Geliat Wisata Halal di Korea Selatan

Liburan ke Korea Selatan
Liburan ke Korea Selatan

Korea Selatan sedang jadi pembicaraan di Indonesia. Pemicunya adalah Kpop yang merasuk masyuk di Indonesia pada awal dekade kedua tahun 2000. Gara-gara itu, semua yang berkait dengan Korea, menjadi populer. Sebut saja pemain bola yang justru mendapat sambutan meriah di Indonesia, tentaranya, sampai-sampai ada yang ingin Indonesia menerapkan wajib militer seperti di Korea Selatan sana. My Lov! Kesamaptaan calon pegawai saja sudah bikin lupa calon istri, gimana kalau wajib militer!

Dampak KPop lainnya adalah tingkat kunjungan ke Korea Selatan meningkat tajam. Tidak mengherankan sih, gimana enggak meningkat, kan pasti banyak para penggemar KPop itu penasaran dengan kehidupan para idolnya. Sepertinya memang pemerintah Korea sudah mempersiapkan semuanya dengan rapi untuk membuat negaranya maju dan mandiri. Korea pun tidak main-main menggarap pasar wisata global. Menyadari bahwa penduduk bumi ini sepertiganya adalah Muslim, maka otoritas Wisata Korea Selatan pun membuat wisata halal yang menyasar para penggemar KPop yang beragama Islam.

Di Indonesia, Korea selatan mengundang petinggi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama yang diwakili oleh Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi pada tahun 2013 lalu, untuk berkunjung ke Korea Selatan. Dirilis oleh situs resmi organisasi ini, di Korea Selatan tidak sulit menemukan menu-menu halal dan tidak sulit pula menemui tempat Sholat yang mana merupakan hal-hal dasar yang diperlukan oleh umat Islam.

Data turis yang dirilis oleh kompas.com pada tahun 2016 lalu menyatakan sebanyak 300.000 manusia Indonesia travelling ke Korea Selatan. Angka ini sekaligus menempatkan Indonesia pada urutan ke-8, sebagai negara pengirim wisatawan terbesar ke Korea Selatan. Ini meningkat dari tahun 2012 lalu yang hanya 150.000 turis. Ini menandakan bahwa wisata halal di Korea tidak perlu diragukan lagi. Total kunjungan ke Korea Selatan mencapai angka 14 juta wisatawan mancanegara setiap tahunnya. Angka yang fantastis.

Keseriusan Korea Selatan menggarap pasar wisata halal juga tergambar dari tersedianya aplikasi khusus untuk perangkat mobile yang memungkinkan wisatawan yang berfitur Salah, Qibla, Travel, Community, Scans, Restaurant, dan Market. Aplikasi berjuluk Halal Korea ini juga memiliki fitur mendengarkan lantunan ayat suci Alquran dengan lengkap. Bahkan wisatawan bisa menemukan wisatawan Muslim lainnya di sekitarnya. Keren! Saya kok jadi kepengen travelling ke Korea! Kalau bisa sih wisata ke korea selatan gratis.

Dengan program “Muslim Friendly Korea”, otoritas pariwisata korea sangat serius menggarap potensi pasar 1,7 Milyar penduduk bumi yang beragama Islam. Dilansir tirto dari Antara mengatakan bahwa di Korea ada 170 restoran halal tersebar di Korea. Ini membuktikan bahwa memang mencari makanan halal di Korea amatlah mudah. Restoran ini umumnya menyediakan menu seafood dan vegetarian yang dapat dikonsumsi oleh traveller Muslim. Makanan memang menjadi fokus otoritas korea dalam megembangkan wisata halal di Korea.

Strategi otoritas Korea Selatan menggenjot kunjungan Muslim menghasilkan angka yang baik. Setidaknya dalam tahun 2016 sebanyak 980 ribu Muslim berkunjung ke Korea Selatan, meski hanya menyumbang 5,7% dari total jumlah kunjungan ke Korea, tetapi angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar lima kali lipat dalam lima tahun terakhir. Dampak ikutan lainnya, ekspor produk halal korea pun meningkat pesat. Target pasar terbesarnya adalah Indonesia dan Malaysia.

Pengelolaan pariwisata di Korea selatan dapat menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang juga sedang menggenjot kunjungan wisata mancanegaranya. Korea menekankan promosi yang kreatif, pelayanan otoritas yang maksimal hingga jaminan keamanan. Padahal Korea Selatan ini bertetangga dengan Korea Utara yang selalu mengancam dunia dengan senjata nuklirnya, tapi toh dunia memberi persepsi positif terhadap keamanan di Korea Selatan.

Ke Restoran Bandar Jakarta, Jangan Makan Doang!

Bandar Jakarta Ancol
Bandar Jakarta Ancol

Bandar Jakarta, sebuah restoran ternama di kawasan Ancol, Jakarta. Sudah ada cabangnya sih di Summarecon Bekasi misalnya. Tapi entah namanya cabang atau yang lain. Kebetulan kantor lagi ngadain makan-makan se Divisi, dan Boss pengennya ke Bandar Jakarta Ancol ini. Kebetulan ini saya belum pernah makan di restoran keren ini.

Saya berangkat dari kantor saya di Tanah Abang. Ketahuan kan kerjaan saya apa. Gaya pakai istilah divisi, padahal mah nggak jelas. Hahaha. Masuk pintu tol Slipi yang macet-macet gemesin. Setelah masuk, ternyata di dalam tol nggak sehoror di pintu tolnya tadi. Lancar jaya. Terus melaju dan mengambil arah Ancol.

Tidak beberapa lama, mobil bergerak memelan karena sudah sampai di gerbang Ancol. Jangan lupa bayar ya. Setelah bayar kamu akan dapat pass untuk masuk dan keluar. Suasana Ancol yang panasnya sedang malu-malu. Padahal biasanya Ya Allah panasnya. Bergerak perlahan jangan kencang-kencang sambil nikmati suasana. Plang Restoran Bandar Jakarta sudah terlihat.

Pintu Restoran Bandar Jakarta Ancol
Pintu Restoran Bandar Jakarta Ancol

Masuk ke restoran. Suasananya seperti sedang di Betawi. Ya karena ornamen restoran Bandar Jakarta ini bernuansa betawi. Jendela-jendela besar, berwarna hijau, kuning dan putih berjajar rapi. Walaupun sebenarnya restoran ini menampilkan suasana pelabuhan yang dipenuhi kapal, tapi yang muncul malah rumah betawi. Tapi mungkin sebenarnya ini adalah perahu gaya betawi, saya saja yang tidak tahu.

Setelah masuk sudah tersedia tempat-tempat duduk yang terjejer rapi. Di atasnya ada atap yang sekilas mirip layar-layar perahu lengkap dengan tali-tali khas kapal layar. Warna cokelat seperti perahu jaman dulu dan atap-atap berwarna putih seperti layar lengkap menggambarkan suasana bandar yang penuh dengan kapal. Kemudian beberapa temen pesan makan. Menu disini adalah seafood, ya iya namanya saja Bandar Jakarta. Banyak variasi menu seafood bisa kamu pilih.

Sementara temen saya pesan makan, saya jalan-jalan menikmati suasana restoran ini. Di belakang restoran ini adalah laut yang didesain sedemikian rupa sehingga menyerupai sungai besar. Di sebrang restoran adalah cotage Putri Duyung yang bergaya etnik, menambah ciamik pemandangan di restoran ini. Di tambah lagi dengan semilir angin laut yang mendayu-dayu itu. My Lov! Gini amat yak. Lhoh jadi kebawa ngomong betawi. Haha.

Dermaga Bandar Jakarta
Dermaga Bandar Jakarta

Nah untuk menambah syahdu suasana laut, tepat di belakang restoran Bandar Jakarta ada dermaga yang memanjang sepanjang restoran ini. Dermaga ini bisa menjadi sarana untuk menikmati suasana laut. Kamu bisa berdiri di pinggir Dermaga kemudian pose menghadap laut, lalu difoto deh. Bisa juga kalau mau bikin video slowmo atau rewind. Saya tahu istilah dua teknik video itu ya barusan, karena dimintain tolong temen untuk bikin video gituan. Duh Dek!

Dermaga yang ada di belakang restoran Bandara Jakarta panjang kok. Kamu bakal puas menyusurinya. Enggak berasa sampai makanan sampai di meja semua. Saya menuju meja makan dan mulai menikmati makan siang saya bersama kawan-kawan satu divisi yang ehem-ehem ini.

Setelah makan selesai, saya beranjak dari tempat duduk dan mencari Mushala untuk sembahyang Dhuhur. Setelah clingak-clinguk ketemu juga Mushalanya. Mushalanya terletak di lantai ke-2. Saya ambil wudlu di lantai ke-1, kemudian saya naik. Pas sampai di lantai 2, pemandangannya keren! Kita sembahyang langsung menghadap laut. Dikawani hembusan angin laut yang semilir menambah khusyuk orang yang bersimpuh di hadapan Allah.

Setelah itu saya selesai sembahyang, saya turun dan bergabung kembali dengan kawan-kawan yang ternyata sedang asyik bernyanyi-nyanyi ria. Karena saya ndak suka nyanyi yaudah nulis blog ini saja.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Terbang Menjelajahi Keunikan dan Keindahan Alam di Filipina

Sumber: matadornetwork.com
Sumber: matadornetwork.com

Seperti Indonesia, Filipina juga terkenal dengan Negara yang memiliki banyak pulau. Namun selain menyajikan keindahan pantai, Filipina pun memiliki tujuan wisata alam yang nggak bisa kamu lewatkan begitu saja. Sebabnya, berbagai wisata alam yang ada di Filipina ini memiliki keunikan masing-masing dan belum tentu bisa kamu temukan di tempat lain.

Karena itu untuk kamu yang sedang berencana pergi liburan, Philippine Airlines siap mengantarkanmu menuju berbagai tempat wisata unik di Filipina. Mulai dari Bukit Cokelat, sampai pantai dengan suasana alam dan pemandangan yang nggak biasa, berikut ini adalah beberapa destinasi wisata unik di Filipina yang patut kamu kunjungi saat pergi berlibur.

Chocolate Hills

Sumber:thousandwonders.net
Sumber:thousandwonders.net

Jangan bayangkan Chocolate Hills sebagai perbukitan yang ditumbuhi dengan pohon cokelat, karena di sini kamu akan dimanjakan dengan pemandangan yang nggak biasa. Terletak di provinsi Bohol, Chocolate Hills menawarkan ribuan gundukan tanah yang ditutupi rumput tinggi. Ketika terkena sinar matahari, gundukan-gundukan ini pun akan berubah menjadi cokelat. Uniknya lagi, semua gundukan tanah itu memiliki tinggi yang hampir sama. Jika kamu mencari tempat wisata di Filipina yang Instagram-able, Chocolate Hills wajib masuk dalam daftarmu.

El Nido

Sumber: asiaodyssey.com
Sumber: asiaodyssey.com

Untuk para pelancong yang gemar menjelajahi alam, maka El Nido yang berada di Palawan adalah salah satu destinasi terbaik di Filipina. Yap, El Nido sebenarnya adalah pantai dengan pasir putih, tapi yang akan membuatmu terkejut adalah pegunungan kapur yang mengelilingi area ini dan tampak berkilau. Nggak puas dengan pemandangan saja? Kamu juga bisa mencoba menyelami dunia bawah laut El Nido yang segar dan dipenuhi berbagai jenis ikan tropis yang membuatnya semakin penuh warna.

Palawan

Sumber:gadventures.com
Sumber:gadventures.com

Jika El Nido sudah membuatmu cukup tertarik, coba simak apa saja hal seru yang ditawarkan Palawan. Ini merupakan tempat yang sangat cocok sebagai tujuan wisata kamu selama berada di Filipina. Pada area ini terdapat dua objek terkenal, yakni Tubbataha Reef National Marine Park dan Puerto Princessa Underground River. Nggak cuma itu saja, Pulau Coron yang terdapat di sini bakal memanjakan kamu dengan keindahan terumbu karang dan bangkai kapal yang menanti untuk ditelusuri. Setelah puas dengan tempat-tempat tadi, pastikan kamu menyelam di Barracuda Lake. Kenapa? Karena suhu air di tempat ini bisa berubah-ubah sendiri lho!

Pulau Boracay

Sumber:mustseeplaces.eu
Sumber:mustseeplaces.eu

Destinasi terakhir yang patut kamu kunjungi bersama Philippine Airlines di Filipina adalah Pulau Boracay. Tempat wisata yang satu ini memang paling populer di Filipina, tapi keindahan alam dan pantai yang ada bakal jadi jaminan terbaik untuk para pelancong seperti kalian. Hanya saja kamu wajib mentaati peraturan ketat yang diberlakukan Pemerintah Filipina untuk menjaga keindahan Pulau Boracay. Setelah mengerti dengan kondisi yang ada, kalian bisa menikmati berbagai jenis olahraga air seperti diving, snorkeling, sampai permainan seru seperti naik layang-layang dan gokarts.

Nah, untuk menjaga mood dan antusias liburan, pastikan Philippine Airlines adalah rekan utamamu untuk terbang dan menjelajahi keunikan serta keindahan alam di Filipina. Selamat berlibur guys!

Mau Bangkitkan Kenangan di Tuban, Yuk ke Pantai ini

Pantai Boom Tuban
Pantai Boom Tuban

Kenapa kenangan? Karena kenangan adalah satu-satunya hal yang bisa menjadi refleksi kita, bahwa kita pernah berbuat sesuatu di suatu tempat. Sambil dengarkan Ungu yang berjudul Jika itu yang Terbaik, saya persembahkan tulisan ini. tsaah. Tuban itu memiliki garis pantai yang luar biasa panjang, kurang lebih 50 KM membentang garis pantai dari ujung Palang sampai Bancar.

Liburan tahun baru imlek kemarin saya memiliki kesempatan mengunjungi Kabupaten yang eksotis ini. Tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Duh kok jadi melow gini. Saya mau cerita sebuah pantai yang kemarin saya kunjungi. Pantai yang legendaris yang siapapun yang pernah mencecap udara Tuban pernag mengunjunginya atau paling tidak mendengar namanya.

Nama pantai ini adalah pantai boom. Entah kenapa disebut pantai boom, apakah ada hubungannya dengan meriam yang mengarah moncongnya ke pantai tersebut atau ada sebab lain saya pun belum mengonfirmasinya. Apapunlah, yang penting pantai ini adalah icon pantai di Tuban. Ibarat komputer, pantai boom adalah pendiri Unix, Linux bahkan IBM. Senior eksotis dan legendaris, mungkin itu julukan yang pas.

Saya ke sana pada pagi hari. Dimanapun menikmati pantai itu ya pagi menjelang matahari terbit sama sore menjelang matahari terbenam, di Pantai Boom Tuban pun. Saya parkir tepat di depan gerbang masuk. Masih pagi masih lengang. Saya menuju ke loket pembayaran. Untuk satu orang dikenakan retrebusi sebesar Rp 1.500,-, sangat murah. Saya berdua sama istri. Jadi cuma butuh Rp 3.000,-.

Saya masuk di gerbang yang tanpa penjagaan, mungkin karena masih pagi. Soalnya beberapa kali ke sini selalu ada penjaganya kok. Setelah masuk saya disuguhi pemandangan sunrise yang menawan ditambah siluet perahu dan aktivitas nelayan yang menarik jala. Duh syahdu betul. Seakan semua kenangan terputar kembali di kepala tentang kehidupan saya sejak lahir sampai dewasa di Tuban.

Saya tengok ke kiri ada papan relief yang besar. Di papan tersebut ada relief mengenai cerita paman dan keponakan, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Cerita yang sangat merasuk ke dalam lubuk hati orang Tuban. Seorang anak Bupati yang bergelimang harta dan kuasa tiba-tiba membelot menjadi robin hood. Pembelotan ini berakhir ketika Sunan Kalijaga bertemu sosok bersahaja bernama Sunan Bonang. Selengkapnya Kamu bisa datang ke Pantai Boom dan melihat relief yang ada di sana.

Masuk terus ada biang lala kecil, tapi entah kapan beroperasinya. Soalnya saya belum pernah melihat biang lala ini beroperasi. Mungkin karena saya kalau ke Pantai Boom selalu pagi. Padahal biang lala ini sungguh menarik karena berada di antara pepohonan cemara yang memenuhi pantai ini. Jika kamu ada di titik teratas maka kamu akan melihat luasnya laut jawa yang dibatasi pantai boom ini.

Lanjut ke utara lagi, ada fasilitas batu kali. Batu yang untuk refleksi kaki itu lho. Silakan copot alas kakimu dan berjalan di atas susunan batu kali yang rapi ini, maka kamu akan rasakan sensasi pijitan yang enak. Waktu saya ke sana ada beberapa orang pengunjung pantai Boom yang memanfaatkan fasilitas ini. Oiya selama menelusuri pantai berbentuk dermaga ini, jangan lupa tengok ke arah laut karena mantab jaya pemandangannya.

Terus ke utara saya menemui gazebo-gazebo yang menghadap laut. Tempat yang cocok untuk menikmati pantai. Kamu bisa duduk-duduk dengan orang-rang terkasih sambil menikmati anugerah Allah yang diturunkan di Bumi Wali ini. Gazebo ini jumlahnya banyak dan berjejer sampai di ujung dermaga atau pantai. Jadi jangan khawatir nggak kebagian. Kamu bisa juga sih bawa kekuarga piknik makan bareng di gazebo ini.

Nah sampai di penghujung pantai boom, saya disuguhi pemandangan yang luar biasa. Pemandangan laut lepas dan ombak-ombak yang berkejaran. Hati-hati ya di ujung dermaga ini, kadang licin karena terimbas ombak yang kadang tinggi. Di sini juga banyak yang melakukan aktivitas memancing, ntah ini memang diijinkan atau seperti apa.

Pantai Boom Tuban ini sebenarnya telah mengalami perombakan besar dari yang sebelumnya hanya berupa dermaga yang dipakai sandar kapal-kapal nelayan lokal dan tidak rapih seperti sekarang. Sekarang bekas pelabuhan paling sibuk saat Majapahit menguasai Nusantara ini telah bertransformasi menjadi pantai yang paling populer di Tuban. Untuk kamu yang merantau pasti kangen kan sama pantai ini.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Menjelajah Goa Pindul, Candi Ratu Boko dan Lava Tour ke Merapi

Goa Pindul
Goa Pindul

Males banget tho lihat judulnya? Hawong pakai pesawat, pakai Bus dan lain-lain kok dibilang menjelajah. Nggak apa-apa hawong orang Jakarta kan menjelajahnya begini. Jangan bandingkan dengan Ibu-Ibu Kendeng yang memperjuangkan nasibnya sampai ke Jakarta dengan modal seadanya.

Bulan lalu, lagi-lagi saya diberikan Surat Tugas untuk melakukan Employee Gathering dan kali ini ke Jogja. Sebenarnya saya sudah lama kangen sama suasana Jogja. Apalagi saya penggemar berat Mas Marzuki Mohamad a.k.a Kill The DJ, khususnya lagu yang berjudul Song of Sabdatama. Duh itu Sabda merasuk dan menenangkan jiwa tsaahhh.

Alih-alih meresapi makna Sabdatama pas di Bus selama di Jogja bukan Song of Sabdatama yang diputar malah kami semua menikmati alunan nan merdu suara Mbak Nella Kharisma. Hajigur betul memang. Tapi ndak apa tetap masih dalam koridor karena lagu-lagu Mbak Nella ini banyak yang ditulis oleh Seniman Jogja : NDX Aka.

Baik saya dan kawan-kawan seperjuangan di kantor mendarat dengan senang di Adi Sumarmo. Udah ndak usah protes kenapa kok di Adi Sumarmo. Setelah itu di parkiran sudah ada Bus berwarna cokelat dengan gembira menunggu saya. Setelah nunggu Ibu-ibu milenial -Penyelamat ekonomi Bapak-bapak tukang foto- berfoto ria, kami semua satu persatu menginjakkan kaki di Bus itu.

Mas-Masnya yang belakangan saya tahu namanya Mas Fajar mulai pegang Mic, kirain mau ngerap atau bahkan mau nyanyi Kimcil Kepolen, ternyata beliau pengen memperkenalkan diri. Dia mendaku sebagai Mas Fajar, pemuda harapan bangsa asli Gunung Kidul.

Gua Pindul

Gua Pindul
Gua Pindul

Gua Pindul nan menawan itu sudah berada di depan mata. Sepanjang jalan pohon-pohon jati, vegetasi khas pegunung kapur membentang. Mirip dengan suasana pegunungan kapur di tempat asal saya : Tuban. Setelah parkir, memandang ke arah pukul setengah 6 kok ada pentol bakar. Ya udah njajan pentol dulu, 10ribu dapet 4 tusuk pentol bakar.

Lanjut Sholat Dhuhur, ternyata sudah waktunya. Lepas Dhuhur sekaligus Ashar, saya mengganti pakaian saya, siap basah-basahan, lanjut gunakan Jaket Pelampung. Di Gua Pindul walaupun mendaku sebagai perenang handal tetap harus gunakan Jaket Pelampung. Udah patuhin aja, ingat hargai kearifan lokal jangan sok-sokan.

Kemudian saya diajak jalan kaki menyusuri bangunan Dam. Tahu Dam? Itu bahasa belandanya bendungan, di Tuban sana ratusan dam dibangun untuk pengairan sawah, mungkin di Gunung Kidul pun sama tujuannya. Saya jalan kaki sambil bawa Ban yang besar itu. Konon Ban itu mampu membawa beban 400 Kg, jadi jangan takut tenggelam.

Saya dan kawan-kawan diajak menceburkan Ban, kemudian saya disuruh melompat ke dalam ban. Kebetulan saya yang paling depan. Jadi tekniknya Ban saya ditarik petugas wisatanya, saya menarik kawan saya, kawan saya narik kawan selanjutnya, jadi kaya kereta-keretaan gitu. Dulinan gitu tok, mbayar! Hehehe. Tenang nggak cuma gitu kok, dan kamu ndak bakal rugi bayar.

Masuk di bibir Gua pemandu wisatanya mulai menjelaskan tentang Gua. Pertama tentu teori tentang stalaktit dan stalakmit yang tumbuh di dalam Gua. Padahal dari kecil saya sudah blusukan di Gua, maklum tinggal di Kota Seribu Gua, hakok saya dikasih teori tentang perGuaan. Duh Mas salah sasaran. Tsaaahh. Semakin masuk semakin gelap, senter dinyalakan suasana dingin mulai menyergap.

Mas Pemandunya tidak kunjung memperkenalkan diri, sampai dimulut gua terakhir pun saya ndak tahu namanya. Saya sebut Pemandu aja ya selanjutnya. Pemandunya menjelaskan tentang penghuni Gua diantaranya Kelelawar yang tinggal di dalam Gua lengkap dengan jadwal bobok dan konsumsi sang kelelawar. Dilanjut dengan makhluk bawah air seperti ikan lele dan lain-lain, dipungkasi dengan penjelasan mengenai kedalaman air di Gua yang mencapai belasan meter dari permukaan.

Tidak terasa sudah semakin mendekati pintu keluar, oiya ada batu-batu yang konon memiliki khasiat menurut pemandunya, yang saya ingat cuma batu perkasa aja. Hahaha. Ada spot terakhir sebelum keluar yang bagus banget buat foto, ada lubang di atap Gua yang keren banget kaya cahaya apa gitu. Saya lupa namanya. Banyak yang foto-foto disitu sambil loncat-loncat ke air, jangan lupa tetap gunakan Jaket pelampung, ya.

Setelah kurang lebih 15 sampai 30 menit berada di dalam Gua, saya keluar. Di luar Gua masih bisa renang-renang. Airnya mantab jaya segernya, khas mata air dari batu cadas. Anugerah gini kok mau dipaksa dihilangkan dengan penambangan batu-batu cadas tak beraturan itu. Udah ayok naik, bannya ditinggal saja, sudah ada yang angkatin kok. Bilas lalu ganti baju.

Habis ganti baju, ada pengumuman makan siang. Duh ini yang tak tunggu-tunggu. Makanan yang disediakan prasmanan. Jangan dikira kaya di mantenan, ya. Prasmanannya ini masakannya khas daerah setempat. Menunya Nasi, sambel trancam dan lain-lain. Uenak Bos!

Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko

Lhoh udah di Candi Ratu Boko aja. Saya sudah bisik-bisik ke kawan-kawan “Candi Boko itu yang keren cuma gerbangnya saja, tapi untuk orang yang belum tahu. Kalau mau lebih tahu di belakang gerbang itu banyak situs-situs yang keren, jadi jangan cuma selfie yuk serap auranya bayangkan kita berada di zaman itu. Tsaaahhh”. Mereka angguk-angguk, alih-alih mengerti sepertinya mereka mbatin “kesambet opo tho, Mas?”.

Turun dari parkiran jalan menuju ke Candi Boko, jangan lupa noleh ke kiri ya. Akan tampak Candi Prambanan yang agung itu. Konon Candi Prambanan itu menggambarkan wanita yang agung yang tidak mudah ditaklukkan. Boleh foto tapi hambok ojo sering-sering, sekali-kali kita serap udara segarnya dan bau-bau sari tanah yang khas itu. Beberapa lama sampailah di gerbang yang ngehit buat milenial bikin foto pra-wedding.

Seperti saya duga sebelumnya, kawan-kawan kalap foto-foto dan sepertinya ndak ada puasnya. Saya seperti biasa mencari suasana yang pas untuk menyerap aura tempat yang dikunjungi. saya menuju ke arah belakang candi ada keputren dan bekas bangunan keraton yang tinggal pondasi. Saya menuju ke belakang lagi dan ada kubangan seperti tempat penampungan air. Nah ini teknologi bagus yang belum saya temukan di tempat asal saya walaupun alamnya mirip.

Kubangan ini dibuat diatas batu cadas yang keras itu untuk menampung air hujan, dan digunakan untuk keperluan sehari-hari. Saya jadi mikir kok di tempat saya ndak kepikiran, ya? Selesai dari situ saya menuju ke arah utara menuju Goa yang relatif sempit, ndak tahu apa fungsi dan namanya. Selesai dari Goa saya turun dan bergabung ke gerbang Candi Ratu Boko yang dalam beberapa tulisan disebutkan sebagai peninggalan Ratu Bilqis.

Sampai di gerbang, ternyata aktivitas foto-foto belum juga menemui titik akhirnya. Mereka malah semakin menjadi, karena matahari terbenam yang menjadi primadona pemandangan di tempat ini sedang cantik-cantiknya. Pengunjung yang awalnya menyebar menjadi satu berkumpul di depan pintu gerbang. Udah mirip orang-orang yang antri diskonan sepatu yang ngehit beberapa waktu lalu, walaupun ini lebih positif karena ndak pakai njebol pintu.

Dingin malam sudah mulai menyergap di seluruh tubuh. Ah Ayo pulang saja kembali ke Bus. Kata Mas Fajar, mau diajak makan di Bukit Bintang. Entah tempat apa itu, yang jelas namanya sih milenial banget. Paling ya ndak jauh-jauh dari tempat makan yang bagus pemandangannya, demi mengenyangkan syahwat instagram yang sudah kering beberapa waktu terakhir ini.

Lava Tour

Lava Tour
Lava Tour

Lho, sudah hari kedua saja. Terus kemarin makan malam di Bukit Bintangnya ndak diceritain? Udahlah ya kurang seru itu. Sebenarnya ada yang seru, pas saya di sana ternyata sedang ada perayaan Topo Bisu, katanya keren. Tapi sayang badan saya sudah berasa berat, ngantuk Mas Bro! Pagi ini saya mau dibawa ke Merapi, naik Jeep napak tilas erupsi gunung merapi yang dahsyat pada tahun 2010 lalu.

Beberapa lama di dalam Bis, saya sampai di BaseCamp Jeep yang membawa saya dan kawan-kawan ke atas Merapi. Saya masuk jeep, sengaja memilih bersama kawan-kawan yang rada-rada, hehehe. Kalau deket Bos bisa mati gaya ndak bisa bebas berekspresi. Jeep mulai berjalan dan memasuki jalur off road, mirip jalanan di desa saya beberapa dekade lalu. Saya iseng tanya “Pak kok ndak protes sama Pemda supaya jalannya diaspal biar alus” Hahaha.

Lihat alam Merapi berasa meresapi Sabdatama yang saya bilang di awal tulisan ini. Merapi nglingake marang ing gusti, segoro ngilingake kudu ngidak bumi. Begitu kira-kira lirik Song Of Sabdatama yang dilantunkan Mas Marzuki Mohamad dan kawan-kawan. Debu-debu merapi mulai bertebaran kadang-kadang menghalangi pandangan, tapi driver jeepnya sepertinya udah hafal jadi ndak usah takut. Debunya beda kok ndak bikin emosi kaya debu di kota besar.

Drivernya sesekali iseng ngebut mendadak, soalnya tak godain “Ngene tok, Pak? Tak kiro lak serem offroad iku” Hehehe. Semakin ke atas udara dingin khas pegunungan mulai menyelimuti badan, yang awalnya kuat teriak-teriak sepertinya harus dikurangi teriaknya. Beberapa saat kemudian Jeep parkir di rumah tua yang seperti hancur karena erupsi 2010 lalu. Saya dipersilakan masuk ke mini museum ini.

Rangka Sepeda
Sumber : IG @kangrudi

Di sekitar rumah banyak debu, jadi saya sarankan tetap pakai masker ya. Debu ini juga menggambarkan betapa tidak berdayanya manusia dihadapan Allah SWT, sekali dikasih lahar panas muntah langsung habis satu desa. Rumah ini adalah salah satu yang tersisa, konon rumah ini milik salah seorang karyawan di salah satu hotel Jogja. Dia berinisiatif membuat mini museum untuk mengenang peristiwa yang ngeri itu atau orang Jawa bilang “Nggegirisi” artinya sebuah peristiwa yang sangat mengerikan.

Saya masuk ke dalam melalui dapur, arsitektur dapurnya seperti di rumah saya di desa dulu. Ada satu dipan yang digunakan untuk menyimpan perabotan seperti dandang, panci dan lain-lain. Kemudian di sudut lain ada satu set meja makan yang diatasnya ada perabotan makan. Kemudian yang paling khas di sudut ada jedingan atau tempat penampungan air bersih. Dan yang mengerikannya semua peralatan itu ada disitu masih utuh tapi sudah berubah bentuk karena leleh terkena panasnya wedus gembel yang menghantam perkampungan ini.

Banyak peralatan rumah lainnya yang juga terkena imbas, seperti beberapa unit motor yang tinggal rangkanya. Hanya rangka saja yang masih kuat menahan terjangan awan panas. Masuk ke ruang tamu ada jam yang berhenti tepat pada peristiwa turunnya dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya di desa ini. Duh Gusti saya ndak sanggup membayangkan betapa paniknya saat awan panas dengan suhu tinggi dan kecepatan ndak kalah tinggi menerjang desa ini.

Sambil masih merasa ngeri membayangkan bencana, saya diajak kembali ke mobil Jeep. Mobil kembali digeber maksimal karena jalan semakin menanjak dan dipenuhi batu dan pasir. Sampailah saya di Batu Alien. Ada batu besar yang terlontar dari puncak merapi. Batu tersebut seperti ada gambar wajahnya, tapi saya ndak berhasil melihatnya. Sepertinya daya imajinasi saya berada dititik terendah, hehe.

Di sudut lain disuguhi kali, entah apa nama kalinya saya lupa. Kali ini adalah lintasan material muntahan erupsi tahun 2010. Kali itu dipenuhi pasir yang konon berkualitas tinggi sekaligus bernilai ekonomi. Tidak heran banyak truk-truk besar yang berlalu lalang menambang pasir.

Saya dipanggil lagi sama driver Jeepnya. Badan saya berasa agak lemas sebenarnya, tapi rasa penasaran saya bencana erupsi 2010 semakin menggebu-nggebu. Apalagi Drivernya bilang tujuan kita terakhir adalah Bunker yang menelan korban saat erupsi tahun 2006. Jalanan menuju Bunker ya sama dengan sebelumnya, menanjak. Dinginnya sudah semakin menggigit. Beberpa saat kemudian saya sampai di depan pintu bunker.

Saya masuk diantar sama driver Jeep. Pintu bunker ini terbuat dari besi yang sangat tebal, struktur bangunannya pun sangat kokoh. Masuk ke dalam aroma seram langsung menyergap. Saya tidak mampu lagi menyembunyikan ketakutan, bulu kuduk saya bergidik. Bukan takut hantu, tapi saya membayangkan betapa mengerikannya meregang nyawa di dalam bunker yang diselimuti lahar pijar yang suhunya luar biasa panas.

Sayapun kembali sadar bahwa kita tidak ada artinya apa-apa di hadapan yang maha kuasa. Di dalam Bunker terdapat batu besar, yang konon berasal dari aliran lahar panas yang membeku. Kemudian ada kamar mandi dan ruang logistik. Menurut cerita korban meninggal berada di kamar mandi dan di dalam kamar logistik. Duh Gusti. Saya tidak sanggup berlama-lama di dalam bunker, sayapun keluar dan bersiap turun.

Selama turun dari merapi, saya teringat lirik lagu Song Of Sabdatama yang menyatakan bahwa Merapi ngilingake kudu ngidak bumi. Artinya kita boleh sombong, sebesar-besarnya manusia toh tunduk dan bertekuk lutut saat merapi mengamuk atas kehendak Allah.

Liburan saya berakhir dan saya naik pesawat sambil mendengarkan Jogja Istimewa yang sudah dicover drumnya sama Mas Ari Endank Soekamti. Jogja tetap Istimewa.

Mau Tempat Keren di Daerahmu Jadi Tujuan Wisata? Yuk Belajar dari Gunung Kidul

Gua Pindul
Gua Pindul

Pariwisata adalah sektor paling menyedot perhatian dalam kurun lima tahun terakhir. Ini tidak lepas dari meningkatnya tren travelling diantara generasi milenial. Saya kemarin berkesempatan ke Gua Pindul di Gunung Kidul. Saya di sana sangat beruntung, karena selain menikmati alamnya yang luar biasa juga dipertemukan dengan Mas Fajar, salah satu jasa travel di sana.

Saya dijemput Mas Fajar di Bandara Internasional Adi Sumarmo, Ha iki piye mau ke Jogja kok malah landing di Solo. Nyari tiket murah, Mas. Di Bus Mas Fajar cerita tentang wisata di Jogja dan Gunung Kidul khususnya. Tidak heran, soalnya menurut pengakuan pemuda beristri satu dan beranak dua ini adalah asli Gunung Kidul.

Mas Fajar cerita tentang perkembangan pariwisata Gunung Kidul yang sedang naik pesat. Bisa dilihat dari angka kunjungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu juga berkembangnya jumlah destinasi wisata yang berada di sana. Kemudian Saya penasaran kenapa Gunung Kidul bisa berkembang sedemikian cepat dengan kondisi alam yang nggak jauh-jauh amat bedanya dengan tempat asal saya di Tuban sana.

Sepertinya Mas Fajar sudah tahu rasa penasaran saya, soalnya sebelum saya tanya dia udah cerita. Pertama soal kebosanan traveller ke tempat wisata buatan, misalnya kolam renang, dunia fantasi, mall dan lain-lain. Ini turut membantu Gunung Kidul yang memiliki alam yang unik mendapatkan perhatian sebagai alternatif liburan.

Kedua adanya kesadaran Pemerintah. Kesadaran di sini maksudnya adalah semua sektor pariwisata tidak serta merta dikelola seluruhnya oleh Pemerintah. Pemerintah tidak menjadi pengelola langsung tempat wisata, Pemerintah hanya memungut retrebusi. Kemudian pengelolanya diserahkan 100% kepada warga desa, sehingga warga desa semangat memoles desanya menjadi daerah wisata.

Di Gunung Kidul ada yang namanya Pokdarwis. Apa itu Pokdarwis? Menurut Mas Fajar ya semacam wadah warga desa yang menjadi pengelola wisata di desanya. Mereka-mereka ini yang secara aktif mempromosikan dan mengelola tempat wisata di Gunung Kidul, dan secara tidak langsung inilah ekonomi gotong royong dari rakyat untuk rakyat. Anugerah alam disyukuri dengan cara dikelola sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat setempat.

Faktor ketiga adalah adanya dana desa. Mas Fajar mengungkapkan Dana Desa sangat membantu membiayai infrastruktur desa, sehingga dapat membantu memberikan akses yang baik ke tempat wisata yang dituju. Gimana dana desa di tempatmu buat apa? Mari kritis.

Terakhir adalah Media Sosial yang dimanfaatkan dengan baik oleh pengelola wisata untuk mempromosikan tempat wisata di desa. Kalau kamu lihat promosi Gua Pindul sangat masif dari satu akun ke akun yang lain lalu viral dan Booommm!

Alam yang baik, pengelolaan dana yang transparan, ketidakrakusan pemerintah yang memonopoli pengelolaan dan masifnya promosi menjadi ramuan yang jitu untuk meningkatkan pariwisata Gunung Kidul. Kalau kamu mau desamu memiliki tempat wisata yang keren mari belajar dari Mas Fajar pemuda Gunung Kidul ini.

Hasil akhirnya pariwisata Gunung Kidul melesat dan mampu mensejahterakan masyarakatnya. Alam lestari, masyarakat sejahtera dan pemerintah mendapatkan PAD yang tidak sedikit. Sekedar bocoran pariwisata juga mampu menekan angka urbanisasi dari Kabupaten Gunung Kidul dan yang jelas pemudanya udah ndak malu punya motor berplat Gunung Kidul.

Saya pribadi berharap setelah postingan ini, tidak ada lagi postingan di facebook yang bilang “Ini tempat keren, harusnya pihak yang berwenang mengelola”. Mari kita kelola lingkungan kita dan jangan hanya mengandalkan pemerintah.