Mengadu Mati Listrik pun Maunya Online

 

 

PLN Mobile

Pagi yang dingin menggigil, saya terbangun. Sejenak saya mengusap mata untuk menerangkan penglihatan. Setelah beberapa kali mengusap mata, kok rasanya tetap gelap. Lampu jalan yang biasanya tembus terangnya sampai kamar kok kali ini tidak seperti itu. Akhirnya saya pada kesimpulan bahwa sedang ada penyerangan. Lhoh! Bukan penyerangan tapi pemadaman. Sebagai generasi milenial sayapun mencari gadget untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi alih-alih menghubungi tetangga untuk mengonfirmasi mati listrik, seperti lazimnya orang tua kita dulu.

Perumahan saya tetap tenang, tidak ada gaduh-gaduh seperti jaman dulu ketika mati listrik di pagi hari pas hari kerja pula. Perumahan saya memang mayoritas penghuninya adalah generasi milenial yang melek gadget. Sepertinya tidak hanya perumahan saya, seluruh Indonesia rasanya mengalami hal yang sama. Ini bisa dilihat dari senyapnya KRL dari obrolan-obrolan ringan antar penumpang, yang ada adalah pemandangan betapa pendiamnya para penumpang ini, khusyuk menyimak kotak kecil bernama gadget.

Kembali ke masalah listrik. Saya cerita dulu ya. Di suatu obrolan di media sosial tentu salah satu yang paling mudah ditemukan adalah soal mati lampu. Sayapun biasanya dengan sigap memberitahu bahwa segera saja telepon Contact Center PLN supaya bisa cepat ditangani. Sayapun sebenarnya juga sering mengeluh melalui saluran ini. Tapi ada tanggapan menarik dari netizen seperti misalnya “Ada tidak nomor HP saja?” Kemudian saya jawab “Kan nomor tersebut bisa juga dihubungi dari HP dengan menambahkan kode area” tahu nggak dia jawab apa? “Mahal!”. Yawes saya diam.

Kebetulan lagi di suatu pagi setelah peristiwa saling komentar dengan netizen di media sosial tersebut, saya bertemu kawan saya. Dia kok ujug-ujug cerita bahwa dia habis install PLN Mobile. Saya pun nggak asing juga sebenarnya dengan aplikasi ini. Saya pernah install tapi saya uninstall lagi karena agak gimana gitu interfacesnya. Teman kerja saya yang tentu tidak dapat dikatakan sebagai orang yang gaptek (Hawong jabatan terakhir sebelum ke kantor saya saja sebagai Manajer IT di perusahaan Internasional) kok tiba-tiba dengan semangat bercerita. Saya jadi tertarik.

“Bukannya masih banyak bugnya ya aplikasi PLN Mobile itu?” Tanya saya mengawali obrolan. “Mungkin dulu iya, tapi sekarang sudah Oke kok” katanya. Diapun melanjutkan bahwa ternyata mengeluh melalui aplikasi itu lebih mudah, murah hawong cuma butuh kuota dikit doang dan terakhir katanya lebih memuaskan. Dia masih terus semangat cerita, saya dengarkan saja. Dan diam-diam sayapun tertarik untuk kembali menginstall aplikasi tersebut ke gadget saya. Pas saya install untuk kedua kalinya, emang terasa bedanya. Pertama apk-nya rendah, cuma 3an MB. Cukup kecil untuk aplikasi yang serba guna ini. Tampilannya pun sudah lebih bersih dan bebas dari pop-up yang mengganggu.

Saya install PLN Mobile sekadar untuk jaga-jaga jika saya nanti akan mengalami padam listrik. Saya lanjutkan dengan mendaftarnya. Cukup mudah kok. Biasanya orang akan bingung ketika ditanya ID PEL padahal hanya pengontrak misalnya atau numpang orang tua. Tenang saja, ID PEL yang dimasukkan tidak harus atas nama sendiri kok. Seperti saya yang rumahnya baru ini, meterannya masih atas nama developer. Tapi tetap bisa tuh daftar.

Setelah install lhakok terjadi pagi yang muram durja itu. Tiba-tiba mati listrik. Untungnya kok pagi-pagi jadi ndak gitu ngaruh. Masih tetap dingin walaupun AC mati. Terus saya grayang-grayang nyari HP saya. Kemudian dengan mata yang terbatas penglihatannya, saya mengetikkan pengaduan melalui PLN Mobile. Awalnya diminta memastikan bahwa yang akan diadukan adalah ID PEL tersebut.  Kemudian pelanggan juga diminta memilih jenis pengaduan. Karena setelah saya amati tetangga juga mengalami mati listrik, maka saya pilih “Gangguan tetangga turut padam”. Kemudian diminta mengisi lokasi, bisa milih pakai map atau alamat. Daripada pusing mending ketik manual alamatnya aja deh. Kemudian upload foto jika ada. Kalau ndak bisa moto karena gelap ya ndak usah, ndak wajib kok. Hehehe. Kemudian kirim deh. Setelah dikirim maka akan dapat nomor pengaduan.

Setelah itu saya sudah ndak peduliin Gadget lagi. Beberapa lama kemudian saya lihat lagi Gadget saya. Kaget juga lihat ada perubahan status pengaduan. Cepat juga pikir saya. Hanya sepuluh menit dari saya mengadu sudah ada perubahan, dari yang sebelumnya lapor menjadi penugasan. PLN Mobile emang mantab! Beberapa saat kemudian lanjut statusnya menjadi dalam perjalanan lalu pengerjaan dan nyala.

Itu pengalaman saya gunakan PLN Mobile. Tapi banyak juga hal lain yang bisa dilakukan oleh PLN Mobile. Ada pasang baru, perubahan daya, sambung sementara dan lain-lain. Udah kaya loket PLN deh. Ada juga informasi pemeliharaan jaringan listrik, sehingga kamu ndak kaget ketika listrik mati karena peneliharaan. Ada juga telepon VoIP ke 123, jadi kamu ndak perlu risau sama tarif GSM kamu. Soalnya cukup gunakan paket internet.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Media Sosial dan Makin Berkembangnya Baju Koko

Baju Koko Lengan Pendek
Sumber : www.thestar.com.my

Pagi itu jalanan di kawasan tanah abang basah karena beberapa hari ini memang sering diguyur hujan. Beberapa pedagang di kawasan itu sudah sibuk menata dagangannya. Maklum dekat dengan ramadhan seluruh orang berlomba-lomba untuk mencari busana yang terbaik dalam rangka tampil cic saat lebaran nanti. Mengapa tidak nanti saja belanjanya toh sekarang masih bulan April dan lebarannya menurut kalender yang beredar juga masih Juni nanti. Pertanyaan ini mungkin menggelantung di setiap benak orang yang baru pertama melihat fenomena tahunan di pasar tekstil terbesar di kawasan Asia Tenggara ini.

Tidak jauh dari pasar Tanah Abang, Anton begitu orang menyapanya. Di dalam ruang kantor, sedang sibuk menggeser-geserkan jari di layar smartphone. Nampaknya dia sedang mengamati fesyen yang yang sedang di media sosial. Media sosial memang akhir-akhir ini menjadi sebuah fenomena. Memasuki seluruh sendi kehidupan orang Indonesia, dari mulai politik, agama sampai selera fesyen pun tidak luput dari jamahan media sosial. Orang-orang seperti Anton, sudah banyak berterbaran di berbagai tempat.

Di berbagai publikasi memang menyatakan bahwa memang telah terjadi perubahan perilaku khususnya fesyen pria. Anggapan bahwa pria adalah makhluk yang abai dengan fesyen, sepertinya harus direvisi. Link Fluence merilis bahwa terjadi peningkatan penggunaan tagar #mensfashion di platfrom instagram naik 49% dari April 2016 sampai dengan April 2017. Tentu ini sangat berdampak kepada industri fesyen itu sendiri. Contohnya Burberry salah satu powerhouse Fesyen seperti dirilis oleh Huffington Post harus membayar putra David Beckam untuk dapat difoto dalam salah satu iklan mereka. Pertimbangannya bukan lagi soal kecerdasan atau kejeniusan si anak, namun lebih disebabkan karena si anak memiliki follower 6 juta.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Kurang lebih sama. Untuk memuaskan para pria yang sudah sadar fesyen ini, beberapa brand dari yang besar sampai pemain baru ramai-ramai menggunakan endorser dari media sosial. Ada setidaknya ada 20 Brand dalam undangan pernikahan Artis Viky Prasetyo dan Angel Elga. Tentu kita tahu Viky adalah artis yang memiliki jumlah Follower yang fantastis dan undangan dengan 20 brand tersebut juga diposting di media sosial pribadi milik sang artis. Tentu publik mahfum, bahwa 20 brand tersebut mengincar efek influence dari jumlah follower Viky Prasetyo yang fantastis itu.

Walaupun demikian, faktanya media sosial bukanlah satu-satunya faktor seseorang khususnya pria memilih fesyen. Faktor pengembangan produk juga menjadi salah satu faktor kunci selain media sosial. Kita tentu melihat perkembangan fesyen pria yang sangat pesat. Kita mulai saja dari produk fesyen Muslim. Saat ini sudah banyak sekali model baju muslim pria atau sering disebut baju Koko. Dari yang awalnya cuma baju lengan panjang dengan krah berdiri dan minim motif, saat ini kita bisa saksikan betapa bervariasinya produk fesyen pria Muslim tersebut. Katakanlah dari baju koko lengan pendek yang saat ini menjadi trend.

Bajo koko lengan pendek sebenarnya baru-baru ini saya meledak. Menurut saya, peristiwa tersebut tidak lepas dari peran Alm. Ustad Jefry Al Bukhari. Beliau Ustadz yang menabrak patron saat itu, alih-alih bahwa pendakwah haruslah yang berpakaian serba panjang dan longgar menjadi pendakwah yang berpenampilan trendi dengan baju koko yang lebih ringkas yaitu dengan baju koko lengan pendek. Setelah itu semakin banyak tokoh-tokoh selebritas yang tidak sungkan menggunakan baju koko yang semakin trendy tersebut. Di antara mereka banyak juga yang aktif bermedia sosial tentu dilengkapi dengan fesyen baju koko tadi.

Trend baju koko lengan pendek yang “dipopulerkan” Ustadz Jefry Al Bukhari tadi terus dikembangkan dan digunakan oleh Ustadz zaman sekarang. Walaupun para Ustadz tersebut tidak melakukan endorse profesional di media sosial, tetapi jumlah follower yang fantastis tentu menjadi faktor positif juga untuk mempengaruhi fesyen Muslim Pria di Indonesia. Saya lihat di beberapa akun media sosial sang Ustadz, selalu saja tampil hangat dengan berbalut busana Muslim tentu dengan berbagai variasinya.

Faktor media sosial, artis dan Ustadz yang aktif di media sosial serta para produsen yang selalu aktif mengembangkan lini produksinya akhirnya menjadi sebuah kombinasi yang pas untuk mempengaruhi selera fesyen pria di tanah air.

Geliat Blogger Tuban di Tengah Gempuran Media Sosial

lifestyle ngeblog
lifestyle ngeblog
Designed by Freepik

Siang yang redup di Kabupaten Tuban, cuaca yang sedikit anomali, karena Kabupaten Tuban biasanya didominasi oleh cuaca cerah dengan langit yang biru dan awan putih tipis. Di sudut kota sedang berkumpul puluhan orang berbaju merah marun khas Blogger Tuban. Mereka mengadakan kopdar ketiga setelah sebelumnya diawali dengan berbagai rencana di group WA mereka.

Blogger Tuban rupanya sedang bangkit setelah sekian lama mati suri tanpa aktivitas yang signifikan. Blogger Tuban sebenarnya telah lama berdiri dan silih berganti pengurus, hingga akhirnya mati suri pada paruh dekade 2010an. Ini terlihat dari semakin banyaknya spam yang membanjiri group Facebook Blogger Tuban. Hingga akhirnya beberapa blogger yang tersisa berusaha menghimpun diri dalam group WA Blogger Tuban. Dari group WA ini lalu terbentuk kepengurusan.

Sekumpulan pemuda yang terhimpun dalam Blogger Tuban sekarang menghadapi tantangan baru yaitu gempuran media sosial. Di Tuban memang sedang gandrung media sosial khususnya facebook. Seperti yang saya ungkap di tulisan sebelumnya bahwa facebook ternyata malah menyuburkan tradisi tutur dengan media baru. Jika budaya tutur hanya memberikan tulisan singkat tanpa pendalaman maka aktivitas ngeblog justru mengharuskan penulis memikirkan pendalaman sebuah fakta.

Contoh paling sederhana ada tempat wisata baru. Foto dan lokasi sudah berserak di media sosial. Bahkan beredar jauh sebelum seorang blogger selesai memfoto lokasi. Seorang blogger sekarang tidak bisa hanya mengandalkan informasi cepat karena itu sudah “diambil alih” oleh pegiat media sosial. Blogger harus mengambil peran memberi pendalaman informasi agar orang tidak salah faham dengan News Flash ala Media sosial yang sudah kadung beredar.

Pada tahun 1990an, aktivitas ngeblog memang hanyalah aktivitas mengumpulkan link dari internet lalu memberinya komentar atau opini. Istilah populernya adalah diary online. Kemudian berkembang menjadi sumber informasi alternatif selain media mainstream. Informasi yang beredar umumnya ya seperti status facebook saat ini.

Blogger Tuban  sudah beberapa kali melakukan campaign. Campaign pertama soal Tuban Anti Hoax, yang secara masif memberikan himbauan kepada warganet Tuban untuk menghindari hoax. Campaign kedua soal kuliner Tuban yang diharapkan dapat mengangkat potensi kuliner di Tuban. Terakhir yaitu campaign soal wisata sendang asmoro di Ngino Semanding.

Di Campaign terakhir memberi pengaruh positif untuk pengelolaan wisata berbasis masyarakat di Kabupaten Tuban. Seperti yang diungkap di paragraf awal tadi, jika netizen banyak menshare mengenai foto dan lokasi tempat wisata, Blogger Tuban lebih dari itu. Blogger Tuban menggali fakta lainnya seperti siapa penggagasnya, naik apa ke sana, sampa kiritik dan saran kepada pengelola juga disampaikan dengan terstruktur. Sehingga dapat melengkapi informasi yang sebelumnya sudah beredar.

Sayangnya Blogger Tuban melewatkan peristiwa yang dapat menjadi momentum peran blogger Tuban. Yaitu peristiwa Patung Pahlawan Tiongkok yang ada di Kelenteng Tuban. Blogger Tuban jutru diam tidak ada yang menerbitkan tulisan tentang peristiwa itu. Tetapi Blogger Tuban tidak sendirian, netizen di Tuban juga kompak mengambil sikap “cuek”. Secara mengejutkan ternyata nyueki itu justru ampuh menangkal hoax dan berita bernuansa negatif.

Kedepan Blogger Tuban harus mengambil peran untuk meningkatkan literasi internet. “Salah satu bentuk literasi pada zaman modern ini adalah kemampuan dan kemauan untuk mencari rujukan di internet sebelum bertanya atau berkomentar.” Ujar Ivan Lanin melalui akun twitter pribadinya.

Mari jadikan ngeblog sebagai lifestyle demi menyelamatkan literasi digital di tengah gempuran informasi instan dan singkat ala media sosial.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Internet dan Budaya Tutur di Desa

Budaya Tutur di era Media Sosial
Designed by Creativeart / Freepik

Suatu malam di Desa Kapu pada dekade akhir 90an, seorang Imam memimpin sholat teraweh terakhir atau malam ke-30. Para jamaah antusias mengikuti teraweh kali ini, karena tandanya lusa mereka sudah riyaya. Sebelum Sholat teraweh malam terakhir itu dilakukan, sudah beredar desas-desus bahwa lebaran kemungkinan bukan lusa tapi esok hari.

Tetapi Imam dengan keteguhan hati menunggu keputusan Negara tentang kapan Idul Fitri digelar, dan tetap dengan hikmat memimpin teraweh. Setelah teraweh dilaksanakan, para santri seperti biasa melakukan tadarus Alquran yang pada saat itu digelar sampai tengah malam.

Tepat pukul 00.00 speaker Mushola dimatikan. Para santri mulai menata sarung dan tidur di Mushola. Sang Imam pun menuju dalem untum beristirahat. Belum sempat menutup mata, para santri dan sang Imam dikejutkan suara “Besok riyaya, besok riyaya”. Sontak mereka semua segera bangun dan menyalakan speaker Mushola untuk kemudian melaksanakan Takbiran.

Itulah gambaran kehidupan di desa Kapu sebelum saluran internet dan sumber informasi lainnya masuk ke desa ini. Mungkin desa lain di Indonesia merasakan hal yang sama. Pada saat orang di desa Kapu melakukan persiapan sholat teraweh di Jakarta yang berjarak kira-kira 800 KM telah selesai melaksanakan sidang istbat dan telah mengumumkan hasilnya. Tetapi untuk menyebarkan pengumuman tersebut butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke pelosok-pelosok desa.

Bukan hanya soal informasi, soal trend pun. Jika suatu kota memiliki sebuah trend maka akan lama menyebar ke tempat yang lain. Tetapi pelambatan penyebaran trend ada untungnya juga sih. Ini menjadikan Indonesia khususnya desa sangat beragam tradisinya. Saya tidak bisa bayangkan jika dahulu sudah tersedia saluran informasi internet, pasti selera makanan orang Indonesia akan dikendalikan oleh artis, seperti kasus cake artis jaman sekarang.

Sebelum era internet, informasi disebarkan melalui mulut ke mulut atau di kenal sebagai Budaya Tutur. Sekarang sudah berubah, walaupun tidak ada data yang menyebutkan secara rinci prosentase tentang seberapa besar akses masyarakat desa terhadap internet. Namun dari survei yang dilakukan oleh APJII pada tahun 2016 lalu dapat menjadi acuan tentang perilaku orang desa berinternet.

Dalam survei APJII 2016, terdapat fakta bahwa jumlah pengguna internet sebesar 132 juta pengguna atau naik 51 % dari tahun 2014. Dilihat dari perilaku, pengguna internet di Indonesia mayoritas mengakses media sosial kemudian disusul oleh media-media berita mainstream. Tapi harus diperhatikan bahwa Facebook mengklaim mampu meningkatkan beberapa kali lipat trafik ke media mainstream, yang berarti akses media mainstream pun sebenarnya berasal dari media sosial.

Fakta media sosial yang begitu dominan, tidak mengherankan. Karena warga Indonesia memang makhluk yang sangat gemar bersosialisasi dan memiliki budaya tutur yang kuat. Kendati internet terdapat trilyunan set data dan informasi, warganet Indonesia lebih senang bertanya alih-alih mencari sendiri informasi yang berserak di Internet. Ini khas Indonesia.

Sastrawan Ahmad Tohari seperti dimuat Antara Jateng menyatakan bahwa Bangsa Indonesia mewarisi budaya tutur, sehingga minat baca belum begitu tinggi. Kemudian apakah dengan jumlah pengakses yang terus meningkat, juga berdampak kepada budaya tutur menurun? Buktinya tidak. Alih-alih hilang, budaya tutur menurut saya malah menemukan momentumnya untuk semakin berkembang.

Maksud saya begini, dalam budaya tutur ketika seseorang membutuhkan informasi, maka akan datang kepada sumber informasi dan bertanya. Bertanya dan bercerita adalah kunci dalam budaya tutur. Jadi ini terlihat dari warganet Indonesia khususnya di desa yang lebih senang bertanya ketimbang mencari informasi di mesin pencari misalnya. Bahkan untuk mengklik berita mainstream pun butuh diberi “pengantar” terlebih dahulu dari koleganya.

Walaupun warganet di desa lebih suka bertanya dibandingkan membaca sendiri, tetapi tidak mudah untuk menyebarkan hoaks di kalangan warganet desa. Ada beberapa percobaan penghasutan warganet desa dengan hoaks dan gagal total. Kasus terakhir adalah percobaan penyebaran hoaks patung Pahlawan China di Tuban. Gagal total, tidak ada satupun warganet di desa yang terhasut.

Budaya tutur di desa yang kadang membuat jengkel para pegiat internet karena sudah capek-capek bikin konten, toh mereka tetap saja bertanya di kolom komentar. Tetapi budaya tutur juga memiliki keunggulan. Salah satunya adalah ketidakpuasan warganet desa pada satu jawaban. Misalnya jika ada yang bertanya soal bagaimana mengurus KTP, maka mereka akan memposting berulang kali, dan bahkan ketika sudah dijawab pun mereka tetap menanyakannya kembali.

Ketidakpuasan terhadap satu jawaban itu menyebabkan orang desa sangat kebal terhadap hoaks di Internet. Butuh usaha keras untuk meyakinkan warganet desa terhadap suatu issue. Walaupun di Internet kebal Hoaks, buktinya toh tidak membebaskan mereka dari Hoaks di dunia nyata. Buktinya masih saja ada yang percaya kalau PLN itu jualan box pelindung meteran listrik. Atau percaya kalau Pertamina jualan Regulator Gas.

Kembali kepada ilustrasi di paragraf pertama tadi, walaupun sudah tidak ada yang teriak-teriak bahwa besok lebaran, tetapi tetap saja tidak mengubah kebiasaan orang desa untuk bertanya di Facebook “Lebaran kapan?” Tanpa mau mengetik di mesin pencari dengan keyword “Keputusan sidang isbat”. Dan tetap menghadapi kenyataan bahwa pertanyaan itu tidak cuma di posting sekali, tapi berkali-kali sampai ada Musholla atau Masjid yang menggelar takbiran.

Jadi menurut saya internet tidak mengubah apa-apa dalam hal minat baca atau budaya tutur di masyarakat desa. Internet malah menjadi media untuk “Cangkruk’an” -yang merupakan perwujudan paripurna dari budaya tutur- tanpa mau berusaha mencari dan menganalisis secara mandiri data yang berserak di Internet. Tugas para relawan dan pegiat internet untuk memberi bimbingan betapa pentingnya analisis data secara mandiri, supaya tidak begitu saja ikut arus.

Dangdut Koplo dan Youtube

Salah Satu Video Nella Kharisma

Sore yang mendung, seperti biasa saya harus naik angkot dari Kantor menuju Stasiun Tanah Abang. Setelah tap emoney, saya masuk ke peron stasiun dan seperti biasa sambil menunggu kereta saya buka situs kebanggaan saya Tirto. Di awal saya buka terdapat sebuah judul artikel yang menarik jempol saya untuk mengkliknya.

Berita tersebut berjudul Kenapa “Nella Kharisma Ngetop di YouTube Tapi Tidak di Twitter?” Sebagai Nella lovers garis lurus, rasanya kok ada beban perasaan jika tidak membacanya. Saya berharap ada kajian data yang ciamik khas Tirto. Paragraf awal ya masih preview umum tentang hal yang akan dibahas.

Kemudian saya merasa agak aneh ketika pada sub judul (atau entah apa namanya, pokoknya yang tercetak tebal) bertuliskan “Memahami Segmen Para Pengguna”. Anehnya dimana? Yuk kita simak, saya rasa ada yang enggak match antara satu data dengan data lainnya untuk kesimpulan seperti itu.

Pada bagian data pengguna twitter, Tirto mengungkapkan bahwa sebagian besar tweeps (sebutan untuk pengguna twitter) membahas Agnes Mo, JKT48, DWP dan lain-lain. Dari data tersebut Tirto berkesimpulan bahwa twitter didominasi oleh kaum berpendidikan.

Asal usul kesimpulan tersebut adalah dari data diatas mengungkap bahwa twitter didominasi oleh genre musik Hip-Hop, Pop, EDM hingga Jazz. Tirto mengutip salah satu riset yang menyatakan bahwa penikmat musik-musik itu memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Nah dengan data tersebut Tirto berkesimpulan bahwa twitter digunakan oleh orang dengan pendidikan tinggi.

Selain itu Tirto juga mengambil kesimpulan jika pengguna twitter lebih berpendidikan, karena twitter sering digunakan untuk membahas politik. Coba aneh tho? La masak dengan data dan asumsi seperti itu langsung menyimpulkan kalau twitter itu penggunanya berpendidikan tinggi.

Padahal tidak ada satupun hasil riset yang dikutip tirto mengatakan hal yang demikian. Tirto hanya otak atik gatuk saja. Kamudian yang membuat aneh adalah data yang digunakan untuk menyimpulkan bahwa Youtube adalah platform orang kelas bawah.

Jika sebelumnya Tirto menggunakan data riset yang digatuk-gatukan untuk twitter maka pada Youtube, tirto menggunakan pengertian dari sebuah buku yang mengatakan bahwa dangdut adalah musik orang kelas bawah khususnya pada tahun 1970an. Bro, sekarang 2017, masak dibandingkan sama tahun 1970.

Di Youtube yang merajai viewer memang musik dangdut khususnya koplo. Dengan menghubungkan dua fakta : dangdut adalah musik orang kelas bawah dan dangdut merajai youtube maka disimpulkan bahwa youtube adalah platform dengan pengguna segmen bawah secara pendidikan maupun ekonomi.

Tirto menafikan fakta bahwa untuk memutar youtube dibutuhkan data yang tidak sedikit. Sebagai gambaran untuk memutar video HD -karena sekarang video dangdut sudah berformat HD- butuh sekitar 9 Mbps. Dengan besarnya data yang dibutuhkan untuk menonton dangdut, masyarakat bawah mending beli VCD yang harganya 10 ribu per keping dan bisa diputar kapan pun.

Kemudian berdasarkan data APJII yang dirilis tahun 2014 mengatakan bahwa pengakses internet terbanyak adalah karyawan/ pekerja formal. Sedangkan pekerja informal hanya sebesar 3%. Pada survey 2016 Survey APJII menyatakan karyawan mengambil peran 62% dan mahasiswa sebesar 7,8% ditambah IRT 16%. Dengan data itu kok rasanya semua konten Internet itu mayoritas diakses oleh orang berpendidikan.

Jika dilihat data di atas kok ya agak naif kalau Youtube disebut sebagai platform yang hanya digemari oleh orang kelas bawah hanya karena dangdut -yang pada tahun 1970 identik dengan masyarakat bawah- menguasai perolehan tayangan. Saya lebih setuju jika kesimpulannya adalah terjadi kemajuan Dangdut koplo yang sedang digandrungi semua kalangan dari kalangan bawah penikmat VCD sampai kalangan atas yang menikmati dangdut via streaming. Setuju?

Dangdut Koplo di Tengah Generasi Digital

Ilustrasi, Nella Kharisma di salah satu videonya di Youtube.

Pagi menyapa Jakarta, udara dingin menyelimuti, karena semalaman diguyur hujan. Di sudut ruang kantor perusahaan nasional di bilangan Tanah Abang, sayup-sayup terdengar suara khas Nella Kharisma yang mendendangkan lagu “Cah Kerjo”. Kantor ini sejak beberapa waktu terakhir memang terasa lebih dangdut dan koplo lagi, sesuatu yang anomali terjadi di kantor yang serba formal dengan penghuninya kebanyakan kelas menengah ke atas.

Anomali sebenarnya tidak saja melanda kantor tadi, namun juga di linimasa internet. Di internet, orang sudah tidak sungkan maupun enggan lagi mengungkapkan kekagumannya terhadap musik dangdut koplo. Di Youtube lebih mengejutkan, jika sebelumnya dominasi artis-artis nasional merajai jumlah viewer di Youtube, akhir-akhir ini Nella Kharisma dan Via Vallen lah yang menguasai Youtube.

Bisa dilihat misalnya Nella Kharisma dengan lagunya Jaran Goyang, mampu meraih jumlah tayangan yang fantastis, hampir mendekati angka 100 juta kali ditonton, bandingkan misalnya dengan video milik Raisa, Isyana atau bintang lainnya yang sedang bersinar. Data itu sudah menunjukkan ada yang berubah dengan dangdut khususnya dangdut koplo, yang diawal kemunculannya dianggap sebagai dangdut “sesat” karena keluar dari patron umum dangdut di tanah air.

Sedangkan di sebuah desa yang jauh dari Jakarta, sebut saja desa Kapu, masyarakatnya telah mengenal dangdut koplo jauh sebelum Jakarta mengenalnya. Saat itu sekitar tahun 2000 muncul group dangdut koplo bernama Monata. Monata adalah Orkes Melayu atau disingkat OM, yang pertama kali memperkenalkan aliran koplo di Desa ini. Walaupun band-band besar dangdut koplo termasuk Monata belum pernah sekalipun manggung di desa ini, tapi percayalah bahwa mereka adalah diehard dangdut koplo.

Kegemaran mereka akan dangdut koplo bahkan tergambarkan saat mereka menggubah lagu-lagu sholawat dengan irama koplo. Selain itu banyak lagu-lagu yang dikoplokan dengan bantuan tongklek -Seni musik patrol asli Tuban. Di pentas-pentas seni pun mereka tidak absen menampilkan musik-musik bernuansa koplo. Mungkin kita dibuat kagum sekaligus cekikikan ketika di acara wisuda ada yang membawakan lagu koplo, di Kapu itu sudah biasa dilakukan.

Kapu, seperti desa lainnya, tidak sepenuhnya tunduk terhadap industri hiburan yang dikendalikan dari Jakarta. Selain karena keterbatasan akses, mereka juga sebenarnya tidak mengerti,.mengapa hiburan harus seperti itu. Lirik-lirik utopis yang jauh dari makna kehidupan desa dan hal itu makin menjauhkan masyarakat desa dari selera hiburan Jakarta. Desa menginginkan sebuah musik yang menggambarkan kehidupan mereka sendiri dan tentu saja berbeda dengan Jakarta.

Secara ajaib dunia ini dikaruniai para seniman dangdut yang dengan apik menggambarkan kehidupan masyarakat desa yang sederhana kalau tidak mau disebut menderita pada saat awal kemerdekaan, kemudian kehidupan cinta yang lebih dewasa yaitu pernikahan alih-alih menampilkan asyik masyuknya berpacaran seperti tergambar di lirik-lirik berbagai aliran musik dari Jakarta. Di awal kemunculannya, dangdut di Kapu sama seperti di daerah lain, beraliran klasik seperti tergambar dari irama lagu koesplus yang berjudul cubit-cubitan.

Kemudian dangdut selama bertahun-tahun dikuasi oleh aliran “Soneta” -merujuk nama Orkes Melayu pimpinan Haji Rhoma Irama. Aliran dangdut yang memberikan unsur rock dengan efek gitar elektrik andalannya. Aliran ini memang sempat menjadi mainstream dangdut, sampai setidaknya awal tahun 2000. Sebab kita masih sering melihat poster-poster yang mengumumkan pergelaran rock dangdut dan semakin semarak saat mendekati Pemilu 1999.

Pelan namun pasti pada awal tahun 2000, dangdut koplo menggeser pasar rock dangdut. Berawal dari penetrasi CD beserta VCD player ke daerah-daerah, dangdut koplo menyusup senyap mengubah selera dangdut masyarakat desa. Sementara di saat yang sama, Jakarta masih saja terbuai dengan dangdut Ibu Kota yang mendayu-ndayu dan mulai berlirik utopis jauh dari kehidupan orang desa.

Internet mengubah dangdut

Pada dekade kedua tahun 2000, internet mulai merangsek ke desa. Teknologi 3G dan diperbarui lagi dengan teknologi 4G membuat tarif internet jatuh bebas menyebabkan desa kebanjiran trafik internet. Di sisi lain Device pengakses internet pun terjadi revolusi dengan hadirnya Android yang murah dengan kemampuan powerfull. Kombinasi tersedianya infrastruktur internet dan device yang murah menyebabkan perubahan perilaku masyarakat desa termasuk perilaku menikmati dangdut koplo.

Penetrasi internet ke desa akhirnya membuat semakin beragamnya konten internet yang selama awal dekade 2000 hanya didominasi oleh konten Ibu Kota. Dampak paling baiknya untuk dangdut adalah mudahnya dangdut koplo yang notabene sebelumnya konten pinggiran, kini dapat dengan mudah ditemukan di internet. Persebaran dangdut di internet tidak langsung membuat dangdut koplo naik kelas.

Dangdut di internet masih didominasi oleh artis Ibu Kota dengan aliran yang terpengaruh disco atau EDM. Bisa dilihat dari misalnya perolehan view dari Cita Citata atau Ayu Ting-ting jauh mengalahkan jumlah view dangdut koplo. Di kantor nasional tadi yang saya sebutkan di awal masih pada malu-malu memutar dangdut koplo di ruang kerja mereka.

Dominasi dangdut Ibu kota sebenarnya bisa dimaklumi karena mahalnya produksi video grafis dan suara sebening produksi orang Jakarta. Group Band dangdut koplo saat itu belum mampu memproduksi seperti itu.

Di tahun 2016 apa yang menjadi pra syarat Dangdut koplo berjaya sudah terpenuhi seperti internet yang sudah melesak semakin dalam ke jantung orang desa dan teknologi video grafis yang semakin canggih dan murah akhirnya dangdut meledak untuk ketiga kalinya. Kalau dalam internet dikenal sebagai third wave, maka dangdut koplo dengan balutan budaya pop, korean style, Hip Hop dan EDM adalah gelombang kejayaan ketiga setelah dangdut klasik dan rock dangdut.

Sekarang biduan dangdut koplo sudah terkenal layaknya selebritis nasional dengan penghasilan fantastis. Bukan cuma biduannya yang kebagian berkah, mulai dari crew, Band pengiringnya, bahkan leboh spesifik pemukul kendangnya juga mendapatkan penghasilan yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Faktor lain

Faktor lain selain teknologi, dangdut koplo saat ini berwajah anak muda sekali dengan menggabungkan genre musik regae, hip hop, EDM dan lain-lain disertai penampilan biduan dan Band dangdut yang berkiblat pada korean style. Sedikit bergoyang banyak tersenyum ramah dan memiliki musikalitas yang tinggi.

Ada juga yang menarik adalah soal pasukan goyang dangdut koplo yang sebenarnya mirip flashmob yang juga populer di Korea sana. Mereka menunjukkan bagaimana cara menikmati dangdut koplo dengan baik dan benar.

Terakhir dangdut koplo tetap dengan akarnya menyuarakan realitas-realitas hidup dengan rinci, dan enggan membuat lirik utopis seperti genre musik lainya.

Dengan teknologi yang murah, lirik yang realistis dan penampilan yang kece akhirnya mampu membius seluruh kalangan untuk sekedar joget jempol.