Tahun Baru di Desa

Tahun Baru
Sumber : Tribun News

Malam ini adalah malam pergantian tahun. Bagi Kamu yang merayakan, tentu malam akan sangat indah. Gerlap-gerlip lampu perkotaan, jedar-jeder bunyi kembang api atau bahkan mungkin tidak sedikit yang dengar suara berisik knalpot brong yang memekakkan telinga itu. Itu perayaan tahun baru untuk kamu yang ada di perkotaan. Bagi orang desa beda lagi.

Orang desa sebenarnya baru-baru ini saja mengetahui atau beberapa ada yang mengikuti perayaan tahun baru dengan berangkat ke kota membawa motor berknalpot brong untuk show off. Alhamdulillahnya sih, Polisi sudah mulai perhatian dengan knalpot brong ini. Sejak beberapa tahun belakangan ini, kota-kota di Indonesia diadakan operasi untuk membatasi pergerakan massa berknalpot brong ini.

Pada zaman saya kecil dulu, orang desa saya enggak ada yang merayakan tahun baru. Kemudian pas remaja alias agak gedean dikit, di desa saya mulai ada orang yang merayakan tahun baru. Tapi perayaannya enggak kaya di kota yang dipenuhi pesta kembang api. Waktu itu di desa saya lagi banyak penghobi elektronik. Enggak anak lelaki kalau nggak mahir mainin solder dan timah.

Jadilah tahun baru kumpul-kumpul sambil dengerin house music semalam suntuk. Sebelum malam tahun baru datang. Kawan-kawan saya mulai menata sound system. Jangan harap seperti sound system gantung seperti sekarang. Dulu hanya menggunakan sound system yang diperkuat Amplifier rakitan dan subwofeer yang juga rakitan. Tapi suaranya bisa bikin kaki menari-nari.

Setelah sound system siap, lanjut cari logistik. Tidak seperti ditempat lain yang langsung beli snack dan kawan-kawan. Kami anak desa waktu itu enggak punya cukup duit untuk beli kaya gitu. Kalau beruntung Kami bisa dapet ayam potong. Di desa kami dulu banyak pengusaha ayam potong. Jadi mereka biasanya menyumbang untuk makan-makan pas tahun baru. Kalau enggak ya makan rengginang-rengginang atau kripik-kripikan bikinan orang rumah. 😀

Pas malam datang, semua orang-orang, rata-rata anak muda laki-laki sih yang datang. Wanita di desa pemalu, jadi tabu rasanya menghadiri acara-acara kaya gini. Ini jaman dulu lho ya, ndak tahu kalau sekarang. Setelah ngumpul ya cuma nyetel house music kemudian makan-makan deh. Kalau pas dapet ayam ya mulai masak ayamnya. Bisa dikare atau disate.

Ya udah ngumpul deh sampai pagi. Setelah pagi sekira jam 1 malam gitu, mulai pada pulang dan tidur. Besok kerja lagi, bagi yang kerja. Kalau buat orang kaya saya yang saat itu belum kerja ya saatnya tidur. Nah itulah perayaan tahun baru di desa. Bro jangan gunakan tahun baru untuk melanggar ketertiban masyarakat, ya. Jangan gunakan knalpot brong yang berisik itu, hawong motornya kan ya masih minta sama orang tua. Masak ndak inget mereka sampai rela menjual sapinya untuk nurutin sampeyan supaya bisa naik motor, hakok malah sampeyan protoli.

Yawes gitu aja, selamat tahun baru 2017, semoga di tahun baru ini masyarakat desa tidak distigma sebagai warga kelas tiga. Kita juga sama dengan warga negara Indonesia yang lain. Habisnya saya kesel, di Indonesia orang desa selalu dianggap orang yang terbelakang, gampang ditipu dan lain-lain, bahkan lebih kejamnya, orang desa kadang dianggap primitif. Padahal lho di desa itu gak suka tawuran. Coba bandingkan angka tawuran di kota besar sama di desa banyakan mana dalam periode yang sama.

Sekali lagi Selamat Tahun Baru ya, Bro Sis semua, sukses! Amiin Ya Rabbal Alamin 😀

Akhir Pekan di Museum Nasional

Patung Adityawarman di Museum Nasional
Patung Adityawarman di Museum Nasional

Siapa yang suka ke Museum? Mungkin kebanyakan males kali, ya? Saya sebenarnya juga gimana gitu kalau mau ke Museum. Cuma karena akhir-akhir ini saya suka sejarah, ya jadilah saya harus suka ke Museum untuk mengonfirmasi informasi sejarah yang selama ini saya baca di buku-buku. Saya sudah lama penasaran dengan Museum Nasional atau yang sering disebut Museum Gajah. Saya pengen tahu di dalem itu isinya apa sih? Apakah masa lalu? Tsaaaahhh… Masa lalu.

Hari Minggu (27/11/2016) yang agak mendung diawali dengan video call dengan Mbah Kungnya anak saya. Kemudian mandi dan siap-siap buat ke Museum Gajah. “Nanti lewat mana, Yah?” tanya istri. Kemudian saya teringat bahwa jalan depan Museum Gajah itu tidak bisa dilewati motor. “Nanti parkir di Monas saja, setelah itu jalan kaki ke Museum Gajahnya” Jawab saya.

Kemudian kami bertiga pun berangkat menyusuri jalanan Jakarta yang hari itu lengang. Maklum hari Minggu. Kalau hari kerja jangan tanya macetnya kaya apa. Sampai di Monas, kami parkir motor. Setelah itu jalan kaki menyusuri trotoar Monas yang lebar dan adem itu. Sampai di depan Museum, kami menyebrang jalan. Hati-hati di sini jalanan ramai. Gunakan lampu lalu lintas untuk menyebrang.

Ketika sampai di Gerbang Museum Gajah, kami disambut oleh replika Pesawat N250 yang kokpitnya bisa dimasuki. Kamu bisa dengan leluasa foto-foto di dalamnya. Di sisi sebelah kanan replika N250, ada patung abstrak yang menunjukkan lorong waktu. Seolah mau menyampaikan pesan bahwa Museum ini bagaikan lorong waktu. Kemudian patung Gajahnya sendiri berada tepat di depan pintu masuk Gedung Museum.

Masuk ke Gedung Museum, kami melewati pemeriksaan menggunakan metal detector. Setelah itu kami diarahkan oleh petugas keamanan ke loket tiket. Tiket masuk untuk dewasa adalah Rp 5.000,-. Murah sih untuk memasuki Museum segede ini. “Yah kita yang kemana?” tanya istri saya. “Kita lurus aja, yuk” Jawab saya sambil mulai menggendong si Kecil yang dari tadi udah lari-larian ke sana ke mari.

Lanjut jalan menuju ke sektor Taman Arkeologi. Di taman ini kami disuguhi koleksi arkeologi. Kebanyakan berisi koleksi arca-arca kuno yang ditemukan dari seluruh Indonesia. Ada Arca dewa-dewa Hindu dan Budda. Kemudian ada juga barang-barang kuno seperti gentong, lingga dan yoni untuk alat persembahyangan zaman dahulu kala. Di setiap koleksi terdapat tempelan yang berisi keterangan nama arca, tempat asal dan kegunaannya. “Yuk kita masuk ke kanan itu”. Kata saya.

Ketika masuk ke ruangan, istri saya berhenti di depan pintu karena ada kursi di situ. “Capek, yah. Ayah lanjut aja sendiri”. Kata istri saya sambil menyelonjorkan kaki. Ya udah akhirnya saya keliling-keliling sendiri. Di ruangan ini isinya adalah kebudayaan-kebudayaan dari seluruh Indonesia. Misalnya di Jawa ada wayang kulit, ada tempat tidur yang dipercaya sebagai persemayaman dewi Sri. Saya sebagai orang Jawa, baru tahu kalau di Jawa ada kepercayaan kepada Dewi Sri, bahkan memberikan ruangan khusus untuk persembahyangan.

Saya bergeser lagi. Di sini ada budaya dari Bali. Misalnya tentang Barong dan pakaian-pakaian kemudian ada juga upacara-upacara adatnya. Selain Bali ada juga kebudayaan Kalimantan, Nusa Tenggara dan masih banyak lagi yang lainnya. Lho? Kok kaya lagunya Rhoma Irama. Setelah selesai di Ruang ini, saya lanjut ke gedung sebelahnya melewati lorong kaca yang terang itu. Istri saya sepertinya sudah segar kembali.

Di Gedung ini terdapat empat lantai sepertinya. Saya hanya ke Lantai 1 tempatnya perkembangan kehidupan manusia. Dari mulai manusia purba sampai dengan manusia modern. Kemudian naik ke Lantai 2. Di lantai ini terdapat perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Koleksinya ada jam kapal, yang menurut keterngannya berbeda dengan jam yang ada di rumah, tapi kok sepengelihatan saya sama saja. Hehehe. Maklum ndak paham kelautan.

Ada juga koleksi bentuk-bentuk rumah, bentuk-bentuk rumah ibadah. Seperti Masjid yang beratap undak dan diatasnya terdapat Mustaka. Ternyata inilah Masjid asli Indonesia. Tapi sayang sekarang banyak yang meninggalkan arsitektur Masjid ala Indonesia, banyak yang niru-niru luar negeri. Ndak apa-apa sih sebenernya. Ada juga koleksi prasasti yang besar sampai yang kecil, yang terbaca jelas sampai yang tidak terbaca.

Baik, karena waktu sudah siang. Nggak terasa saya sudah keliling-keliling museum sebesar ini. “Yah ngapain sih ke Museum?” Tanya istri saya tiba-tiba ketika kami mulai menuruni tangga berjalan itu. “Untuk tahu darimana kita berasal, bagaimana leluhur kita bersikap dalam berbagai situasi dan bagaimana leluhur kita menyelesaikan masalah.” Jawab saya panjang lebar, berusaha menjelaskan kenapa saya ke Museum. Nampaknya jawaban saya sudah memuaskan istri saya.

Sebelum pulang, saya penasaran dengan patung Adityawarman, seorang tokoh Bhairawa Tantra yang sering diceritakan oleh Sejarawan Agus Sunyoto. Patung tersebut ternyata ada di Taman Arkelogi. Patung yang cukup tinggi dengan pose berdiri diatas tengkorak-tengkorak manusia.

Setelah itu kita keluar Museum, sebenernya masih banyak yang harus di eksplorasi di Museum ini. Cuma badan udah capek banget. Kapan-kapan ke sini lagi. Saking capeknya, kami menggunakan taksi online untuk menuju ke parkiran monas. Usul untuk pengelola Museum, mungkin disediakan jalur khusus sepeda motor, supaya parkirnya lebih dekat.

Ternyata Begini Rasanya Wisuda

Wisuda
Wisuda

Akhirnya saya lulus juga. Jadi keinget dulu perjuangan kuliah. Hehehe. Saya sudah menulis mengenai akhir kuliah saya, tapi saat itu masih pada tahap mendapatkan ACC kelulusan. Nah kemudian pada suatu hari saya melihat website baak kampus kebanggaan saya itu, saya lihat kok ada pengumuman briefing wisuda dan tanda tangan ijazah. Duh rasanya kaya mau lulus dari apa gitu.

Pada hari selasa tanggal 13 September 2016, saya hadir disebuah ruangan yang sudah dipadati calon wisudawan. Rasanya udah mulai deg-degan, sedikit agak bangga tapi nggak sebangga mereka yang memang niat kuliah untuk meningkatkan kualitas hidup. Saya masuk dan acara sudah dimulai, telat lagi ternyata. Kebiasaan kuliah belum ilang. hehehe.

Setelah saya mengambil duduk dipojok depan, saya menyimak beberapa materi tentang teknis wisuda yang akan dilaksanakan pada hari Selasa depan tanggal 20 September 2016 di gedung JCC. Tahu JCC kan? Itu gedung pertemuan yang penuh gengsi di bilangan Senayan Jakarta. Dosen yang mengisi briefing selalu mengingatkan urutan langkah wisuda, pertama nunduk kemudian digeser kucirnya, kedua menerima ijazah dan terakhir salaman, jangan dibolak-balik.

Setelah itu kami mengantre di baak untuk tanda tangan ijazah dan mengambil undangan serta toga. Antreannya panjang banget, lhawong seluruh prodi di fakultas TI je yang ikut antri. Setelah mengantri lama, tibalah giliran saya. Kebiasaan saya kalau tandatangan hal penting gini suka grogi dan malah tandatangannya salah, makanya saya latihan dulu beberapa kali tandatangan untuk melatih otot-otot tangan. Tsaaah… Tandatangan Ijazah lancar dilanjutkan pengambilan toga dan undangan.

Terus sampai rumah, saya baru sadar bahwa momen penting briefing tadi ndak saya abadikan baik foto maupun video. Duh Rugi. Setelah menunggu beberapa hari akhirnya hari Selasa tanggal 20 September 2016 datang. Jujur saya nggak deg-degan sama sekali hawong sejujurnya saya agak malu, saya kayanya termasuk mahasiswa yang betah di kampus.

Pagi-pagi saya bangun agak pagi dari biasanya. Lha yaiya daripada saya ndak bisa ikut wisuda. Setelah bebenah saya berangkat jam setengah 7 dari rumah, atau 30 menit lebih awal dibandingkan biasanya saya berangkat ke kantor. Saya naik motor bersama anak dan istri saya ke tempat wisuda. Tuh saya itu udah punya anak dan istri tapi baru wisuda. hehehe. Setelah sampai di JCC saya parkir motor dan menuju ke tempat wisuda.

Saya dianter ke JCC, setelah itu istri saya pesen ojek online dan pulang 😀 Jadilah saya wisuda sendirian. Saya langsung masuk ke arena wisuda dan masalah pun terjadi. Saya nggak tahu nomor kursi saya. Saya tanya sama panitianya mereka jawabnya ada di bukti terima undangan. Duh lupa bray saya ndak bawa. Saya tanya lagi mungkin bisa dilihat dari NIM-nya. Untungnya panitianya bisa ngetrace tempat duduk saya, dan lebih serunya saya berada dideretan depan. Hahaha. Mentang-mentang mahasiswa tua ditaroh depan.

Acara mulai saya kok tiba-tiba deg-degan padahal awalnya sempet tertawa kecut karena ditaruh paling depan. MC-nya suaranya keren artikulasinya jelas, nggak ada selingan batuk atau dehem sedikitpun. Acara sambutan-sambutan hingga orasi ilmiah silih berganti, dan sampailah acara puncak yaitu pelantikan. Apa itu pelantikan? Itu lho yang menggeser kucir topi toga dari kiri ke kanan. Satu-satu persatu dipanggil, karena saya deretan depan, jadi saya termasuk yang dipanggil.

Ketika menunggu giliran saya merapal mantra “Nunduk, terima ijazah dan salaman” gitu terus di dalam hati supaya ndak lupa dan malu-maluin. Tiba-tiba MC-nya bilang “Fakhruddin” terus saya tunggu lagi kok nggak ada lanjutan “Lulus dengan predikat cumlaude” hehehehe. Kalau nggak ada berarti bener saya yang dipanggil. Saya maju dan nunduk kemudian menerima ijazah dan terakhir salaman. Duh Alhamdulillah lancar.

Kemudian saya duduk lagi ditempat semula “menonton” kebahagiaan kawan-kawan seperjuangan saya, kadang juga diselingi tawa karena ada yang lupa urutannya ada yang salaman dulu ada yang minta ijazah dulu ada yang toganya sampai copot gara-gara sanggul yang kelewat heboh dan lain-lain.

Setelah lama menunggu akhirnya upacara sakral ini selesai. MC menutup dengan haru dan bangga. Kemudian peserta wisuda berhamburan keluar. Saya pun ikut cepet-cepet keluar soalnya ada meeting di kantor. hehehe. Pas saya keluar, duh ada pemandangan yang luar biasa. Ini kawan-kawan saya ada yang disambut pakai bunga dan pelukan, ada yang kelihatan terburu-buru untuk memberikan bunganya, ada yang ketika keluar pintu disambut penuh senyum bangga. Saya sengaja memelankan langkah saya. Saya ingin menikmati ekspresi mereka, ekspresi kebahagiaan.

Finally perjuangan saya selama 6 tahun terbayar tuntas pada hari itu. Terimakasih semuanya yang telah membantu saya menyelesaikan kuliah 😀 Untuk kawan-kawan seperjuangan saya semoga kesuksesan dan keberkahan mewarnai hidup kalian.

 

Mau Tahu Gimana Serunya Pengalaman Pertama Saya Touring?

Semuanya baru pertama kali Touring ke Puncak :-D
Semuanya baru pertama kali Touring ke Puncak 😀

Suatu hari pada tahun 2012, saya dengan beberapa temen yang sebelumnya nggak pernah touring. Jangankan touring ketika keliling Jakarta pun masih sering nyasar. Sebut saja Anton, dia yang mencetuskan ide untuk nekat touring ke Puncak Bogor. Kami berlima yang terdiri dari Saya, Andik, Herwanto dan Bagus menyimak pemaparan Anton untuk rencana touring kami. Anton ngoceh menjelaskan rute yang akan dilewati. Hadeeehhhh… Jaman itu saya ndak mudeng blas. Ya pokoknya diiyain aja supaya cepet selesai.

Waktu yang ditentukan pun tiba. Saya berboncengan dengan Andik, Herwanto, Bagus dan Anton naik motor sendiri-sendiri. Berangkat dari Tanah Abang. Waktu itu kami semua tinggal disekitaran Tanah Abang kecuali si Anton. Kami berangkat menuju ke Cawang terus abis itu saya lupa. Pokoknya sampai-sampai di Cibinong. Entah lewat mana aja itu. Hawong yang seperti saya bilang tadi, saya ndak tahu jalan.

Hujan terus mengguyur, kalau tetap bertahan di tempat ini, saya rasa nggak bakal nyampe ini ke Puncak. Saya usul untuk menggunakan jas hujan dan melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan ternyata ada musibah. Jas hujan Herwanto meleleh karena kena knalpotnya yang panas itu. Duh! ada-ada saja. Nggak apa-apa perjalanan tetap dilanjutkan. Kami sampai di sebuah perbukitan, entah apa namanya. Ada fotonya sih. Mungkin kalau ada yang tahu bisa kasih tahu saya.

Pertama Kali Touring ke Puncak
Pertama Kali Touring ke Puncak

Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Beberapa lama kemudian kami sampai di Puncak. Tapi sempet keterusan juga. Hawong nggak pernah tahu Puncak. Sampai dikejar sama Anton. Nah setelah itu kami semua menikmati pemandangan keren di Puncak Bogor. Duh kenapa nggak daridulu sampai di tempat keren ini. Kemudian kami juga mampir di Telaga Warna.

Telaga Warna
Telaga Warna

Ada retrebusinya, tapi saya lupa berapa. Dalam bayangan saya, telaga warna itu ada sebuah telaga dengan berbagai warna. Ada pink, hijau, ungu dan sebagainya. Pas masuk ke sana. Ada telaga dengan warna yang biasa aja, cokelat kehijauan karena lumut. Saya tanya temen saya “Mana warnanya? Katanya Telaga Warna?” dijawab enteng sama temen saya “Iya, tuh warnanya cokelat” Hahahaha. Nggak apa-apa tetep seru akhirnya tahu telaga warna cokelat.

Selanjutnya kami makan siang dan pulang. Itu adalah pertama kalinya saya Touring. Setelah tonggak sejarah tersebut, saya mulai sering ikut travelling, dari offroad sepeda sampai arung jeram, mendaki gunung pake kendaraan bak terbuka, snorkeling ke pulau seribu dan lain-lain.

Edisi Akhir Kuliah Saya

Toga
Toga

Umur saya sekarang 27 tahun, kayanya umur segini, jaman sekarang, udah tabu ya untuk menjadi mahasiswa. Tapi itulah kenyataannya. Karena memang jalan hidup saya yang mengharuskan demikian. Tsaaaahhh. Dari mulai tahun 2010 lalu, saya bertekad untuk mengupgrade lisensi keilmuan saya dibidang Teknologi Informasi. Awalnya saya hanya memiliki ijazah Diploma 1, sebenernya nggak pantes juga kalau dikatakan hanya, hawong justru ijazah tersebut yang memberi saya rejeki hingga sekarang.

Saya ingat diakhir 2010 saya mencari kampus yang sudi menerima saya. Lanjut survey beberapa kampus di Jakarta, tapi akhirnya pilihan jatuh kepada kampus swasta di bilangan Jakarta Selatan. Sebenernya jauh juga sih, saya tinggal di Jakarta Pusat dan harus ke Selatan untuk kuliah di malam harinya. Padahal harusnya mencari ilmu kan kebarat (emang mencari kitab suci?).

Awalnya semangat kuliah hanya untuk mengisi waktu luang. Karena ternyata pusing juga ketika nganggur di kosan selepas kerja. Lagian waktu itu saya juga pengen kaya temen-temen saya yang ketika ngumpul ngomongin SKS, Ujian Tengah Semester, Ujian Akhir Semester dan lain-lain. Saya lulus SMA 2008, Nah rentang 2008 sampai 2010 itu saya selalu melongo kalau pas reuni dan pada mbahas begituan.

Di semester awal, absensi saya bagus banget. Bahkan tidak pernah tidak hadir. Tapi seiring waktu, saya dilanda malas yang luar biasa. Itu tergambar dari nilai IPK saya di semester-semester tengah. Jelek banget. Saya beberapa kali menjadikan alasan yang sangat ringan untuk tidak masuk kuliah. Pernah hanya karena gerimis, atau laper saya nggak masuk kuliah. Bahkan temen saya -yang awalnya semangat juga, pernah punya alasan yang absurd, apa itu? Spion motornya goyang. Hahaha.

Begitulah selama saya kuliah. Banyak cobaan yang sebenernya dateng dari diri sendiri. Cobaan yang dibuat-buat untuk nggak masuk kuliah. Hehehe. Saya pas masuk punya target untuk segera lulus, ya kalau tepat waktu sih harusnya empat tahun berikutnya saya sudah lulus. Waktu demi waktu berlalu dengan berbagai ceritanya, tidak terasa sudah hampir 7 tahun saya melaksanakan perkuliahan.

Setelah menikah tahun 2014, ternyata SKS saya belum juga cukup untuk melaksanakan Skripsi. Gimana mau skripsi, hawong KKP saja belum. Setelah menikah kami hidup berjauhan. LDRan lah. Pacaran LDR dan nikah pun LDR. LDR itu susahnya kalau kehabisan pulsa, kalau sekarang sih mudah karena sudah tahu bisa beli pulsa elektrik online. Oiya salah satu yang bikin males kuliah itu temen kosan yang sejak awal 2012 orangnya asik-asik. Tapi lama-lama mereka pergi satu per satu mengejar mimpinya masing-masing. Pas setelah nikah saya nyaris sendirian dikosan. Pas sendirian itu kayanya kok mending saya kuliah.

Tahun 2014, saya melaksanakan KKP dikantor temen. Pengalaman sebelumnya saya nekat KKP sendirian padahal boleh 3 orang, saya nggak lulus. Untuk KKP kali ini saya menggandeng dua orang temen saya. Mereka adik angkatan saya. Duh! Ternyata saya dapet temen KKP yang sama kaya saya, Males! Pas akhir-akhir periode KKP itu baru ngebut ngerjainnya. Hasilnya Alhamdulillah, kami bertiga lulus KKP dengan nilai yang memuaskan.

Setelah KKP, mata kuliah saya yang lulus belum memenuhi syarat minimal untuk melaksanakan skripsi. Untuk diketahui aja, banyak mata kuliah saya nggak lulus, bahkan Kalkulus harus mengulang tiga kali. Busyeeettt! Parah! Saya menempuh beberapa kuliah untuk memenuhi persyaratan. Sampailah pada tahun 2016 dan saya bertekad untuk skripsi. Bulan Maret 2016, saya mendaftar skripsi. Memilih dosen pembimbing sesuai referensi temen saya dan mulailah drama Skripsi.

Skripsi saya masih sama temanya dengan KKP saya, yaitu mengenai implementasi algoritma Kriptografi pada aplikasi untuk mengamankan informasi yang penting dan genting. Tsaaaahhh. Pada suatu sore saya janjian sama dosbing saya. Ibu dosen yang berwibawa ini berkata “Kamu ambil judul apa?”. Saya jawab “Enkripsi file, Bu”. Eh Bu Dosennya bilang “Ah itu sudah terlalu banyak yang ngambil, ganti yang lain?”. Duh apalagi ya. Udah nggak ada ide lain, dan kalau salah pilih bisa nggak selesai ini skripsi.

“Kamu coba bikin email client yang terenkripsi, maksudnya kalau penerima email membaca emailnya di halaman standard nggak kebaca” Kata Dosen saya memecah lamunan saya tadi. Saya jawab iya aja. Setelah selesai bimbingan, udah tahu dong nasib skripsi saya? Tak tinggal! Waktu berlalu, bulan berganti. Skripsi saya belum tersentuh. Suatu hari saya melihat website kampus, dan kaget. Ternyata deadline skripsi sudah mepet. Saya langsung menghubungi dosen pembimbing saya. Tapi ternyata pulsa habis dan uang nggak ada. Untungnya ada MatahariMall.com, saya pun bisa beli pulsa elektrik dengan kartu kredit.

Dosennya untungnya baik, saya dibimbing untuk segera menyelesaikan skripsi saya. Saya habis-habisan, padahal malem abis kerja kan ngantuk banget. Apalagi liat anak tidur rasanya pengen meluk dan ikut tidur juga. Pas pendaftaran sidang Skripsi, Alhamdulillah skripsi saya sudah siap dan mendapat pengesahan untuk diujikan. Apakah sudah berakhir dramanya? Belum!

Waktu sidang dimulai, saya dengan PD mempresentasikan skripsi saya dihadapan penguji. Waktunya demo aplikasi yang saya bangun. Pas saya jalankan aplikasi saya, laptop tiba-tiba ngehang. Ya Allah. Tiba-tiba aplikasi tidak bisa dijalankan. Saya putar otak untuk segera menemukan jalan. Untungnya saya punya hosting ya blog saya ini. Saya upload aplikasi saya ke hosting blog ini, dan akhirnya bisa jalan. Tapi karena waktunya lama, kata dosen pengujinya nggak bisa tanya jawab, saya pasrah dapet nilai yang sebenernya dibawah harapan saya. Ah ndak apa-apalah.

Pulang sidang, lemes nggak nyangka kejadian ngehang gitu. Ada beberapa revisi yang harus saya kerjakan. Tapi ya seperti sebelumnya, saya males ngerjain revisinya. Pas akhir-akhir waktu pengumpulan saya baru ngebut bikin revisian dan mengurus berbagai administrasi. Puncaknya hari ini saya mendaftar wisuda dan sudah berhasil. Akhirnya inilah akhir edisi kuliah saya selama 7 tahun.

Hari Minggu, Masak Oseng-oseng

Oseng-oseng Kangkung dan Telur Dadar
Oseng-oseng Kangkung dan Telur Dadar

Hari ini Minggu. Jika pada waktu weekdays atau hari Senin sampai dengan Jumat kita disibukkan dengan berbagai agenda pekerjaan yang menyita perhatian. Pas hari Minggu kita jadi punya waktu longgar. Saya biasanya menghabiskan waktu bersama keluarga dengan jalan-jalan atau berkumpul saja di rumah. Hari ini (24/4/2016) rasanya kok saya pengen beda. Saya pengen masak! Istri istirahat dulu. hehehe.

Oke pertama mari kita lihat, ada bahan apa di kulkas saya.

Bahan-bahan di Kulkas
Bahan-bahan di Kulkas

Tuh di kulkas ada Kangkung, Sawi putih, Bawang merah dan putih, cabe dan telur. Mmmm…. dengan bahan itu, saya memutuskan masak oseng-oseng aja kali ya nanti lauknya telor dadar. Josss! Mari dimulai. Pertama tentu saya akan memotong kangkung jadi kecil-kecil, nggak kecil-kecil banget sih. Ya pokoknya sepantesnya aja. Setelah itu merajang bawang merah dan putih, kemudian cabe. Seluruhnya jadilah bahan-bahan yang siap digunakan seperti di bawah ini.

Bahan Oseng-oseng yang siap masak
Bahan Oseng-oseng yang siap masak

Udah sip yak? Ada tambahan garam, saos Saori bisa juga ditambah gula. Oke pertama saya panaskan minyak. Ya dikira-kira saja untuk menumis rajangan bawang merah, putih dan cabe. Setelah minyak sudah cukup panas, saya masukkan rajangan tadi untuk ditumis.

Proses Menumis Rajangan Bawang Merah, Putih dan Cabe
Proses Menumis Rajangan Bawang Merah, Putih dan Cabe

Saya aduk-aduk, ya kaya orang numis lah. Aduk-aduk terus sampai agak layu. Jangan ditinggal ya nanti kangen! 😀 Tapi beneran jangan ditinggal nanti gosong, kalau gosong namanya bukan bawang tumis tapi bawang gosong. hahaha. Setelah agak layu masukin kangkung sama sawi putih yang sebelumnya udah disiapin.

Masukin Kangkung dan Sawi Putih
Masukin Kangkung dan Sawi Putih

Seperti sebelumnya, saya aduk-aduk. Sambil aduk-aduk, saya masukin garam, gula dan saos Saori. Tapi jangan berlebihan ya. Berlebihan itu tidak baik! Hahaha.

Masukin Garam, Gula dan Saos
Masukin Garam, Gula dan Saos

Setelah itu saya aduk-aduk lagi. Ini sudah mendekati akhir. Cuma tunggu sampai semua bahan layu. Setelah itu ambil dan rasakan. Hmmmm…. Enaaaaakkk…. Simple kan? Cocok buat anak kos ini. Dibandingkan makan mie instan mulu mending kita masak sayur-sayuran yang sehat kaya gini. Setelah itu tinggal dadar telor dan jadi deh sarapan saya. Sekian weekend sayah! Gimana weekend kamu?!