Sate Kikil Enak di Bekasi

Sate Kikil, Kuliner enak di Bekasi
Sumber Foto : dokpri

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata Bekasi? Iya saya tahu, ndak usah dijawab. Saya mau ngomongin kuliner di Bekasi nih. Rasanya kok kurang elok tinggal di Bekasi tapi belum pernah menulis tentang Bekasi. Karena blog ini sekarang akan berniche Travelling dan Kuliner maka pertama saya akan bahas soal Sate Kikil.

Kikil, makanan yang bahan dasarnya adalah bagian daging sapi yang diambil dari kaki yang cukup populer di Nusantara tentu dengan berbagai variasinya. Di Tuban sana kikil di masak soto. Berkuah segar dan gurih. Berbeda dengan di Bekasi ini. Di kota ini Kikil di masak dengan cara disate. Saya beberapa kali lewat jalan Pisangan Raya yang ada di Tambun Utara Kabupaten Bekasi. Saya mencium bau gurih. Bau apa gerangan itu?

Ternyata itu adalah bau sate kikil yang dijual beberapa PKL di sepanjang jalan tersebut. Jujur saya sebelumnya belum pernah makan sate kikil, walaupun konon di Jakarta pun ada. Setelah beberapa waktu pun saya bilang sama istri saya di rumah. Istri saya penasaran dan saya pun.

Pada malam hari diiringi hujan gerimis saya menyusuri jalan Pisangan Raya dan mencari penjual sate kikil. Dapetlah penjual sate kikil di dekat Indomart Villa Anggrek. Penjualnya ada disebelah kiri kalau dari arah Gading Terace. Ada tulisan sate kikil Betawi. Penjualnya Ibu-Ibu dan Bapaknya juga sih.

Saya berhenti dan beli. Karena belum pernah beli, saya beli aja Rp 10.000,- tanpa lontong atau nasi. Ibu penjualnya dengan ramah melayani. Mengambilkan sate yang sudah dibakar kemudian diberi sambel kacang. Gerobaknya nggak ada bedanya sama gerobak sate pada umumnya sih. Mungkin bedanya hanya bahan satenya saja.

Setelah dibungkus dengan rapih, saya bawa pulang sate seporsi. Oiya saya sebenarnya nggak suka makanan berbahan kikil. Bau kulitnya gimana gitu. Tadinya saya ragu mau beli sate kikil ini, takut baunya. Tapi sepertinya baunya enak-enak saja kok. Jadi makin penasaran sama rasanya. Motor saya gas dengan kecepatan 30 kmpj, santai saja.

Sampai di rumah saya buka bungkusan sate tadi. Kemudian saya coba gigit. Hmmmm…. lembut, gurih, ada kriuknya dari bawang goreng yang ditabutkan di atas sambel kacang tadi. Kemudian bau yang saya khawatirkan ternyata nggak ada. Aromanya sedap khas makanan yang dibakar. Suapan pertama dan berlanjut terus sampai habis tak bersisa. Oiya karena saya nggak bilang pedas atau tidak, ternyata sama Ibu penjualnya diberi yang pedas. Mantab!

Sekali mencoba sate itu, saya jadi ketagihan. Kemudian saya besoknya mencoba mencari sate kikil lagi, tapi sengaja mencari penjual lainnya. Masih di sepanjang jalan Pisangan Raya Bekasi Utara. Saya menemukan Bapak-Bapak penjual sate kikil lagi. Ini letaknya di pinggir jalan dibawah pohon rindang. Nggak jauh sih dari sate kikil yang awal tadi. Bedanya kalau yang ini bukanya pagi sampai sore. Kalau yang tadi malem baru mulai buka.

Saya beli sama seperti sebelumnya Rp 10.000,- tapi dengan tambahan lontong. Saya penasaran jika dimakan dengan lontong sepertinya enak. Saat ketemu penjualmya saya sudah pesan untuk sedang saja jangan pedas. Setelah itu sama persis dengan penjual sebelumnya. Bapak penjual ini dengan cekatan memasukkan sate yang sudah matang ke bungkusan, mengiris lontong, tambah dengan bumbu kacang dan ditaburi bawang goreng.

Saya pun pulang dan dengan tidak sabar saya langsung memakannya. Rasanya… Hmmm… Sama. Sama enaknya! Jadi kalau kamu ke Bekasi jangan lupa cicipin kuliner ini yak. Bekasi jauh itu mitos, Bro!

Yuk Ikut! Saya Mau Makan Mie Pangsit Enak di Tuban

Mie Pangsit Ayam Tuban
Mie Pangsit Ayam Tuban

Mie adalah salah satu makanan favorit saya. Ketika di Tuban pun saya mencari panganan Mie kesukaaan saya yaitu Mie Pangsit. Apalagi cuaca akhir-akhir ini yang cenderung dingin sepertinya enak sih makan Mie. Sebenarnya udara Tuban ya gini-gini aja nggak pernah ekstrim panas. Saya sih paling suka udara Tuban.

Nah sebagai orang Tuban yang kebetulan juga suka Mie, saya mau ajak kamu untuk menikmati Mie Pangsit Enak di Tuban. Pertama saya tunjukin rutenya dulu, ya. Saya dari arah patung. Tahu kan patung Letda Sucipto yang jadi landmark-nya Tuban setelah patung kuda di Alun-alun?

Nah saya lurus terus menembus jalan Sunan Kalijogo yang lebar itu. Ndak perlu ngebut-ngebut, menikmati Tuban itu perlu kecepatan rendah supaya kita tahu betapa syahdunya jalanan Tuban. Hei untuk perantau! Kamu pasti kangen kan? Hehehe. Setelah itu kamu bakal ketemu perempatan Lacari. Sebenarnya namanya Latsari entah kenapa kok bisa jadi Lacari.

Dari Lacari belok ke kanan karena sekarang ndak boleh lurus. Lurus terus ketemu perempatan pramuka terus belok kiri. Lurus terus sampai perempatan karang waru. Dari situ ambil arah Jalan Lukman Hakim. Pelan-pelan ya sambil nglirik ke kanan. Tetap konsentrasi berkendara, ntar nabrak malah nggak jadi makan Mie Pangsit.

Warung Mie Pangsit Ayam
Warung Mie Pangsit Ayam

Ketika masuk warungnya kesannya bersih dan tertata dengan rapih. Kecil sih cuma nyaman kok. Saya sih datang waktu malam. Waktu bukanya ndak tahu pastinya. Tapi seharusnya tiap malam buka sih. Parkir di depan warung, langsung masuk warung dan pesan Mie Pangsit.

Baca juga : Cari Tahu Tek Enak di Tuban? Yuk ke Mas Penjual ini!

Nunggu cukup lama. Sabar saja. Karena kata istri, ini semuanya fresh from the alat masak makanya lama. Sambil nunggu, bisa kali kamu keluar melihat suasana malam Kabupaten yang ngengenin itu. Apalagi kalau hujan rintik-rintik, duh dek! makin bikin rindu. Asal ndak banjir aja, soalnya kalau banjir, menyebalkan!

Setelah nunggu beberapa waktu, Mie Pangsit saya datang. Sek bentar foto dulu buat bahan nulis blog. Cekrek! Oke sekarang saya ceritain Mienya. Mie Pangsit disajikan dalam mangkok. Diatasnya diberi daun selada hijau yang menyegarkan mata itu. Kemudian diatasnya lagi ada ayam goreng yang diiris kecil-kecil. Mengingatkan saya sama Cwimie yang terkenal di Malang itu.

Nah diatas ayam goreng kecil-kecil ditaburi bawang goreng. Kemudian paling atas ada pangsit goreng dua buah. Gimana mantab kan? Oiya saat disajikan Mienya masih kebul-kebul asapnya. Jadi pas kan kalau dimakan saat hujan-hujan grimis tipis manis, Duh!

Oke mari kita nikmati. Sendokan pertama, waduh bung ini enak betul. Rasanya kaya ada bau-bau gurih gitu. Eh gurih itu bau apa rasa? Intinya rasanya mantab baunya pun mantab. Oke mari kita coba ayamnya. Beneran enak ayamnya. Sobek dikit seladanya. Ya sama sih kaya selada pada umumnya. hehehe. Kemudian terakhir coba kita gigit dikit pangsit goreng. Duh uenak jaya, Jeh!

Saya dengan lahap menghabiskan sajian Mie Pangsit Ayam ini. Saya pesan teh juga untuk menunjang kenikmatan. Kalau di Tuban, beli teh pasti manis. Berbeda sama di Jakarta kalau bilang teh saja bakal dikasih teh tawar. Setelah makan saya memberikan sejumlah uang kepada istri untuk membayar.

Setelah dibayar, ternyata murah dibandingkan dengan rasa yang mantab jaya itu. Kemudian saya keluar, start motor dan pulang lagi. Semoga warungnya tetap barokah dan awet. Biar kalau saya kangen makan Mie Pangsit Ayam teteap bisa menikmatinya.