Ini Dia KH As’ad Syamsul Arifin, Pahlawan Nasional Indonesia

KHR. As'ad Syamsul Arifin Pahlawan Nasional Sumber : http://nuhagroup.blogspot.co.id
KHR. As’ad Syamsul Arifin Pahlawan Nasional
Sumber : http://nuhagroup.blogspot.co.id

Tanggal 10 November adalah hari paling mencekam bagi para santri yang sudah berniat memenuhi panggilan Jihad yang diserukan oleh Hadratusy Syeikh Hasyim Asyari pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sekaligus Pimpinan Tertinggi organisasi Nahdlatul Ulama. Setelah peristiwa 10 November yang kelak disebut sebagai Hari Pahlawan tersebut, sebenarnya juga masih terjadi pertempuran-pertempuran untuk mengusir penjajah yang justru melancarkan agresi militer.

Agresi militer Belanda ini mendapatkan perlawanan sengit dari anak-anak bangsa, diantaranya yang dilakukan oleh  ulama Islam, pejuang dan tokoh Nahdlatul Ulama yang pada tanggal 9 November 2016 kemarin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia yaitu KHR. As’ad Syamsul Arifin. Melawan Belanda pada Agresi Militer I, adalah salah satu dari rentetan perjuangan beliau dalam upaya memerdekakan republik Indonesia.

Setelah peristiwa 10 November 1945, rupanya Belanda masih penasaran dengan bekas jajahannya ini. Mereka melancarkan agresi Militer Belanda I. Operasi ini dinamakan Operatie Product. Agresi militer ini terjadi pada tahun 1947. Belanda mendaratkan pasukannya di Pasir Putih Situbondo dan Teluk Meneng. KH As’ad mendengar kabar mendaratnya pasukan Belanda ini dari para barisan pelopor yang saat itu sangat getol memerangi Belanda dengan cara gerilya.

Ketika kapal Belanda menurunkan muatannya berupa alutsista dan tentara, mereka langsung memulai agresi dengan menguasai aset-aset negara yang dulunya dikuasai oleh penjajah. TNI dan rakyat bahu membahu melawan Belanda, namun karena persenjataan yang kalah jauh, mereka hanya mengandal serangan mendadak atau hit and run. Pasukan Fi Sabilillah dan Hizbullah pun tidak mau kalah mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Mendengar kabar Belanda telah mendarat di Pasir Putih Belanda, KH As’ad yang sudah terlibat dalam berbagai perjuangan melawan penjajah ini, menyusun tak tik di Pondok Pesantren Sukorejo bersama beberapa orang barisan pelopor. KH As’ad membeberkan tak tik yang diberi nama “Megek klemar aenga se tak lekkoa” yang artinya menangkap ikan jangan sampai membuat airnya menjadi keruh. Dalam diskusi tersebut juga tercetus ide untuk mengambil senjata di gudang senjata Belanda di Dabasah, Bondowoso.

KH As’ad mulai perjalanan ke desa Dasabah ditemani beberapa anggota barisan pelopor. Mereka menempuh jalur hutan yang berat. Rute ini dimulai dari Sukorejo, Asembagus, lanjut ke desa Bayeman menerobos hutan sampai dengan Puloagung, terus ke Desa Dasabah Bondowoso. KH As’ad mewanti-wanti kepada para pelopor, bahwa operasi ini adalah operasi yang sangat rahasia.

Rombongan KH As’ad ini menggunakan pakaian biasa layaknya rakyat biasa. Mereka tidak ingin ada mata-mata Belanda yang mengetahui rencana mereka untuk merebut gudang senjata. Saat itu mata-mata Belanda ada yang dari orang pribumi. Mata-mata pribumi inilah yang sangat berbahaya karena tidak dapat dikenali. Ternyata jaman dulu sudah ada orang Indonesia yang berkhianat pada perjuangan bangsanya sendiri.

Setelah melewati seratusan desa dan dusun, KH As’ad sampai di desa Pangarangan yang berada di sebelah desa Dasabah tempat gudang senjata Belandar berada. KH As’ad menyusuri sungai kering untuk mencapai gudang senjata ini. Pasukan yang dipimpin oleh KH As’ad ini berhasil membawa 24 pucuk senjata api beserta amunisinya, termasuk senapan jenis bren, sten gun, lee enfield, mortir, light machine gun, serenteng peluru tajam dan granat.

Senjata tersebut diserahkan kepada para pejuang. Perjuangan masih belum usai, Belanda makin merangsek ke Situbondo. KH As’ad terus menerus memimpin gerilya para barisan pelopor. Berkat perjuangan para pahlawan Nasional termasuk KH As’ad Syamsul Arifin kita semua dapat menikmati kemerdekaan hingga detik ini. KH As’ad saat berjuang tidak ingin mengklaim diri sebagai pejuang.

Dan akhirnya pada tanggal 9 November 2016 kemarin, ditengah gejolak politik tanah air, Presiden Joko Widodo secara resmi menganugerahkan gelar pahlawan Nasional bagi KHR. As’ad Syamsul Arifin. Mari berdoa untuk arwah beliau, sekaligus bertawassul semoga Indonesia tetap diberikan kedamaian dan keikhlasan dalam mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan.

Sumber :

Buku berjudul K.H.R As’ad Syamsul Arifin Kestaria Kuda Putih

Jika bermanfaat silakan anda bagikan tulisan ini dan kami juga memiliki koleksi tulisan yang menarik lainnya, silakan klik Daftar Isi untuk melihat daftar tulisan kami. Selamat membaca! 🙂

Mari Berkenalan dengan Sunan Bonang, Tokoh Penyebar Islam di Nusantara

Makam Sunan Bonang di Tuban
Makam Sunan Bonang di Tuban

Tuban memiliki banyak cerita hebat di masa lalu. Tidak mengherankan sebetulnya, karena Tuban adalah pelabuhan maha penting saat zaman kerajaan Majapahit. Para penyebar Islam di Nusantara ini juga banyak menorehkan sejarah gemilang Kabupaten Tuban. Mereka ada yang pernah singgah maupun menetap di Tuban. Para penyebar ini salah satu yang paling terkenal adalah Sunan Bonang. Sunan Bonang dimakamkan di Kabupaten Tuban, tepatnya di kelurahan Kutorejo dibelakang Masjid Agung Tuban.

Menurut Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo terdapat catatan pada perjalanan Dinasti Tang pada tahun 674 Masehi, sudah ada keluarga Muslim Tazhi di Kalingga, tapi masyarakat Nusantara belum memeluk agama Islam. Kemudian ada catatan Ma Huan pada kunjungan Cheng Ho yang ke tujuh ke Jawa tahun 1433 Masehi yang menyatakan bahwa Islam belum dipeluk secara besar-besaran oleh masyarakat Nusantara. Dengan kata lain ada rentang waktu 750 tahun, Islam belum secara masif dianut oleh Pribumi Nusantara.

Nah kemudian baru pada abad ke-15 yaitu era dakwah Walisongo Islam dianut secara masif oleh pribumi Nusantara. Salah satu walisongo tersebut adalah Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim. Menurut Agus Sunyoto dalam buku yang sama menyebutkan bahwa Sunan Bonang merupakan putra ke-4 Sunan Ampel dari perkawinan dengan Nyai Ageng Manila putri Arya Teja penguasa Tuban saat itu. Untuk diketahui nama Arya Teja menjadi nama salah satu gedung pemerintah di Kabupaten Tuban.

Saudara Sunan Bonang diantaranya bernama Nyai Patimah yang bergelar Nyai Gedeng Panyuran, Nyai Wilis alias Nyai Penghulu, Nyai Taluki yang bergelar Nyai Gedeng Maloka dan Adiknya Sunan Bonang bernama Raden Qasim yang kelak juga menjadi Anggota Walisongo bergelar Sunan Drajat. Sunan Bonang diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1465 Masehi. Sunan Bonang juga memiliki Saudara lain Ibu salah satunya adalah Dewi Murtosimah yang diperistri oleh Raden Patah, Sultan Demak Pertama.

Kamu harus tahu, mengapa Sunan Bonang memiliki hubungan yang dekat dengan Tuban, jawabannya adalah karena Sunan Bonang merupakan cucu dari penguasa Tuban saat itu yaitu Arya Teja dan Keponakan dari Arya Wilatikta yang kelak juga menjadi penguasa Tuban. Kamu mungkin juga sering mendengar kisah Sunan Kalijaga yang waktu itu menjadi murid Sunan Bonang, mereka berdua masih dalam satu keluarga yaitu saudara sepupu.

Dalam hal keilmuan Sunan Bonang belajar kepada Ayahandanya yang merupakan pemimpin pondok pesantren Ampel Denta. Sunan Bonang menyerap ilmu Ayahandanya bersama dengan santri lainnya seperti Raden Patah, Sunan Giri dan Raden Kusen. Temennya Sunan Bonang keren-keren, ya. Calon tokoh besar semua. Selain dengan Ayahandanya, Sunan Bonang juga belajar kepada Syaikh Maulana Ishak di Malaka.

Sunan Bonang menguasai berbagai bidang ilmu, diantaranya Fiqh, Ushuluddin, Tasawuf, Seni, Sastra, Arsitektur dan Bela Diri. Semua bidang keilmuannya itu dikombinasikan dan digunakan untuk memperlancar dakwah. Sunan Bonang adalah dalang yang piawai memainkan cerita-cerita wayang, selain itu Sunan Bonang juga yang menggubah tembang-tembang Macapat. Kamu tahu Macapat, kan? Kalau ndak tau berarti ndak pernah ndengerin pas pelajaran Bahasa Jawa.

Sunan Bonang juga dikenal mengembangkan perangkat gamelan Jawa yang disebut Bonang. Di Tuban banyak sekolah yang memiliki Ekskul Karawitan, kamu bisa tanya guru karawitan kamu, mana yang disebut Bonang. Bonang adalah sejenis alat musik dari bahan kuningkan berbentuk bulat dan memiliki tonjolang dibagian tengah, mirip gong namun dengan bentuk yang lebih kecil. Dulu alat ini selain dipakai untuk memainkan gamelan juga digunakan oleh perangkat desa untuk mengumpulkan warga.

Selain membuat Bonang, Sunan Bonang juga mereformasi pertunjukan wayang yaitu menyempurnakan susunan gamelan dan menggubah irama-irama lagu. Sunan Bonang juga menambahkan ricikan kuda, gajah, harimau, kereta perang dan rampongan dalam pertunjukan wayang, sehingga pertunjukan wayang lebih hidup dan atraktif.

Dalam kepenulisan, Sunan Bonang menulis Primbon yang bernama Primbon Bonang, yaitu Primbon yang berasal dari Tuban. Primbon Bonang berisi ikhtisar bebas dari Kitab Tasawuf terkemuka Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali dan Kitab Tamhid karya Abu Syukur bin Syuaib Al-Kasi Al-Hanafi Al-Salimi. Gaya penulisan primbon tersebut adalah dialog antara guru dan murid.

Nah itu adalah cerita tentang Sunan Bonang yang saya ambil dari Kitab Atlas Walisongo yang disusun oleh Agus Sunyoto. Kalau kamu mengaku orang Tuban yang Islam, maka sudah semestinya kita berterimakasih kepada Sunan Bonang yang telah menjadi wasilah keIslaman kita semua dan mari mendoakan beliau. Al Fatihah…