Menurut Saya ini Sebabnya Deradikalisasi Belum Berhasil Sepenuhnya

Deradikalisasi
Sumber : http://suaradewata.com

Beberapa hari lalu, Bumi Wali Tuban diguncang peristiwa aksi terorisme yang dilakukan oleh sekelompok orang. Menurut berbagai rilis media pelaku berjumlah 6 orang yang menggunakan senjata api rakitan untuk menyerang pos polisi di Kecamatan Jenu. Sontak peristiwa ini mengejutkan, mengingat kota kecil yang sekarang menuju kota industri ini nyaris selalu tenang tanpa gangguan keamanan berarti. Nah kota Tuban yang tenang ini saja tidak aman dari aksi terorisme, kemudian apa kabar program deradikalisasi yang diinisiasi pemerintah?

Deradikalisasi adalah hal yang wajib ‘ain dilaksanakan oleh Pemerintah jika ingin negara ini tetap damai dan menganut asas bhinneka tunggal ika yang sudah disepakti oleh pendiri negara. Pemerintah pun sebenarnya bukan tidak melaksanakan program deradikalisasi, buktinya pemerintah telah menunjuk dan menugaskan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme untuk melaksanakan program ini.

Berbagai program diluncurkan oleh pemerintah melalui BNPT untuk melakukan deradikalisasi. Namun demikian, nampaknya bibit radikalisasi terus tumbuh dan tetap subur. Berbagai studi misalnya menyebut bahwa anak usia sekolah pun sudah banyak yang terpapar radikalisasi. Teroris yang dilumpuhkan di Tuban pun masih tergolong remaja karena ada yang berusia 19 tahun. Lalu kenapa berbagai program pemerintah tersebut nampak belum efektif? Menurut saya jawabannya adalah karena media yang kurang seimbang memberitakan peristiwa terorisme.

Kita lihat ketika ada peristiwa terorisme di MH Thamrin Jakarta yang menghebohkan itu sampai dengan teroris yang tempo hari dilumpuhkan di Tuban, seluruh media fokus memberitakan siapa pelakunya dan ke jaringan teroris mana mereka berafiliasi. Media tidak pernah atau kalaupun pernah juga hanya sedikit porsinya tentang korban atau dampak dari aksi terorisme tersebut. Dampak dari “Salah fokus” ini bisa kita rasakan, masyarakat tertentu justru malah bersimpati terhadap pelaku.

Gimana nggak bersimpati, hawong yang ditampilkan adalah jenazah teroris yang proses kematiannya melalui serangkaian serangan bersenjata dari aparat. Beberapa bahkan menyalahkan polisi, mengapa mereka dibunuh, mengapa tidak ditangkap saja dan lain-lain.

Nah sekarang kita bayangkan jika yang ditampilkan adalah dampak dari perbuatan terorisme tersebut. Cobalah sekali-kali media sesering mungkin menshoot wajah orang yang tertekan saat peristiwa terorisme, atau cobalah sekali-kali membuat acara TV yang menunjukkan betapa mengerikannya aksi terorisme itu dan betapa menderitanya korban terorisme.

Fokus ke korban ini yang menurut saya belum dilakukan oleh media. Pemerintah melalui BNPT juga jarang melakukan publikasi-publikasi yang menunjukkan jahatnya seorang teroris sehingga tidak ada lagi yang bersimpati bahkan menyalah pemerintah ketika melakukan aksi-aksi kontra terorisme di dalam negeri.

Pelaku terorisme sekarang terbantu dengan channel dunia maya sehingga bebas memberikan propaganda-propaganda yang seolah-olah aksi terorisme itu baik dan berdampak baik. Pemerintah sudah berupaya juga untuk melakukan blokir, namun menurut saya hal itu belum cukup. Kalau saya boleh usul jangan cuma blokir tapi produksi juga konten-konten yang menayangkan penderitaan korban terorisme untuk menunjukkan betapa mengerikannya dampak terorisme. Buat liputan misalnya betapa susahnya seorang Ibu membesarkan anak-anaknya karena suaminya tewas saat serangan terorisme, jadi masyarakat akan punya pemikiran alternatif.

Taktik “menonjolkan korban” ini sebenarnya juga praktek yang sudah dilakukan pemerintah pada kasus lain. Misalnya pada pemberontakan oleh partai politik tertentu pada medio 60an sampai dibikinkan sebuah film yang menunjukkan betapa ngerinya pemberontakan tersebut.

Pemerintah memang tidak perlu sampai membuat film dan aturan yang seketat itu, karena zaman sudah berubah. Pemerintah cukup memberikan konten-konten penyeimbang sehingga masyarakat akan bersimpati dengan aksi kontra terorisme dan secara tidak langsung menderadikalisasi masyarakat yang terpapar radikalisme.

Sekian uneg-uneg saya sebagai orang awam ini. Semoga tidak ada lagi aksi terorisme yang korbannya adalah para ayah yang sedang berjihad menafkahi keluarganya, atau para Ibu yang sedang berjuang untuk memberikan anak-anaknya gizi yang baik untuk menjadi generasi yang sehat dan lain-lain.

Jika bermanfaat silakan anda bagikan tulisan ini dan kami juga memiliki koleksi tulisan yang menarik lainnya, silakan klik Daftar Isi untuk melihat daftar tulisan kami. Selamat membaca! 🙂

2 Comments

  1. Sebagai warga tuban gak menyangka kalau terorisme terjadi di sini yg notabene kota kecil.
    Jadi tetap waspada, terorisme bs terjadi dimana saja.
    Betul saja, selama ini media sebagai corong berita masyarakat hanya meliput terduga, tanpa menyampaikan dampak jangka panjang terhadap aksi terorisme itu sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *