Pujian Jelang Sembahyang di Tuban ini Selalu Bikin Kangen

pujian menjelang sembahyang sholat
Ilustrasi Masjid di senja hari
Sumber : Designed by nikitabuida / Freepik

Langit mulai berwarna jingga, para Ibu petani mulai menggendong sak yang berisi rumput-rumput untuk ternaknya. Bapak-bapak menuntun sapinya dan dipundaknya tersampir kerakal yang sebelumnya digunakan untuk menggemburkan tanah. Ditambah anak-anak yang mulai meninggalkan area permainan dengan ceria walaupun menyimpan ketakutan dimarahi Ibu karena pakaian lusuh bekas bermain dengan tanah.

Mereka melintas dengan teratur di jalan-jalan desa yang sekarang berpaving. Dahulu jangankan paving, tidak becek pun sudah bersyukur sekali. Sementara di langgar sudut desa yang berarsitektur panggung, terbuat dari kayu jati dan beratap tunda khas langgar di Jawa, serta dilengkapi speaker yang terpasang di ujung tiyang bambu, terdengar lengkingan adzan yang ternyata dilantunkan oleh seorang anak berusia belasan tahun.

Duh Gusti kulo nyuwun ngapuro, sekatahe duso kulo, lan dosane tiyang sepuh kulo, ugi umat Islam sedoyo. Allahummaghfirli dzunubi waliwalidaya… Warhamhumma kama robbaiyani Shagira…

Duh suasana yang selalu bikin saya kangen untuk pulang. Setelah adzan, muazdin melantunkan puji-pujian sambil menunggu jamaah lengkap. Puji-pujian biasanya berupa sholawat Nabi, bisa sholawat nariah, badar dan lain-lain. Tetapi banyak juga yang berbahasa jawa dan berisi petuah-petuah untuk hidup yang lebih baik.

Pujian ini konon adalah adalah tradisi peninggalan walisongo dulu. Masuk akal memang. Karena walisongo terkenal dengan dakwahnya yang luwes. Sebut saja misalnya Sunan Giri dengan berbagai tembang sarat nilai kemudian Sunan Bonang juga tidak ketinggalan, di tambah Sunan Kudus yang sangat menghormati umatnya yang sudah mapan dengan tradisi keagamaannya sendiri dan yang paling legendaris adalah jejak dakwah Sunan Kalijogo yang sarat pendekatan budaya.

Pujian-pujian yang dilantunkan di Langgar atau Mushola di Tuban ini mengikuti peristiwa atau hari. Maksudnya kontekstual sesuai keadaan masyrakatnya. Jika puasa tiba maka pujiannya adalah doa yang diajarkan Islam saat masuk bulan Ramadhan. Kemudian ketika Maulid Nabi, maka kamu akan dengarkan sebulan penuh pujian yang berisikan pribadi Nabi Muhammad, dari sifatnya sampai dengan silsilah keluarga.

Gusti Kanjeng Nabi lahire ono ing Mekkah. Dino Senen rolas maulud tajun gajah. Ingkang Ibu asmane Siti Aminah, ingkang Romo Asmane Sayyid Abdullah. Allahumma Shali ‘ala Muhammad, Ya Rabbi Shali alaihi was salim.

Jika memasuki malam Jumat maka biasanya mereka akan melantunkan pujian karya Abu Nawas yang berisi tentang pengakuan kelemahan hambaNya di dunia ini. Digambarkan dengan pengakuan ketidakmampuan ketika hamba menghadapi ancaman neraka sampai pengakuan ketidakpantasan hambaNya memasuki Surga yang agung. Berbeda lagi ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban maka akan berganti nuansa menyambut Ramadhan. Ini ngangenin betul, Dek! Percayalah!

Jadi langgar memang memiliki peran sentral di masyarakat Tuban. Langgar mengingatkan untuk berbaik-baik dalam menjalani kehidupan. Lima waktu diingatkan melalui pujian yang dilantunkan sebelum Sholat dimulai. Langgar juga menjadi tempat bersuka cita. Karena masyarakat desa sering kali menggelar doa syukur di Langgar ketika terdapat keberuntungan dalam kehidupan. Syukuran di gelar dengan membawa bucu disertai bumbu-bumbu sederhana.

Penasaran dengan suasana ini, ayo datang ke Tuban dan tunggu sampai senja menyapa, maka kamu akan rasakan ketenangan sekaligus kebersahajaan budaya yang bernafaskan agama illahi.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isiย untuk membaca tulisan menarik lainnya.

10 thoughts on “Pujian Jelang Sembahyang di Tuban ini Selalu Bikin Kangen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *