Legen, Minuman Khas Tuban yang Jadi Buruan Saat Buka Puasa

Legen Tuban Pak Kasmito Ali Rohman Sugiharjo

Sore yang cerah, cahaya matahari membentuk kolom-kolom kecil menembus ke kamar tidur melalui lubang angin di atas jendela. Cahaya matahari tersebut mengganggu saya yang sedang terlelap. Konon tidur pada bulan puasa itu berpahala, tapi saya enggak memikirkan itu. Saya hanya berpikir gimana caranya menghilangkan letih di badan. Setelah bangun saya mendengarkan srang-sreng di dapur. Ternyata kombinasi cahaya dan asap dapurlah yang membuat kolom-kolom cahaya yang menembus kamar tadi.

Ini memang aktivitas yang lazim di desa saya selama bulan puasa. Sama seperti di tempat lain di desa ini juga memiliki aktivitas khas sekaligus sajian khas puasa. Memasak saat menjelang buka puasa, patrol dengan musik tongklek sampai membuat kolak dan berburu minuman legen. Saya akan membahas yang terakhir yaitu legen. Minuman khas Kabupaten Tuban yang menjadi buruan saat Puasa tiba.

Legen adalah minuman yang berasal dari sadapan bunga pohon lontar, orang Tuban menyebutnya pohon bogor. Pohon bogor ini banyak sekali tumbuh di Tuban. Pohon ini berukuran besar-besar. Berwarna kecoklatan pada batang pohonnya dan berdaun hijau seperti kelapa. Di dunia internasional pohon ini disebut Asian Palmyra Palm. Ditemukan juga tumbuh di negara lain seperti Bangladesh, Kamboja, Laos dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri persebarannya juga hampir merata. Di Nusa Tenggara Timur, daun pohon Bogor ini digunakan sebagai bahan dasar alat musik tradisional. Di Tuban, pohon bogor ini selain diambil legennya, juga diambil buahnya. Buah pohon Bogor ini disebut buah Ental. Buahnya bulat berkulit sabut seperti kelapa di luarnya, ada daging kenyal seperti nata dan ada air yang manis tapi sedikit. Oiya warna buahnya kecokelatan gelap dan berkulit halus. Buah ental ini pun jadi kuliner khas Tuban.

Satu lagi pemanfaatan pohon bogor di Tuban, yaitu daunnya yang bernama lontar dipakai untuk ketupat dan topi, mungkin dimanfaatkan juga untuk hal lain tapi saya yang nggak tahu. Ketupat lontar di Tuban hadir setidaknya dua kali setahun, yaitu saat peringatan Nisfu Syakban atau tanggal 15 Syakban pada penanggalan hijriah dan satu pekan setelah lebaran atau di Tuban disebut riyoyo. Terakhir, pemanfaatan pohon bogor adalah untuk inspirasi desain batik khas Tuban. Kalau kalian perhatikan batik khas Tuban tidak akan ketinggalan memasukkan unsur dari pohon bogor.

Kembali ke Legen, dulu penyadapan legen dari bunga pohon Bogor dilakukan sore hari dengan menggantung wadah-wadah berupa tabung-tabung yang terbuat dari bambu, kalau sekarang sudah beberapa yang menggunakan wadah dari plastik. Ketika pagi hari pemilik pohon akan mengambil hasil sadapannya lalu dinikmati dengan menuangkannya ke gelas yang lagi-lagi terbuat dari bambu atau disebut centak. Centak sangat khas Tuban. Saking khasnya, sampai dibuat oleh-oleh Tuban yang disebut ongkek. Ongkek adalah satu set miniatur centak, tabung bambu yang panjang serta pikulan, yang dulu digunakan oleh orang Tuban untuk menjajakan Legen ini.

Pada bulan puasa orang-orang Tuban akan memburu legen sebagai menu buka puasa. Penjual-penjual legen pun banyak bertebaran seantero Tuban untuk menjajakan minuman khas ini. Dapat dipastikan juga semuanya laris manis habis diborong para pemburu nikmat dari Legen. Tidak heran, pasokan memang terbatas. Walaupun pohon bogor banyak tumbuh namun, air sari bunganya terbatas. Sehingga pantas saja semuanya berlomba mendapatkannya. Meskipun terbatas tapi toh harganya tetap terjangkau oleh berbagai kalangan di Tuban.

Terus bagaimana sih rasanya legen ini? Begini rasanya manis dengan aroma yang khas. Jika masih baru turun dari pohon ada sensasi seperti soda tapi dengan intensitas yang rendah. Walaupun manis, tapi tidak seperti manisnya tebu yang bikin haus. Teksturnya juga sedikit kental tapi tidak sekental Sirup yang selalu nongol iklannya saat Ramadhan tiba. Kemudian legen ini tidak tahan lama. Menurut salah satu penjual legen di Facebook Kasmito Ali Rohman asal Sugiharjo, dalam waktu 4 jam legen akan berubah rasanya, kalau direbus bisa tahan sampai 10 jam. Jadi kalau beli legen pastikan yang belum basi ya dan langsung dihabiskan jangan disimpan-simpan nanti malah nggak keminum. Beberapa saat lalu memang ada minuman legen yang disajikan dalam kaleng yang diklaim lebih awet. Tapi entah kok tidak ada kabar lagi.

Konon selain nikmat dikonsumsi saat buka puasa, legen juga nikmat sekali ketika dinikmati pagi hari. Ya ini efek dari tadi yang saya bilang, di kedua waktu itu para penyadap legen mengambil hasil sadapannya. Penjualan legen biasanya dengan membuka lapak dipinggir jalan, kalau kamu sedang berjalan-jalan dan melalui Tuban akan dengan mudah kok menemukannya. Memasuki bulan ramadhan biasanya banyak juga yang berkeliling, jualan online via Facebook dan tentu saja yang paling pas ya datangi saja penyadapnya hitung-hitung sebagai sarana rekreasi melihat-lihat kebun pohon bogor. Duh Dek! Aku kangen Tuban.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk me3mbaca tulisan menarik lainnya.

12 thoughts on “Legen, Minuman Khas Tuban yang Jadi Buruan Saat Buka Puasa

  1. Agak ada kemiripan ya antara Legen dan Badek …
    Kalo Legen dari pohon lontar, sedangkan Badek dari pohon kelapa.
    Keduanya pasti sama segernya ya karena alami dari tumbuhan.

      1. Minuman Badek dari Jawa-Tengah,mas.
        Pedagang minuman badek pun sama-sama menggunakan bambu yang diusung mengelilngi kota.
        Sayangnya pedagang badek ini mulai sulit ditemui, hanya kadang terlihat di kerumunan pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *