Inilah Sapi “Buatan” untuk Bahan Obat

Sapi “Buatan” milik SAB
Sumber : The Verge

Bentuknya sama dengan sapi pada umumnya. Eh bukan sapi pada umumnya sih, lebih mirip ke sapi penghasil susu, putih belang hitam. Tapi Kamu tahu, ternyata Sapi ini, Sapi spesial. Bukan daging atau susunya yang diambil, melainkan darahnya. Sapi ini akan dijadikan donos plasma, yang mungkin suatu hari akan menyelamatkan diri Kamu.

Dirilis oleh The Verge, Sapi ini direkayasa secara genetis oleh perusahaan bioteknologi SAB biotherapeutics untuk menghasilkan antibodi manusia, yaitu protein yang melawan patogen. Antibodi ini diharapkan pada suatu hari mengobati penyakit menular seperti Ebola, influenza, dan Zika. Sapi-sapi juga berpotensi untuk mengatasi wabah global yang diumumkan pada musim panas ini oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Peternakan milik SAB ini adalah contoh terbaru dari rekayasa hewan untuk kepentingan pembuatan obat. Sebelumnya US Food and Drug Administration (FDA), atau sejenis BPOM milik Amerika Serikat telah mengijinkan rekayasa genetis pada ayam yang menghasilkan obat dalam telurnya. Obat yang diproduksi oleh Ayam “Buatan” ini berguna untuk mengobati kekurangan asam lisosom lipase.

Pada tahun 2014, FDA juga menyetujui obat yang dikumpulkan dari susu kelinci “Buatan” untuk mengobati angioedema herediter, penyakit genetik yang menyebabkan tubuh bengkak dan bisa berakibat fatal. Dan pada tahun 2009, FDA menyetujui kambing diubah secara genetik yang dapat membuat obat dalam susunya yang mencegah pembekuan darah yang fatal. Duh ternyata banyak rekayasa ya di sana? Nggak apa-apa ini rekayasa untuk kesehatan umat manusia.

Masih dalam artikel yang sama disebutkan bahwa sapi-sapi yang diubah secara genetik sangat berharga karena mereka menciptakan antibodi poliklonal, antibodi yang dapat menyerang bakteri, virus, dan bahkan sel-sel kanker di beberapa daerah. Antibodi poliklonal adalah cara alami tubuh kita melawan penyakit, dan hanya dapat diproduksi oleh hewan hidup. Sapi-sapi juga memproduksi lebih banyak antibodi dibandingkan manusia. Sekitar 30 sampai 60 liter plasma per bulan dibandingkan manusia yang hanya menghasilkan sekitar empat liter per orang.

Antibodi dari sapi saat ini sedang menjalani dua uji klinis untuk menentukan apakah mereka aman. Dalam satu percobaan, diatur untuk mendaftarkan hingga 70 orang, National Institutes of Health menguji obat sapi yang diturunkan untuk mengobati penyakit pernapasan Mers. percobaan lain, yang dilakukan di Brigham dan Rumah Sakit Wanita di Boston, telah terdaftar pasien dengan infeksi bakteri langka. Banyak percobaan lebih harus dilakukan sebelum antibodi masuk ke pasar.

Gimana udah tahu kan? Kapan Indonesia memikirkan dan membuat percobaan-percobaan yang berguna untuk kemajuan umat manusia, jangan berantem mulu.

Mari Ucapkan Sayonara untuk Yutu

Chang'e 3 Yutu
Chang’e 3 Yutu

Ternyata Tiongkok telah berhasil mendaratkan kendaraan ruang angkasanya yang bernama Yutu ke permukaan bulan. Bahkan kendaraan ini telah beroperasi selama 31 bulan atau ya kurang lebih 2 tahun lebih seditilah. Kendaraan ini berwarna keemasan, memiliki enam roda dan dikendalikan jarak jauh. Tugasnya ya tentu saja melakukan riset dengan mengirimkan gambar-gambar bulan ke bumi. Yutu memiliki arti kelinci permata, konon sesuai dengan cerita rakyat Tiongkok tentang kelinci bulan.

Tiongkok aja udah berhasil ke bulan, terus kamu kapan ke pelaminan? Upppsss! Tapi ada kabar sedih. The Verge merilis bahwa sang kelinci permata telah mati. Hal ini sesuai dengan status yang di posting oleh seseorang yang bernama Jade Rabbit Lunar Rover di media sosial Tiongkok. “Hi! This could be the last greetings from me!” Tulis pengguna tersebut, yang dikutip oleh Xinhua News pada tanggal 4 Agustus 2016 lalu. Artinya kurang lebih Hi! Ini bisa menjadi salam terakhir dari saya!”. Sedih ya?

Yutu mencapai bulan pada tahun 2013 lalu. Yutu diluncurkan dalam rangka Misi Tiongkok yang bersandi Chang’e 3. Kendaraan ini merupakan kendaraan yang berhasil mendarat dengan mulus di Bulan pertama kali sejak 1976. Kendaraan ini juga menjadi penanda bahwa Tiongkok mampu menempatkan armada ruang angkasanya di Bulan. Yutu sebenernya dibuat untuk beroperasi selama 3 bulan, namun secara mengejutkan mampu bertahan hingga 31 bulan di lingkungan yang bersuhu sangat dingin untuk sebuah robot.

Tiongkok telah mendeteksi masalah pada Yutu sejak tahun 2014 lalu, dan telah berpikir bahwa Yutu sudah mati. Namun mengejutkan, Yutu mampu bertahan dan kembali menjalin komunikasi dengan bumi. Walaupun berhasil menjalin komunikasi, Yutu menghadapi masalah mekanik dan menyebabkan dia tidak dapat bergerak untuk waktu misi yang lama.

Walaupun sekarang sudah mati, Misi Chang’e 3 dan Yutu telah memberikan Tiongkok pembelajaran yang luar biasa. Yutu berhasil mengirimkan gambar-gambar permukaan bulan yang menakjubkan. Data dari Yutu menunjukkan bahwa bulan memiliki sembilan lapisan tanah. Data tersebut mengonfirmasi bahwa kondisi geologi bulan berbeda jauh dengan yang ditemukan oleh Apollo.

Kabarnya Tiongkok nggak kapok ke Bulan, emang kamu yang ditolak sekali aja udah putus asa? Tiongkok berambisi melanjutkan misi Chang’e dengan Chang’e 5. Misi selanjutnya atau Chang’e 5, Tiongkok akan mendaratkan Kendaraan Ruang Angkasa lagi pada tahun 2017 dan membawa sample bulan ke Bumi. Tidak berhenti di situ saja, Tiongkok akan meluncurkan Chang’e 4 pada tahun 2018 untuk mengeksplorasi satelit bumi tersebut dari sisi yang belum pernah dieksplorasi.

Tiongkok sudah sampai bulan, dan kita Indonesia adalah tetangga dekat Tiongkok, dan kita dalam sejarah masa lalu sejajar dengan Tiongkok, tapi kenapa kita sekarang selalu sibuk ngurusi Pilkada, Pilgub, Isu Sara, bakar Vihara, bakar Masjid dan lain-lain. Duh Gusti! Ayo dong!