Sendang Asmoro Ngino, Bukan Sekedar Tempat Wisata

Bersama Kepala Desa Ngino di Sendang Asmoro

Pada kunjungan ke Tuban saat libur lebaran kemarin saya kok ingat sama Sendang Asmoro yang beberapa waktu lalu viral di Media Sosial. Walaupun viralnya masih di kalangan masyarakat Tuban, tapi sudah bikin saya penasaran siapa sih penggagasnya. Bukan apa-apa soalnya Sendang Asmoro adalah pionir tempat wisata di desa sebelum yang lain bermunculan, baik yang sama sekali baru maupun yang hasil restorasi menjadi lebih baik dari sisi pengelolaannya.

Suatu hari saya mengutarakan niat saya untuk ketemu sama Pak Wawan Hariadi, Kepala Desa Ngino. Gayung bersambut, kawan saya yang kebetulan kenal dengan beliau mau memfasilitasi untuk bertemu. Akhirnya disepakati kami bertemu di tempat wisata Sendang Asmoro besutannya. Eh kawan-kawan Blogger juga ingin ikut, ya sudah sekalian Kopdar sama Blogger Tuban yang mantab jaya itu. Sekalian halal bi halal.

Saya berangkat pagi dari Kapu jam 9.00 WIB kurang lebihnya. Saya jalan melalui Jembatan Jambon, lurus ke timur sampai al falah, lalu ambil kanan ke arah pabrik batu kapur yang sekarang jadi nama perempatan, pabriknya udah tutup. Ambil kanan ke arah watu gajah, lurus terus ke selatan sampai bertemu gerbang desa Penambangan. Perjalanan usai? Belum masih jauuuhhh. Saya lurus terus sampai saya ragu kemana arah Sendang Asmoro. Beberapa kali ketemu pertigaan atau perempatan yang mengharuskan saya menghentikan mobil dan bertanya ke orang-orang.

Akhirnya saya ketemu gerbang desa Ngino. Ya Allah kok ndak ada petunjuknya blas batin saya agak menggerutu sih. Kemudian saya kembali memacu mobil dengan kecepatan rendah karena tetap saja saya belum bisa menemukan petunjuk yang pasti dan kearifan lokal berupa tanya-tanya jalan pun tetap menjadi andalan supaya ndak kesasar. Setelah beberapa lama saya sampai di pintu gerbangnya. Tepat di pintu masuknya ini baru saya temui papan petunjuk arah.

Saya belok kiri, lalu ada sejumlah orang yang mengarahkan mobil saya untuk parkir. Saya mbatin wah ini kena berapa parkirnya. Kemudian saya parkir dengan mulus, dan saya pun bertanya “Berapa, Pak, Parkirnya?” Tahu nggak jawaban mereka apa? “Gratis, Mas!” Wah ndak salah denger nih. Ternyata emang beneran gratis. Wah ndak rugi saya, biasanya tempat-tempat wisata akan menarik tempat parkir, di sini malah gratis.

Saya keluar mobil lalu menuju ke loket. Tiket masuknya Rp 10.000,- per orang, kalau anak kecil di bawah satu tahun sepertinya gratis. Kemudian saya masuk. Duh seger banget, Mas. Suasana asri, pohon-pohon besar menaungi Sendang Asmoro. Di kiri jalan masuk ada kolam renang yang sudah bebas dinikmati oleh pengunjung bertiket. Masuk lebih dalam, di kanan-kiri ada penjual makanan, kudapan dan makanan ikan. Iya benar ada yang jual makanan ikan. Penasaran? Ayo kita lanjut.

Masuk ke area Sendang Asmoro saya disuguhi pemandangan orang-orang yang sedang duduk-duduk di kursi yang nyaman. Mereka bercengkrama dengan sesamanya. Duh Mas Inggi, amal jariyahmu menyenangkan orang-orang ini semoga menjadi pemberat timbangan amal baik panjenengan di akhirat kelak. Di sudut kiri ada orang-orang berkaos merah marun. Ini pasti para Blogger Tuban. Sementara itu berjarak 5 meter ke arah jam 2, ada dua orang yang sedang asyik ngobrol sambil memandangi Sendang. Ya orang berdua itu Mas Widi dan Pak Wawan Hariadi.

Saya langsung gabung saja. Terus langsung protes sih. “Pak, saya kesasar, nggak ada petunjuk jalan” kata saya. Pak Wawan dengan rendah hati menjawab “Iya, Mas, sudah banyak yang mengeluhkan, khususnya wisatawan dari luar Semanding, kita upayakan nanti Mas”. Wah jadi sungkan saya. Hehehe. Ternyata beliau sudah menyadari dan sudah jadi rencana beliau untuk memperbaikinya. Saya lanjut tanya, “Pak kok parkirnya gratis, padahal bisa bantu pendapatan lhoh, di tempat lain Rp 5.000,- per mobil dan tak rasa wajar.” Bukannya jawab Pak Inggi malah tanya “Menurut panjenengan gimana? Tiketnya murah atau tidak?” Jawaban saya ya murah wong parkire gratis je.

Oiya saya cerita ya, di sebelah kiri tempat saya ngobrol sama Pak Inggi ini, ada spot foto yang ikonik di Sendang Asmoro, kaya dermaga terus ada dekorasinya gitu. Kemudian kalau mau jalan lagi ada wahana sepeda air dan flying fox harganya sama, yaitu Rp 10.000,- untuk sekali main. Kamu bisa menikmati Sendang Asmoro sambil naik sepeda air, dan melihat teriakan histeris dari orang-orang yang sedang menikmati flying fox. Kamu bisa bayangin kan gimana serunya. Kalau kamu perhatikan di sebelah kanan jembatan kecil yang menghubungkan dengan taman pohon jati dan ada gazebo-gazebonya. Dari atas jembatan ini kamu bisa ngasih makan ikan. Makanan ikannya bisa dibeli di warung yang dekat pintu masuk tadi.

Pak Inggi cerita juga, bahwa sendang ini nyawanya ada di pohon-pohon besar yang menaunginya. Ternyata beliau sadar bahwa kelestarian lingkungan memang hal yang harus diperhatikan demi masa depan desanya. Sendang ini juga telah menjadi kawan petani di desa Ngino, karena dari sinilah sawah-sawah di desa Ngino mendapatkan air. Selain sebagai pengairan, Sendang ini juga dulu menjadi sumber air bersih bagi warga sekitar. Jadi ya memang warga desa Ngino ini sangat mencintai sendangnya sebagai pertanda cinta kepada lingkungan. Pak Inggi ini hanya berusaha menjaganya dengan memberi nilai tambah dari Sendang Asmoro, caranya ya dibuatlah taman wisata ini.

Pak Inggi ini saat saya memberi masukan beliaunya dengan terbuka menerima. Saya usulkan waktu itu, supaya dibuatkan festival komunitas. Karena komunitas-komunitas ini influencenya lumayan untuk menggali pasar lebih dalam lagi. Kemudian saya juga cerita soal pengembangan wisata berbasis masyarakat seperti di Gunung Kidul. Semoga apapun nanti yang diperbuat oleh Pak Inggi dapat memberikan dampak yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus kelestarian alam.

Tempat ini juga menyerap tenaga kerja lokal. Ada pedagangnya yang hanya ditarik retrebusi. Saya lupa besaran retrebusi dan jumlah pedagang yang ada di sini. Duh padahal Pak Inggi udah ngasih saya angka detailnya, cuma lupa sayanya. Kemudian tenaga loket, parkir lalu pemeliharaan dan operasionalnya. Juga ada pengelola wahananya seperti flying fox dan sepeda air. Jadi memang benar bahwa Sendang Asmoro Ngino bukan sekedar tempat wisata. Ini adalah pembuktian bahwa orang desa itu mampu memberi nilai tambah terhadap desanya jika diberi kesempatan. Sendang Ngino selain tempat wisata, juga merupakan wahana konservasi, ikon kebanggaan sekaligus peningkatan kesejahteraan warga desa.

Waktu pun semakin siang. Saya sudah ngalor-ngidul ngobrol dengan Pak Inggi soal Sendang Asmoro. Sayapun beranjak dari Sendang Asmoro dengan keyakinan bahwa desa akan tetap mandiri sepertu selama ini dan akan meningkat kesejahteraannya.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

2 thoughts on “Sendang Asmoro Ngino, Bukan Sekedar Tempat Wisata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *