Menjelajah Goa Pindul, Candi Ratu Boko dan Lava Tour ke Merapi

Goa Pindul
Goa Pindul

Males banget tho lihat judulnya? Hawong pakai pesawat, pakai Bus dan lain-lain kok dibilang menjelajah. Nggak apa-apa hawong orang Jakarta kan menjelajahnya begini. Jangan bandingkan dengan Ibu-Ibu Kendeng yang memperjuangkan nasibnya sampai ke Jakarta dengan modal seadanya.

Bulan lalu, lagi-lagi saya diberikan Surat Tugas untuk melakukan Employee Gathering dan kali ini ke Jogja. Sebenarnya saya sudah lama kangen sama suasana Jogja. Apalagi saya penggemar berat Mas Marzuki Mohamad a.k.a Kill The DJ, khususnya lagu yang berjudul Song of Sabdatama. Duh itu Sabda merasuk dan menenangkan jiwa tsaahhh.

Alih-alih meresapi makna Sabdatama pas di Bus selama di Jogja bukan Song of Sabdatama yang diputar malah kami semua menikmati alunan nan merdu suara Mbak Nella Kharisma. Hajigur betul memang. Tapi ndak apa tetap masih dalam koridor karena lagu-lagu Mbak Nella ini banyak yang ditulis oleh Seniman Jogja : NDX Aka.

Baik saya dan kawan-kawan seperjuangan di kantor mendarat dengan senang di Adi Sumarmo. Udah ndak usah protes kenapa kok di Adi Sumarmo. Setelah itu di parkiran sudah ada Bus berwarna cokelat dengan gembira menunggu saya. Setelah nunggu Ibu-ibu milenial -Penyelamat ekonomi Bapak-bapak tukang foto- berfoto ria, kami semua satu persatu menginjakkan kaki di Bus itu.

Mas-Masnya yang belakangan saya tahu namanya Mas Fajar mulai pegang Mic, kirain mau ngerap atau bahkan mau nyanyi Kimcil Kepolen, ternyata beliau pengen memperkenalkan diri. Dia mendaku sebagai Mas Fajar, pemuda harapan bangsa asli Gunung Kidul.

Gua Pindul

Gua Pindul
Gua Pindul

Gua Pindul nan menawan itu sudah berada di depan mata. Sepanjang jalan pohon-pohon jati, vegetasi khas pegunung kapur membentang. Mirip dengan suasana pegunungan kapur di tempat asal saya : Tuban. Setelah parkir, memandang ke arah pukul setengah 6 kok ada pentol bakar. Ya udah njajan pentol dulu, 10ribu dapet 4 tusuk pentol bakar.

Lanjut Sholat Dhuhur, ternyata sudah waktunya. Lepas Dhuhur sekaligus Ashar, saya mengganti pakaian saya, siap basah-basahan, lanjut gunakan Jaket Pelampung. Di Gua Pindul walaupun mendaku sebagai perenang handal tetap harus gunakan Jaket Pelampung. Udah patuhin aja, ingat hargai kearifan lokal jangan sok-sokan.

Kemudian saya diajak jalan kaki menyusuri bangunan Dam. Tahu Dam? Itu bahasa belandanya bendungan, di Tuban sana ratusan dam dibangun untuk pengairan sawah, mungkin di Gunung Kidul pun sama tujuannya. Saya jalan kaki sambil bawa Ban yang besar itu. Konon Ban itu mampu membawa beban 400 Kg, jadi jangan takut tenggelam.

Saya dan kawan-kawan diajak menceburkan Ban, kemudian saya disuruh melompat ke dalam ban. Kebetulan saya yang paling depan. Jadi tekniknya Ban saya ditarik petugas wisatanya, saya menarik kawan saya, kawan saya narik kawan selanjutnya, jadi kaya kereta-keretaan gitu. Dulinan gitu tok, mbayar! Hehehe. Tenang nggak cuma gitu kok, dan kamu ndak bakal rugi bayar.

Masuk di bibir Gua pemandu wisatanya mulai menjelaskan tentang Gua. Pertama tentu teori tentang stalaktit dan stalakmit yang tumbuh di dalam Gua. Padahal dari kecil saya sudah blusukan di Gua, maklum tinggal di Kota Seribu Gua, hakok saya dikasih teori tentang perGuaan. Duh Mas salah sasaran. Tsaaahh. Semakin masuk semakin gelap, senter dinyalakan suasana dingin mulai menyergap.

Mas Pemandunya tidak kunjung memperkenalkan diri, sampai dimulut gua terakhir pun saya ndak tahu namanya. Saya sebut Pemandu aja ya selanjutnya. Pemandunya menjelaskan tentang penghuni Gua diantaranya Kelelawar yang tinggal di dalam Gua lengkap dengan jadwal bobok dan konsumsi sang kelelawar. Dilanjut dengan makhluk bawah air seperti ikan lele dan lain-lain, dipungkasi dengan penjelasan mengenai kedalaman air di Gua yang mencapai belasan meter dari permukaan.

Tidak terasa sudah semakin mendekati pintu keluar, oiya ada batu-batu yang konon memiliki khasiat menurut pemandunya, yang saya ingat cuma batu perkasa aja. Hahaha. Ada spot terakhir sebelum keluar yang bagus banget buat foto, ada lubang di atap Gua yang keren banget kaya cahaya apa gitu. Saya lupa namanya. Banyak yang foto-foto disitu sambil loncat-loncat ke air, jangan lupa tetap gunakan Jaket pelampung, ya.

Setelah kurang lebih 15 sampai 30 menit berada di dalam Gua, saya keluar. Di luar Gua masih bisa renang-renang. Airnya mantab jaya segernya, khas mata air dari batu cadas. Anugerah gini kok mau dipaksa dihilangkan dengan penambangan batu-batu cadas tak beraturan itu. Udah ayok naik, bannya ditinggal saja, sudah ada yang angkatin kok. Bilas lalu ganti baju.

Habis ganti baju, ada pengumuman makan siang. Duh ini yang tak tunggu-tunggu. Makanan yang disediakan prasmanan. Jangan dikira kaya di mantenan, ya. Prasmanannya ini masakannya khas daerah setempat. Menunya Nasi, sambel trancam dan lain-lain. Uenak Bos!

Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko

Lhoh udah di Candi Ratu Boko aja. Saya sudah bisik-bisik ke kawan-kawan “Candi Boko itu yang keren cuma gerbangnya saja, tapi untuk orang yang belum tahu. Kalau mau lebih tahu di belakang gerbang itu banyak situs-situs yang keren, jadi jangan cuma selfie yuk serap auranya bayangkan kita berada di zaman itu. Tsaaahhh”. Mereka angguk-angguk, alih-alih mengerti sepertinya mereka mbatin “kesambet opo tho, Mas?”.

Turun dari parkiran jalan menuju ke Candi Boko, jangan lupa noleh ke kiri ya. Akan tampak Candi Prambanan yang agung itu. Konon Candi Prambanan itu menggambarkan wanita yang agung yang tidak mudah ditaklukkan. Boleh foto tapi hambok ojo sering-sering, sekali-kali kita serap udara segarnya dan bau-bau sari tanah yang khas itu. Beberapa lama sampailah di gerbang yang ngehit buat milenial bikin foto pra-wedding.

Seperti saya duga sebelumnya, kawan-kawan kalap foto-foto dan sepertinya ndak ada puasnya. Saya seperti biasa mencari suasana yang pas untuk menyerap aura tempat yang dikunjungi. saya menuju ke arah belakang candi ada keputren dan bekas bangunan keraton yang tinggal pondasi. Saya menuju ke belakang lagi dan ada kubangan seperti tempat penampungan air. Nah ini teknologi bagus yang belum saya temukan di tempat asal saya walaupun alamnya mirip.

Kubangan ini dibuat diatas batu cadas yang keras itu untuk menampung air hujan, dan digunakan untuk keperluan sehari-hari. Saya jadi mikir kok di tempat saya ndak kepikiran, ya? Selesai dari situ saya menuju ke arah utara menuju Goa yang relatif sempit, ndak tahu apa fungsi dan namanya. Selesai dari Goa saya turun dan bergabung ke gerbang Candi Ratu Boko yang dalam beberapa tulisan disebutkan sebagai peninggalan Ratu Bilqis.

Sampai di gerbang, ternyata aktivitas foto-foto belum juga menemui titik akhirnya. Mereka malah semakin menjadi, karena matahari terbenam yang menjadi primadona pemandangan di tempat ini sedang cantik-cantiknya. Pengunjung yang awalnya menyebar menjadi satu berkumpul di depan pintu gerbang. Udah mirip orang-orang yang antri diskonan sepatu yang ngehit beberapa waktu lalu, walaupun ini lebih positif karena ndak pakai njebol pintu.

Dingin malam sudah mulai menyergap di seluruh tubuh. Ah Ayo pulang saja kembali ke Bus. Kata Mas Fajar, mau diajak makan di Bukit Bintang. Entah tempat apa itu, yang jelas namanya sih milenial banget. Paling ya ndak jauh-jauh dari tempat makan yang bagus pemandangannya, demi mengenyangkan syahwat instagram yang sudah kering beberapa waktu terakhir ini.

Lava Tour

Lava Tour
Lava Tour

Lho, sudah hari kedua saja. Terus kemarin makan malam di Bukit Bintangnya ndak diceritain? Udahlah ya kurang seru itu. Sebenarnya ada yang seru, pas saya di sana ternyata sedang ada perayaan Topo Bisu, katanya keren. Tapi sayang badan saya sudah berasa berat, ngantuk Mas Bro! Pagi ini saya mau dibawa ke Merapi, naik Jeep napak tilas erupsi gunung merapi yang dahsyat pada tahun 2010 lalu.

Beberapa lama di dalam Bis, saya sampai di BaseCamp Jeep yang membawa saya dan kawan-kawan ke atas Merapi. Saya masuk jeep, sengaja memilih bersama kawan-kawan yang rada-rada, hehehe. Kalau deket Bos bisa mati gaya ndak bisa bebas berekspresi. Jeep mulai berjalan dan memasuki jalur off road, mirip jalanan di desa saya beberapa dekade lalu. Saya iseng tanya “Pak kok ndak protes sama Pemda supaya jalannya diaspal biar alus” Hahaha.

Lihat alam Merapi berasa meresapi Sabdatama yang saya bilang di awal tulisan ini. Merapi nglingake marang ing gusti, segoro ngilingake kudu ngidak bumi. Begitu kira-kira lirik Song Of Sabdatama yang dilantunkan Mas Marzuki Mohamad dan kawan-kawan. Debu-debu merapi mulai bertebaran kadang-kadang menghalangi pandangan, tapi driver jeepnya sepertinya udah hafal jadi ndak usah takut. Debunya beda kok ndak bikin emosi kaya debu di kota besar.

Drivernya sesekali iseng ngebut mendadak, soalnya tak godain “Ngene tok, Pak? Tak kiro lak serem offroad iku” Hehehe. Semakin ke atas udara dingin khas pegunungan mulai menyelimuti badan, yang awalnya kuat teriak-teriak sepertinya harus dikurangi teriaknya. Beberapa saat kemudian Jeep parkir di rumah tua yang seperti hancur karena erupsi 2010 lalu. Saya dipersilakan masuk ke mini museum ini.

Rangka Sepeda
Sumber : IG @kangrudi

Di sekitar rumah banyak debu, jadi saya sarankan tetap pakai masker ya. Debu ini juga menggambarkan betapa tidak berdayanya manusia dihadapan Allah SWT, sekali dikasih lahar panas muntah langsung habis satu desa. Rumah ini adalah salah satu yang tersisa, konon rumah ini milik salah seorang karyawan di salah satu hotel Jogja. Dia berinisiatif membuat mini museum untuk mengenang peristiwa yang ngeri itu atau orang Jawa bilang “Nggegirisi” artinya sebuah peristiwa yang sangat mengerikan.

Saya masuk ke dalam melalui dapur, arsitektur dapurnya seperti di rumah saya di desa dulu. Ada satu dipan yang digunakan untuk menyimpan perabotan seperti dandang, panci dan lain-lain. Kemudian di sudut lain ada satu set meja makan yang diatasnya ada perabotan makan. Kemudian yang paling khas di sudut ada jedingan atau tempat penampungan air bersih. Dan yang mengerikannya semua peralatan itu ada disitu masih utuh tapi sudah berubah bentuk karena leleh terkena panasnya wedus gembel yang menghantam perkampungan ini.

Banyak peralatan rumah lainnya yang juga terkena imbas, seperti beberapa unit motor yang tinggal rangkanya. Hanya rangka saja yang masih kuat menahan terjangan awan panas. Masuk ke ruang tamu ada jam yang berhenti tepat pada peristiwa turunnya dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya di desa ini. Duh Gusti saya ndak sanggup membayangkan betapa paniknya saat awan panas dengan suhu tinggi dan kecepatan ndak kalah tinggi menerjang desa ini.

Sambil masih merasa ngeri membayangkan bencana, saya diajak kembali ke mobil Jeep. Mobil kembali digeber maksimal karena jalan semakin menanjak dan dipenuhi batu dan pasir. Sampailah saya di Batu Alien. Ada batu besar yang terlontar dari puncak merapi. Batu tersebut seperti ada gambar wajahnya, tapi saya ndak berhasil melihatnya. Sepertinya daya imajinasi saya berada dititik terendah, hehe.

Di sudut lain disuguhi kali, entah apa nama kalinya saya lupa. Kali ini adalah lintasan material muntahan erupsi tahun 2010. Kali itu dipenuhi pasir yang konon berkualitas tinggi sekaligus bernilai ekonomi. Tidak heran banyak truk-truk besar yang berlalu lalang menambang pasir.

Saya dipanggil lagi sama driver Jeepnya. Badan saya berasa agak lemas sebenarnya, tapi rasa penasaran saya bencana erupsi 2010 semakin menggebu-nggebu. Apalagi Drivernya bilang tujuan kita terakhir adalah Bunker yang menelan korban saat erupsi tahun 2006. Jalanan menuju Bunker ya sama dengan sebelumnya, menanjak. Dinginnya sudah semakin menggigit. Beberpa saat kemudian saya sampai di depan pintu bunker.

Saya masuk diantar sama driver Jeep. Pintu bunker ini terbuat dari besi yang sangat tebal, struktur bangunannya pun sangat kokoh. Masuk ke dalam aroma seram langsung menyergap. Saya tidak mampu lagi menyembunyikan ketakutan, bulu kuduk saya bergidik. Bukan takut hantu, tapi saya membayangkan betapa mengerikannya meregang nyawa di dalam bunker yang diselimuti lahar pijar yang suhunya luar biasa panas.

Sayapun kembali sadar bahwa kita tidak ada artinya apa-apa di hadapan yang maha kuasa. Di dalam Bunker terdapat batu besar, yang konon berasal dari aliran lahar panas yang membeku. Kemudian ada kamar mandi dan ruang logistik. Menurut cerita korban meninggal berada di kamar mandi dan di dalam kamar logistik. Duh Gusti. Saya tidak sanggup berlama-lama di dalam bunker, sayapun keluar dan bersiap turun.

Selama turun dari merapi, saya teringat lirik lagu Song Of Sabdatama yang menyatakan bahwa Merapi ngilingake kudu ngidak bumi. Artinya kita boleh sombong, sebesar-besarnya manusia toh tunduk dan bertekuk lutut saat merapi mengamuk atas kehendak Allah.

Liburan saya berakhir dan saya naik pesawat sambil mendengarkan Jogja Istimewa yang sudah dicover drumnya sama Mas Ari Endank Soekamti. Jogja tetap Istimewa.

6 thoughts on “Menjelajah Goa Pindul, Candi Ratu Boko dan Lava Tour ke Merapi

  1. Mantab jaya.jossa gandoss blodossaa blodossa.saya baca sampe akhir masss fakhriiii alias kang rudi😂😆

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *