsumsi dan tiket untuk nyantai di pantai. Saya berangkat dari Marina untuk menuju ke Pulau Pari. Pakai kapal boat yang keren jaya itu. Dari Marina Saya naik kapal yang nomor 2, kebetulan kantor saya pakai 3 kapal. Kapal umum sih, cuma karena hari Jumat jadinya ya endak banyak penumpang umum yang ikut.

Saya sebenernya pengen naik diatas biar keren, tapi penuh. Yawes akhirnya dibawah saja. Kalau dibawah kurang leluasa mandangin laut. Tapi ya ndak apa-apa yang penting keangkut. Kapal perlahan berlayar meninggalkan dermaga. Awalnya pelan-pelan terus mulai ngegas mesin kapalnya. Sampailah di tengah laut. Duh jadi kangen banget sama laut. Ombaknya, angin kencangnya yang kadang bercampur garam dan pasir, duh.

Setelah berlayar sekitar 1 jam, kapal merapat ke dermaga Pulau Pari. Pas turun, Ya Allah keren banget ini pulau. Keren karena saking kangennya saya sama laut sih sebenernya. Saya turun dari kapal, lalu jalan sesuai petunjuk dari panitia. Saya menuju pantai perawan. Agak jauh sih jalannya, kata orang-orang warga pulau, jarak antara dermaga dan pantai perawan sekitar 1 KM. Lumayan kalau jalan kaki. Tapi tenang pemandangan pulau gak bakal bikin Kamu capek.

Berjalan santai sambil kadang ngobrol dengan beberapa temen kantor, yang justru ketika di kantor jarang ngobrol. Hawong beda lantai dan pada sibuk. Enggak berasa udah ada tulisan selamat datang di pantai perawan. Pas masuk gerbang. Masya Allah ini tempat luar biasa. Pantai pasir yang putih, lembut, ditambah air laut yang bening. Kemudian ada gasebo-gasebo dan ada kaya semacam pulau gitu yang kalau pasang tenggelem.

Terus enaknya, sama panitia udah disediain kelapa muda. Jadilah saya mlipir bawa satu butir kelapa siap santap itu ke pinggir pantai. Rasanya mantab. Menikmati sedotan kelapa muda ditemani pemandangan yang keren jaya. Selepas itu Saya langsung dikasih kupon sama panitia. Kupon ini untuk permainan Snorkeling dan Banana Boat. Tapi saya masih pengen menikmati me time di pinggir pantai ini. Sambil liatin temen-temen yang mulai main kano.

Tempat Main Kano
Tempat Main Kano

Puas me time, saya ikut orang-orang yang mau Snorkeling. Saya ganti baju dulu, pake celana pendek supaya lebih leluasa bergerak. Kata Guidenya, untuk snorkeling harus kembali ke dermaga lagi. Karena harus nyari spot yang bagus. Sampai di dermaga, saya diarahkan untuk memakai kaca mata dan snorkel. Gunanya untuk melindungi mata dan membantu pernapasan saat berada di dalam laut, walaupun dangkal, sih. Selain itu diarahkan untuk menggunakan pelampung.

Semua sudah saya pakai, tapi kok rasanya masih kurang. Ternyata saya ndak dikasih kaki katak. Saya tanya ke Mas Snorkelingnya, “Mas kok ndak dikasih kaki katak?” terus Masnya njawab “Sekarang hanya guidenya yang boleh, Pak” Duh saya dipanggil Pak. Kemudian belum puas saya tanya lagi “Kan aman Pak kalau pakai kaki katak?”. Si Masnya jawab lagi “Kaki Bapak aman, tapi karangnya yang enggak aman, kalau pakai kaki katak, Bapak akan dengan mudah menginjak karang dan akan merusaknya” Terang Masnya dengan panjang. Iya benar juga.

Ya sudah hajar aja walopun tanpa kaki katak. Kapal yang membawa saya dan rekan-rekan lain pun merapat ke dermaga, saya naik ke kapal yang cukup besar. Setelah itu kapal mulai perlahan meninggalkan dermaga. Kapal terus bergerak di tengah ombak yang agak tinggi. Semakin lama kok ombaknya kok semakin tinggi. Perasaan saya udah mulai nggak enak “Wah kayanya akan nggak seru neh snorkelingnya” Batin saya. Tiba-tiba kapal berhenti kemudian mulai lempar sauh ke laut. “Nah ini saatnya…” Pikir saya.

Mas snorkelingnya bilang “Ayo kita turun di sini, tapi hati-hati ombak besar”. Saya yang sudah pernah snorkling pun dengan mantab loncat ke laut, Byurrrr….. Dan Mak jegagig itu air laut asin banget. Hahahaha. Yaiyalah hawong air laut. Kemudian saya mencoba berenang. Lho kok semakin menjauh. Haduh…. efek ombak besar sama nggak pakai kata katak ini. Jadi ndak bisa cepet renangnya kalah sama ombak. Dengan susah payah akhirnya saya putuskan kembali lagi ke kapal.

Ketika sampai atas kapal lihat temen-temen yang lain baru pada nyebur. Ah saya kayanya harus nyebur lagi. Sekali lagi saya nyebur dan tetap saya nggak bisa ngimbangi ombaknya. Beberapa temen sudah mulai keliatan kecapekan dan kembali ke kapal. Sayapun akhirnya menyerah dan kembali ke dalam kapal. Yah inilah akhir snorkeling saya. Walaupun kurang memuaskan karena pas ombaknya besar. Kalau pas tenang sih keren banget, soalnya saya pernah sebelumnya.

Saya dan rombongan kembali ke kapal dan menuju ke dermaga. Setelah nyampe bandara kami melaksanakan Sholat Jumat, di pulau ini terdapat masjid yang besar untuk ibadah. Jadi jangan khawatir. Setelah selesai Sholat Jumat, saya makan siang. Menunya Rajungan dan Ikan Bakar. Duh jadi inget kampung halaman kalau ketemu rajungan. Selesai itu saya kembali me time. Tepatnya sih ngelamun di pinggir pantai. Lha gimana punya temen tiga yang satu pacaran yang dua lagi godain bule. Hahaha.

Setelah puas ngelamun pinggir pantai, eh ada yang ngajakin maen voly. Wah hayuk kalau mau Voly mah. Maen voly ternyata seru juga. Udah lama saya ndak main Voly. Setelah maen Voly ada yang ngajakin Main Banana Boat, yah padahal badan udah capek gara-gara renang melawan ombak. Hehehe. Yawes akhirnya ngelamun lagi sambil menikmati semilir angin sore di pulau ini. Akhirnya kami dikumpulkan panitia untuk berkumpul dan bersiap kembali ke Jakarta. Kapal pun bergerak dan liburan pun berakhir.

Jika bermanfaat silakan anda bagikan tulisan ini dan kami juga memiliki koleksi tulisan yang menarik lainnya, silakan klik Daftar Isi untuk melihat daftar tulisan kami. Selamat membaca! 🙂