NDX AKA Adalah Kita

NDX AKA
Sumber : brilio.net

Belakangan saya kok terobsesi sama lagu Kimcil Kepolen besutan Dana dan PJR yang tergabung dalam NDX AKA. Lagu ini seolah mengusik perasaan saya sebagai laki-laki desa. Hehehe. Gimana nggak ngusik, hawong isinya iya banget je, lagu ini realitas dinamika kehidupan cowok-cowok desa yang jomblo. Biasanya mereka menyalahkan “Ninja” jika cintanya kandas. Miriplah sama lirik Kimcil Kepolen “Nek ra ninja ra dicinta”.

Mas-Mas NDX AKA ini memang Pabu betul, mereka meramu lirik yang mudah dan sederhana. Tidak sekedar menyentuh namun menghujam perasaan para cowok desa. Seolah para cowok itu bilang “Nah lagu iki pancen pas gawe uripku”. Tapi gimana lagi memang ciri khas dari NDX AKA yang menceritakan soal kehidupan anak muda desa dalam menggapai mimpi-mimpinya termasuk mimpi mendapatkan jodoh.

Itu baru satu lagu. Lagu selanjutnya yang jadi favorit saya adalah lagu bertajuk “Sayang”. Lagu yang dituduh menjiplak lagu dari Jepang, tapi apa peduli saya, yang penting dapat dinikmati. Lagi-lagi lagu ini sangat desa banget. Lha gimana, Sebagian dari pemuda desa ditinggal sama kekasihnya dengan berbagai alasan.

Paling Hajigur adalah lirik “Meh Sambat Kaleh Sinten”. Kalau orang kota ketika ada masalah percintaan, banyak banget pelampiasannya, Bro. Lha kalau di Desa, bingung lah, apalagi rata-rata pacarnya ya tetangganya sendiri, ha mosok mau curhat? Yo bakal konangan mantan pacarnya. Hayo isin tho Mas. Terus kenapa kok ditinggal kekasihnya? Ya mungkin karena ra ninja.

Terakhir yang bikin NDX AKA itu kok “Gue Banget” itu soal pilihan aliran musiknya yang mengambil Hip Hop Dangdut. Dangdut yang sudah mendarah daging di desa, sehingga jangan heran kalau konser band rock sekalipun artis nasional pasti akan kalah jumlah penonton sama konser New Pallapa. Ditambah sama Hip Hop yang sama njedug-njedugnya dengan dangdut.

Perpaduan Dangdut Hip Hop maka menghasilkan musik yang membumi sekaligus berkelas. Lirik yang sederhana mudah dicerna dan menggunakan bahasa sehari-hari anak muda desa, maka tidak salah kita dengan tangan terkepal maju ke depan mendaulat bahwa NDX AKA adalah Kita!

Judul Berita Kok Saling Tampar dan Bungkam

Dengarkan
Sumber : http://kingstheology.org

Berita sekarang menjelma menjadi kebutuhan pokok hampir setiap manusia yang bernafas. Jika dulu sandang, pangan dan papan saja yang berada pada level kebutuhan pokok, sekarang ditambah satu lagi, Berita. Tentu ini menyenangkan karena artinya program pemerintah untuk memberantas buta huruf hampir dipastikan berhasil tanpa cela sedikitpun.

Berita diproduksi dengan pertimbangan-pertimbangan yang sangat rumit. Sebagai industri, tentu yang paling menonjol adalah pertimbangan ekonomi, walaupun ada produsen berita yang tidak mengharapkan perkembangan ekonomi, toh untuk menghidupi sebuah kantor berita juga tetap butuh putaran ekonomi. Motivasi ekonomi inilah yang banyak ditemui pada industri berita Republik Indonesia dewasa ini.

Jika bicara motivasi ekonomi, tentu dalam benak kita, para pemain besar atau balung gede yang akan memenangkannya. Ya memang iya. Kemudian bagaimana dengan para pemain baru atau pemain media kecil lainnya? Mereka mau tidak mau ya harus mengikat pinggangnya dengan agak kencang karena memburu berita itu juga butuh dana operasional yang tidak sedikit, itu baru berburu belum pada saat memasuki proses editing. Ah mahal betul itu.

Untuk mengakali biaya kemudian muncul pertanyaan sebagai berikut, gimana caranya ndak usah terjun langsung ke tempat kejadian? Kemudian bagaimana mengemas berita yang didapatkan tanpa ke tempat kejadian itu supaya menarik tapi ndak perlu keluarkan biaya untuk gaji editor? Bagaimana membranding medianya supaya dapat menarik pembaca? Dan lain-lain.

Alih-alih merintis usahanya dengan baik beberapa media malah secara ngawur sengawur-ngawurnya alias ngawur sejati. Untuk mendapatkan berita tanpa datang ke tempat kejadian, mereka copy paste dari media arus utama. Selanjutnya untuk membuat berita bombastis tanpa susah-susah pakai jasa editor ya berita yang sebenarnya biasa saja dibumbui dengan opini pribadi.

Paling penting mereka membuat judul bombastis. Ini berguna untuk menarik orang-orang haus informasi dan penggemar teori konspirasi untuk mengkliknya. Makanya wajar banyak media yang judulnya “Tulisan Ustadz A menampar Ustadz B” atau “Tulisan ini membungkam ustadz B”. Ini apa-apaan kok saling tampar dan bungkam? Judul berita apa tawuran? Sayangnya judul berita gini banyak yang tertarik ngeklik. Tugas para pegiat literasi dan pendidik jadi berat betul untuk mengikis minat terhadap judul saling tampar dan bungkam seperti ini.

Kemudian untuk mendapatkan image yang keren, media-media nggak jelas ini namain domainnya dengan istilah-istilah agama. Anehnya trik ini berhasil, lihatlah berapa banyak media yang membranding diri dengan istilah agama dan meraup klik yang luar biasa. Mereka memang Pabu betul, Bung.

Dan yang paling menyedihkannya, judul tampar menampar ini laris manis dishare oleh beberapa orang yang gelar akademis dan karirnya juga joss. Mereka ini kok jadi tekuk lutut ndak kritis blas ya ketika baca berita tampar-tamparan ini. Kok ndak kaya saat mereka nyusun karya tulis yang begitu banyak membaca sumber-sumber primer untuk meyakinkan penguji. Ntahlah.

Cari duit sampai segitunya, Bro!

Saya kok merasa Indonesia ini darurat Informasi. Dulu saya adalah salah satu orang yang dengan semangat mengenalkan teknologi internet ke kawan-kawan desa saya. Tapi setelah lihat kenyataan sekarang kok saya ada sedikit penyesalan, sedikit banget sih. Pokoknya betul-betul sedikit.

Terakhir yuk mari kritis sama informasi yang kita terima. Masak ndak bosen tiap saat disuguhin berita ndak mutu yang malah bikin panas hati dan kepala itu. Kalau ndak bosen juga, ah ndak seru betul hidup kita.

Kalau mau informasi yang benar ya klik saja berita dari media yang terdaftar di Dewan Pers, atau bacalah blog yang selama mengudara reputasinya baik.

Obrolan Kita Tak Lagi Seru

Cangkruk’an sebagai sarana bersosialisasi

Mengobrol atau bicara adalah interaksi paling manusiawi dari manusia. Setiap kegiatan selalu diselipkan aktivitas ngobrol. Bahkan Da’i Kondang KH Anwar Zahid pernah mengatakan, kalau Ibu-Ibu mendarat maka dapat dipastikan sebagian besar aktivitasnya adalah mengobrol. Sampai lupa dengan kegiatan intinya untuk membantu orang yang punya gawe.

Budaya ngobrol ini sangat mudah ditemui di seluruh muka bumi. Contohlah di Jawa Timur yang memiliki kultur Cangkrukan atau duduk-duduk yang disertai ngobrol. Cangkrukan itu adalah aktivitas ngobrol sengobrol-ngobrolnya atau ngobrol sejati. Hampir 100% kegiatannya adalah ngobrol walaupun kadang diselingi nyorakin orang lewat jika yang lewat menarik perhatian.

Konon manusia berjenis kelamin perempuan memiliki 20.000 ribu kata yang harus dikeluarkan dan untuk laki-laki sebanyak 7.000 kata. Ribuan kata ini hanya bisa dikeluarkan hanya jika ngobrol, kan tidak mungkin manusia bicara sendiri hanya demi menuntaskan hasratnya yang ribuan kata itu.

Ngobrol sejatinya memiliki tujuan yang baik dan umumnya juga sama. Paling utama tapi tidak disadari ya tadi itu menghabiskan jatah ribuan kata yang harus dimuntahkan dari mulut kita. kedua untuk menemukan informasi baru. Konon ini manfaat terbesar dari ngobrol. Semua peserta perkobrolan bisa saling bertukar informasi yang diketahuinya.

Sebelum era digital seperti sekarang, orang-orang yang rajin baca berita dari koran ataupun nonton TV atau pilihan terakhir dengar radio akan mendominasi pembicaraan. Karena merekalah yang memiliki paling banyak informasi. Tetapi kadang juga tidak, kejadian-kejadian lokal misalnya ilangnya sandal Kiai di langgar tidak tercover dalam koran atau TV. Jadi dalam aktivitas ngobrol jadi seru karena saling berbagi informasi.

Sejak era digital merebak, seolah semua orang punya identitas baru yaitu Netizen. Istilah Netizen ini mengalahkan pamor istilah Masyarakat yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Syekh Siti Jenar untuk menghilangkan kesan tingkatan sosial dalam lingkungan pergaulan. Netizen inilah mengubah dunia perkobrolan tadi menjadi tidak begitu seru lagi.

Ketika bertemu mereka umumnya langsung nyambung dengan apa yang dibicarakan oleh kawan-kawannya. Tidak ada lagi orang-orang yang hobby membaca koran atau TV mendominasi. Semua informasi yang ada di koran pun sudah setiap saat tersedia di genggaman, tidak perlu punya keinginan membaca, setiap ada informasi terbaru telepon genggam akan bergetar atau berbunyi sehingga mau tidak mau sang empunya membacanya.

Tak hanya dominasi pembaca koran yang turun, dominasi informan lokal pun meredup. Informasi lokalan juga acapkali menghiasi timeline media sosial. Tetangga yang bawa kabur anak gadis tetangganya atau seperti sebelumnya sandal Kiai ilangpun terserak di media sosial. Terus kalau sudah demikian apalagi yang akan diobrolkan?

Walaupun sudah tahu, marilah saling mengobrol. Walaupun sama-sama tahu, bisa juga toh bertukar pikiran soal kabar yang sudah sama-sama tahu tadi. Dari informasi yang sudah jadi rahasia umum itu, bisa digali dan dipikirkan bersama untuk menemukan hal baru untuk memajukan peradaban. Paling penting dengan sama-sama tahu jadi jangan sok tahu lagi, karena sejatinya semua orang pengetahuannya seimbang, yang berbeda hanya persepsi atas informasi.

Tetaplah ngobrol dengan seru! Salam Perfecto! Ntah salam apa ini, yang jelas setiap hari rekan saya selalu ngomong ini untuk menutup obrolan, atau mungkin ini usaha beliau untuk membuat ngobrol menjadi seru? Ntahlah. Dan untuk seru-seruan pula saya menjawab dengan mantab, Perfecto! sambil mengepalkan tangan di depan muka. Muka saya sendiri tentunya.

Jika bermanfaat silakan anda bagikan tulisan ini dan kami juga memiliki koleksi tulisan yang menarik lainnya, silakan klik Daftar Isi untuk melihat daftar tulisan kami. Selamat membaca! ­čÖé

Politik Memang Bikin Bingung

Ilustrasi Bingung

Saya mau menyampaikan kebingungan yang kadang dipaksakan menjadi ketidakbingungan dan akhirnya menjadikan orang lain bingung. Paling bikin bingung di muka bumi saat ini konon adalah tentang kepentingan politik yang dibungkus dengan agama. Menurut sebagian besar kalangan sih agama itu harus ada politiknya, sebagian besar lainnya mengatakan kalau agama dan politik harus dipisahkan. Semua memiliki pandangan masing-masing dan tidak bosan mencoba membuktikannya di lapangan.

Melihat pertarungan di media sosial dewasa ini selalu saja dihubungkan dengan dua tema ini. Agama dan Politik. Padahal dalam kehidupan ada kebudayaan, ada sosial dan ada ekonomi, tapi yang terakhir sih kadang menjadi penentu dari agama dan politik bukan hanya penentu kadang juga menjelma menjadi tujuan utama. Kemarin baru saja dunia digegerkan dengan Arab Spring yang gegap gempita memecah belah semua kalangan. Namanya pecah belah tidak hanya menghasilkan dua kubu, tapi banyak sekali kubu.

Dengan Arab Spring saja, orang sudah dibuat bingung. Kata-kata Sunni VS Syi’ah, Aswaja VS Takfiri dan lain-lain memenuhi ruang otak manusia yang seharusnya digunakan untuk memakmurkan dan menggembirakan kehidupakan di dunia. Sebut sajalah misalnya Sunni VS Syi’ah seolah digambarkan dengan sangat sederhana. Negara yang memusuhi Arab Saudi itu adalah Syi’ah. Sama juga dengan Sunni, digambarkan sangat sederhana, pokoknya negara atau pemimpin negara yang akrab mesra dengan Arab Saudi itu adalah Sunni.

Padahal sudah rahasia umum, Arab Saudi itu juga berkawan dekat dengan Amerika Serikat dan Israel. Arab Saudi pun mendukung aksi kudeta militer yang dilakukan kepada Presiden Mesir, Mursi. Ah gimana? Kemudian ada juga misalnya Iran itu adalah musuh bebuyutannya Arab Saudi. Tapi tunggu dulu, yang berani yang terang-terangan bantu secara militer ke Palestina ya Iran.

Kemudian lanjut ke Basyar Al Assad Presiden Suriah dituduh sebagai Syi’ah sehingga harus dihabisi dengan berbagai cara. Ternyata beliau mendapatkan dukungan dari ulama Sunni terkemuka yang benama Syeikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi. Ada yang bilang Rusia membantu Presiden Suriah menghabisi rakyatnya sendiri, di sisi lain Amerika yang kawan karibnya Arab Saudi itu juga masuk ke Suriah dan mensalvo Suriah dengan tomahawk.

Di dalam negeri sama membingungkannya. Partai A mengusung calon pemimpin dengan agama tertentu dan mengatakan jika pemimpin wajib dari agama tertentu itu. Di lain kesempatan partai A mengusung calon pemimpin dengan agama yang berbeda, dalihnya pun berbeda. Mereka dengan enteng mengatakan bahwa memilih pemimpin berbeda agama itu boleh.

Kita ini hidup di dunia seharusnya memang bisa membedakan mana kepentingan politik yang berdasarkan nafsu itu sama kepentingan agama yang disemangati oleh niat suci mengamalkan titah Tuhan yang maha kuasa. Kita jangan membabi buta membela sesuatu walaupun tampak seperti agama. Harus dicek lebih lanjut apakah yang kita semua bela itu agama atau kepentingan politik yang berdasarkan nafsu.

Memang agama dan politik tidak bisa dipisahkan, tapi bisa kok dibedakan. Membedakannya bisa melalui sikap konsistensi yang tinggi terhadap nilai-nilai agama yang dianutnya. Dengan peristiwa diatas kok rasanya kita harus berterimakasih kepada pendiri bangsa ini.

Bangsa ini dengan tegas membedakan keputusan politik dan keputusan agama. Keputusan politik diambil oleh politikus dan keputusan agama diambil oleh agamawan. Keduanya berjalan saling mengisi. Walaupun ada kekurangan-kekurangan setidaknya tidak ada konflik yang berkepanjangan.

Tantangan kita rasanya ya cuma itu mempertahankan konsepsi yang telah dibangun oleh pendiri bangsa. Jangan mau dibuat bingung dan jangan bingung sendiri. Sikap bingung yang membingungkan dan membuat yang lain jadi bingung harus dihindari.

Ujian itu Bernama Pilkada

Voting
Sumber : www.huffpost.com

Habis Isyak Kang Pri dan Kang Di seperti biasa lagi duduk-duduk di pos kampling kampung nunggu malam larut, sebenarnya saat itu pun malam sudah mulai sepi dan angin malam sudah mulai menyapa dengan dinginnya. Seperti biasanya juga tangan masing-masing tangan kanannya njepit kretek yang diraciknya sendiri. Entah kenapa kretek lintingan sendiri katanya lebih sedap. Tapi sepertinya bukan rasanya yang bikin sedap sih, tapi harganya. Soalnya beberapa waktu lalu Kang Di dan Kang Pri juga sempat bingung lantaran baca facebook katanya rokok mau naik jadi 50an ribu.

“Kang, Jakarta rame, ya?” Tanya Kang Pri membuka obrolan sore itu.

“Iya Kang, hawong mobilnya banyak gitu. Emang kampung kita yang lewat cuma motornya Pak Ji?” Timpal Kang Di sambil pipinya kempot menyedot kreteknya.

“Ah, Sampeyan itu. Bukan itu. Maksudku soal Pilkada itu, lho?” Kata Kang Pri sambil menggoyang-nggoyangkan kreteknya untuk membuang latu kreteknya.

“Owh itu toh, iya rame banget, sampai semua TV mbahas yo Kang? Padahal Aku mana peduli sama mereka? Aku yang penting jagoku pas pilihan petinggi kemarin menang, jadi Aku bisa dapet sewa sawah bengkoknya” Jawab Kang Di panjang lebar.

“Aku tahu Sampeyan memang gitu, mau untung sendiri, mengorbankan masyarakat supaya bisa dapet kesempatan nggarap sawah bengkok” Kata Kang Pri dengan nada agak meninggi.

“Santai, Kang. Lha masyarakat kampung sini sendiri yang mau digituin, dipancing dikit marah, dipancing dikit emosi, jadi ya kesempatan buat orang-orang seperti saya ini untuk ambil untung” kata Kang Di menjelaskan.

“Emang bener ya Kang kemarin lawan Pak Petinggi itu melakukan korupsi terus sampai di demo masyarakat segitu banyaknya?” Tanya Kang Pri.

“Ya saya ndak tahu, hawong saya ini cuma di suruh memenangkan Pak Petinggi ya semua cara saya lakukan, termasuk dengan cara mendemo lawan Pak Petinggi yang sudah kadung dicap koruptor itu sama warga kampung.” Kang Di menjelaskan.

“Ow jadi sampeyan yang menggerakkan? Tapi kok kata mereka nggak ada yang menggerakkan dan nggak ada yang bayarin?” Tanya Kang Pri antusias.

“Ya kalau mereka yang kroco ya ndak dibayar tho, Aku cukup membayar tokoh-tokoh saja, mereka yang punya pengaruh yang aku beli, tokoh-tokoh itulah yang kemudian pidato sana sini mempengaruhi orang yang yakin bahwa lawan Pak Petinggi kemarin korupsi” Jelas Kang Di.

“Ow begitu tho? Canggih juga sampeyan, Kang?” Tanya Kang Pri penasaran.

“Ya gimana lagi, pihak sana juga sama main curang juga. Masak sampeyan ndak ingat waktu dia juga njelekin Pak Petinggi yang katanya ikut aliran sesat, pake pesugihan dan sebagainya itu, sebenernya demo itu juga ndak salah-salah amat hawong kayanya emang bener dia korupsi” Kata Kang Di.

“Iya, dan setelah itu pihak lawannya Pak Petinggi langsung membuat citra seolah-olah sedang dianiaya, sedang dzlimi supaya dapat simpati masyarakat” Jawab Kang Pri.

“Nah itu, makanya ini politik memang makin canggih modusnya” Jawab Kang Di.

“Ngeri ya, Kang? Ndak di Kampung ndak di Kota kok semua ribut soal kekuasaan?” Kata Kang Pri.

“Memang begitu politik, Kang. Kita-kita ini kadang yang nggak jeli. Kok maunya dimanfaatin orang yang mau berebut kekuasaan, sampai kadang dibelani ndak rukun sama tetangga, jadi ndak gayeng lagi ketemu kawan bahkan kadang-kadang ndak mau nyapa saudara gara-gara beda pilihan” Kata Kang Di.

Akhirnya mereka meninggalkan pos kampling itu untuk tidur, Kang Pri berdoa semoga masyarakat menyadari bahwa sebagian dari mereka selama ini dimanfaatkan oleh orang-orang seperti Kang Di yang berburu keuntungan dari perebutan kekuasaan ini. Pilihlah pemimpinmu dengan hati nuranimu dan hargai perbedaan pilihan dengan lainnya.

Jika bermanfaat silakan anda bagikan tulisan ini dan kami juga memiliki koleksi tulisan yang menarik lainnya, silakan klik Daftar Isi untuk melihat daftar tulisan kami. Selamat membaca! ­čÖé

Media Sosial Menguji Persatuan Indonesia

Media Sosial
Sumber : www.socialcoopmedia.com

Diawal tahun 2017 ini Indonesia patut bersyukur hingga detik ini masih dikaruniai sebuah persatuan yang semakin kokoh. Kita tahu 2016 adalah tahun politik, tapi rasanya Indonesia selalu mengalami peristiwa yang penting setiap tahunnya. Jadi mungkin enggak salah-salah amat Indonesia ini setiap tahun adalah tahun politik. Politik Indonesia memang menuju kedewasaan, namun seperti halnya manusia, masa menuju kedewasaan adalah masa yang paling krusial. Jika salah langkah atau salah sikap, habislah masa depan kita.

Indonesia sendiri telah melewati masa genting yaitu pada tahun 2014. Tahun 2014 politik memanas maklum ada Pemilu dan Pilpres. Setelah Pemilu dan Pilpres yang cukup melelahkan juga, karena perkembangaan dunia maya saat itu yang mulai masif akhirnya mereda pada tahun 2015, paling cuma berita tentang Pilkada yang biasanya tidak seseksi berita mengenai pemilu maupun pilpres.

Menginjak tahun 2016, politik kembali memanas. Perebutan kekuasaan lagi-lagi menjadi biang keladi memanasnya suhu politik Indonesia. Sebenarnya di tahun 2016 ini tidak ada pilkada, namun di tahun ini adalah masa pendaftaran sampai masa kampanye pilkada serentak tahap kedua. Tapi euforianya kalau tidak boleh disebut keributannya luar biasa. Apakah semua daerah yang akan melaksanakan Pilkada serentak ribut? Tidak, bahkan seluruhnya santai. Hanya satu yaitu DKI Jakarta yang ributnya sampai ke group-group facebook yang judulnya tidak ada Jakarta-jakartanya.

Jauh sebelum masa deklarasi calon, di group-group facebook maupun WA yang saya ikuti sudah ramai membahas para calon yang berpotensi akan mengikuti kontestasi Pilkada serentak  2017. Padahal saya tidak satupun mengikuti group yang berbau Jakarta. Kawan-kawan saya juga kebanyakan bukan warga Jakarta, jadi aneh kan, kok mereka sampai sebegitunya ngurusin Pilkada Jakarta.

Memasuki periode penetapan calon, media sosial semakin memanas. Kabar  demi kabar dilancarkan untuk menjatuhkan lawan dan mengunggulkan calonnya masing-masing. Tapi anehnya ya tadi, ini enggak hanya terjadi di komunitas orang Jakarta. Lagi-lagi berita-berita yang jauh dari prinsip jurnalistik itu bertebaran di group-group media sosial luar Jakarta. Lebih menyebalkannya lagi, selain status atau tulisan pribadi yang beredar, tetiba banyak website berita abal-abal juga turut melancarkan aksinya.

Media abal-abal kalau tidak boleh disebut sebagai media fitnah ini tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Dengan jargon-jargon yang seolah baik, mereka meraup untung dalam kesempitan. Bukannya memberi pencerahan seperti pesan ajaran agama, ini justru malah mempertajam kebencian.

Menyedihkannya lagi, beberapa orang terdidik setidaknya dari beberapa kawan saya sendiri, juga ikut-ikutan menyebarkan berita dari media sampah ini. Ini bentuk dari frustasi, kah? Seperti yang dibilang sama penghina Gus Mus beberapa waktu lalu yang mengaku stres karena masalah pekerjaan, atau memang beberapa orang terdidik ini merasa hambar ketika membaca media mainstream dan mulai bergeser ke media abal-abal karena sering ditambahi rasa-rasa pedas atau asin yang mengejutkan? Entahlah!

Selain issue Pilkada Jakarta, masyarakat media sosial Indonesia juga dipusingkan dengan berbagai issue internasional. Sebut saja soal konflik Suriah dan Rohingya. Entah kenapa kedua issue internasional inipun tidak luput dari perhatian netizen Indonesia. Perhatian sih baik, tapi kenapa ada berita bohongnya yang beredar, kemudian dibagikan rame-rame. Berita bohong inipun sebenarnya juga disebar oleh media-media abal-abal di Internet.

Dengan kenyataan diatas, saya kok berkesimpulan kalau media sosial sedang menguji persatuan kita sebagai bangsa. Jika kita lolos dari ujian ini, maka kita akan menjadi bangsa yang besar. Kita memang harus kritis terhadap sesuatu hal, tapi acuan yang dijadikan basis kritik haruslah jelas.

Untungnya masih banyak tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat Indonesia yang masih berkomitmen kuat untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945. Keteladanan-keteladanan mereka menghapus panasnya politik di Indonesia dan mempersatukan Indonesia.

Pesan saya ditahun 2017 marilah kita semakin kritis terhadap kabar yang disebarkan termasuk melalui media sosial. Kemudian untuk orang-orang terdidik, mari ingat-ingat lagi ketika sekolah kita sekalian diajarkan untuk mencari data yang valid. Jangan malah memperkeruh suasana dengan membagikan berita-berita yang tidak jelas asal-usulnya. Jangan lelah mencari kebenaran dan jangan pernah merasa kebenaran milik diri sendiri.

Selamat Tahun 2017, semoga Media sosial semakin baik dan bermanfaat bagi pembangunan masyarakat Indonesia. Jangan mau dimanfaatkan orang-orang atau media yang mengejar adsense, mereka untung kita hancur.