Saya Hanya Punya Ulang Bulan

Udukan
Suasana saat bancaan weton

Papa Blogger dimanapun berada! Saya tadi siang mendapatkan email dari sebuah agency yang meminta data pribadi saya. Nah pada percakapan itu saya dipanggil Papa Blogger gara-gara saya udah punya anak. Kalau Jomblo apa dong? JoBlogger? hehehe. Malam yang panas membara di Jakarta ditambah dengan macetnya jalanan Jakarta menjelang saat pulang kerja, saya akan bahas soal ulang tahun.

Saya mengamati ya, beberapa papa-mama di Indonesia ini kok rasanya jadi wajib ya merayakan ulang tahun anaknya. Khususnya sih ulang tahun pertamanya, padahal rata-rata fail, maksudnya nggak ada yang bisa bikin fokus si kecil untuk segera meniup lilinnya. Budaya ini sudah menjamur dari kota sampai desa. Desa saya yang susah banget dapet sinyal 3G saja tidak ketinggalan dengan budaya di kota besar ini.

Bacaan Lainnya

Berbeda dengan generasi masa kini. Saya lahir waktu itu bahkan listrik saja belum ada, alias kami hanya dengar cerita saja kalau diluar sana sedang berkembang teknologi bernama listrik dengan perusahaan PLN yang bertagline Listrik untuk Kehidupan yang lebih baik. Yap tagline panjang khas institusi birokrasi. Di generasi saya, seorang anak mengetahui tanggal pasti lahirnya itu adalah anak yang paling beruntung. Apalagi tahu, tempat, bidannya siapa atau jam lahirnya.

Di desa saya, semua orang tua nggak peduli dengan tanggal lahir anaknya. Lha terus gimana caranya nulis KTP? Nulis KTP biasanya didasarkan pada ijazah yang dikeluarkan sekolah. Lha terus gurunya dapat darimana datanya? Ya dari orang tuanya lah. Lha itu orang tuanya tahu. Nggak! sabar dulu. Orang tuanya cuma bilang gini “Anakku lahir itu pas ada banjir besar” atau “Anakku lahir pas pak kades A meninggal” dan lain-lain. Coba apa ndak pusing tuh nyari datanya? Hahaha. Akhirnya ya banyak yang dikira-kira saja sama Bapak/ Ibu Gurunya.

Oke kembali lagi ke ulang tahun. Hawong tanggal lahir saja tidak tahu bagaimana merayakannya? Oke saya jelasin. Sebenarnya orang desa saya nggak cuek-cuek banget soal kapan anaknya lahir, cuma memang perhitungannya berbeda. Ulang tahun biasanya diperingati satu tahun sekali dengan penanggalan masehi. Nah di desa saya, ndak ada ulang tahun. Adanya ulang bulan. Lho kok bisa? Jadi penanda waktu lahir orang desa kami adalah weton. Weton itu kombinasi antara hari jawa dan hari masehi seperti yang kita kenal saat ini. Hari jawa itu dalam sepekan ada lima hari yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon.

Misalnya weton saya adalah Kamis Legi, Kamis Legi akan muncul disetiap Bulan Masehi. Nah maka ketika Kamis Legi saya akan diperingati wetonnya. Peringatan weton ndak pakai tiup lilin kaya ulang tahun tapi pakai bucu panas disertai bumbu-bumbu keren khas desa Kapu. Bucu tersebut dibawa ke Langgar deket rumah atau mengundang para tetangga ke rumah, kemudian para jamaah kumpul dan membacakan doa untuk saya. Doanya ya hampir sama dengan make a wish saat ulang tahun, ya apalagi kalau ndak memohon keselamatan dunia akhirat, rejeki yang barokah dan tidak lupa umur yang panjang.

Walaupun diperingati setiap bulan tapi ya ndak harus setiap bulan kok ya seadanya rejeki aja kaya ulang tahun. Ulang tahun kan juga sama ndak diperingati tiap tahun. Oiya bucu itu bentuknya mirip tumpeng tapi ndak pakai warna kuning. Warnanya ya putih aja kaya nasi gitu. Gimana keren kan? Tapi tenang, saya masih tau persis kok tanggal lahir saya berbagai versi. Karena bapak saya menuliskan waktu lahir saya dengan sistem kalender Masehi, Jawa dan Hijriah, jadi saya salah satu anak desa yang beruntung. 😀

Nah itulah yang melatarbelakangi saya kenapa ulang tahun ndak begitu penting buat saya. Hawong ndak pernah merayakan dan tidak pernah mengenal perayaan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 Komentar

  1. Momentum nggak bisa diulang, tetapi setiap tahunnya tetap 12 bulan itu. Jadi, iya syukuran saja di bulan yang terulang hihihi

  2. Kl di kelg saya walau gak besar2an tp mesti dirayakan plg enggak dgn doa bareng. Utk bersyukur bahwa masih bisa merayakan bareng dan telah melewati setahun masa kehidupan. Mudah2an bisa melewati lagi hingga ultah berikutnya.

  3. Saya juga ndak mengenal banget istilah ulang tahun yang diperinggati dengan meniup lilin itu.

    Padahal lilin itu nyala lalu ditiup masak simbul ulanng tahun Kok
    malah meniup penerangan.
    Seharusnykan Banyak2 menyalakan lampu Biar terang kehidupan ini. Hewhew 😀