Serabeh, Sarapan Khas Kabupaten Tuban

Serabeh Mah Em, Pakah Logawe, Tuban

Pagi-pagi di Tuban, para bakul sudah selesai menaikkan belanjaannya di atas rombong yang nongkrong di jok belakang sepeda motor. Aktivitas ini sudah menjadi rutinitas para bakul rombong yang bahkan sudah mulai memasuki pasar pada pukul 03.00 WIB dini hari demi mendapatkan barang dari tangan pertama sehingga mendapat margin yang lumayan ketika dijual kembali ke pelanggan.

Selain aktivitas para bakul tadi, ada juga aktivitas lainnya yaitu para Ibu yang berjuang memenuhi kebutuhan sarapan di rumah. Mereka ada yang memasak ada juga yang karena sesuatu hal harus mencari penjual sarapan. Di Tuban ini ada banyak jenis sarapan, yang paling umum sih nasi pecel, nasi uduk, nasi punar dan serabih atau orang Tuban menyebutnya Serabeh. Saya sebagai orang Tuban tentu sangat akrab dengan menu sarapan itu, tapi saya sekarang sedang kangen dengan Serabeh jadi saya tulis soal pengalaman saya sarapan serabeh ini.

Penjual serabeh banyak dijumpai di seluruh sudut Kabupaten Tuban. Makanan yang terbuat dari adonan tepung beras dan sari kelapa ini menjadi sarapan favorit orang Tuban selain yang saya sebutkan di atas. Penjual Serabeh melengkapi warungnya dengan tungku dari tanah biasanya banyak lubang. Berbeda dengan tungku yang ada di rumah -jika ada- yang hanya memiliki dua lubang. Selain tungku yang dari tanah wadah masak atau wajannya pun juga terbuat dari tanah. Belum ada sih di Tuban penjual serabeh menggunakan kompor gas dan wajan almunium. Semuanya serba tanah. Satu lagi yang khas adalah pembersih wajannya yang terbuat dari merang yang diikat.

Setelah semuanya siap dan sambil menunggu biasanya penjual serabeh pun memulai memasak serabeh dengan menuangkan adonan ke wajan-wajan tanah. Ukurannya kecil-kecil kurang lebih berdiameter 10 cm per serabehnya. Setelah dituang penjualnya akan menutupnya dengan penutup yang lagi-lagi terbuat dari tanah. Serabeh itu seperti Terang Bulan, ndak perlu dibalik. Jadi ditunggu sampai matang. Setelah matang penjual serabehnya akan mengambilnya dan meletakkan di meja sebelahnya penjual. Meja ini dilapisi daun pisang. Ditumpuk dua-dua atau sepasang ada juga yang enggak ditumpuk.

Pembeli pun mulai berdatangan. Kayu bakarnya ditarik dulu, penjualnya melayani pembeli yang sudah banyak datang. Umumnya sih membawa wadah, lang atau baskom. Jika tidak membawa biasanya akan diberikan cintung dari daun pisang. Yang ngangenin sih yang pakai cintung itu. Rasanya gimana gitu. Kemudian setelah itu diberikan santan yang gurih. Jika pakai cintung, santannya langsung diguyurkan di atas serabehnya. Harganya murah meriah sih, saya lupa tapi murah banget pastinya.

Berbeda dengan serabih di kota lainnya contohnya di Bandung yang terasa manis, di Tuban Sarabeh rasanya gurih. Ini sih tidak terlepas dari letak geografis Tuban di pinggir pantai yang umumnya memang menyukai masakan bercitra rasa gurih. Serabeh seperti yang ada di Tuban ini sebenarnya saya temui juga di Jakarta ini, meski harus membuat request khusus. Seperti yang saya bilang sebelumnya di tempat lain Serabeh ini rasanya manis. Saya pesan yang gurih dan santannya pun gurih. Meski enggak bisa persis rasanya seperti di Tuban tapi lumayan untuk ngobati rasa kangen saya.

Desa yang paginya dingin namun selalu dihangatkan dengan suasana dan makanannya. Penjual serabeh dengan api tungkunya, Penjual pecel dengan nasinya panas tak ketinggalan penjual nasi uduk dan punar yang tidak kalah ngebul nasinya, menjadikan pagi yang sangat hangat di Tuban. Yang masih di Tuban mari kita rawat Tuban tercinta ini beserta kehangatannya, yang sedang merantau seperti saya mari kenalkan Tuban kepada anak-anak kita. Kita ceritakan bahwa ada Kabupaten di pinggir laut utara yang sangat bersahaja.

Sate Klopo Ondomohen, Kuliner Legendaris Surabaya

Sate Klopo Ondomohen
Sate Klopo Ondomohen

Pada suatu sore, Surabaya diguyur hujan tipis-tipis. Surabaya yang kini sangat asri itu tambah ngangenin suasana hujannya. Sore itu saya dan istri sedang ada keperluan di Surabaya. Saya berada di sekitar balai kota Surabaya. Terus teringat bahwa ada makanan khas Surabaya yang akhir-akhir ini hits di Media Sosial. Namanya Sate Klopo Ondomohen.

Sebelumnya setiap ke Surabaya saya makannya nasi bebek yang sambelnya aduhai menggoyang lidah itu. Sampai kemudian tahu ada Sate Klopo Ondomohen ini di Media Sosial. Tidak banyak pertimbangan, saya pesan taksi online, transportasi andalan saya ketika berkunjung ke kota-kota besar Indonesia. Tidak berapa lama taksi online pesanan saya pun datang.

Menyusuri jalanan Surabaya yang sore itu dingin karena hujan, hmmm… Duh Dek! Tata kota di Surabaya keren banget, karya tangan dingin Ibu Risma, Walikota Surabaya paling mantab jaya. Trotoar dan jalan yang bersih, pepohonan yang rindang dan rapinya taman-taman kota yang menghiasi setiap sudut kota surabaya. Sangat detail, seperti sebuah karya seni yang memikat.

Saya masuk ke Jalan Walikota Mustajab tempat warung Sate Klopo Ondomohen berada. Pas sampai ternyata ada beberapa warung sate klopo di jalan tersebut. Awalnya saya mau tanya mana yang asli. Tapi urung saya lakukan, toh semuanya asli enggak ada yang dari plastik. Hehehe. Pertanyaan saya ubah. “Pundi Pak sing terkenal teng internet niku?” (Mana Pak yang terkenal di internet itu?). Bapaknya menjawab yang itu Mas yang Warung Ondomohen Bu Asih.

Saya melihat telunjuk sopir taksi tadi. Telunjuknya menunjuk ke warung yang sederhana dibawah pohon yang rindang serta pembakar satenya yang terletak di depan sedang sibuk sekali membakar sate. Ada ciri mencolok sih yaitu ada banner besar di ataspnya yang tertulis Sate Klopo Ondomohen Bu Asih. Bannernya warnanya mencolok dengan latar berwarna kuning. Mobil menepi lalu saya membayar biayanya.

Saya masuk lalu memesan menu sate klopo. Saya awalnya tidak tahu bahwa sate ini bahan bakunya adalah daging sapi, ada juga ayam sih. Tapi kambing tidak ada. Ya sudah saya pesan tiga porsi sate klopo. Dua daging sapi dan satu porsi ayam. Kemudian bumbunya saya meminta kacang. Konon kacangnya ini dari Tuban sana. Wah bangga juga, kacang dari Tuban bisa jadi bagian penting dalam makanan terkenal ini.

Sate Klopo Ondomohen Surabaya
Sate Klopo Ondomohen Surabaya

Pelayannya langsung sigap membakar sate yang saya pesan. Tempat membakarnya panjang dan dilengkapi kipas angin. Di suasana yang hujan rintik-rintik kemudian di dekat bara api pembakaran sate itu sungguh gimana gitu. Warungnya enggak ramai sih, maksudnya enggak sampai membludak gitu. Kursi-kursi terisi namun tidak sampai antri. Mungkin karena saya kesana waktu makan sudah lewat jadi tidak terlalu antri.

Beberapa saat kemudian saya dipanggil sama pelayannya. Pesanan saya sudah jadi. Hmmmm…. Enggak sabar menikmati. Karena saya ditunggu keluarga besar, saya enggak bisa langsung menikmati. Saya bungkus pesanan saya tadi, kemudian saya pesan Taksi Online lagi. Tidak beberapa lama Taksi Onlinenya sudah datang di depan Sate Klopo Ondomohen ini.

Surabaya sore itu macet, untungnya saya dapet Sopir Taksi Online yang terhitung masih tetangga. Beliau orang Bojonegoro. Merasa dekat kemudian saya tanya-tanya dengan Mas Sopir ini. Pembahasan masih seputar Sate Klopo Ondomohen. Saya penasaran sih sebenernya, hawong letaknya di Jalan Walikota Mustajab kok dinamain Sate Ondomohen. Mas Sopirnya jawab nama Ondomohen itu adalah nama jalan di jaman penjajahan dulu. Saya manggut-manggut.

Saya sampai di tempat keluarga besar saya dan anak saya ternyata lagi tidur. Yawes yuk kita makan. Pas buka bungkusnya sudah berasa bau gurih kelapanya. Kemudian pas dicicip tanpa bumbu, hmmm… Gurih. Kaya sate dikasih srundeng. Ya enggak sih? Hehehe. Kemudian coba dikasih sama bumbu. Duh uenak jaya. Gurih-gurih gimana gitu, dagingnya pun empuk. Karena pakai daging sapi, maka bau apek kaya sate kambing pun enggak ada. Enak sih menurutku. Ini bisa kamu coba banget pas lagi di Surabaya.

Makan Siang Populer di Tuban itu Dijuluki Welut Sego Jagung

Welut Sego Jagung
Welut Sego Jagung

Siang terik yang membakar kulit siapapun yang berada di jalan. Saya menyusuri salah satu ruas jalan berkelok di Kecamatan Semanding. Kecamatan terbesar di Kabupaten Tuban yang disebut-sebut sebagai cikal bakal pemerintahan modern Tuban yang diyakini bersamaan dengan periode Majapahit. Tujuan saya adalah menikmati makan siang favorit orang Tuban : Welut sego jagung.

Suasana panas terik adalah khas Tuban. Jadi ketika sampai Tuban jangan langsung judge bahwa sedang pemanasan global. Tuban ya dari dulu panas. Hehehe. Cuaca yang panas nan terik ini ternyata juga berpengaruh terhadap kuliner di Tuban. Kok bisa? Ayo kita simak tulisan ini.

Jika di tempat dingin kulinernya adalah yang hangat-hangat, pedes dan sedikit asam. Maka di tempat panas seperti Tuban ini, kamu akan menemui makanan yang menyalak pedesnya dan membakar panasnya. Salah satunya adalah welut sego jagung. Makan siang favorit warga Tuban, dan juga yang membuat saya rela berpanas-panas menyusuri jalanan Tuban.

Di Tuban kamu akan mudah menemukan warung yang menyediakan menu ini. Dari warung tradisional seperti cemplon di Merakurak, Bagong dan Jangkar di Semanding sampai warung modern yang berjajar rapi di jalan protokol Tuban. Warung-warung tersebut senantiasa ramai pengunjung ketika jam makan siang tiba. Atau waktu lebaran, saat semua manusia-manusia Tuban kembali ke rumah dan kangen terhadap masakan yang pedasnya menyalak bernama welut sego jagung ini.

Di Tuban mayoritas adalah petani. Ini berdasarkan data BPS terakhir. Tapi mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi Kabupaten Industri. Entahlah mungkin pertanian kurang menterang bagi Pemerintah. Ndak paham saya. Di Tuban memiliki geografi yang unik. Dari mulai dataran rendah mendekati 0 meter dari permukaan laut sampai bukit kapur yang menjulang tinggi sekaligus kering.

Dataran rendah menghasilkan sawah yang subur ditambah juga daerah aliran sungai bengawan solo yang juga menghasilkan sawah yang subur. Sawah ini menghasilkan hewan yang bernama belut atau kalau orang Tuban nyebutnya welut. Welut hidup di tempat yang berlumpur, seperti kondisi tanah sawah yang umumnya berlumpur. Jadi enggak heran Tuban menghasilkan banyak welut.

Kemudian bukit kapur yang kering itu menghasilkan jagung kualitas tinggi dalam jumlah banyak. Makanya enggak heran orang Tuban sudah akrab dengan sumber karbohidrat pengganti nasi ini. Bahkan sebelum orang Indonesia khususnya jawa secara masif mengonsumsi beras, orang Tuban sudah mengonsumsi nasi jagung atau sering disebut sego jagung.

Sego jagung khas Tuban berbeda dengan nasi jagung daerah lain yang masih dicampur dengan nasi putih atau nasi dari beras. Sego jagung Tuban murni dari jagung yang dihaluskan lalu dinamakan bledekan. Bledekan ini dikukus dan jadilah sego jagung yang khas. Sebenarnya sego jagung khas Tuban itu terbuat dari jagung putih, tapi belakangan ini sudah sulit menemukan jagung putih. Maka yang banyak beredar di pasaran adalah sego jagung kuning.

Nah perpaduan dataran tinggi, aliran sungai dan bukit kapur menghasilkan kuliner legendaris sekaligus favorit makan siang di Tuban bernama Welut Sego Jagung. Welut sego jagung ini memang pas menjadi makanan pokok saat siang hari. Sengatan matahari Tuban yang eksotis ditambah semilir angin itu akan menambah sensasi makan siangmu. Tahu kan rasanya jika kamu sedang berkeringat dan diterpa angin semilir. Duh dek! Aku kangen.

Jadi kapan ka Tuban dan merasakan sensasi kuliner Tuban ini? Kalau mau ke sana jangan lupa ajak saya, tapi traktir, yak! Hehehe. Terakhir Ayo ke Tuban!

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Nyobain Ayam Geprek Bensu

Ayam Geprek Bensu Keju
Ayam Geprek Bensu Keju

Habis service mobil, kok pas waktu makan siang. Istri saya buka map nyari tempat makan di sekitar lokasi saya. Ternyata ada Ayam Geprek Bensu. Wah keren juga ini, makan di restoran milik artis. Menarik juga sih menurut saya, disaat artis-artis pada bikin cake yang saya pribadi bukan penggemar roti-rotian gitu, Bensu justru buka warung ayam geprek. Menambah variasi kuliner milik artis.

Google Map diset ke tujuan Ayam Geprek Bensu Tambun. Jalanannya ramai, ini yang bikin bingung kalau bawa mobil, hehe. Tapi lancar kok. Setelah beberapa lama saya belok kiri ke arah Jalan Mekarsari. Terus masuk ke underpass kemudian ketika keluar dari underpass tengok ke kanan, Ayam Geprek Bensu ada di kanan jalan. Tinggal sein kanan dan diarahkan oleh abang parkirnya untuk parkirin mobil.

Keluar dari mobil dan kaget, antriannya banyak. Wah bakal lama nih kayanya nunggunya, padahal udah laper banget. Pas masuk ke tempat makannya, kami disambut dengan senyuman petugasnya. Saya ditanya mau yang menu apa. Saya minta penjelasan sedikit tentang ayam geprek biasa dan ayam geprek keju. Kemudian si Mbaknya njelasin dengan ramah.

Jadi saya memilih menu ayam geprek yang level nol, jadi ndak ada sambelnya. Untuk anak juga soalnya. Kemudian istri saya pesan ayam geprek keju level 1. Seperti dijelaskan sama Mbaknya, kalau di sini ada 15 level, paling rendah nol dan paling tinggi 15. Tapi sepertinya level satu saja sudah berasa kok sambelnya dan sudah cukup membuat saya keluar keringet. Setelah selesai saya bayar. Nggak banyak kok, dengan pesanan seperti tadi saya hanya mengeluarkan kurang dari Rp 50.000,- itu sudah termasuk pajak.

Saya menuju ke lantai 2, karena di lantai 1 sudah penuh dan banyak orang ngantri. Dalam perjalanan ke lantai 2, saya masih mikir bakal lama ini mengingat antrian tadi. Di atas ternyata nggak sepenuh di bawah, ada beberapa anak-anak sekolah dan satu keluarga yang sedang menikmati hidangan. Tidak lama saya duduk, pesanan saya datang. Saya kaget ternyata secepat ini. Top buat komitmen pelayanan Ayam Geprek Bensu.

Saya membuka menu yang saya pesan. Punya saya ayam geprek level nol, jadi ndak ada sambelnya. Hanya nasi dan ayam goreng geprek. Saya coba colek dikit. Rasa dagingnya gurih dan lunak. Udah mirip sama restoran cepat saji tekstur ayamnya. Kemudian saya colek dikit kulit dan tepungnya. Hmmm… Enak banget, kriuk dan gurih. Ada rasa pedesnya dikit-dikit sih.

Kemudian saya coba ayam geprek keju milik istri. Tampilannya bagus, ayam geprek diberi sambel yang khas kemudian ditaburi parutan keju. Saya coba colek keju dan ayamnya. Paduan ayam geprek goreng yang gurih dan keju yang juga bernuansa gurih menghasilkan rasa yang maknyus. Uenak jaya. Sama seperti milik saya tadi, kulitnya ada sensasi pedas tipis.

Selanjutnya saya coba kombinasikan antara daging ayamnya, kulit, keju dan sambelnya. Hasilnya mantab! Saya menyebut sambel ini sambel korek. Rasanya sudah cukup membuat saya mengeluarkan keringat, padahal baru level satu. Tetapi saya memang dasarnya nggak doyan makan pedas, jadi jangan dijadiin patokan. Selera pedas saya ndak standard. Hehehe.

Kemudian acara dilanjutkan dengan makan bersama. Tidak ada AC di sini, jadi siap-siap lap keringet. Bensu sepertinya memang menyasar kelas menengah dan remaja. Soalnya harganya sangat bersahabat dengan rasa yang enak. Harganya saya rasa enggak jauh sama warung ayam goreng di tenda pinggir jalan.

Setelah beberapa saat, kami semua menyelesaikan makan siang kami. Kami menuju ke parkiran dan kembali pulang. Sampai ketemu di tulisan kuliner saya selanjutnya.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

 

Kuliner Legendaris Tuban : Tahu Petis Lapangan Merakurak

Tahu Petis Lapangan Merakurak
Tahu Petis Lapangan Merakurak – Tuban

Magrib baru saja selesai, biasanya inilah waktunya orang Tuban keluar rumah untuk sekadar menikmati malam atau mencari kudapan bahkan makan malam. Tetapi malam ini sepi alih-alih ramai. Tidak mengherankan karena hujan baru saja usai membasahi bumi wali.

Saat Tuban terbuai dengan dinginnya malam, di sudut lapangan Merakurak terdengar suara srang-sreng orang goreng tahu. Dengan suara kompornya yang khas, saya menyebutnya kompor howos karena bersuara howos-howos saat menyala apinya. Dulu menggunakan minyak tanah yang dipompa sekarang gunakan tabung gas tekanan rendah atau LPG.

Saya yang malam ituf kepengen banget makan tahu petis, mulai menyusuri jalan desa Kapu yang sepi juga. Pelan namun pasti saya menuju ke sudut lapangan merakurak. Letak warung tahu petis ini tepat di sudut barat laut lapangan Merakurak. Bukanya habis Magrib kalau tutupnya saya ndak tau. Tapi sepertinya sampai menjelang tengah malam.

Tahu Petis Lapangan Merakurak
Foto : Owner Tahu Lapangan Merakurak

Saya menstandar motor tepat di depan meja jualannya tahu petis Lapangan Merakurak. Saya sudah lama enggak beli tahu petis ini. Jadi saya lupa harganya berapa. Saya tanya berapaan ke Mas penjualnya. Terus Masnya bilang “segini lima ribu, Mas” sambil nunjuk sekresek tahu yang sudah dibungkus.

Yawes saya minta Rp 5.000,- saja. Sudah banyak kok. Bisa kamu makan 2 orang lah. Murah kan? Dengan cekatan Masnya memasukkan tahu yang baru digoreng ke kresek. Tidak lupa petisnya dimasukkan juga. Saya dapat tiga bungkus petis. Tambahkan juga garam dan taburan cabe hijau yang segar itu. Cabe di Tuban itu berwarna hijau segar lebih mirip ke kuning sih. Rasanya pedas nendang.

Setelah itu saya terima sekresek tahu dan berangkat pulang. Untuk menikmati tahu petis ini kamu harus bungkus, soalnya enggak ada tempat duduknya. Di Tuban sih umumnya memang seperti itu. Karena tahu ini memang jenis kudapan bukan makanan utama. Cocok untuk teman ngopi atau ngeteh apalagi dingin-dingin gini. Mantab pokoknya.

Kemudian kenapa saya bilang tahu petis Lapangan Merakurak itu kuliner legendaris Tuban? Ya soalnya kuliner ini sudah lama banget sejak saya kecil dulu. Dulunya hanya menempati pos ronda kecil dan sekarang membangun tenda. Selain sudah lama, kuliner ini pun tidak berubah rasanya. Dari dulu kala ya seperti ini rasanya enak jaya.

Setelah beberapa waktu kemudian saya sampai di rumah. Saya bongkar tahunya saya tata di atas piring kemudian di foto. Hasilnya ya di atas itu. Kemudian setelah itu baru saya santap satu per satu tahunya.

Tahunya bertekstur renyah, enak dinikmati pada saat panas. Saya buka bungkusan petisnya kemudian saya cocolkan tahunya. Hmmm… Enak banget. Rasa petisnya enggak berubah sejak saya kecil dulu, masih tetap sedap. Enaknya sih tahunya itu khas.

Sesuai perkiraan saya tadi, tahu petis Lapangan Merakurak yang berharga Rp 5.000,- ini pas untuk berdua. Saya habiskan dalam waktu singkat tahu petis ini. Buat kamu yang seneng berburu kuliner legendaris di Tuban ayo ke Merakurak.

Selain tahu petis Lapangan Merakurak ini, ada kuliner lainnya yang patut kamu coba. Jangan lupa kamu review di akun medsos kamu jika kamu telah berkunjung ke tempat-tempat menarik di Tuban. Terakhir, Ayo ke Tuban! Ayo ke Merakurak!

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Nasi Pecel Godong Jati Khas Kabupaten Tuban

Sego Pecel Daun Jati
Nasi Pecel Godong Jati

Pagi yang cukup basah di Tuban. Tidak mengherankan karena di minggu-minggu ini merupakan puncak musim hujan di Tuban. “Esuk-esuk ngeteki manuk, disambi ngopi karo cangkruk…” Duh gak tahan goyang iki Jeh, dengerin lagu terbaru JHF yang bertajuk Ngene/ Ngono. Oke balik ke masalah pecel. Tuban – Jogja itu berjarak 7 jam perjalanan darat, tapi entah kenapa kok saya suka sama Jogja. Lho kapan ini bahas pecelnya?

Kalau kamu pergi ke Tuban, maka pada pagi hari kamu akan menemui deretan penjual nasi pecel di hampir seluruh wilayah kabupaten ini. Dari ujung palang sampai ujung Kenduruan atau dari ujung Rengel sampai ujung Jenu sangat mudah menemukan berbagai variasi nasi pecel. Jika di Palang dikombinasi dengan pelas yang pedas maka kamu akan temui di Merakurak pecel dicampur dengan lodeh yang sedap belum ditambah lagi dengan daun kemangi yang mewangi itu.

Secara umum nasi pecel di Tuban menggunakan sambel kacang yang pakai kencur. Di beberapa daerah ada yang nggak pakai kencur. Kemudian sayurnya kangkung, kol, dan kecambah semuanya matang alias direbut. Semuanya dipadukan dengan nasi panas yang dimasak dengan didang. Nasi dang berbeda rasanya dengan yang dimasak pakai magic com. Biasanya disajikan saat panas, sampai terlihat kebul-kebul asap nasinya.

Di tempat lain sedang banyak digemari nasi pecel pincuk yang menggunakan daun pisang yang dibentuk lancip dibawah. Daun pisang dengan bentuk sedemikian rupa itulah asal mula nama pincuk. Nasi pecel pincuk ini terkenal di Madiun dan di tempat lain Jawa Timur. Kemudian bagaimana dengan Tuban? Apakah ada trend nasi pecel pincuk merambah Tuban?

Ternyata berbeda, banyak penjual nasi pecel di Tuban yang membungkus nasi pecelnya dengan kertas minyak. Pembungkus ini jadi pilihan karena mudah didapat, murah harganya dan yang pasti mudah dilipat jadi membuat simple pengemasan nasi pecel. Tetapi belakangan banyak yang mulai kangen dengan kemasan nasi pecel klasik : menggunakan daun jati atau orang Tuban menyebutnya Godong Jati.

Dahulu penjual nasi pecel memang menggunakan daun jati. Tuban terkenal dengan hutan jatinya, jadi tidak sulit menemukan daun yang jika dibaret berubah warna jadi kemerahan ini. Kata penikmat nasi pecel di Tuban, kalau menggunakan daun jati itu rasanya lebih sedep. Bau daun jati ternyata mempengaruhi rasa nasi pecel yang dibungkusnya. Kalau kamu mau makan nasi pecel godong jati ini silakan datang ke Tuban pagi hari, biasanya mereka pagi buta sudah berjualan di seluruh penjuru Kabupaten Tuban.

Nasi pecel ada di Indonesia sejak penjajahan Belanda. Dari berbagai sumber, orang-orang Suriname yang dibawa oleh Belanda dari Jawa pun sudah gemar makan pecel. Variasinya banyak, jika di Tuban sayur utamanya adalah kangkung maka di daerah lain mungkin kecambah sama kol atau bahkan bayam. Tetap sama enaknya. Perwakilan Indonesia di negara-negara lain juga gencar memperkenalkan pecel ke masyarakat internasional. Sebut saja KBRI Suriname pada acara Expo Guyana 2016 lalu.

Terakhir saya mau kasih tau, ayo mulai kembali menikmati kuliner lokal. Kuliner lokal seperti nasi pecel godong jati ini adalah kuliner yang sudah melegenda, sejak dahulu kala orang tua kita sudah mengonsumsinya. Kalau kamu mau mencobanya ayo datang ke Tuban dan mari berwisata kuliner. Banyak yang lainnya sih selain nasi pecel ini, kamu bisa lihat di kategori culinary di Blog ini.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.