Media Sosial Menguji Persatuan Indonesia

Media Sosial
Sumber : www.socialcoopmedia.com

Diawal tahun 2017 ini Indonesia patut bersyukur hingga detik ini masih dikaruniai sebuah persatuan yang semakin kokoh. Kita tahu 2016 adalah tahun politik, tapi rasanya Indonesia selalu mengalami peristiwa yang penting setiap tahunnya. Jadi mungkin enggak salah-salah amat Indonesia ini setiap tahun adalah tahun politik. Politik Indonesia memang menuju kedewasaan, namun seperti halnya manusia, masa menuju kedewasaan adalah masa yang paling krusial. Jika salah langkah atau salah sikap, habislah masa depan kita.

Indonesia sendiri telah melewati masa genting yaitu pada tahun 2014. Tahun 2014 politik memanas maklum ada Pemilu dan Pilpres. Setelah Pemilu dan Pilpres yang cukup melelahkan juga, karena perkembangaan dunia maya saat itu yang mulai masif akhirnya mereda pada tahun 2015, paling cuma berita tentang Pilkada yang biasanya tidak seseksi berita mengenai pemilu maupun pilpres.

Menginjak tahun 2016, politik kembali memanas. Perebutan kekuasaan lagi-lagi menjadi biang keladi memanasnya suhu politik Indonesia. Sebenarnya di tahun 2016 ini tidak ada pilkada, namun di tahun ini adalah masa pendaftaran sampai masa kampanye pilkada serentak tahap kedua. Tapi euforianya kalau tidak boleh disebut keributannya luar biasa. Apakah semua daerah yang akan melaksanakan Pilkada serentak ribut? Tidak, bahkan seluruhnya santai. Hanya satu yaitu DKI Jakarta yang ributnya sampai ke group-group facebook yang judulnya tidak ada Jakarta-jakartanya.

Jauh sebelum masa deklarasi calon, di group-group facebook maupun WA yang saya ikuti sudah ramai membahas para calon yang berpotensi akan mengikuti kontestasi Pilkada serentakย  2017. Padahal saya tidak satupun mengikuti group yang berbau Jakarta. Kawan-kawan saya juga kebanyakan bukan warga Jakarta, jadi aneh kan, kok mereka sampai sebegitunya ngurusin Pilkada Jakarta.

Memasuki periode penetapan calon, media sosial semakin memanas. Kabar ย demi kabar dilancarkan untuk menjatuhkan lawan dan mengunggulkan calonnya masing-masing. Tapi anehnya ya tadi, ini enggak hanya terjadi di komunitas orang Jakarta. Lagi-lagi berita-berita yang jauh dari prinsip jurnalistik itu bertebaran di group-group media sosial luar Jakarta. Lebih menyebalkannya lagi, selain status atau tulisan pribadi yang beredar, tetiba banyak website berita abal-abal juga turut melancarkan aksinya.

Media abal-abal kalau tidak boleh disebut sebagai media fitnah ini tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Dengan jargon-jargon yang seolah baik, mereka meraup untung dalam kesempitan. Bukannya memberi pencerahan seperti pesan ajaran agama, ini justru malah mempertajam kebencian.

Menyedihkannya lagi, beberapa orang terdidik setidaknya dari beberapa kawan saya sendiri, juga ikut-ikutan menyebarkan berita dari media sampah ini. Ini bentuk dari frustasi, kah? Seperti yang dibilang sama penghina Gus Mus beberapa waktu lalu yang mengaku stres karena masalah pekerjaan, atau memang beberapa orang terdidik ini merasa hambar ketika membaca media mainstream dan mulai bergeser ke media abal-abal karena sering ditambahi rasa-rasa pedas atau asin yang mengejutkan? Entahlah!

Selain issue Pilkada Jakarta, masyarakat media sosial Indonesia juga dipusingkan dengan berbagai issue internasional. Sebut saja soal konflik Suriah dan Rohingya. Entah kenapa kedua issue internasional inipun tidak luput dari perhatian netizen Indonesia. Perhatian sih baik, tapi kenapa ada berita bohongnya yang beredar, kemudian dibagikan rame-rame. Berita bohong inipun sebenarnya juga disebar oleh media-media abal-abal di Internet.

Dengan kenyataan diatas, saya kok berkesimpulan kalau media sosial sedang menguji persatuan kita sebagai bangsa. Jika kita lolos dari ujian ini, maka kita akan menjadi bangsa yang besar. Kita memang harus kritis terhadap sesuatu hal, tapi acuan yang dijadikan basis kritik haruslah jelas.

Untungnya masih banyak tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat Indonesia yang masih berkomitmen kuat untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945. Keteladanan-keteladanan mereka menghapus panasnya politik di Indonesia dan mempersatukan Indonesia.

Pesan saya ditahun 2017 marilah kita semakin kritis terhadap kabar yang disebarkan termasuk melalui media sosial. Kemudian untuk orang-orang terdidik, mari ingat-ingat lagi ketika sekolah kita sekalian diajarkan untuk mencari data yang valid. Jangan malah memperkeruh suasana dengan membagikan berita-berita yang tidak jelas asal-usulnya. Jangan lelah mencari kebenaran dan jangan pernah merasa kebenaran milik diri sendiri.

Selamat Tahun 2017, semoga Media sosial semakin baik dan bermanfaat bagi pembangunan masyarakat Indonesia. Jangan mau dimanfaatkan orang-orang atau media yang mengejar adsense, mereka untung kita hancur.

32 thoughts on “Media Sosial Menguji Persatuan Indonesia

  1. Filter yang baik terhadap berita dan kedewasaan para pendengar, pembaca, dan seluruh stakeholder berita sangat diperlukan. Karena kok ya kayaknya berita yang ndak bener justru lebih ‘laku’, ya…

  2. Aku memilih untuk merem setiap kali melihat isu politik yang bikin sakit kepala ini muncul di timeline media sosial aku.
    Jujur gara-gara banyaknya yang hobi ngirim berita hoax, belakangan kalo ada yang kirim tulisan agak panjang via WA aku jadi udah males duluan bacanya. Seringnya ga jadi aku baca deh. Karena udah berburuk sangka duluan nanti hoax…..

  3. Selamat Tahun 2017, semoga pengguna media sosial semakin bijak dalam menggunakan media sosial. Semakin tak ada potensi terpecah belahnya perkawanan juga di media sosial. ๐Ÿ™‚

  4. Iaaa bner banget mas, sudah terlalu banyak orang yang menyebarkan berita ya g belum yentu bener lewat grup whats app, dan memang harus ada pembelajaran untuk sdm itu sendiri bagaimana menyikapi hal tersebut dan bagaimana respon terhadap permasalahan yang ada di bumi indonesia tercinta.

    Makasih ya mas sudah mampir d blog saya, informasi ini bermanfaat..

    Hatur nuhun

  5. Ini semua gara-gara Adsense.
    Akibat orang ingin meraup untung banyak dari Adsensr, mereka menghalalkan segala cara untuk membuat orang mau mendatangi websitenya. Termasuk menyebarkan hoax.
    Untung Google sekarang makin pintar. Website yang dilaporkan menyebarkan hoax dan menyebarkan kebencian pun mulai diblokir.

    Sayangnya Google belum berkongsi dengan Whatsapp. Susah sekali memblokir penyebaran hoax melalui Whatsapp itu. Repotnya hoax dan kebencian disebarkan dalam bentuk Whatsapp Group. Group yang semula dibangun untuk tujuan silaturahmi pun jadi bersuasana panas gara-gara dikotori pesan-pesan kebencian. Mosok mau keluar dari Group? Putus silaturahmi dong?

    Mudah-mudahan UU ITE makin tegas. Semoga penyebar hoax kebencian lewat WA Group bisa dibikin jera.

  6. iya benar sekali kang, sebijaknya kita mesti klarifikasi dulu dan ditelaah dengan benar setiap berita yang menyebar. malu juga kalau ternyata berita yang kita share itu ternyata adalah hoax atau minimal isu saja.

  7. Saya terkadang tidak habis fikir tentang teman-teman saya yang membagikan berita yang aneh dari situs yang tidak jelas..

    ketika saya tegur mereka karena situs webnya tidak punya kredibilitas data yang baik,, mereka malah mencap saya beda aliran dengan mereka,…

    entah lah kenapa mereka dapat cepat terprofokasi

  8. Selamat tahun baru, Kang Rudi!
    Indonesia memang harus makin aware, termasuk dlm memilih info.
    Woro2 seperti ini memang perlu diviralkan terus.
    TFS, ya! ๐Ÿ™‚

  9. Nice Kang….. Tulisan seperti ini yang seharusnya banyak beredar. Biar masyarakat sadar agar jangan asal ngeshare berita hoax.

    Kebanyakan netizen sudah termakan tulisan judul yang bombastis dan tidak melihat apakah sumbernya bisa dipercaya atau tidak.

    Seharusnya netizen mulai membiasakan diri untuk mengeshare berita dari portal berita nasional saja.

  10. Aamiin semoga lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Lebih selektif, lebih kritis, lebih bijak sebelum menyebarkannya. Jangan sampe cuma baca sekilas langsung share terus ternyata hoax ?

    Sepakaaat mas media sosial sedang menguji persatuan kita sebagai bangsa. Semogaa bisa melewati ujian dengan makin baik di tahun 2017 ini. Selamat melanjutkan perjuangan, selamat berbenah ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *