Pujian Jelang Sembahyang di Tuban ini Selalu Bikin Kangen

pujian menjelang sembahyang sholat
Ilustrasi Masjid di senja hari
Sumber : Designed by nikitabuida / Freepik

Langit mulai berwarna jingga, para Ibu petani mulai menggendong sak yang berisi rumput-rumput untuk ternaknya. Bapak-bapak menuntun sapinya dan dipundaknya tersampir kerakal yang sebelumnya digunakan untuk menggemburkan tanah. Ditambah anak-anak yang mulai meninggalkan area permainan dengan ceria walaupun menyimpan ketakutan dimarahi Ibu karena pakaian lusuh bekas bermain dengan tanah.

Mereka melintas dengan teratur di jalan-jalan desa yang sekarang berpaving. Dahulu jangankan paving, tidak becek pun sudah bersyukur sekali. Sementara di langgar sudut desa yang berarsitektur panggung, terbuat dari kayu jati dan beratap tunda khas langgar di Jawa, serta dilengkapi speaker yang terpasang di ujung tiyang bambu, terdengar lengkingan adzan yang ternyata dilantunkan oleh seorang anak berusia belasan tahun.

Duh Gusti kulo nyuwun ngapuro, sekatahe duso kulo, lan dosane tiyang sepuh kulo, ugi umat Islam sedoyo. Allahummaghfirli dzunubi waliwalidaya… Warhamhumma kama robbaiyani Shagira…

Duh suasana yang selalu bikin saya kangen untuk pulang. Setelah adzan, muazdin melantunkan puji-pujian sambil menunggu jamaah lengkap. Puji-pujian biasanya berupa sholawat Nabi, bisa sholawat nariah, badar dan lain-lain. Tetapi banyak juga yang berbahasa jawa dan berisi petuah-petuah untuk hidup yang lebih baik.

Pujian ini konon adalah adalah tradisi peninggalan walisongo dulu. Masuk akal memang. Karena walisongo terkenal dengan dakwahnya yang luwes. Sebut saja misalnya Sunan Giri dengan berbagai tembang sarat nilai kemudian Sunan Bonang juga tidak ketinggalan, di tambah Sunan Kudus yang sangat menghormati umatnya yang sudah mapan dengan tradisi keagamaannya sendiri dan yang paling legendaris adalah jejak dakwah Sunan Kalijogo yang sarat pendekatan budaya.

Pujian-pujian yang dilantunkan di Langgar atau Mushola di Tuban ini mengikuti peristiwa atau hari. Maksudnya kontekstual sesuai keadaan masyrakatnya. Jika puasa tiba maka pujiannya adalah doa yang diajarkan Islam saat masuk bulan Ramadhan. Kemudian ketika Maulid Nabi, maka kamu akan dengarkan sebulan penuh pujian yang berisikan pribadi Nabi Muhammad, dari sifatnya sampai dengan silsilah keluarga.

Gusti Kanjeng Nabi lahire ono ing Mekkah. Dino Senen rolas maulud tajun gajah. Ingkang Ibu asmane Siti Aminah, ingkang Romo Asmane Sayyid Abdullah. Allahumma Shali ‘ala Muhammad, Ya Rabbi Shali alaihi was salim.

Jika memasuki malam Jumat maka biasanya mereka akan melantunkan pujian karya Abu Nawas yang berisi tentang pengakuan kelemahan hambaNya di dunia ini. Digambarkan dengan pengakuan ketidakmampuan ketika hamba menghadapi ancaman neraka sampai pengakuan ketidakpantasan hambaNya memasuki Surga yang agung. Berbeda lagi ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban maka akan berganti nuansa menyambut Ramadhan. Ini ngangenin betul, Dek! Percayalah!

Jadi langgar memang memiliki peran sentral di masyarakat Tuban. Langgar mengingatkan untuk berbaik-baik dalam menjalani kehidupan. Lima waktu diingatkan melalui pujian yang dilantunkan sebelum Sholat dimulai. Langgar juga menjadi tempat bersuka cita. Karena masyarakat desa sering kali menggelar doa syukur di Langgar ketika terdapat keberuntungan dalam kehidupan. Syukuran di gelar dengan membawa bucu disertai bumbu-bumbu sederhana.

Penasaran dengan suasana ini, ayo datang ke Tuban dan tunggu sampai senja menyapa, maka kamu akan rasakan ketenangan sekaligus kebersahajaan budaya yang bernafaskan agama illahi.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Zaman Dahulu, Ini yang Dilakukan Orang Desa Kapu Ketika Gerhana Bulan

Ilustrasi Gerhana Bulan
Ilustrasi Gerhana Bulan

Akhir bulan Januari 2018 diwarnai dengan fenomena alam Gerhana Bulan. Gerhana bulan kali ini spesial karena merupakan gabungan tiga fenomena sekaligus yang memiliki nama resmi Super Blue Blood Moon. Gimana penjelasannya? Nanti saja. Sekarang yuk kita bahas tentang budaya orang desa Kapu ketika gerhana bulan menghampiri desa yang terletak di Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini. Walaupun budaya ini sudah jarang dilakukan tetapi tidak ada salahnya kita ketahui untuk menambah pengetahuan.

Pada zaman dahulu berbeda dengan sekarang, khususnya soal penyebaran informasi. Jadi waktu gerhana tidak dapat diperkirakan. Biasanya masyarakat desa Kapu mengetahui secara tiba-tiba atau on the spot. Ada tanda-tanda alam sebenarnya untuk mengetahui gerhana bulan. Di Kapu banyak keluarga yang memiliki binatang ternak, biasanya berupa sapi, ayam kampung dan kambing. Binatang ternak ini akan memiliki kebiasaan yang berbeda pada malam gerhana bulan. Seperti ayam yang tiba-tiba berkokok.

Nah ketika masyarakat mengetahui gerhana bulan sedang berlangsung, mereka dengan sigap mengambil sapu lidi gerang. Sapu lidi gerang itu adalah jenis sapu lidi yang sudah lama digunakan dan meninggalkan lidi-lidi yang pendek. Sapu lidi gerang ini digunakan untuk memukul-mukul benda apa saja sambil berdoa kepada Allah supaya dijauhkan dari marabahaya. Sapi, ayam, kambing bahkan pohon mangga menjadi sasaran pukulan sapu lidi gerang ini.

Enggak cuma benda-benda itu saja sih, saya pun kena sasaran sapu lidi gerang ini. Kalau mukul kentongan sih nggak ada. Ada yang mukul lesung tapi sedikit karena jaman saya kecil sudah jarang yang memiliki lesung. Masyarakat desa Kapu seperti orang Jawa lainnya, percaya bahwa Gerhana bulan ini membawa semacam balak. Maka tidak heran mereka memukul-mukulkan sapu lidi gerang sambil memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Budaya ini sebenarnya bisa dilacak sejak era Hinda Belanda dulu. Akun twitter @potretlawas misalnya menurunkan tangkapan layar sebuah surat kabar yang terbit pada tahun 1939 di Hindia Belanda. Di surat kabar tersebut tertulis bahwa gerhana bulan disambut dengan antusias oleh masyarakat Hindia-Belanda saat itu. Tetua kampung bertitah bahwa akan ada banjir darah dan gagal panen di masa mendatang. Untuk mengusir bahaya tersebut maka ditabuhlah bebunyian seperti kaleng dan kendang. Menariknya pada saat itu gerhana bulan disebut Grahanan, sama seperti orang desa Kapu menyebutnya.

Padahal secara ilmu pengetahuan modern, gerhana bulan adalah peristiwa antariksa biasa yang memang menjadi siklus tata surya. Gerhana bulan secara umum dapat dijelaskan bahwa Bulan, Bumi dan Matahari berada dalam satu garis lurus sehingga bulan tidak mendapatkan sinar matahari. Pertanyaan saya sih, apa kabar datarians? Apakah dengan konsep bumi datar bisa menjelaskan tentang fenomena gerhana bulan.

Kemudian apa sih yang membuat istimewa dari pada tanggal 31 Januari 2018 kemarin? Menurut berbagai sumber yang di internet, gerhana bulan kemarin adalah gerhana bulan dengan gabungan tiga fenomena langka. Pertama Supermoon, yaitu fenomena bulan yang terlihat lebih besar karena sedang berada di jarak terdekat dengan bumi. Kedua blue moon, yaitu fenomenda purnama dua kali dalam sebulan, yaitu pada tanggal 1 Januari 2018 dan 31 Januari 2018. Terakhir Blood Moon, yaitu gerhana yang menampakkan bulan berwarna kemerahan.

Nah dengan mengetahui tentang bagaimana gerhana bulan dan bagaimana leluhur kita dahulu menyikapi fenomena alam ini, mari kita sejenak merenung bahwa ilmu pengetahuan semakin berkembang dan jangan sampai malah membuat kita sombong. Sebaliknya kita harus semakin bersyukur dan berpasrah diri kepada Allah. Bagaimanapun seluruh alam semesta ini adalah ciptaan Allah dan menyimpan potensi yang membahayakan jika tidak disikapi dengan baik.

Oiya terakhir untuk informasi saja, sepertinya di Kapu Sapu lidi gerang sudah pensiun tidak lagi memukuli binatang ternah, pohon atau kita semua. Tetapi harapan-harapan tentang perlindungan Allah kepada kita tetap harus ada di dada. Tsaaah… Lha kalau kamu kangen pengen dipukul-pukul sama Sapu Lidi ya beli sendiri di pasar terus dipotong supaya gerang kemudian pukul-pukulin deh.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Pernikahan Adat Jawa Orang Tuban

Ilustrasi Pernikahan Adat Jawa
Ilustrasi Pernikahan Adat Jawa

Kasmi bukan nama sebenarnya, adalah seorang gadis salah satu desa di Tuban. Dia sedang sumringah karena hari ini orang tuanya akan “melamar” laki-laki impiannya untuknya sesuai dengan tradisi pernikahan adat Jawa ala Tuban. Sedangkan orang tuanya sedang sibuk menata jodang berisi aneka macam seserahan yang akan melengkapi acara lamaran nanti. Dibantu beberapa tetangganya, satu persatu jodang dimuat ke atas Kol Tepak (Sebutan lain untuk mobil pick up).

Itulah gambaran awal rangkaian pernikahan tradisional orang di Kabupaten Tuban. Di Tuban sebenarnya tidak ada istilah melamar. Istilah ini baru di kenal pada masyarakat modern Tuban. Dalam tradisi Tuban sebutannya adalah gemblong. Nama gemblong ini sebenarnya berasal dari menu utama seserahan tadi yaitu Gemblong.

Gemblong adalah makanan dari dari ketan. Sama seperti daerah mataraman lainnya yang menggunakan makanan berbahan ketan sebagai simbol lamaran. Filosofinya adalah pengantin sebagai suami isteri agar bisa tetap melihat ketan yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Gemblong di Tuban berbeda dengan gemblongnya orang Sunda yang berwarna cokelat karena dibalut dengan gula. Gemblong di Tuban mirip dengan jadah yang ada di daerah Jawa Tengah.

Orang tua di Tuban berkeyakinan salah satu tugas orang tua yang memiliki anak perempuan adalah mencarikan jodoh atau menikahkan. Maka yang akan terlihat proaktif mencari pendamping anaknya adalah orang tua calon mempelai pengantin wanita. Hal ini berbeda dengan tradisi orang di kota lain, yang justru calon pengantin prianya yang kelihatan proaktif mencari jodoh untuk dirinya sendiri apapun metodenya.

Baca juga : Dangdut Koplo di Tengah Generasi Digital

Dengan keyakinan seperti itu maka terwujudlah rangkaian tradisi pernikahan adat jawa khas Tuban yang secara umum terdiri dari naren yang dilakukan oleh orang tua wanita kepada calon mempelai pria. Kemudian gemblong yang lagi-lagi dilakukan oleh orang tua wanita, medot gunem, repotan, akad nikah hingga selapanan yang semuanya dilakukan oleh orang tua pengantin wanita.

Tahap pertama untuk menuju ke pernikahan ada tradisi naren. Naren itu berarti nari atau berarti bertanya. Ketika anak wanita cukup umur dan bersedia menikah maka orang tua calon pengantin wanita mencarikan calon pengantin pria yang cocok. Ketika menemukan -tentu sesuai kriteria orang tua- maka orang tua tersebut akan menanyai calon yang sudah masuk “radar” tadi. Mau tidak calon tersebut menikah dengan putri tercinta. Jika mau maka berlanjut ke tahap berikutnya.

Pada tahap pertama ini sekarang telah mengalami modifikasi. Jika dahulu yang mencari calon pengantin pria adalah orang tua, maka sekarang yang mencari ya anak wanitanya itu sendiri. Sebenarnya wajar karena akses pendidikan dan informasi wanita  di Tuban sudah layak, tidak ada perbedaan dengan pria. Hal ini tentu berbeda jika dibandingkan dengan jaman dulu. Tetapi orang tua perempuan tetap bertugas menanyai calon pengantin pria, namun dengan pertanyaan yang lebih dalam, misalnya sudah yakin mau menikah dan lain-lain.

Jika semua berjalan lancar, maka ada tahapan selanjutnya yang lebih serius yaitu gemblong. Pada fase ini biasanya kedua keluarga sudah mengetahui tentang rencana acara ini. Mereka sudah saling menyelidiki dan memegang profil masing-masing keluarga calon besan. Orang tua di Tuban sama seperti orang tua lainnya, mereka ingin memastikan jodoh anaknya adalah yang terbaik dengan kadar tertentu sesuai kriteria keluarga masing-masing. Jadi ya wajar sesama keluarga saling mencari tahu seperti apa calon keluarganya.

Baca juga : Lebaran Singkat di Desa Kapu

Pada tradisi gemblong, orang tua calon pengantin wanita akan meminta sesepuh keluarga untuk mengantarkan mereka ke calon besan. Sajian dari beras ketan seperti gemblong dan wajik atau orang Tuban bilang ketan salak sudah disiapkan terlebih dahulu ditambah berbagai bawaan. Ada yang bawa beras, ayam, roti dan lain-lain yang ditaruh di Jodang dan diangkut menggunakan mobil tepak.

Calon mempelai biasanya tidak ikut dalam acara ini. Ini adalah acaranya orang tua. Calon pengantin wanita tinggal di rumah, yang berangkat adalah orang tua dan sesepuh keluarga. Ketika sampai di rumah calon mempelai pria mereka disambut layaknya tamu agung. Disambut dengan penuh penghormatan. Mereka biasanya langsung mengutarakan maksudnya untuk mengambil anak laki-laki keluarga tersebut sebagai menantu.

Sementara di bagian lainnya para pendarat disibukkan dengan pembongkaran seserahan yang dibawa oleh keluarga calon mempelai wanita. Setelah diturunkan lalu dibagi, diiris, dibungkus lalu dibagikan kepada tetangga terdekat sampai keluarga jauh. Ini sekaligus menandakan bahwa calon mempelai pria sudah ada yang meminang menjadi menantu. Di acara gemblong ini tidak ada tukar cincin layaknya lamaran di kota lainnya. Jadi ya gemblong tadi simbolnya.

Pertemuan keluarga inti tadi biasanya langsung membicarakan tanggal pelaksanaan. Meski demikian tidak menutup kemungkinan akan dilakukan pertemuan-pertemuan lanjutan secara informal hingga mencapai kesepakatan soal hari dan teknis lainnya terkait pelaksanaan pernikahan. Pertemuan lanjutan penting digelar karena beberapa masyarakat di Tuban masih secara ketat menerapkan perhitungan hari dengan pertimbangan primbon.

Baca juga : Udukan, Tradisi di Desa Kapu untuk Peringati Maulid Nabi

Acara selanjutnya adalah medot gunem. Acara ini sebenarnya acara yang informal saja karena tidak ada lagi acara formal yang melibatkan banyak pihak. Ini adalah pertemuan terakhir untuk mengambil keputusan tentang hal-hal teknis acara pernikahan nanti. Setelah medot gunem akan dilakukan repotan.

Repotan itu adalah acara pendaftaran calon mempelai wanita, pria dan wali. Dilakukan di KUA terdekat rumah mempelai wanita. Di Tuban seperti lazimnya di tempat lain, akad nikah dilakukan di kediaman mempelai wanita. Repotan ini juga sebenarnya acara informal. Biasanya ya hanya selametan kecil saja, supaya diberikan kelancaran selama proses mengurus administrasi pernikahan.

Setelah repotan maka hari yang tunggupun tiba. Saya ndak tau tradisi detailnya seperti pemasangan bleketepe, dodolan dawet dan lain-lain. Soalnya sudah jarang masyarakat Tuban yang melaksanakannya. Acara akad nikah diawali dengan penjemputan calon mempelai laki-laki oleh keluarga calon mempelai perempuan. Biasanya diwakili oleh sesepuh keluarga. Calon mempelai laki-laki tidak akan berangkat ke tempat akad jika penjemputnya belum datang.

Setelah itu maka seluruh rangkaian pernikahan akan dilakukan sesuai keputusan musyawarah yang disepakati pada saat medot gunem sebelumnya. Dari mulai Mas Kawin, rute yang harus ditemput oleh calon pengantin pria, waktu akad nikah, penyambutan pengantin pria yang biasanya diberi minum dari genuk milik keluarga calon pengantin wanita dengan wadah jebor yang terbuat dari tempurung kelapa dan lain-lain sampai dengan tata cara resepsi.

Nah yang menarik adalah, orang tua calon pengantin pria pada saat akad nikah biasanya tidak ikut dalam rombongan. Mereka tidak menyertai putranya seperti di kota. Orang tua calon pengantin pria akan datang ketika akad sudah selesai. Orang tua calon pengantin pria akan memasrahkan kepada mertuanya, dan akan memberitahukan kelemahan putranya. Misalnya tidak bisa membantu dengan rajin, pemalas dan lain-lain. Jadi untuk calon pengantin pria siap-siap, ya.

Setelah akad selesai dan resepsi juga telah selesai digelar, maka pengiring pengantin pria akan bertahan di tempat acara sampai pagi. Mereka melaksanakan tradisi melekan. Entah apa maknanya, tetapi di banyak di Tuban masih melaksanakan acara ini. Dalam acara melekan ini tidak ada ketentuan khusus, mereka biasanya hanya akan duduk-duduk, mengobrol dan tentu saja ditemani kopi.

Rangkaian terakhir di dalam pernikahan adat jawa ala Tuban ini adalah sepasar. Di Tuban sepasar berarti 5 hari sejak tanggal pernikahan digelar. Ini sesuai dengan tradisi penanggalan jawa yang memiliki 5 hari dalam sepekan. Pada acara sepasar, keluarga pengantin wanita akan berkeliling membawa makanan dan jajanan yang banyak. Makanan tersebut akan dibagikan kepada keluarga pengantin pria.

Nah demikian rangkaian pernikahan adat jawa di Tuban. Semua yang saya tulis biasanya berbeda antara satu kecamatan dengan kecamatan lain atau bahkan antar desa juga kadang berbeda. Tidak mengherankan karena masyarakat Tuban sudah banyak keluar dan terpengaruh budaya luar Tuban sehingga melahirkan tradisi-tradisi baru, yang malah menambah kekayaan tradisi orang Tuban. Mari saling menghargai dan menghormati.

Tulisan ini menarik? Dukung kami untuk selalu memberikan konten yang menarik dengan terus membaca tulisan di Blog ini dan klik Daftar isi untuk membaca tulisan menarik lainnya.

Lebaran Singkat di Desa Kapu

Kumpul-kumpul setelah lelah saling berkunjung

Ah Lebaran sebentar lagi. Tulisan ini dibuat pada suasana jalanan di pantura sudah mengalami kepadatan, walaupun enggak padat-padat banget, namun ini sudah menandakan bahwa lebaran sudah dekat, tentunya selain iklan mardjan yang semakin menjadi-jadi. Lebaran datang, kota jadi sepi, desa menjadi semarak. Semarak orang rantauan yang pulang untuk melepas kangen dan ada juga yang niatnya pamer ninja. Duh.

Ndak ketinggalan juga di Kapu. Di Kapu yang berjarak 10 KM dari pusat kabupaten Tuban ini juga mendadak semarak. Semaraknya sih sejak awal ramadhan, Mushola dan Masjid berlomba cepet-cepetan Tarawih dan tadarusan, kemudian menurun pada 10 akhir ramadhan, semaraknya pindah ke Jalan Pemuda atau Bravo, itu swalayan paling joss sak Kabupaten Tuban. Ruame, apalagi udah ada eskalatornya. Lumayan udah mirip mol-mol di kota besar.

Untungnya ada kegiatan maleman, yang biasanya juga diisi sama ziarah wali di Tuban. Sempat-sempatin ke Mushola di tengah kesibukan mencari baju andalan menunjang penampilan saat lebaran. Ke Mushola karena pengen ikut maleman, walaupun juga ada saja yang berniat jalan-jalan, lihat-lihat Jalan Pemuda dan Bravo. Lho! Ha Piye hawong Sunan Mbonang itu letaknya di tengah pusat kota. Sebelah timur Alun-alun, Sebelah selatan Bravo dan sebelah baratnya Jalan Pemuda.

Lepas dari 10 hari terakhir, maka persiapan akhir sebelum lebaran adalah nyekar ke sanak saudara yang sudah meninggalkan kami semua. Tapi anehnya momen ziarah ini ndak hanya menyambung silaturahim dengan yang sudah tiada, namun juga menyambung silaturahim dengan yang hidup. Ha gimana, tempat pemakaman desa jadi ramai. Banyak yang sudah lama tak bersua, berjumpa di sini, saling menanyakan kabar, menanyakan utang yang sudah lama belum kunjung dibayar dan diakhiri dengan saling mendoakan. Duh indahnya.

Pulang dari kuburan jangan lupa cuci kaki sebelum masuk rumah, konon banyak setan yang menempel dan akan hilang ketika membasuh kaki. Di Kapu tidak ada penjual kembang dadakan seperti di kota-kota besar. Tidak mengherankan hawong banyak yang punya pohon kembang ijo yang baunya kuburan banget itu. Kalaupun ndak punya pohonnya ya tinggal mintak ke tetangga.

Sorenya warga desa terlihat sibuk, bawa hantaran ke tetangga sana dan sini, tak lupa juga untuk sanak saudara lain desa tapi masih terhitung dekat. Pada malam harinya giliran bapak-bapak yang tampak lalu lalang sambil menenteng kresek hitam, kadang putih kadang juga merah. Kresek apa itu gerangan, apalagi kalau bukan kresek berkat. Ini adalah ritual selametan riyoyo yang diikuti oleh hampir seluruh warga desa.

Acaranya saling mengunjungi ke rumah-rumah orang, dilanjutkan berdoa bersama di rumah orang yang dikunjungi kemudian setelah selesai dibagi berkat per orang satu. Syahdu betul suasananya. Jika Mas Aji bilang mudik adalah perayaan kerinduan, ini adalah salah satu perayaannya di desa Kapu. Siapapun perantau asal Kapu akan merindukan telur berkat yang disimpan dan dimakan besoknya ketika selesai sholat Ied.

Setelah sibuk anjangsana berbonus berkat yang beneran penuh berkah. Ha Piye berkat itu didoain seluruh orang selingkungan. Giliran anak muda mudi sibuk hilir mudik. Ada yang (suwit-suwit) bawa ceweknya, ntah udah jadian atau baru mbribik, ada yang sama genknya ada juga yang pamer ninja. Duh. Anak-anak ini sibuk Takbiran keliling. Takbir keliling baru-baru ini saja semarak, gara-gara anak-anak IPNU-IPPNU itu bikin acara festival tongklek. Lha masak peralatan tempur yang ditabuh sebulan penuh saat sahur ndak dimanfaatkan ketika malam Idul Fitri ini. Duh saya mbrebes mili nulis ini, rindu betul saya sama suasana ini.

Paginya ndak kalah syahdu. Menjelang Shubuh, pemuda-pemuda yang takbiran semalam suntuk semakin menjadi, seolah tak rela ditinggalkan oleh malam yang betul-betul ngangenin setiap manusia yang bernafas di Kapu. Ufuk timur telah menguning, para pemuda dengan wajah kelelahan tapi senyum merekah di wajah, sambil menyandang sarung yang semalaman melindungi tubuh dari nyamuk dan dinginnya ubin Mushola, meninggalkan Mushola dan persiapan ke Masjid.

Jalan-jalan Desa yang akhir-akhir ini penuh dengan kendaraan sepeda, mobil, sepeda motor dan lain-lain, pada pagi itu akan berubah total. Hening, hanya ada suara-suara gremembyeng warga yang mulai berangkat ke Masjid. Karena saking heningnya, suara tetangga yang disebrang sana pun kedengaran. Dengan rukuh yang sudah menutup rapi aurot para wanita dan sarung serta tidak lupa baju taqwa membalut dengan gagah tubuh para pria, mereka menuju ke Masjid.

Tempat favorit sih paling belakang. Duh betul-betul ini. Jamaah pun ada yang mulai nggelar koran, sajadah, terpal, perlak dan apapun yang suci untuk alas. Imam Sholat Ied biasanya bersuara mistis, dengan suara mistisnya beliau memulainya dengan takbir 7 kali. Sholat Ied yang sangat-sangat singkat walaupun bertakbir ikhrom 7 kali atau kalau ditotal ada 12 kali, tapi terasa sangat singkat. Kangen betul sama Sholat Ied.

Imam dengan suara mistisnya mengakhiri Sholat Ied dengan salam. Jamaahpun mulai ancang-ancang pulang mulai tengok kanan dan kiri salaman. Njawil depannya untuk salaman juga dan putar arah kebelakang untuk menyalami jamaah lainnya. Sebagian besar duduk khusuk mendengarkan khotbah dan sebagian lainnya mulai melipat sajadah siap-siap pulang, duh Mas hambok sabar. Pamer ninjanya masih ada waktu seharian ini.

Jamaah dengan semangat meninggalkan Masjid, dan Show Time! Ini acara puncak lebaran di Kapu. Semua orang saling mengunjungi ke tetangga-tetangga. Tapi alih-alih saling mengunjungi malah pada ketemunya di jalan. Lha piye semua keluar rumah pengen dulu-duluan berkunjung. Duh rindu betul saya sama suasana ini. Semua tersenyum semua berlomba bersalaman, dulu-duluan minta maaf. Coba setiap hari kaya gini, adem dunia.

Dengan cara seperti itu, jadilah lebaran di Kapu ini berlangsung singkat bahkan sangat singkat. Dari bubar Sholat Ied sampai jam 09.00 sudah rata sedesa dikelilingin. Semangat betul. Dan saat itu terjadi jajanan atau kue-kue lebaran jarang sekali disentuh. Percuma persiapan kue lebaran nggak ada yang makan. Ha gimana datang langsung “Lek nyuwun sepuro nggeh” habis itu plencing ilang. Senengnya saya, di desa ini ndak ada tradisi bagi-bagi uang. Indah betul, ndak ada budaya yang menurut saya dekat dengan hedonisme ini.

Selamat lebaran semuanya, saya pamit mudik, ya. Sampai ketemu di Kapu!

 

Udukan, Tradisi di Desa Kapu untuk Peringati Maulid Nabi

Suasana Udukan
Suasana Udukan

Di Desa yang cantik nan menawan ini memang memiliki berbagai tradisi unik untuk menyambut hari besar agama Islam, salah satunya adalah Udukan. Udukan di Desa Kapu digelar untuk peringati Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awwal pada setiap tahunnya, atau kalau di Kapu lebih dikenal sebagai bulan Mulud. Maklum desa ini juga terdapat pengaruh kerajaan Islam Jawa yang berhasil mensinkronkan bulan penanggalan Jawa dengan penanggalan Islam.

Suasana Maulud Nabi dimulai saat awal bulan Rabiul Awwal. Di langgar-langgar dan Masjid kompak menyerukan pujian-pujian khas bulan Maulid setiap setelah Adzan. Kamu tahu seperti apa pujiannya? Gini

Allahumma Sholli ‘ala Muhammad…
Ya Rabbi Sholli ‘alaihi wassalim…
Gusti Kanjeng Nabi Muhammad lahir ing Mekkah…
Dino Senen Rolas Maulud Tahun Gajah…
Ingkang Ibu, Asmane Siti Aminah…
Ingkang Romo asmane Sayyid Abdullah…

Kok dalam bahasa Jawa? Ya iyalah, hawong Kapu kan itu Jawa. Oke saya artikan deh. Saya artikan yang bahasa Jawanya aja, ya. Kalau Sholawatnya, saya yakin Kamu pasti lebih tahu dibandingkan saya.

Gusti Kanjeng Nabi Muhammad lahir di Makkah
Hari Senin, Dua Belas Maulud/ Rabiul Awwal tahun Gajah
Dengan Ibu bernama Siti Aminah
Dengan Ayah bernama Sayyid Abdullah

Udah tau kan? Kalau Kamu mampir ke Desa Kapu saat bulan Rabiul Awwal, maka Kamu akan mendengarkan pujian-pujian ini dilantunkan sesaat setelah Adzan. Selain ada pujian yang khas. Pas pada malam 12 Rabiul Awwal akan diselenggarakan Udukan yang dipusatkan di langgar-langgar atau Masjid. Pada siang harinya pasar desa akan ramai sekali untuk prepekan.

Prepekan itu adalah prosesi untuk melengkapi kebutuhan dapur untuk menyambut hari besar agama, misalnya lebaran, Kurban, Awal Puasa dan lain-lain. Setelah itu para Ibu akan memasak Nasi Uduk dan berbagai bumbunya. Biasanya sih ada menu ayam goreng ngap-ngap (kaya Upin-Ipin). Hehehe. Setelah matang maka disiapkan di baskom yang biasa buat wadah berkat itu. Kemudian nanti habis Magrib siap dibawa ke Langgar.

Setelah Adzan Magrib semua berbondong ke Langgar sambil bawa Nasi Uduk beserta bumbu-bumbunya tadi. Kemudian semua ngumpul dan Kiai pun memulai acara Udukan ini. Acara dimulai dengan sambutan-sambutan kemudian lanjut pembacaan Barjanzi. Barjanzi adalah kitab Biografi Nabi Muhammad. Kitab ini dibaca dengan hikmad dan puncaknya adalah Mahalul Qiyam. Semua jamaah berdiri seolah Nabi Muhammad hadir ditengah-tengah mereka. Para Jamaah begitu khusyuk melantunkan Sholawat Nabi, lambang kerinduan mereka kepada Nabinya.

Selesai Mahalul Qiyam dilanjutkan dengan doa bersama. Setelah doa bersama langsung makan-makan. Semua jamaah membuka ambengnya masing-masing. Oiya nasi uduk yang sudah dikemas dengan baskom tadi disebut ambeng. Semuanya saling menawarkan ambengnya masing-masing. Mereka senang ketika ambengnya laris manis dimakan oleh jamaah lainnya. Kalau nggak habis pun mereka saling bertukar dan dibagi rata.

Kalau saya sih jangan ditanya. Seluruh ambeng saya cicipin satu-persatu. Saya paling seneng bumbu bihunnya atau kacang panjang. Duh jadi kangen sama suasana akrab Udukan ini. Semua sama, sama-sama ingin mengejar cinta Rosulnya. Kaya Miskin, Tua Muda saling berbagi makanan dan kebahagiaan. Sambil makan, kadang juga disambi ngobrol-ngobrol untuk saling mengetahui kabar masing-masing. Tuh keren, kan?

Kalau kamu mau tahu betapa rukunnya warga desa ini untuk merayakan Maulid Nabi, yuk datang ke desa Kapu. Jangan lihat TV atau internet melulu. Apa enggak bosen ngelihat orang-orang debat mulu tanpa habisnya demi kepentingannya sendiri. Sekali-kali berkunjung ke desa belajar damainya hidup di desa. Selamat Maulud Nabi SAW, tirulah Akhlak Nabi karena Allah mengutus Muhammad untuk menyempurnakan Akhlak seluruh Manusia di muka bumi ini.

Belanja dengan Ringgit di Desa Kapu

Toko Rudis
Toko Rudis

Di Desa Kapu, banyak yang menggunakan satuan ringgit ketika berbelanja. Lho kok bisa? Bukannya ringgit itu mata uang Malaysia? Iya memang Ringgit adalah mata uang Malaysia. Tapi tenang aja, di Kapu, satuan Ringgit nggak ada hubungannya dengan mata uang Malaysia itu. Mata uang di desa Kapu 100% rupiah. Entah sejak kapan orang Kapu suka menggunakan sebutan ringgit untuk nominal uang rupiah.

Kalau kamu berbelanja di toko-toko di desa Kapu, kamu pasti akan menemui orang yang bilang “Sakmene iki pirang ringgit?” Artinya “Segini ini berapa ringgit?”, kemudian akan dijawab oleh penjualnya misalnya “Iki sakmene limang ringgit, Yu” Artinya “Ini segini lima ringgit, Mbak”. Nah bingung kan? 1 ringgit di desa Kapu artinya Rp 250,-. Iya dua ratus lima puluh rupiah. Jadi kalau lima ringgit itu artinya Rp 1.250,-. Mantab kan?

Di Kapu memang banyak sih yang merantau ke Malaysia, tapi jauh sebelum orang-orang Kapu ke Malaysia, mereka sudah menyebut 250 rupiah sebagai 1 ringgit. Saya sudah beberapa kali bertanya kepada orang-orang tua di desa ini, tapi tidak ada yang tahu pasti sejak kapan mereka menggunakan istilah ringgit dalam transaksinya.

Setelah saya menelusuri beberapa blog, akhirnya saya tahu. Ringgit itu salah satu mata uang yang digunakan saat masa penjajahan Belanda. Pada saat awal kemerdekaan istilah ringgit masih digunakan untuk menyebut dua setengah rupiah. Mungkin karena devaluasi akhirnya di desa Kapu satuan ringgit meningkat dari dua setengah rupiah menjadi dua ratus lima puluh rupiah.

Kalau dibandingkan dengan sekarang mungkin seharusnya menjadi dua ribu lima ratus rupiah kali ya per ringgitnya. Ah desa ini memang unik, dari bahasanya, budayanya dan masyarakatnya yang ramah dengan berbagai kearifan lokalnya. Kalau kamu sedang di Tuban cobalah mampir ke desa ini. Udah terkenal kok, kalau kamu mau tau bisa googling, atau kalau kamu mau beli apa gitu di sini juga murah-murah, nggak perlu beringgit-ringgit 😀 Ya sudah selamat malam dan selamat istirahat, besok kerja lagi cari ringgit, eh Rupiah.

Jika bermanfaat silakan anda bagikan tulisan ini dan kami juga memiliki koleksi tulisan yang menarik lainnya, silakan klik Daftar Isi untuk melihat daftar tulisan kami. Selamat membaca! 🙂