Kerennya Tugu Monas

Tugu Monas
Tugu Monas

Pagi ini (21/2/2016), saya dan istri sepakat untuk jalan-jalan ke Monumen Nasional atau yang akrab disebut Monas. Sudah lama saya tidak pernah ke Monas. Saya males, masak di Monumen yang menyandang nama Nasional di dalemnya ada warung-warung tenda. Ini Monas apa pusat jajanan? Sejak itu saya ndak pernah menginjakkan kaki ke Monas. Nah setelah beberapa waktu Gubernur Ahok naik tahta, Monas berubah total.

Monas ditata sedemikian rupa sehingga membuat betah pengunjung dan membuat orang untuk tertarik untuk berkunjung. Lalu apa saja yang berubah dari Monas sekarang. Oke berdasarkan pengamatan saya tadi pagi setidaknya ada tiga perubahan signifikan yang membuat Monas pantas menjadi tempat kita menghabiskan waktu liburan bersama keluarga.

Bacaan Lainnya

Baca Juga : Main ke Balaikota Jakarta

Pertama, jika kita masuk ke suatu tempat, apa yang kita cari? Yes! Tempat parkir! Tempat parkir di Monas sudah tertata dengan baik, nomor kendaraan dicatat terkomputerisasi, jadi aman. Tempat parkirnya luas, jangan khawatir ndak kebagian tempat parkir di Monas. Nah selain itu juga banyak petugas yang akan membantu pengunjung untuk parkir.

Walaupun sudah baik, tapi gimanapun belum sempurna. Contohnya, belum ada pencatat waktu parkir yang transparan. Maksudnya begini, ketika kita di Mall, atau tempat lain yang pengelolaan parkirnya baik, ketika mau keluar, kita cukup hanya menyerahkan karcir parkir. Karcis parkir akan discan di barcode reader kemudian komputer akan menghitung berapa lama waktu kita parkir dengan tepat dan transparan. Di Monas, yang menghitung lamanya kita parkir adalah petugas dengan melihat jam tangan. Jadi kita ndak tahu pasti apakah itungan pak petugasnya tepat.

Kelemahan kedua, selain perhitungan waktu yang tidak transparan tapi juga tarif per satuan waktu tidak transparan. Saya kok tidak melihat papan pengumuman yang memperlihatkan tarif per jam parkir, atau saya yang ndak melihat. Terakhir, tidak ada struk pembayaran parkir.

Selanjutnya, setelah dari tempat parkir, saya dan istri masuk ke Monas melalui pasar yang disebut Lenggang Jakarta. Lenggang Jakarta ini adalah karya Gubernur Ahok untuk menertibkan pedagang yang ada di Monas. Ini perubahan paling kentara disini. Bagusnya disini sudah semuanya menggunakan transaksi pakai e-money. Tadi saya disana membeli e-money dengan harga 20.000 sedangkan saya isi saldonya sebanyak 50.000,-. Disini tempatnya bersih dan nyaman, ada kursi-kursi untuk kongkow-kongkow dan lain-lain.

Ada pengumuman di spanduk yang disebar di seluruh sudut Lenggang Jakarta. Kurang lebih begini “Jika anda diminta untuk membayar cash, laporkan. Makanan anda gratis”. Saya rasa ada yang aneh dengan pengumuman ini, soalnya bertentangan dengan pengumuman senada yang ada di lapak-lapak pedagang yang bunyinya “Seluruh transaksi menggunakan uang elektronik, tidak menerima tunai”. Kenapa saya sebut bertentangan? Oke kita bedah.

Ada kalimat “Jika anda diminta membayar cash” Nah frasa ini yang aneh. Soalnya saya yakin penjualnya ndak berani meminta bayaran cash. Tapi apa yakin semua pembeli punya e-money? yakin? Terus kalau pembeli bayar cash apakah penjual dilarang menerima? Kalau menurut spanduk sih, penjual boleh-boleh saja menerima, hawong yang mau pakai cash pembelinya. hehehe.

Seperti halnya tempat parkir tadi, Lenggang Jakarta juga punya kelemahan. Kelemahan pertama dan satu-satunya paling mengganjal adalah harga makanan yang ditawarkan. Saya tadi beli seporsi Ketupat Sayur harganya 15.000,- dengan isi yang standard, padahal di tempat lain, dengan harga sama saya bisa dapet Ketupat sayur porsi besar dan ditambah daging plus gorengan. Minuman juga mahal, air minum prim-a dijual dengan harga 5.000,- padahal di tempat lain dengan harga sama udah dapet Aqua.

Terakhir, setelah dari tempat parkir dan Lenggang Jakarta, saya masuk ke taman Utama Tugu Monas. Bedanya apa dengan dulu? Banyak banget. Sudah tidak ada warung tenda lagi di dalemnya. Kemudian bunga-bunga palsu yang dulu banyak disekeliling tugu Monas dihilangkan sehingga terkesan luas dan lega. Kemudian bersih dan rapih. Taman-taman tampak sekali sering dipelihara. Patroli keamanan juga sering melintas sehingga membuat rasa aman pengunjung.

Tapi seperti sebelumnya juga, ada kelemahan, yaitu masih banyaknya pedagang asongan atau apalah namanya yang berkeliaran di dalam area Monas. Beberapa kali petugas memang menegur bahkan mengusir mereka, namun tetap saja ada yang bandel dan nekat berjualan di dalam.

Nah selesai jalan-jalan saya di Monas. Apapun yang terjadi di Monas saat ini, kita tetap harus mengapresiasi usaha Pemprov DKI yang dikomandoi Pak Ahok untuk membereskan dan menata Monas demi citra Jakarta yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 Komentar

  1. Sekarang Monas enak untuk jalan-jalan. Tamannya juga sudah teratur rapi. Sore-sore duduk-duduk di sini dengan orang tercinta tentu asyik ya Kang Rudy 🙂

  2. Mengenai pedangan asongan/pedagang keliling itu, kadang kasohan melihat mereka diusir. Karena kan mereka itu lagi berjualan mencari nafkah. Tapi mau gimana, ya.. Kota jadi terlihat tidak tertata dgn baik kalau ada pedagang-pedagang gitu. 🙁

    Monas… Ahh, jadi inget ngumpul sama tmn blogger sore-sore di monas. Ngobrol, tidur-tiduran di rerumputan sambil memandang mendungnya langit dan desahan angin yang bikin merinding dingin,. *eaaa :v

  3. Saya ke Jakarta udah dua kali mas, tapi ke Monas belum pernah. Hem… moga pas ke sini lagi bisa mampir dan foto-foto minimal

  4. Monas dilihat dari jauuh Kok kyak “PLTU” remen, itu lo,,Kang yang seperti api unggun. pemprov dki MEMANG ok. Salam ya buat Pak. Ahok. Yang kabarnya juga akan menggusur “lokalisasi” di kali jodo . 😀